New Beginnings - Chapter 04

Go down

New Beginnings - Chapter 04

Post  didar on 11th July 2009, 10:30 am

Peyton membenamkan tubuhnya di satu-satunya sofa yang tersedia di Clothes Over Bros. Acara makan tadi benar-benar menaikkan spiritnya. Hatinya dipenuhi rasa syukur karena sampai hari ini semuanya berlangsung sesuai dengan harapannya. Pagi tadi, ia melukis untuk “pertama kali”nya dan sore ini, ia menginjakkan kaki di Clothes Over Bros juga untuk pertama kalinya. Sungguh suatu pengalaman yang tak akan ia tukar dengan apapun. Sejauh ini hari ini adalah hari terbaiknya di NY dan tak ragu akan ia nobatkan sebagai salah satu hari terbaik dalam hidupnya, kalau saja ia tidak kehilangan buku novel kesayangannya itu.

Ia mempunyai kebiasaan baru semenjak ia tiba di NY. Dalam perjalanan pulang menuju apartemennya setiap sore, ia akan meluangkan waktunya untuk duduk sejenak di taman kota dan membiarkan dirinya hanyut dalam kesendiriannya. Kadang pikirannya begitu terbius dengan pemandangan di taman itu dan ia merasa sangat bahagia. Angin sepoi-sepoi yang berhembus di wajahnya, sorak sorai bahagia anak-anak yang bermain di sekelilingnya bagaikan kuas ajaib yang dengan mudahnya menggoreskan senyum di wajahnya. Ia begitu menikmati waktu yang dihabiskannya di sana sehingga ia memutuskan untuk menambah kegiatannya, setidaknya lebih dari sekedar memperhatikan orang-orang di taman itu. Ide yang terpikir pertama kalinya olehnya adalah membaca, karena itu ia memutuskan untuk membawa novel kesayangannya tadi pagi. Sungguh kaget saat ia duduk di taman itu dan menyadari buku itu tidak ada di dalam tasnya. Sejak itu pula rasa sesal memenuhi hatinya. Bukan kehilangan buku itu yang menjadi penyesalannya saat ini tapi kehilangan kertas di dalamnya yang baginya adalah salah satu inspirasi terbaik dalam hidupnya.

Ia bukan orang yang mudah termakan oleh kisah cinta yang mengharu biru. Karena itu terasa sungguh ironis saat ia akhirnya jatuh cinta pada kisah seperti itu. Kisah cinta yang digambarkan dalam buku Forever and Almost Always, antara pria ugal-ugalan dengan seorang wanita yang kemudian merubah hidupnya itu terasa begitu nyata. Tak ada satupun yang tak masuk akal di buku itu, tidak juga cinta yang menurut tokoh utama prianya adalah cinta yang tak masuk akal. Baginya itu adalah sebuah kisah cinta yang menyentuh dan indah namun juga tragis. Cintanya akan kisah itu mendorongnya untuk menggambar ilustrasi untuk sampul buku itu. Awalnya hanya iseng karena baginya buku itu berhak mendapat sampul yang lebih berkarakter daripada sekedar sampul berwarna dengan tulisan emas. Tapi ia kemudian merasa kesulitan menggambarkan kisahnya yang kompleks ke dalam 1 gambar. Hanya saja tiba-tiba entah dari mana, inspirasi itu datang, semuanya mengalir begitu saja dan ia sendiri merasa sangat terkejut dengan hasil karyanya, begitu hidup dan persis sama dengan apa yang terbayang di benaknya saat itu. Karyanya seolah mewakili harapan, harapan untuk tokoh pria itu menemukan kembali hidupnya.

Peyton menggeleng-gelengkan wajahnya. Ia kadang tak mengerti mengapa ia harus begitu terlibat dengan tokoh pria di buku itu. Ia bukannya tidak menyadari bahwa itu hanyalah tokoh fiksi yang diciptakan sedemikian menarik oleh penulisnya. Peyton menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil memejamkan matanya. Brooke melihat hal itu dengan cemas. Sedari tadi ia sesekali memperhatikan Peyton dan ia kuatir akan temannya itu. Ia tak mau Peyton larut dalam kesedihannya.

“Hey,” Brooke menegur Peyton dengan nada pelan dan lembut. “Aku tahu kau terlihat sangat cantik saat kau terlihat sedih, tapi bukan berarti kau harus sedih terus. Apa kau masih memikirkan tentang Jake?” Brooke berusaha terdengar santai, seakan semua itu hanya obrolan ringan.

“Bukan,” Peyton membuka matanya dan membalikkan badannya ke arah Brooke yang berdiri di belakangnya.
“Yakin?” Brooke memandang Peyton dengan pandangan menyelidik. Peyton menganggukkan kepalanya. Brooke melihat kejujuran terpancar dari mata temannya itu dan ia pun memutuskan untuk tidak menanyakan lebih lanjut.
---

Suara ketukan yang cukup keras terdengar di pintu. Brooke sedang berbaring menyamping di atas sofa dengan kaki bersilang. Kedua tangannya memeluk bantal dan wajahnya menghadap ke depan, ke arah TV. Peyton berbaring telengkup di atas karpet, sejajar dengan sofa dan dikelilingi bantal-bantal. Wajahnya setengah terbenam di dalam bantal dan matanya tertuju ke arah TV.

Suara ketukan pintu terhenti sesaat, namun dengan segera kembali dengan suara yang lebih keras. Brooke menyentuh pundak Peyton dengan ujung kakinya. Pertama perlahan, namun kemudian semakin keras saat Peyton tidak juga memberikan reaksi. Peyton mengerang dan membenamkan kepalanya ke atas bantal.
“Brooke, kakiku tidak bisa bergerak, kau saja yang buka, lagipula ngga mungkin ada yang mencariku, ini kan rumahmu,” ujar Peyton dengan nada memelas. Brooke melemparkan bantal yang ia peluk ke arah Peyton, memakai sandalnya dan kemudian berjalan ke arah pintu sambil menyeret kedua kakinya. Ia sungguh berharap bukan ibunya yang akan ia temui di balik pintu nanti. Ia tidak punya mood untuk bertengkar hari ini. Brooke membuka pintu dengan sedikit sentakan. Raut wajahnya terlihat malas. Ia memang tidak berselera untuk meladeni siapapun saat itu. Namun wajahnya berubah seketika saat ia melihat pria yang berdiri di hadapannya. Alisnya yang terangkat menandakan ia memang sungguh-sungguh terkejut. Pria tampan bukan hal yang ada di pikirannya saat tadi ia sibuk mengira-ngira siapa gerangan orang yang ada di balik pintu. Brooke yang berpengalaman dengan model-model pria tampan selama ini pun mengakui bahwa pria di hadapannya itu sungguh sangat tampan. Garis rahangnya yang tegas, bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung, lekuk mulutnya yang seksi semuanya mangarah pada satu kata, sempurna. Namun Brooke bukanlah seorang gadis yang mudah terpesona dengan wajah tampan. Ia tahu betul apa yang seringkali ada di balik wajah tampan seperti itu. Karena itu ia segera kembali ke dirinya yang normal dalam sekejap
.
“Ada yang bisa kubantu?” tanya Brooke dengan ramah. Ia mengeluarkan senyum terbaiknya yang selalu dapat diandalkannya dalam menghadapi pria manapun.

Pria itu menggangguk. Ia menunjukkan buku yang sedang dipegangnya. Buku sedikit usang yang sama sekali tidak menarik.

Brooke sempat berpikir kalau pria itu ingin menawarkan buku bekas dan tawanya hampir saja lepas karenanya. Tapi kemudian ia sadar bahwa buku itu mirip dengan buku kepunyaan Peyton yang pernah ia lihat beberapa hari lalu, saat ia membantunya membereskan barang-barangnya. Brooke kini menduga kalau pria itu mungkin meminjam buku dari Peyton dan sekarang hendak mengembalikannya. Hatinya bertanya-tanya kapan Peyton mengenal pria ini dan rasa kesal menyeruak di hatinya mengingat temannya lupa berbagi cerita tentang hal itu.

“Apa Peyton Sawyer tinggal di sini?” pria itu bertanya dengan sopan. Brooke semakin yakin dugaannya benar. Ia mengangguk dan membuka pintu lebar-lebar. Ia meminta pria itu menunggu lalu melangkah masuk ke dalam.

“Siapa?” Peyton menoleh ke arah Brooke sambil memutar tubuhnya dan berbaring menyamping.

Brooke memukul lengan Peyton cukup keras. Peyton berteriak perlahan sambil memegang lengannya. Wajahnya menatap brooke dengan dahi berkernyit.

“Apa?” tanyanya sambil mengusap-usap lengannya.

Brooke mengambil bantal di sofanya dan sekali lagi memukul Peyton keras-keras.

“Aww,” protes Peyton. “Brooke????” tanya Peyton dengan suara kesal

Brooke mendelik ke arah temannya. Dia masih kesal karena Peyton tidak menceritakan sedikitpun tentang pria tampan itu.

“Ada pria super tampan yang mencarimu. Ia sudah ada di dalam,” Brooke menjatuhkan badannya ke atas sofa dan memeluk kembali bantalnya

Wajah Peyton tampak bingung, ia tidak dapat mengingat pria tampan manapun yang mungkin datang mencarinya saat ini.

“Siapa?” tanyanya dengan nada heran. Brooke mengangkat bahunya.

Peyton bergegas berdiri dan merapikan bajunya. Ia hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek. Awalnya ia berpikir hendak mengganti baju terlebih dahulu tapi rasa penasaran itu sudah begitu kuat hingga ia pun mengurungkan niatnya. Ia melangkah cepat-cepat ke arah ruang tamu. Dilihatnya pria itu berdiri tepat di samping pintu. Wajahnya mengarah ke pintu. Seiring dengan langkah kakinya yang semakin jelas, pria itu menoleh ke arahnya.

“Jensen?” pikir Peyton dalam hatinya sibuk mengira-ngira mengapa pria itu tiba-tiba mencarinya. Belum sempat ia mengatakan apa-apa, Jensen sudah menjulurkan sebuah buku ke arahnya.

“Tadi pagi kau menjatuhkan buku ini di lift,” raut wajah Jensen berubah saat ia melihat Peyton dalam pakaian santainya, yang tak sedikitpun mengurangi kecantikannya. Wajahnya menghangat seketika.

Peyton melihat buku itu dengan wajah terkejut. Mulutnya terbuka lebar. Ia memandang Jensen seakan tidak percaya lalu mengambil buku itu dari tangannya. Tangan mereka bersentuhan. Sekilas tapi itu lagi-lagi membuat Jensen merasakan sesuatu terjadi di hatinya. Sesuatu yang sudah dirasakan sejak kali pertama mata gadis itu bertemu dengan matanya.
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 04

Post  didar on 26th July 2009, 11:47 pm

Peyton mengalihkan pandangannya dari buku yang dipegangnya lalu menatap Jensen dengan penuh terimakasih. Saat itu ia sungguh tidak tahu harus berkata apa. Tidak ada kata yang cukup untuk mengungkapkan rasa terimakasihnya. Jensen balas menatap Peyton dalam-dalam. Ia sangat menyukai tatapan yang diberikan gadis itu, ada kehangatan di dalamnya yang membuatnya terlihat sangat tulus. Diam-diam matanya mulai meneliti wajah Peyton dan hatinya semakin hangat saat ia menyadari bahwa ia menikmati apa yang dilihatnya. Make up tipis yang dikenakannya sangat serasi dengan kecantikannya yang sederhana namun sulit untuk diabaikan.

Seakan teringat akan sesuatu, Peyton mengeluarkan suara tertahan dan segera membuka halaman pertama buku itu,mencari sesuatu di dalamnya. Tapi ia tidak menemukannya.

“Apa kau melihat gambar yang ada di dalam buku ini?” Peyton berkata cepat-cepat sambil menatap Jensen penuh harap.

Jensen berpikir sejenak, ia ingat bahwa tak ada apapun yang ia temukan di sana.

“Tidak, mam,” jawabnya tegas dan sopan. Peyton mencoba mencari kertas itu sekali lagi, berharap bahwa kali ini ia akan menemukannya. Rasa kecewa tergambar dengan jelas di wajahnya saat ia membalikkan halaman terakhir buku itu dan tidak ditemukan apapun di dalamnya.

“Hilang,” ujar Peyton perlahan dengan nada kecewa.

“Mungkin aku yang menghilangkannya, biar aku cari nanti,” Jensen memberi tanggapan dengan cepat dan itu membuatnya merasa bodoh, tak habis pikir mengapa ia berkata demikian. Ia jelas-jelas tidak menghilangkan apapun dari buku itu.

Peyton menggelengkan kepalanya dengan tegas seolah tak mau Jensen menyalahkan diri, “Aku rasa kertas itu terjatuh saat buku ini terjatuh. Bukan salahmu,”

“Aku malah sangat berterimakasih karena kau bersedia mengantarkan buku ini. Buku ini sangat berarti bagiku, terimakasih,” tukasnya lagi sambil tersenyum ramah.

“Darimana kau menemukan alamatku?” Peyton tiba-tiba teringat mereka hanya pernah bertemu beberapa kali secara kebetulan. Ia sungguh berharap Jensen bukan penguntit yang harus diwaspadainya kelak.

“Aku mengetuk beberapa pintu di lantai ini,” Jensen menjawab dengan jujur. Kejujurannya membuat Peyton melemparkan tatapan tidak percaya. Jensen mengganggukkan kepalanya dengan tegas. Peyton tertawa melihat reaksi pria itu. Kalau saja ia sudah kenal Jensen cukup lama, ia pasti akan memeluk pria itu.

“Aku sebaiknya pulang dulu,” Jensen menunjuk ke arah pintu.

“Bagaimana kalau makan malam terlebih dahulu?” tanya Peyton dengan cepat, tidak rela pria itu pergi begitu saja sebelum ia cukup mengungkapkan rasa terimakasihnya.

Jensen terkejut dengan ajakan itu, tapi tidak bisa ia pungkiri ia bahagia mendengarnya.

“Setidaknya sebagai tanda terimakasih. Lagipula kau baru pindah ke apartemen ini. Anggap saja ini sambutan kecil-kecilan dari kami yang tinggal selantai denganmu. Sebenarnya tanda terimakasih lebih tepat untuk sekarang. Kami bisa mengundangmu di lain waktu untuk menyambutmu,” Peyton mencoba memberikan alasan panjang lebar yang baginya masuk akal. Ia tahu pria itu akan menolak undangannya bila ia tidak dapat memberinya alasan yang tepat. Lagipula ia memang hanya mengundang pria itu untuk mengungkapkan rasa terimakasihnya. Tak ada maksud lain. Kebetulan pula ia dan Brooke belum makan malam.

Peyton tersenyum lega saat Jensen menerima ajakannya dengan sopan. Jensen membuka mantelnya dan Peyton membantunya meletakkan mantel itu di tiang gantungan dekat tempat mereka berdiri saat itu.
Peyton melangkah masuk sambil mempersilakan Jensen untuk mengikutinya.
***
“Hi, aku Brooke Davis. Senang bertemu denganmu dan terimakasih atas kebaikanmu membawakan buku temanku itu,” Brooke melemparkan senyuman mautnya kepada Jensen sambil mengulurkan tangannya.

Jensen menyambut uluran tangannya dengan hati-hati. Digenggamnya tangan gadis cantik di hadapannya itu perlahan namun mantap. Brooke tersenyum semakin lebar sambil tertawa malu-malu. Peyton menyaksikan semua itu dengan senyum tertahan, ia tahu benar apa yang sedang dilakukan Brooke. Sudah lama ia tidak melihat aksinya dan ia tak keberatan untuk melihatnya lagi. Brooke mempersilakan Jensen duduk. Melihat Brooke yang tak usah diminta pun telah menjalankan tugasnya sebagai tuan rumah dengan baik, Peyton dengan senang hati menyerahkan tugas itu kepada Brooke dan masuk ke dapur untuk menghangatkan spaghetti buatannya tadi sore. Sekeluarnya dari dapur ia mendapati Brooke duduk di samping Jensen, senyumnya mengembang manis tanpa jeda. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Brooke lalu mengambil tempat duduk di depannya. Brooke mengerlingkan sebelah matanya kepadanya.

Acara makan malam dadakan itu benar-benar terasa hening. Brooke yang biasanya tak pernah kehabisan kata pun , saat itu sepertinya tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya sibuk memandangi Peyton dan sesekali menoleh ke arah Jensen yang serius sekali menghadapi piringnya.

Saat suasana mulai terasa terlalu hening dan canggung. Brooke melhat Peyton dengan gemas dan akhirnya memutuskan untuk mengatasi situasi itu.

“So..” Brooke mencoba membuka pembicaraan. Jensen dan Peyton menoleh ke arah Brooke bersamaan.

“Jadi kau datang bersama istrimu ke sini?” tanya Brooke dengan nada berbasa basi.

Peyton kaget mendengarnya dan memberi Brooke pandangan protes. Brooke jelas-jelas menyadari hal itu namun ia memutuskan untuk mengabaikannya.

“Aku belum menikah,” jawab Jensen sambil memandang Brooke sejenak lalu mengalihkan pandangannya ke arah Peyton dan memandangnya dengan lembut. Sekilas namun hal itu tidak luput dari pengamatan Brooke. Brooke mengernyitkan dahinya. Ia merasa yakin ia telah menangkap sesuatu di sana.

“ohh, bagaimana dengan pacar?” lanjut Brooke masih dengan nada berbasa basi. Ia melirik ke arah Peyton dan sekali lagi mendapat pandangan protes darinya. Brooke mengangkat bahunya seakan ia tidak peduli dengan pendapat temannya.

Jensen memandang kepada Brooke, menggelengkan kepalanya lalu lagi-lagi mengalihkan pandangannya ke arah Peyton. Peyton menangkap tatapannya dan membalasnya dengan senyum canggung. Brooke tersenyum semakin lebar melihat semuanya itu. Ia berdiri dari bangkunya dan mengangkat piringnya yang sudah kosong. Melihat hal itu Jensen pun berdiri, mengangkat piringnya yang masih tersisa sedikit. Ia kemudian menunjuk ke arah piring kosong Peyton,”Aku bantu cuci piring.” Jensen menjulurkan tangannya untuk mengambil piring Peyton. Peyton cepat-cepat menolaknya, “kau tamu di rumah ini, tidak perlu repot-repot.” Peyton mengambil piring kosong itu dari tangan Jensen, meletakkannya kembali di atas meja. “Biar nanti aku bereskan,” ujarnya dengan ramah.

Brooke memperhatikan keduanya sambil menyeringai. ia setidaknya mengerti pandangan salah seorang dari mereka bukanlah pandangan yang biasa dan ia yakin bahwa ini tidak akan berakhir di sini.
***

“Terimakasih untuk makan malamnya,” ujar Jensen dengan lembut sambil mengenakan kembali mantelnya.

“Sampai nanti,” sahut Peyton ramah. Ia yakin mereka akan bertemu lagi, setidaknya saat ia kembali mengundang pria itu makan malam sesuai dengan janjinya. Peyton menunggu pria itu beranjak dari tempatnya. Tapi pria itu sepertinya enggan beranjak. Peyton memandangnya heran, tak butuh waktu lama sebelum akhirnya ia menyadari Jensen memandangnya dengan lembut seolah-olah ia tak rela untuk meninggalkan. Mereka pun berdiri berhadapan untuk beberapa saat lamanya. Mata mereka bertautan, satu pihak lebih dalam dari lainnya dan yang lain mencoba memahami pandangan mata di hadapannya . Waktu sudah melangkah cukup jauh sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk melepaskan pandangan mereka. Jensen tidak lagi berkata apapun dan membalikkan badannya.

Peyton menutup pintu perlahan-lahan. Perasaannya terasa aneh. Perasaan yang tak asing baginya. Ia hanya dapat berharap ia tidak sebodoh itu dan menyerah begitu saja pada perasaan itu.

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum