New Beginnings - Chapter 11

Go down

New Beginnings - Chapter 11

Post  didar on 20th July 2009, 2:24 am

“Jadi bagaimana makan siangmu dengan Peyton siang tadi?” Itu pertanyaan pertama yang tidak mungkin Julian lewatkan saat ia menemui Lucas di ruang kerjanya. Lucas sedang duduk menghadap laptopnya dan ia sibuk mengetik.

Lucas hanya melirik Julian sejenak lalu ia kembali menekuni laptopnya. Julian telah membiasakan dirinya untuk tidak mendesak apapun dari Lucas. Kalau memang Lucas tidak mau mengatakannya, dipaksa bagaimanapun juga tidak bisa.

“Semuanya berjalan dengan baik,” ujar Lucas tiba-tiba. Salah satu kebiasaan Lucas yang aneh, seringkali menjawab pada saat yang tidak dikira. Julian mendekati Lucas dan berdiri di hadapannya.

“Apa kau menikmati waktumu tadi?” tanyanya dengan nada ingin tahu.

Lucas memandang ke arah Julian dan mengangguk dengan pasti.

“Aku akan mengajaknya kencan lagi, karena aku memang menyukainya,” jawabnya. Kata-kata Lucas itu membuat Julian terpengarah. Lucas memang orang yang sangat jujur, ia akan mengatakan apa saja sesuai dengan apa yang ada di hatinya, hanya saja ia bukan orang yang terbuka. Hal itu membuat Julian semakin yakin Peyton memang cukup berarti bagi Lucas.

“Aku masih memerlukan kepastian tentang satu hal dan sesudah aku mendapat jawabannya, aku akan mengajaknya lagi untuk kencan yang sesungguhnya,” Senyum tipis menghiasi wajah Lucas dan untuk sekilas ia terlihat bahagia.

Julian mengamati Lucas dengan seksama, raut wajahnya dengan jelas menunjukkan isi hatinya dan ia turut bergembira sekaligus berharap semuanya berjalan lancar. Sulit bagi wanita manapun untuk dapat memahami Lucas sepenuhnya. Lucas hanya mau terbuka sepenuhnya pada Lauren dan ia tidak yakin Lucas mau melakukan hal yang sama untuk Peyton.

“Bangunkan aku saat Peyton datang besok, ia akan memberikan gambar yang sudah selesai ia buat” ujar Lucas sambil melepaskan cincinnya dan meletakkannya di atas meja.

Julian terkejut melihat hal itu. Lucas belum pernah melepaskan cincin kawinnya sekalipun. Ia hanya melepaskannya pada saat ia membersihkannya dan itupun akan langsung dipakainya kembalii.

“Iya,” jawab Julian hampir 5 menit setelahnya. Ia begitu terpaku memikirkan hal itu dan waktu terbang begitu cepat bersamanya. Tapi Lucas tidak menyadari semua itu. Pandangannya terus terarah pada layar dan tangannya sibuk mengetik.
***

Di hari minggu itu Peyton bangun lebih pagi dari biasanya. Hari ini jadwalnya penuh dengan berbagai kegiatan dan ia perlu lebih banyak waktu untuk menyelsaikannya.

Peyton berbaring sejenak di ranjangnya. Matanya mengarah pada langit-langit kamarnya dan kedua ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman di wajahnya. Hatinya terasa bahagia. Ia akan pergi menemui Lucas untuk menyerahkan langsung revisi sampul “Forever and Almost Always” yang sudah ia selesaikan jauh sebelumnya. Minggu sebelumnya ia disibukkan dengan tugas melukis yang mulai menumpuk. Kelas melukisnya sekarang hanya berlangsung seminggu 3 kali dan terus diisi dengan kegiatan melukis. Untuk beberapa pertemuan ke depan ia akan melukis segala yang berhubungan dengan manusia. Minggu sebelumnya ia sudah melukis wajah dan minggu berikutnya adalah salah tugas yang membuat Brooke sangat bergairah saat mendengarnya. Kelas melukisnya akan berakhir dalam waktu 12 minggu lagi. Ia hanya perlu menyelesaikan 4 buah tugas besar menjelang kelasnya berakhir. Setelahnya ia harus menyiapkan diri untuk berkecimpung di dunia para pelukis.

Peyton menarik dirinya dengan cepat dari ranjangnya. Ia bergegas mandi dan mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Lucas. Ia menambah make up tipis pada wajahnya dan memakai pakaian casual yang cocok untuk menemaninya ke taman nanti, celana jeans dan blus cantik tak berbahu. Ia ikat seluruh rambut pirangnya ke atas dan membiarkan poninya terurai ke samping. Ia mematut dirinya sejenak di kaca, merapikan make up-nya sampai ia merasa puas dengan apa yang dilihatnya di sana.

Peyton bergegas mengambil tasnya, ilustrasi sampul novel pertama Lucas sudah ada di dalam tabung yang saat ini selipkan di bahunya. Rasa cemas tiba-tiba menyelinap di hatinya yang sedang berbahagia saat ini, ia tidak tahu bagaimana mood Lucas hari ini. ia sungguh berharap ia tidak lagi mengeluarkan perkataan atau pertanyaan yang sensitif bagi pria itu dan pertemuan mereka boleh berlangsung dengan menyenangkan dari awal hingga akhir. Tidak menyinggung soal almarhum istrinya. Ia rasa hanya itulah pantangan baginya.

Peyton tiba di depan apartemen Lucas dan dengan satu tarikan napas panjang ia menekan bel pintu. Sejak tadi ia berusaha menenangkan detak jantungnya yang semakin lama semakin kencang. Entah mengapa setiap pertemuannya dengan Lucas selalu saja diawali dengan rasa gugup.

Peyton melihat sekilas ke arah jam tangannya. Saat itu waktu menunjukkan pukul 8.30. Ia berharap ia dapat segera bertemu dengan Lucas dan menyelesaikan urusannya dengan cepat tanpa harus disertai basa basi. Hari ini ia masih harus menyelesaikan satu lukisan lagi dan lamanya waktu yang diperlukannya untuk menyelesaikan sebuah lukisan tidak pernah dapat dipastikan.

Peyton memandang pintu yang ada di depannya dan menunggu. Suara engsel pintu terdengar dan dengan cepat pintu terbuka lebar. Julian berdiri di belakangnya sambil memegang gagang pintu. Seringai lebar dengan segera menghiasi wajahnya saat ia melihat Peyton berdiri di hadapannya.

“Miss, Sawyer, pagi yang menyenangkan karena dapat bertemu denganmu. Silakan masuk,” ujarnya dengan seringai lebar khasnya itu. Peyton yakin sudah banyak sekali wanita yang jatuh dalam pelukannya karena seringainya yang menawan itu. Peyton melangkah masuk sambil memlemparkan pandangan kesal ke arah Julian. Julian memandangnya heran tapi dengan segera ia paham maksud pandangan Peyton itu.

“Lucas bilang kencannya denganmu menyenangkan, aku yakin kau juga berpendapat sama. Itu artinya kau harus berterimakasih padaku,” ujarnya sambil menyeringai puas. Senyum dan seringai pria itu terlihat sangat mirip, sulit dibedakan apakah ia sedang tersenyum atau menyeringai. Tapi apapun itu memang membuat wajah tampannya semakin menarik.

“Kenapa aku harus berterimakasih padamu?” Peyton pura-pura tidak mengerti maksud perkataan Julian. Julian memutar bola matanya. “Deuh,” ujarnya dengan gemas. Peyton tertawa geli. Julian memang pria yang lucu dan menyenangkan, dengan mudah pria itu dapat membuatnya tertawa.

“Kau sebaiknya menunggu di ruang kerja Lucas sebentar,” ujar Julian sambil memimpin langkah mereka ke ruang kerja Lucas.
“Aku akan pergi membangunkan Lucas sekarang, ia baru tidur subuh tadi. Kemarin ia menulis terus menerus. Hujan inspirasi sepertinya,” Julian membukakan pintu bagi Peyton .

Peyton menghentikan langkahnya yang saat itu sudah bergerak masuk ke dalam ruang kerja Lucas.

“Kalau begitu aku sebaiknya datang lagi nanti sore,” ujarnya cepat. Ia tidak enak hati mengganggu tidur Lucas yang baru berlangsung sebentar itu. Julian dengan cepat menggelengkan kepalanya.

“Tidak perlu. Biar aku bangunkan sekarang, ia sudah menitip pesan agar aku membangunkannya kalau kau datang. Percaya padaku, ia pasti senang melihatmu,” ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Peyton memandangnya sambil tertawa.

“Baik, aku akan menunggu di sini,” jawabnya sambil melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu lebih jauh.

“ Dan ohh.. ,” Julian membalikkan tubuhnya saat ia teringat ada sesuatu yang harus dikerjakannya setelah ini.

“Aku harus segera pergi, aku ada janji dengan seorang gadis luar biasa cantik. Dan yup, ia lebih cantik darimu. Aku akan membangunkan Lucas sekarang dan sesudah itu aku akan pergi. Karena itu aku tidak bisa menemanimu menunggu, maaf,” ujarnya dengan nada minta maaf yang tulus

“Tidak apa, aku akan duduk baik-baik menunggu,” Peyton sekali lagi tersenyum oleh karena perkataan Julian tadi.

Julian mengangguk. Ia berbalik, namun dengan cepat membalikkan lagi tubuhnya ke arah Peyton.

“Anggap saja ini rumahmu, dan ohh.. have a nice weekend,” tambahnya lagi. Peyton tertawa.

“Kau harus sering-sering tertawa seperti itu di hadapan Lucas,” ujar Julian sambil berjalan mundur sekaligus menyamping ke arah kamar Lucas. Telunjuknya menunjuk ke arah Peyton. Peyton tertawa kecil.

Peyton memasuki ruang kerja Lucas dan memutuskan untuk memanfaatkan waktu dengan berjalan menikmati ruangan itu. Ruangan itu benar-benar didesain dengan cita rasa yang tinggi. Jiwa seni yang ada di dalam dirinya benar-benar terpuaskan oleh keindahan yang terpancar di setiap bagian ruangan itu. Semua perabotannya modern dan sangat berkelas. Letaknya diatur dengan rapi namun juga tidak kaku sehingga mampu memberi kesan nyaman. Beberapa lukisan bergaya abstrack yang menghiasi ke empat dindingnya membuat ruangan itu terlihat semakin anggun. Peyton sangat menyukai setiap hal yang ada di ruangan itu, dan satu yang terutama adalah pintu kaca besar yang menjulang di hadapannya. Di depan pintu itu terdapat balkon yang terbuka lebar ke arah pemandangan Kota New York, luas membentang sejauh mata memandang. Hati Peyton terasa sangat bergairah saat ia berdiri di depan pintu kaca dan melemparkan pandangannya ke arah pemandangan itu.

Suatu hari ia harus melukis di balkon itu dan demi hal ini ia akan berusaha menemukan caranya.

Tekad Peyton untuk melukis di tempat itu semakin kuat dan ia tahu ia sedikitnya harus berteman dengan Lucas untuk dapat mencapai impiannya itu. Berteman, sepertinya tidak terlalu sulit baginya.

Setelah puas menikmati pemandangan Kota New York, Peyton berjalan memutari ruangan itu sekali lagi. Matanya memandang setiap bagian ruangan itu dengan penuh rasa kagum. Ia tiba di depan meja Lucas yang pada putaran pertama ia lewati. Tapi kali ini rasa penasaran dengan cepat mengambil alih pikirannya. Peyton berdiri di depan meja yang sangat luas itu dan mulai melihat-lihat apa yang ada di atasnya, sedikit berharap dapat menemukan lembaran-lembaran novel kedua Lucas. Matanya berbinar dipenuhi rasa ingin tahu. Ia mulai menyapu meja itu dengan kedua matanya dan terus bergerak menjelajahi semuanya sampai akhirnya ia menangkap cincin yang kemarin dilihatnya di jari manis Lucas. Cincin emas bertabur berlian yang tak terlihat terlalu mahal. Untuk ukuran orang sekaya Lucas, cincin itu terlihat terlalu sederhana.

Peyton tidak dapat menahan dirinya untuk mengamati cincin itu lebih dekat lagi. Ia sempatkan diri untuk melirik ke arah pintu sebelum akhirnya mengambil cincin itu. ia tak ingin kepergok siapapun terutama Lucas pada saat ia memegang cincin itu.
Peyton memegang cincin itu dan mengamatinya dari dekat. Cincin yang terbuat dari emas putih itu terlihat sangat terawat. Desainnya cukup menawan dan berliannya yang kecil berkilau saat terkena sinar matahari. Peyton memutar cincin itu dan mengamati seluruh permukaannya dengan seksama. Sekilas ia melihat ukiran yang ada di permukaan dalam cincin itu. Ukiran itu terlihat semakin jelas saat ia dekatkan cincin itu lebih dekat ke matanya.

Ukiran itu membentuk tiga huruf L.

“LLL,” bisik Peyton pada dirinya sendiri. Ia langsung teringat pada kisah Chad dan Lauren di karya pertama Lucas itu. Lauren menggunakan huruf CLL untuk menuliskan cinta yang ia dan Lucas miliki. CLL merupakan singkatan dari Chad + Lauren = Love. Karena itu Chad mengukir ketiga huruf itu di cincin kawin mereka. Cincin emas sederhana yang bertatahkan berlian 1 karat.

Pikiran Peyton bekerja dengan cepat dan saat itu ia menyimpulkan bahwa LLL punya arti yang sama, walau ia tidak tahu apa kepanjangan dari L yang kedua tapi ia yakin bahwa ketiga huruf itu mempunyai makna yang sama dengan CLL. L yang pertama tentu saja Lucas, L yang ketiga adalah Love. Sedangkan L yang kedua, Peyton yakin itu adalah huruf depan nama istri Lucas yang sudah meninggal.

“Apakah itu berarti Lucas menuliskan kisah hidupnya ke dalam novelnya yang pertama itu?” Pertanyaan itu berkecamuk di hati Peyton saat itu. Tapi dengan segera ia membantah pikirannya itu. Lucas bisa saja memakai beberapa hal yang terjadi dalam hidupnya untuk dipakainya dalam novel itu tapi bukan berarti ia menulis kisah hidupnya. Bisa saja sebagian tapi tidak seluruhnya. Bisa saja banyak tapi bisa juga sedikit. Peyton mulai merasa bingung. Apa artinya semua ini.

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 11

Post  didar on 20th July 2009, 2:28 am

Peyton mendengar suara angkah kaki bergerak mendekati ruang itu. Cepat-cepat ia menaruh cincin itu pada posisi sebelumnya. Lucas memasuki ruangan sambil tersenyum ramah. Ia sepertinya menyempatkan diri untuk mandi dan itu membuatnya terlihat segar, tak terlihat seperti orang yang baru saja dibangunkan dari tidurnya yang hanya berlangsung sebentar. Peyton sekali lagi merasa tidak enak karena telah mengganggu tidur Lucas. Ia menyesal karena sebelumnya ia menyetujui usul Julian begitu saja.

“Aku sungguh minta maaf, aku sungguh tidak tahu kau tadi masih tidur. Julian mengatakan..,” Peyton mencoba menjelaskan dengan cepat tapi Lucas menyelanya tak kalah cepat.

“Tidak apa, aku memang menyuruh Julian untuk membangunkanku kalau kau sudah datang,” tukas Lucas sambil tersenyum. Peyton merasa sangat lega saat ia melihat keramahan yang tepancar dari senyum Lucas itu. Wajahnya juga tidak menunjukkan tanda-tanda keberatan sama sekali.

“Aku sungguh tidak keberatan,” ujar Lucas lagi dengan ramah.

Lucas mempersilakan Peyton duduk di sofa yang biasa mereka tempati. Peyton menempatkan dirinya di salah satu bagian sofa itu dan tanpa menunda lagi ia mengeluarkan gambarnya dan menyodorkannya kepada Lucas. Lucas menoleh ke arahnya sambil tertawa, tak menduga ia akan disodorkan gambar itu secepat itu, tanpa pula disertai basa basi. Ia kemudian meletakkan botol mineral yang sedang dipegangnya dan menerima gambar itu.

Lucas mengamati gambar itu dan ia mengangguk puas saat mendapati gambar itu benar-benar identik dengan gambar sebelumnya. Di dalamnya terdapat sosok pria muda berambut coklat yang sedang berdiri di tepi pantai. Kepalanya tertunduk memandang ke sebuah kalung berhiaskan cincin yang dipegangnya erat-erat. Rambutnya terurai tertiup angin. Di latarnya terlihat wajah seorang wanita, yang terlihat begitu cantik dan anggun.

Lucas mengangguk puas.

“Pria ini tidak terlihat seperti diriku yang sekarang, tapi mirip,” ujarnya sambil tertawa. Jarinya menunjuk kepada wajah pria yang ada pada gambar itu. Peyton tersenyum malu.

“Entah mengapa, gambarnya selalu mirip denganmu,” sahutnya dengan nada minta maaf.

“Apa kau ingin aku menggantinya lagi?” tanya Peyton tidak enak hati karena ia seharusnya menggambar ulang gambar itu. Sebenarnya kalau saja ia tidak disibukkan dengan tugas-tugas yang ia dapatkan dari kelas melukisnya, ia tentu sudah menggambarnya ulang. Lucas menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa, ia tidak terlalu mirip denganku, setidaknya warna rambutnya jauh lebih gelap dariku, dan wajahnya bersih,” ujar Lucas sambil tertawa. Ia sebenarnya menyadari pria itu terlihat seperti dirinya di waktu muda tapi memutuskan untuk tidak mempersulit Peyton lagi.

“Gambar ini sangat bagus dan aku sangat puas dengan hasilnya,” ujarnya ke arah Peyton dengan tulus.

“Akan kusuruh publisherku untuk menggunakan gambar ini sebagai sampul bukuku pada percetakan berikutnya,” tambahnya lagi sambil menyimpan gambar itu di laci meja yang terletak di sampingnya.

“Kapan aku bisa mulai menggambar sampul buku keduamu itu?” tanya Peyton. inilah tugas yang sebenarnya sangat ia nanti-nantikan.

“Kapanpun kau sempat, kita tentukan lagi waktunya, akan kusuruh Julian untuk meneleponmu,” jawab Lucas.

Peyton mengangguk lalu berdiri. Ia bermaksud untuk pamit. Urusannya di sini sudah usai. Lucas memandangnya dengan heran.

“Kau tidak boleh pergi begitu saja, setidaknya kau harus sarapan dulu,” ujarnya sambil melihat jam tangannya. Peyton memandang ke arah jam dinding yang ada di ruangan itu. Saat itu masih pukul 9.30, ia masih punya banyak waktu untuk melukis tapi ia tidak mau membuang waktu yang ada untuk sarapan dulu.

Mulut Peyton sudah bergerak membuka saat Lucas berdiri dan langsung menyuruhnya mengikutinya. Peyton sadar Lucas tidak memberi kesempatan baginya untuk menolak.

Peyton mengikuti langkah Lucas ke arah dapur. Ia berusaha menenangkan hatinya yang saat itu mulai terasa tak karuan. Ia tidak menyukai ide untuk menghabiskan waktu hanya berduaan dengan pria itu di luar urusan pekerjaan, tidak di saat ia tidak punya waktu cukup untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu. Sejujurnya ia memang menikmati kencan mereka kemarin tapi ia tidak menyukai perasaan naik turun yang disebabkan pria itu di hatinya. Pria itu dengan mudahnya membuat perasaan di hatinya campur aduk. Tadi pagi hatinya terasa bahagia saat ia menyadari ia akan segera bertemu dengannya. Tapi kemudian ia merasa cemas dan berharap untuk dapat menjaga kata-katanya dari setiap hal sensitif yang mungkin menyinggung perasaan pria itu. Sekarang tiba-tiba saja jantungnya berdebar begitu kencang seakan sedang bersiap-siap untuk meloncat keluar.

Setibanya di dapur, Lucas menarik sebuah bangku dan mempersilakan Peyton duduk dengan sopan. Ia lalu membuka kulkas dan mengeluarkan sekotak sushi. Ia memindahkan seluruh isinya ke atas piring datar dan menaruhnya di atas meja. Peyton melihat semuanya dengan bingung. Ia baru saja membayangkan pria itu akan memasakkan sesuatu baginya. Oleh karena itu ia merasa segalanya benar-benar romantis dan jantungnya berdebar kencang. Sungguh tidak disangka bahwa makan pagi mereka begitu praktis.

“Apa kau mengira aku akan memasakkan sesuatu untukmu?” tanya Lucas dengan nada heran saat ia melihat raut wajah Peyton yang terlihat bingung. Peyton menganggukkan kepalanya dengan wajah tersipu. Lucas tertawa lepas. Peyton tersenyum malu ke arahnya.

Lucas mengambil 2 pasang sumpit dari dalam laci yang ada di meja makan itu dan memberikan satu pasang kepada Peyton. Peyton mengambilnya dengan bingung, tidak enak untuk menolak. Lucas dapat membaca kebingungan yang ada di wajah Peyton itu. Ia lalu mengambil kembali sumpit itu dari tangan Peyton dan memasukkan kembali kedua sumpit itu ke dalam laci. Matanya memandang Peyton dengan lembut.

“Begini baru enak,” katanya sambil mengambil sepotong sushi dengan tangannya dan memasukkannya sekali jadi ke dalam mulutnya. Mulutnya dipenuhi dengan potongan sushi itu. Peyton tertawa melihatnya. Ia pun mengambil sepotong sushi dengan tangannya,menggigit setengahnya dan memegang sisanya. Sushi itu benar-benar sangat lezat. Dalam sekejap mereka berdua sudah menghabiskan masing-masing 3 potong sushi

“Apa kau biasa makan pagi seberat ini?” tanya Peyton sambil menelan sushi yang ada di mulutnya. Ia merasa lega, sejauh ini kebersamaannya dengan Lucas tidak membuat perasaannya naik turun seperti kemarin.
“Tidak, aku biasa masak sendiri,” jawab Lucas sambil mengambil lagi sepotong sushi dengan tangannya dan memasukkan ke dalam mulutnya.

“Kau bisa masak?” tanya Peyton dengan wajah terkejut. Lucas mengangguk kecil.

“Kalau begitu seharusnya kau memasakkan sesuatu bagiku tadi,” ujar Peyton sambil tertawa kecil. Ia lalu mengambil kembali sepotong sushi dengan tangannya, menggigit setengahnya dan menguyah potongan sushi yang ada di dalam mulutnya sambil memejamkan matanya. Lucas tersenyum melihatnya. Ia merasakan gejolak di hatinya yang sejak tadi ia rasakan semakin kuat, menekannya hingga ia sulit bernapas. Tapi perasaan yang menyesakkan itu itu sama sekali tidak membuat dirinya merasa tidak nyaman, perasaan itu malah menimbulkan kenikmatan aneh yang membuatnya heran. ia memutuskan untuk memanfaatkan keadaan itu untuk mengajak Peyton kencan kedua kalinya.

“Bagaimana kalau kau datang malam ini untuk makan malam dan aku akan memasakkan sesuatu untukmu,” ujar Lucas dengan lembut. Tatapannya tertuju lurus ke arah Peyton. Peyton menatap Lucas tak percaya. Ia baru saja berhasil menenangkan hatinya dan tawaran Lucas itu membuat jantungnya kembali berdebar dengan kencang. Ia mulai mencurigai dirinya sendiri, reaksi yang diberikan hatinya untuk pria itu semuanya mengarah pada satu hal tapi ia sendiri tidak yakin. Peyton membalas tatapan Lucas sambil menahan napas, ia tidak mau lagi jatuh ke dalamnya. Ia berusaha kuat untuk menatap Lucas tanpa benar-benar memandang ke dalamnya. Ia tidak tahu harus berpikir apa. Ia sungguh berharap Lucas tidak sedang mengajaknya kencan lagi. Baginya hal itu bukan ide yang baik mengingat mereka masih ada kerja sama yang harus diselesaikan. Kalau semua itu tidak berjalan lancar, ia mungkin kehilangan pekerjaan yang sangat disukainya ini. Mungkin sesudahnya ia tidak akan keberatan tapi tidak sekarang.

Peyton menarik napasnya pelan-pelan. Ia akan menolak tawaran Lucas itu dan sesudahnya ia akan bergegas pergi dari sana.
“Daddy,” teriak seorang anak perempuan. Suara itu datang dari ruang tengah. Lucas terkejut namun dengan cepat wajahnya dipenuhi oleh kelembutan. Senyumnya mengembang sangat lebar. Ia berdiri dari bangkunya dan mengarahkan tubuhnya ke arah pintu dapur. Peyton melihat seorang anak perempuan berlari dengan kencang ke arah Lucas, menubruknya dan kemudian memeluknya dengan erat. Lucas mengangkat gadis cilik itu tinggi-tinggi dan kemudian mengendongnya. Wajahnya dipenuhi dengan oleh kebahagiaan. Peyton melihat semua itu dengan heran. Ia mengamati Lucas yang sedang memutar gadis itu dalam pelukannya. Wajah gadis cilik itu sekilas mirip dengannya. Ia tak menyangka Lucas sudah mempunya anak sebesar itu.

Julian berdiri di pintu dapur dan melihat semua itu sambil tersenyum lebar. Ia memandang ke arah Peyton sejenak, terlihat cukup kaget. Kemudian ia menjulurkan kepalanya ke arah meja dapur. Seringai terbentuk dengan cepat di wajahnya saat ia melihat apa yang ada di meja makan itu.

“Daddy, aku sangat merindukanmu,” ujar gadis cilik itu dengan manja. Ia menggunakan kedua tangannya yang mungil untuk memeluk leher Lucas dan menggunakan kedua kakinya untuk melingkari pinggang Lucas. Ia kemudian membaringkan sebelah wajahnya ke atas bahu Lucas dan memejamkan matanya. Lucas mengusap punggung gadis itu dengan penuh kasih sayang. Perlahan gadis cilik itu membuka matanya dan yang pertama kali dilihatnya adalah Peyton yang sejak tadi masih duduk di tempatnya. Peyton memberi kansenyum termanis yang ia miliki untuk gadis kecil itu. Gadis itu dengan cepat mengangkat tegak kepalanya. Keningnya berkerut, ia sepertinya heran melihat keberadaan Peyton di situ. Ia memberi gerakan minta turun kepada Lucas. Lucas menurunkannya lalu membungkuk ke arahnya. Ia menyentuh hidung gadis cilik itu dengan gemas. Gadis kecil itu membalas dan menyentuh hidung Lucas sambil tertawa bahagia. Peyton dapat melihat kebahagiaan yang ditimbulkan gadis itu pada Lucas sungguh cepat. Wajah Lucas saat itu dipenuhi dengan sinar kebahagiaan, senyumnya mengembang lebar. Lesung pipitnya bahkan tidak pernah meninggalkan wajahnya sejak tadi.

“Kau mau jus apa?” tanya Lucas dengan lembut. ia masih membungkuk dan memperhatikan wajah gadis itu dekat-dekat.
“Jeruk dan terimakasih daddy,” jawab gadis itu dengan riang. Lucas berdiri dan melangkah ke arah kulkas.

Gadis kecil itu memperhatikan Lucas untuk sejenak tapi kemudian wajahnya berubah, ia sepertinya teringat sesuatu, sesuatu yang tadi mengusik rasa ingin tahunya. Ia menoleh ke arah Peyton dengan kening berkerut. Ia bergerak mendekati Peyton dan menghentikan langkahnya saat jarak di antara mereka sudah tidak terlalu jauh.

Peyton memberikan lagi senyumnya pada gadis itu. Gadis itu terus memandangnya dengan wajah heran. ia melihat ke arah Lucas lalu mengalihkannya ke Peyton, ke arah Lucas lagi dan kembali ke Peyton. Ia terlihat bingung.

“Apa kau calon mamaku yang baru? Temanku bilang kalau daddy membawa seorang wanita ke rumahnya, itu artinya harapanku untuk mempunyai mama baru akan segera terkabul,” ucapnya dengan nada penasaran.

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 11

Post  didar on 20th July 2009, 2:30 am

Lucas mengernyitkan dahinya saat ia mendengar kata-kata itu. Ia mengambil jus jeruk di dalam kulkas. dan menutup kembali pintunya. Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan memandang ke arah gadis cilik berdiri.

Peyton mendekati gadis itu dan membungkukkan badanya sehingga kepalanya sekarang hanya sedikit lebih tingga dari kepala gadis itu. “Aku bekerja pada ayahmu,”ujarnya dengan ramah.

Gadis cilik itu terlihat kecewa.”Sudah lama aku berharap punya mama baru yang cantik sepertimu,” ujarnya sambil menunduk dengan nada sangat kecewa.

Peyton tertawa kecil mendengarnya. Ia pun berjongkok di hadapan anak kecil itu dan mengulurkan tangannya.

“Namaku Peyton Sawyer,” ujarnya dengan ramah

Kelopak kedua mata gadis itu membuka lebar-lebar, ia terlihat begitu bersemangat. ”Namaku Leighton Sawyer Scott, nama belakangmu sama dengan nama tengahku,” ujarnya dengan riang sambil menyalami tangan Peyton kuat-kuat

Raut wajah Peyton seketika berubah. Leighton Sawyer Scott adalah nama yang diberikan Lauren untuk anak perempuannya di dalam novel Forever and Almost Always. Peyton menoleh ke arah Lucas dengan cepat. Setidaknya kecurigaannya saat itu cukup berdasar. Lucas mengatup rahangnya rapat-rapat, jelas ia tidak suka melihat hal itu.

Lucas sungguh tak menyangka hal yang dikuatirkannya akhirnya terjadi juga. Selama ini tidak ada satupun orang yang tahu ia menulis bukunya berdasarkan kisah hidupnya. Keluarganya tentu saja tahu, ia tidak keberatan akan hal itu. Julian yang sudah menjadi temannya sejak lama juga tahu, ia juga tak keberatan. Tapi ia tidak suka jika orang luar mengetahui hal itu kemudian mencoba menilai hidupnya dan menatapnya dengan prihatin. Selama ini ia lega karena tak ada satu orangpun yang tahu tentang itu kecuali keluarganya ditambah Julian dan keluarga Lauren, tapi sekarang sudah bertambah lagi satu orang yang seharusnya tak pernah tahu hal itu. Emosinya mulai membakar hatinya dan terpancar jelas di wajahnya.
Peyton memahami emosi yang tergambar jelas di wajah Lucas. Pria itu tidak ingin membicarakan hal itu. Ia pun berdiri dan mengalihkan pandangannya.

Lucas menghampiri Leighton dan menggendongnya. Ia kemudian meninggalkan Peyton begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun. Julian yang sejak tadi berdiri di pintu segera menghampiri Peyton. Raut wajahnya dipenuhi oleh rasa sesal. Ia tidak menyangka semuanya berakhir seperti itu. Julian mencoba memberi pandangan menghibur pada Peyton tapi gadis itu saat itu memandangnya dengan pandangan penuh tanda tanya.

“Apa Lucas menulis kisah hidupnya ke dalam novelnya yang pertama itu?” tanya Peyton dengan suara sedikit tercekat. Julian memandangnya dan berusaha untuk tidak menjawab apapun

“Aku mohon, aku hanya ingin kau memberitahuku,” ujar Peyton dengan nada frustasi

Nada bicara Peyton itu membuat Julian tidak tega. “Buku itu memang menceritakan kisah hidup Lucas, di antara semua tokoh yang ia tulis di sana, ia hanya merubah nama orang-orang yang berhubungan dengan keluarganya,” tuturnya. Peyton memandangnya tak percaya, sulit baginya untuk mencerna semua itu dalam sekejap. Tapi sekarang ia paham mengapa pria itu begitu sensitif dalam hal-hal tertentu, hal-hal yang menyangkut istrinya. Ia sangat mengenal karakter Chad dan ia sekarang tahu pria seperti apa Lucas itu.

“Sebaiknya aku pulang sekarang, urusanku sudah beres sejak tadi,” ujar Peyton sambil mengambil tas dari kursi yang tadi didudukinya.

“Maafkan Lucas, ia memang begitu. Ia tidak suka orang-orang tahu tentang kisah hidupnya. Tapi lucunya ia tulis di dalam buku,” kata Julian berusaha bercanda namun kali ini ia malah terdengar sangat hambar.

“Aku mengerti, jangan kuatir,” sahut Peyton dengan lembut. Ia berterimakasih pada Julian yang berbaik hati menjawab pertanyaannya tadi walau reaksi yang diberikan Lucas juga sudah menjadi jawaban yang cukup baginya.

Julian mengantarkan Peyton sampai ke luar dan menekankan tombol lift baginya.

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

catatan penulis

Post  didar on 20th July 2009, 2:35 am

akhirnya chapter ini gw bagi 2 aja deh.. sebenernya kalo ga dibagi 2.. chapter selanjutnya bakal nyeritain salah satu klimaks di buku ini.. tapi yah.. apa daya.. udah terlalu panjang.. heran deh gw sekarang.. makin lama nulis makin panjang aja..

di chapter ini udah muncul tokoh baru yang gw pilih namanya dengan 2 alasan.. ada seorang aktris cantik yang namanya kyk gitu.. juga karena namanya mirip nama gabungan yang ada di siggy gw itu.. hehe...

en yup.. karakter Lauren belum dibuka lebih lanjut di cerita ini.. tapi tenang pasti dibuka.. hehe.. cuma jangan bayangin bakal sedetil bukunya Lucas.. atuh itu artinya gw harus nulis FF baru.. hehe..

en gw jadi suka neh ama karakter Julian.. hehe.. dia tuh baek juga ya... harusnya kalo gw ga mau susah payah.. karakter dia bisa dijadiin ama Brooke tuh..

gw lumayan enjoy nulis chapter ini.. setidaknya ga seberat chapter sebelumnya yang bisa bikin rambut gw ubanan.. hehe..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 11

Post  Shan2 on 20th July 2009, 3:38 am

duh, g suka pas si julian bilang "deuh". sumpah itu kocak banget ! hahaha...


aduh thanks a lot udah pake nama leighton buat nama anaknya leyton, ups, anaknya lucas-lauren mksd g. heheheh...

tadinya g bingung kok di julian jahat amat bilang cewek yg bakal dia temuin lbh cantik drpd peyton, tau2 anaknya lucas toh...

aduh, kyknya elo mesti kasih penggalan cerita dr novelnya lucas nih, soalnya skr kan si peyton udah tau, sedangkan g blm tau apa yg terjadi, jd please..... please...

bener2 gantung deh... g penasaran abis...

sejauh ini kalo nulis bagian leyton elo ga pernah ada masalah. heheheh

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 11

Post  didar on 20th July 2009, 10:19 am

haha, okay deh.. ntar gw ceritain deh di chapter selanjutnya yang harus gw edit dulu en kyknya bakal panjang lagi neh kalo ditambah kisah itu..

en gw sampe ngakak pas elo bilang thanks segala.. you're welcome.. haha..

ini masih ga parah tuh gantungnya.. kalo gw tega.. gw gantung pas suara anak kecil itu muncul.. gw sendiri ga suka cliffhanger so gw jadinya juga baek.. hihi... Shocked

terus terang gw dah ga sabar pengen post chapter 13.. en seudah itu bakal ada jeda lumayan lama.. soalnya gw belum terlalu siap untuk chapter 14 dst.. masih belum gw buat jembatan2nya.. en gw mau ngerangkai dulu..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 11

Post  Shan2 on 20th July 2009, 3:08 pm

iya yg pas bab brp gt, kan ada nyebut leighton jg, eh g kira nama neneknya lucas. wakakakak....

g sangat amat menunggu bab selanjutnya nih... pengen cepet2 terbongkar semua misterinya lucas, n please deh... ceritain tentang bukunya lucas itu, itu bikin g penasaran banget, soalnya kyk yg g bilang, ini ga adil, si peyton udah tau, tp g kan blm tau, gmn neh ?

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 11

Post  didar on 20th July 2009, 6:44 pm

neh udah beres pas bagian cerita Lucas-Lauren.. semoga elo ga penasaran lagi soalnya gw ga akan nulis lagi semua kisah mereka.. udah dibuka semua.. hehe...

haha.. gw malah ngira elo bakal ngira leighton tuh adiknya Lucas.. hahaha..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 11

Post  Shan2 on 20th July 2009, 9:29 pm

hahah... bisnya pas nyebut leighton wkt itu abis nyebut neneknya, jd g kira leighton tuh neneknya lucas. hueeheheh..

ok2 skr dah jelas banget tentang lauren - lucas. sip

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 11

Post  Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum