New Beginnings - Chapter 05

Go down

New Beginnings - Chapter 05

Post  didar on 11th July 2009, 10:30 am

“Sebenarnya kami mengundangmu kemari bukan hanya untuk mengembalikan gambar itu,” Julian mencoba memberi penjelasan. Hal itu ternyata malah membuat Peyton bertambah bingung.

“Kami ingin mengajakmu kerja sama, lebih tepatnya kami memerlukan bantuanmu,” Julian menoleh ke arah Lucas, berharap Lucas membantunya memberikan penjelasan. Tapi Lucas tidak memberi tanggapan apapun, saat itu matanya tertuju lurus ke arah Peyton dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Julian memandang Lucas dengan heran, baginya Lucas sepertinya terpana akan wanita itu. Ia tahu dalam 2 tahun ini Lucas seringkali membiarkan dirinya tenggelam dalam pikirannya tapi hal itu tidak pernah disebabkan oleh wanita. Peyton mengikuti arah pandang Julian. Matanya bertemu dengan mata Lucas. Saat itu tiba-tiba perasaan familiar muncul di hatinya. Wajah Lucas yang kini dapat dilihatnya lebih dekat membuatnya teringat akan wajah pria yang ia gambar pada sampul buku forever and almost always versinya. Pria yang hanya pernah muncul di benaknya, yang mempunyai ikatan emosi dengannya karena ikatan emosi yang dirasakannya dengan tokoh pria di buku itu.

Hitungan detik berlalu saat mereka hanyut dalam pikiran mereka masing-masing, tak bisa memahami perasaan yang timbul saat mereka bertatapan itu. Peyton tidak bisa memahami mengapa pria itu begitu mirip dengan gambarnya. Lucas juga mencoba memahami hal yang sama. Julian mengamati semua itu dengan rasa tertarik. Ia dapat merasakan atmosfer ruangan itu berubah saat mereka berdua bertatapan. Tapi semua itu tak berlangsung lama. Peyton mengalihkan pandangannya terlebih dahulu dan menundukkan kepalanya. Lucas seakan tersadar, ia kemudian menoleh ke arah Julian dan meneruskan penjelasan Julian tadi, “Kami memerlukan bantuanmu untuk menggambar sampul bukuku.”

Julian tak menyangka Lucas ternyata menyimak ucapannya sebelumnya. Ia sungguh tidak mengerti apa yang baru saja terjadi dengannya, tapi baginya Lucas memang bukan seseorang yang mudah dipahami. Sejak dulu sampai sekarang temannya itu masih merupakan misteri baginya. Peyton mengangkat kepalanya, ia menatap Lucas dengan pandangan bertanya.

Julian tiba-tiba menyentuh dahinya perlahan, menyadari kalau mereka belum memperkenalkan diri sejak tadi.
“Biar aku perkenalkan, ini Lucas Scott dan aku Julian Baker,” katanya sambil menjulurkan tangannya, namun kemudian ia menyadari jabat tangan tak mungkin dilakukan di antara mereka yang saat itu terpisah oleh jarak yang cukup jauh. Ia pun berdiri dan menghampiri Peyton. Peyton berdiri menyambut uluran tangannya. Ia benar-benar terkejut. Ia menatap Lucas dan Julian bergantian, seakan berharap salah satu dari mereka akan mengatakan semua ini hanyalah lelucon. Tapi yang ditunggunya itu tak terjadi. Ia pun menyadari bahwa orang yang berdiri di hadapannya memang Lucas Scott. Peyton memandang ke arah Lucas dengan cara pandang yang jauh berbeda sekarang. Bagaimanapun ia adalah penulis favoritnya selama ini dan bertemu dengannya adalah salah satu impiannya. Ia tidak tahu harus berkata apa, begitu banyak yang ingin ia ucapkan. Tapi mulutnya seakan tak mau diajak kerja sama. Rasa gugup melanda dirinya.

Lucas berdiri dan menjulurkan tangannya.”Lucas Scott,” ujarnya dengan ramah

Peyton dapat merasakan keramahan yang terpancar dari suara pria itu dan hal itu membuatnya terbebas dari perasaan gugupnya. Ia menjabat tangan Lucas dengan hati-hati dan menggunakan kesempatan itu untuk mengatakan sebagian isi hatinya.

“Peyton Sawyer, suatu kebahagiaan bisa bertemu dengan penulis favoritku,” ujarnya dengan tulus.
Lucas mempersilakan Peyton duduk kembali dengan sopan. Ia lalu mengganggukkan kepalanya kepada Julian. Melihat hal itu, Julian berdiri dan melangkah keluar dari ruangan. Rasa gugup Peyton kembali terasa saat ia melihat Julian menutup pintu dan meninggalkannya dan Lucas berdua di dalamnya. Ia mencoba untuk menatap Lucas, hatinya masih dipenuhi dengan rasa tak percaya. Sungguh ia tak pernah menyangka akan bertemu dengan penulis buku yang selama ini menjadi favoritnya. Dia bahkan lebih muda dari yang dibayangkan selama ini, jauh lebih muda. Pria yang duduk di hadapannya ini mungkin baru berumur sekitar 27 tahun. Wajahnya memang tidak teramat sangat tampan tapi pria itu sangat enak dipandang dengan postur tubuh yang sangat menarik. Ia juga terlihat sebagai seorang pria yang sudah banyak mengalami asam garam dalam hidupnya.
Lucas mengeluarkan sesuatu dari laci meja di samping tempatnya duduk. Ia lalu menyodorkannya kepada Peyton. Peyton mengenali kertas itu dan senyumnya mengembang lebar saat kertas itu berpindah tangan. Ia mengamati kertas itu dan mendapatinya lebih rapi dari sebelumnya. Peyton memandang ke arah Lucas dengan penuh terimakasih. Pria itu sepertinya sangat menghargai hasil karyanya dan tidak meremehkan kertasnya yang sudah usang itu.

“Gambar yang sangat bagus,” puji pria itu dengan tulus saat matanya bertemu dengan mata gadis itu.

“Terimakasih,” ujar Peyton tulus. Tak ada lagi pujian yang lebih dia harapkan selain dari penulisnya sendiri.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Lucas tiba-tiba dengan nada menyelidik. Peyton menatap Lucas dan mencoba berpikir. Ia menggelengkan kepalanya dengan yakin. Tapi tanggapannya itu tidak membuat Lucas puas.

“Yakin? Mungkin di pantai?” tanyanya sekali lagi. Peyton tersenyum. Tentu saja ia yakin. Ia tidak mungkin melupakan pertemuan mereka kalau memang mereka pernah bertemu sebelumnya. Ia pun menggelengkan kepalanya sekali lagi. Lucas masih juga tak percaya. Pandangan matanya menunjukkan hal itu dengan jelas. Peyton menatap Lucas dengan pandangan heran, tak mengerti mengapa pria itu begitu bersikeras akan hal itu. Hal itu membuat Lucas sadar dan mengalihkan pandangannya. Suasana menjadi hening sesaat saat Lucas mencoba menyingkirkan rasa penasarannya itu. Ia masih tak percaya gadis itu menggambar hidupnya dengan begitu tepat hanya karena kebetulan.

Peyton memperhatikan Lucas diam-diam. Ia menyadari Lucas tidak puas dengan jawabannya tadi. Andai saja ia memang punya jawaban yang lain, tentu sudah ia berikan. Lucas merubah duduknya tiba-tiba dan menunjuk kepada kertas yang dipegangnya.

“Andai ini salah satu cover yang bisa aku pilih waktu itu, maka aku tidak perlu menolak semuanya dan memilih sampul polos sebagai cover bukuku,” Lucas menatap gambar itu sekali lagi dan perasaannya kembali dipenuhi dengan pertanyaan, namun kali ini ia abaikan sepenuhnya.

Peyton tersenyum mendengarnya, ia merasa bagai seorang pelukis yang mendapat penghargaan atas hasil karyanya untuk pertama kalinya. Ia memandang gambarnya sejenak kemudian menyodorkannya kepada Lucas.
“Kalau begitu simpanlah,” ujarnya dengan tulus. Bagaimanapun gambar ini memang ia buat untuk buku yang ditulis oleh pria itu. Lucas tersenyum. Kali ini terlihat begitu manis dan tulus hingga membuat hati Peyton sedikit berdebar saat ia melihatnya. Senyuman itu persis sama dengan senyuman tokoh utama pria yang ia bayangkan selama ini.

“Lebih dari itu, aku ingin kau menggambar ulang gambar itu, dan aku akan menjadikan gambar itu sebagai cover bukuku untuk percetakan berikutnya,” Lucas menuangkan anggur ke dalam sebuah gelas yang tersedia di atas meja dan menuangkan teh pada gelas kedua.

“Kami akan membayarmu dengan pantas,” Lucas meneruskan kata-katanya. Peyton mencoba mencerna semua itu sekali jadi. Perasaannya saat itu meluap-luap, rasa tidak percaya bercampur rasa bahagia yang sulit untuk dilukiskan. Gambar itu akan menjadi hasil karya pertamanya yang dapat dinikmati banyak orang. Peyton mengusap permukaan gambar itu dengan rasa haru.


“Aku ingin kau juga yang menggambar sampul buku keduaku,” Lucas mengangkat kedua gelas dengan kedua tangannya.

Mendengar hal itu, pandangan Peyton dengan cepat beralih kepada Lucas. Matanya dipenuhi oleh rasa bahagia yang dirasakannya. Lucas tersenyum melihat semua itu. Sudah lama ia tak berbagi waktu dengan siapapun kecuali dengan Julian, rekan kerja dan bisnisnya, serta keluarganya. Reaksi bahagia yang diberikan gadis itu sangat menarik bagi dirinya yang selama ini dikelilingi oleh orang-orang yang selalu menjaga emosi. Ekspresi gadis itu terlihat sangat murni dan tidak dibuat-buat.

Lucas memberikan gelas berisi anggur kepada Peyton dan mendekatkan gelas berisi teh kepada dirinya. Ia kemudian mengangkatnya dan mengajak Peyton bersulang. Peyton menggerakkan gelasnya, membenturkannya kepada gelas yang Lucas pegang dengan hati-hati dan kemudian meneguk isinya sekali jadi.

Lucas terkejut melihatnya, anggur yang ia isi ke dalam gelas itu cukup banyak, bahkan mungkin terlalu banyak bagi orang yang jarang meminum anggur. Peyton merasakan pipinya semakin lama semakin panas, kesadarannya sedikit demi sedikit menghilang. Ia menaruh gelasnya perlahan-lahan, mencoba untuk menahan kesadarannya agar tidak menghilang seluruhnya.

Kenangan Lucas terbuka saat ia melihat kejadian itu. Hal itu mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang setelahnya akan meminta gelas anggurnya diisi lagi dengan nada setengah mabuk. Tanpa sadar Lucas menggerakkan botol anggur yang dipegangnya untuk mengisi gelas Peyton. Peyton menahannya. Tangannya ada di bawah tangan Lucas, mencoba menahannya dengan lembut. Sentuhan itu sepenuhnya mengembalikan kesadaran Lucas. Sentuhan yang tak dikenalnya, yang tak sama dengan sentuhan seseorang yang sekarang tak mungkin dirasakannya lagi.

“Sudah cukup,” tukas Peyton mencoba berbicara tanpa terbata-bata. “Kalau aku minum lagi kau harus gotong aku keluar,” ujarnya lagi sambil mengerjapkan kedua matanya, mencoba mengembalikan kesadaran sepenuhnya pada dirinya. Lucas tertawa kecil melihatnya. Ia memberikan gelas berisi teh yang tadi tak sempat ia minum kepada gadis itu, yang kemudian menerimanya setelah memastikan gelas itu tidak berisi anggur.

“Jadi kapan kau bisa mulai?” tanya Lucas setelah Peyton meneguk seluruh isi gelas itu.

Peyton merasakan sebagian kesadarannya pulih dengan cepat. “Kapan saja, aku sedang senggang,” jawabnya dengan suara lebih mantap.

“Bagaimana kalau lusa?” tukas Lucas cepat, tak ingin menundanya terlalu lama.

Peyton mengganggukkan kepalanya. Ia tak keberatan untuk melukis di hari minggu sekalipun.

“Aku ingin kau datang kemari, membawa buku sketsamu. Kemudian aku akan membagikan isi bukuku, apa yang aku tulis dalam perspektifku sendiri, gambar apa yang kau tangkap dalam benakmu itulah yang akan kau gambar. Lalu aku akan memberimu kopi buku itu, selesai membacanya kau gambar lagi apa yang kau tangkap dalam benakmu. Dua gambar, yang satu menurut perspektifmu dan yang satu lagi menurut perspertifku dan aku sudah tidak sabar ingin melihat perbedaannya,” Lucas menjelaskan semuanya dengan singkat. Peyton menganggukkan kepalanya sepenuhnya mengerti.
***

Peyton berbaring telentang di atas ranjangnya dengan mata terbuka lebar. Hari sudah jauh meninggalkan malam tapi ia tak juga mengantuk. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Ia yang akan menggambar ilustrasi untuk sampul buku Lucas Scott yang kedua, entah sudah berapa kali ia membisikkan hal itu di dalam hatinya. Lucas Scott. Tak terhitung berapa kali ia sudah membisikkan nama itu sejak tadi. Nama itu seakan mengandung unsur magis yang membuatnya bahagia hanya dengan menyebutnya. Peyton menutup kepalanya dengan bantal dan berguling ke samping.
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 05

Post  didar on 3rd September 2009, 10:51 pm

“Ah,” desahnya pelan. Matanya masih juga tak mengantuk. Senyum sepertinya juga enggan meninggalkan bibirnya yang mungil. Ia tahu saat itu…. ia bahagia.
***

Brooke menjerit histeris. Peyton menutup telinganya.

“aarrgh.. jadi itu sebabnya kau dicari?” Brooke berdiri mengenakan jubah mandinya di hadapan Peyton yang sedang duduk menikmati sarapan paginya. Peyton pun menganggukkan kepalanya, senyum bahagia menghiasi wajahnya. Ia memegang cangkir kopi dengan kedua tangannya dan memegangnya di depan mulutnya. Kedua sikunya bersandar ke atas meja.

Brooke memeluk Peyton dari samping. “Oh my god, aku sungguh berbahagia untukmu,” ujarnya heboh.

Cangkir kopi di tangan Peyton hampir saja terlepas. Brooke melepaskan pelukannya dan memandang Peyton dengan pandangan bahagia yang terlihat nyata di kedua matanya yang indah. Peyton pun menganggukkan kepalanya perlahan, menghargai kebahagiaan yang dirasakan Brooke untuknya.

Brooke tidak membuang waktu untuk mengetahui detilnya lebih lanjut. Ia menggeser bangku di depannya dan duduk di hadapan Peyton. Saat ini Ia bahkan terlihat lebih berbahagia dibanding Peyton. Peyton menuangkan kopi ke dalam cangkir kosong dan mendorongnya ke arah Brooke. Brooke mengambil cangkir itu dengan kedua tangannya dan menggesernya ke arahnya.

“Jadi, apa yang harus kaulakukan?” tanyanya dengan antusias.

“Aku harus bertemu dengannya lagi hari minggu besok,” jawab Peyton sambil mengangkat cangkir kopi ke bibirnya dan menyeruput kopi itu pelan-pelan.

“Apa dia tampan?” Brooke menyeringai

Peyton mendelik ke arahnya dan kemudian berpura-pura berpikir keras sebelum akhirnya mengangguk.

“Iya?” Brooke berusaha memastikan. Peyton sekali lagi mengangguk. Mereka berdua pun tertawa.

“Sekarang waktunya kau menceritakan pertemuanmu dengan Lucas secara detil,” ujar Brooke dengan nada sedikit menuntut. Peyton tertawa dan menceritakan semuanya kepada Brooke. Brooke mendengarkannya sampai selesai tanpa menginterupsi sekalipun juga.

“jadi, ia bertanya begitu kepadamu?” tanya Brooke dengan muka heran usai mendengar cerita Peyton.

“Yup,” jawab Peyton sambil mengangguk, “Aneh bukan?”

“Seakan dia yakin dia pernah bertemu denganmu sebelumnya di suatu pantai?” tanya Brooke meminta kepastian.

“Yup, padahal aku belum pernah pergi ke pantai manapun selain pantai di Wilmington dan aku hanya pergi ke sana untuk berpacaran dengan Jake.”

Peyton mencoba menggali pikirannya, memastikan lagi semua itu. Jawabannya tetap sama.
“Aku yakin aku tidak pernah bertemu dengan orang asing di pantai.”

Brooke masih memandangnya heran. Peyton pun mengangkat bahunya. Ia tidak mau memikirkan hal itu lebih lanjut karena memang ia tidak pernah bertemu Lucas sebelumnya.

“Mungkin ia pernah bertemu dengannya dalam mimpi, mimpi yang … ” Brooke tidak melanjutkan kata-katanya, ia menyengir lebar. Peyton mendelik ke arah Brooke sambil memukul perlahan pundaknya. Brooke pun tertawa lepas.

Peyton menghabiskan kopinya dan bergegas beranjak dari bangkunya. Ia menyelipkan tas di bahunya.

“Aku pergi dulu, hari ini aku mau duduk di taman kota dan meneruskan chapter 4, saat Chad bertemu dengan Lauren untuk pertama kalinya.” Tangannya memegang buku Forever and Almost Always.

“Peyton, apa ngga salah? Sudah bertemu dengan penulisnya pun, kau masih mau membaca buku itu lagi?” tanya Brooke dengan nada heran.

“Apa hubungannya?” tanya Peyton bingung.

“Aku juga ngga tahu, tapi bagiku itu artinya kau tuh aneh” sahut Brooke cuek. Peyton melangkah ke pintu sambil tertawa.

Ini adalah akhir minggu pertamanya di NY. Tak ada lagi yang lebih ingin dilakukannya selain bersantai di taman kota.
***

Peyton melangkah keluar dari gedung. Kepalanya tertunduk mencari sesuatu di tasnya. Tubuhnya tiba-tiba menubruk seseorang.

“Maaf,” ujarnya cepat-cepat. Peyton mengumpat halus di hatinya, ia benar-benar harus mengubah caranya berjalan sebelum menjadi kebiasaan baginya menabrak orang di depan gedung. Ia lalu menengadahkan kepalanya dan mendapati Jensen berdiri di hadapannya. Pria itu terlihat sangat tampan dengan jaket kulit berwarna hitam, celana jeans yang sudah terlihat usang dan sepatu boot ala koboi. Wajah Jensen berubah ketika ia tahu siapa yang menabraknya. Senyum lebar dengan segera menghiasi wajahnya. Sekali lagi Peyton mendapati wajah pria itu terangkat ke atas bersama dengan senyumnya itu dan ia terlihat begitu tampan.

“Mam,” sapa Jensen ramah.

Peyton tertawa, “Bisakah kau berhenti memanggilku mam? Kau boleh memanggilku Peyton atau hmm.. Sawyer, tapi kalau boleh aku anjurkan sebaiknya kau memanggilku Peyton.”

Sejenak Jensen terlihat ragu-ragu. Peyton tertawa kecil melihat reaksi pria itu. Ia mengagumi kejujuran pria itu dalam mengungkapkan perasaannya. Pria itu bagai sebuah buku terbuka yang dengan mudah terbaca oleh siapapun.

“Dan aku akan memanggilmu Jensen. Atau mungkin kau ingin dipanggil Mr, atau Mr Ackles?” tanyanya dengan nada bercanda sambil berjalan memutari Jensen menjauh dari pintu. Ia tidak ingin menghalangi orang yang hendak memasuki gedung. Jensen yang sejak tadi tak lepas memandangnya, otomatis ikut berputar bersamanya.

“No mam, cukup Jensen,” sahutnya cepat. Peyton memutar bola matanya dan mendelik ke arah Jensen. Hal itu membuat Jensen tersipu malu. Ia mengusap kepalanya perlahan. Peyton kembali memandangnya dengan muka seserius mungkin, menuntutnya untuk memanggilnya dengan namanya. Jensen tertawa kecil dan mengangguk, “Baiklah, aku akan memanggilmu Peyton.”

“Yeah,” Peyton bersorak kecil. Jensen sekali lagi tertawa. Wajahnya terangkat ke atas dan giginya yang rapi terpampang jelas. Peyton tertawa bersamanya. Ia senang melihat perkembangan hubungan mereka sejauh ini. Jensen adalah orang pertama yang dikenalnya di NY dan sekarang menjadi teman pertamanya pula.
“Aku akan pergi ke taman kota,” ujar Peyton sambil menunjuk ke arah timur. Jensen mengikuti telunjuknya, mencoba mencari taman kota yang dimaksud

“Apa kau pernah pergi ke taman kota?” tanya Peyton setelah melihat arah pandang Jensen yang kurang tepat.

“Belum,” jawab Jensen dengan jujur, sedikit berharap gadis itu akan mengajaknya dan mereka bisa menghabiskan waktu bersama.

“Bagaimana kalau kita pergi ke sana bersama-sama? Kau bisa duduk-duduk menikmati pemandangan, dan aku akan membaca bukuku,” ujar Peyton ramah, tak ada salahnya berbagi kebahagiaan dengan pria itu.
“Baiklah, mungkin kita bisa duduk-duduk sambil makan di sana,” Jensen mengangkat kantung kertas yang sejak tadi dipegangnya.

“Great!” sahut Peyton sambil tertawa.

Mereka berdua berjalan berdampingan dan melangkahkan kakinya dengan santai. Sesekali Peyton menunjuk ke beberapa gedung dan menceritakan sesuatu kepada Jensen yang mendengarkannya dengan tertarik. Sesekali pula terdengar suara tawa Peyton yang dengan segera diikuti oleh tawa Jensen. Pandangan mereka berulang kali bertemu dan mereka kini menikmati keberadaan mereka satu sama lain tanpa lagi dihalangi dengan rasa canggung.

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum