New Beginnings - Chapter 02

Go down

New Beginnings - Chapter 02

Post  didar on 11th July 2009, 10:33 am

“Brooke, apa kau tidak bisa lebih lama lagi di kamar mandi?” Peyton bersandar lemas di pintu kamar mandi. Ia sudah berdiri tak sabar di sana sejak tadi. Terdengar gumaman tak jelas dari arah kamar mandi. Suara Brooke bercampur dengan guyuran air.

“Brooke, cepat! Sekarang sudah jam 8. Aku tidak boleh terlambat ke tempat kursus, ini hari pertama aku boleh menggoreskan kuas. Aku mohon padamu, Brooke, cepatlah,” Peyton memohon dengan nada putus asa dan membiarkan tubuhnya jatuh terduduk pada bagian bawah pintu. Ia sudah menunggu hampir 50 menit. Baru saja ia menyandarkan tubuhnya sepenuhnya, pintu terbuka dan ia pun terjengkang menimpa kaki brooke.

“Astaga, Peyton! Apa yang sedang kaulakukan di depan pintu?” Brooke hampir saja tidak dapat menahan berat tubuh Peyton yang tiba-tiba menimpa kakinya. Peyton berusaha berdiri dengan sedikit susah payah.

“Kalau kau ingin mandi bersama, katakanlah dengan jujur. Aku mungkin akan mempertimbangkannya,” Brooke berkata dengan nada menggoda sambil membantu Peyton berdiri.

Peyton mendelik ke arah Brooke. “Gosh, aku bahkan tidak akan mempedulikan omonganmu itu.” Ia memegang wajah Brooke dengan kedua tangannya, “Please, please, seribu kali please, lain kali mandilah dengan cepat. 1 jam non, kulitmu akan terkelupas kalau itu kaulakukan setiap hari.” Tanpa menunggu lagi, Peyton mendorong Brooke keluar dari kamar mandi dan membanting pintu tepat di depan mukanya.

Brooke hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum cuek dan berjalan menuju dapur.

Peyton keluar dari kamar mandi 20 menit kemudian. Setengah berlari ia menuju kamarnya. Keluar dari kamar, ia pun berlari menuju dapur, mengambil roti yang hanya tinggal sebagian dari tangan Brooke dan berlari lagi menuju pintu sambil berteriak.
“Nanti sore aku akan berkunjung ke Clothes Over Bros. Jam 3, jangan lupa belikan aku makan siang. Seeya”

Terdengar suara pintu terbanting. Brooke menatap piringnya yang kosong, “Dasar gila,” ucapnya sambil terkekeh geli.
Peyton setengah berlari menuju lift sambil berusaha memasukkan buku ke dalam tasnya. Mulutnya masih sibuk mengunyah roti yang tadi dicurinya itu. Ia melihat seorang pria sedang melangkah masuk ke dalam lift. Bergegas ia mempercepat langkahnya.

“Selamat pagi,” ucapnya setelah memasuki lit dan menekan tombol lantai paling dasar. Peyton tersenyum manis ke arah berdirinya pria yang tadi masuk terlebih dahulu. Senyum peyton semakin melebar saat ia melihat Jensenlah pria yang berdiri di belakangnya itu. Entah kenapa ia merasa bertemu dengan pria itu pagi ini akan membuat harinya cerah.

“Pagi,” Pria itu membalas sapaannya dengan sopan. Aksen texasnya yang kental membuat pria itu terdengar semakin macho. Peyton mengangguk lalu mengarahkan pandangannya ke arah pintu lift. Disadarinya pintu itu licin bagaikan kaca, pantulan bayangan Jensen terpampang dengan jelas. Pria itu tidak lagi memakai pakaian koboinya. Kali ini Ia terlihat gagah dalam balutan jas, hasil rancangan desainer ternama. Sungguh suatu perubahan yang menarik. Peyton tak berani memperhatikan pria itu terlalu lama. Ia mencoba mengalihkan perhatiannya dengan memandang ke arah jarum yang menunjukkan posisi mereka saat itu. Lift itu sedang menuju ke lantai paling atas.

“Oh,” Peyton mendesah. “Ternyata lift ini menuju ke lantai paling atas,” ucapnya gemas karena lagi-lagi ia membuang waktu.

“Yup,” terdengar aksen texas itu lagi.

“Apa kau hendak pergi ke atas?” tanya Peyton sambil melirik sekilas ke arah Jensen dan kemudian memperhatikan jam tangannya.

“Ke bawah,” jawab pria itu singkat

“Ke bawah? Tapi lift ini arahnya naik,” Peyton memandang Jensen heran.

“Memang,” sekilas terlihat senyum kekanakan di wajah Jensen. Sekilas, tapi itu tidak luput dari pengamatan Peyton. Peyton pun tersenyum. Ia menatap Jensen sambil tertawa kecil. Di luar dugaannya senyum Jensen mengembang dan ia pun tertawa. Pria itu bahkan lebih tampan lagi saat ia tertawa. Wajahnya tertarik ke atas. Matanya seakan ikut tertawa. Keduanya saling lirik sejenak dan mereka lagi-lagi bertukar senyum.

Kebahagiaan kecil itu sedikit terusik kala lift mengeluarkan suara berdenting dan perlahan membuka. Mereka tiba di lantai paling atas, lantai yang dihuni oleh pemilik penthouse di apartemen itu. Di hadapan lift telah menunggu 2 orang pria. Peyton mundur ke belakang untuk memberi tempat bagi mereka dan ia kini berdiri tepat di sebelah Jensen. Salah seorang dari kedua pria itu, yang lebih tinggi, menganggukkan kepalanya dengan sopan ke arahnya. Sedangkan pria yang satu lagi, yang lebih pendek terlihat sibuk dengan blackberry-nya. Pintu lift menutup dan kembali memantulkan bayangan mereka berempat dengan jelas. Peyton mendapati bahwa kedua pria itu sangat modis. Mereka mengenakan jas formal yang dijahit tepat mengikuti postur tubuh mereka. Pria yang lebih pendek berambut pirang sedangkan pria yang lebih tinggi berambut coklat. Tak bisa dipungkiri, keduanya terlihat semakin menarik dengan model potongan rambut paling muktahir.

Pria berambut pirang itu terlihat sangat serius. Matanya tak pernah lepas dari blackberry-nya. Kedua tangannya sibuk mengetik. Pria berambut coklat di sebelahnya berdiri tegak dengan muka menengadah ke arah jarum penunjuk angka yang ada di atas pintu lift, seakan tidak sabar untuk segera tiba di bawah.

“Julian, tolong batalkan semua janji di hari sabtu nanti. Ada pesta dadakan yang diadakan oleh nenekku hari itu dan aku harus datang.” Pria berambut pirang itu bahkan tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari blackberry-nya.
“Baik,” jawab pria berambut coklat yang bernama Julian itu. Ia lalu mengeluarkan blackberry-nya dan sibuk dengannya selama beberapa waktu.

“Akan aku pindahkan ke hari jumat saja, apa kau bisa?” Julian menoleh ke arah pria berambut pirang itu.

Pria itu sejenak mengalihkan pandangannya dari blackberry-nya dan menganggukkan kepalanya ke arah Julian.

Sesaat sebelum lift tiba di lantai dasar, peyton melirik jam tangannya. Ia mendesah perlahan, waktu benar-benar tidak lagi di pihaknya. Ia harus bergegas kalau tidak ingin terlambat. Ia tersenyum ke arah Jensen yang kali ini membalasnya dengan ramah, lalu mendorong tasnya ke depan tubuhnya dan bergegas keluar saat pintu lift terbuka. Perjalanan menempuh puluhan lantai hari itu benar-benar telah membuatnya kehilangan cukup banyak waktu. Sebuah buku jatuh dari tas Peyton, jatuh hampir tak bersuara ke atas lantai lift yang beralaskan karpet dan kemudian berbalik menimpa kaki Jensen.

“Mam, bukumu terjatuh,” teriak Jensen saat menyadari hal itu. Ia pun bergegas memungut buku itu dan berusaha mengejar Peyton.

{Kejadian yang berlangsung cepat itu tak luput dari pengamatan Julian.} Rasa ingin tahu Julian terusik saat ia melihat kejadian yang berlangsung cepat itu, terutama setelah ia melihat kertas yang terjatuh dari buku yang sampulnya sangat dikenalinya itu. Ia mencoba mencarinya dan kemudian memungut kertas itu. Ia melirik ke arah Lucas. Lucas sepertinya tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Julian pun mengangkat alisnya tanda ia tak aneh lagi dengan sikap Lucas yang hampir tak pernah peduli dengan apa yang terjadi di lingkungannya.

Dalam perjalanan menuju ke mobil, Julian mencoba mengamati kertas itu. Entah kenapa ia merasa sangat tertarik. Tidak terdapat apa-apa pada salah satu sisi kertas itu namun di sebelah sisi lainnya terdapat semacam ilustrasi. Julian mengamatinya sekilas. Ia pun menyadari bahwa itu adalah gambar/ilustrasi sampul sebuah buku. Dahi Julian terangkat saat ia membaca judul buku itu. ia mengamatinya cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk menyodorkan kertas itu tepat di bawah hidung lucas. Lucas menunjukkan raut wajah protes untuk sejenak. Namun perlahan-lahan raut wajahnya berubah saat ia menyadari apa yang sedang diperlihatkan Julian kepadanya. Tangannya mengambil kertas itu dari tangan Julian. Dahinya berkerut seakan mencoba memahami ilustrasi yang terdapat pada kertas itu terlebih lagi.

Julian memandang Lucas dengan heran. Bukan hal yang aneh bagi Lucas untuk mendapatkan ilustrasi-ilustrasi cover bukunya yang digambar pribadi oleh fansnya. Tapi selama ini tidak pernah ada yang menarik perhatiannya.

Julian menyadari bahwa ada sesuatu yang terluput dari pengamatannya saat ia menyadari Lucas sudah berdiri diam dan mengamati gambar itu lebih dari 5 menit. ia pun mendekati Lucas dan turut mengamati gambar itu dari samping. Bagi dia tidak ada yang istimewa. Kertasnya sudah lecek. Warnanya sudah memudar. Goresan tangan pembuatnya memang cukup menarik, menunjukkan bahwa ia cukup berbakat. Warna-warna tua mendominasi gambar itu. Judul “Forever and Almost Always” ditulis tangan dengan warna perak, di atasnya tertulis nama pengarangnya dengan rapi, “Lucas Scott”. Bagi Julian tak ada satupun yang membuat gambar itu istimewa.

“Kau tahu siapa yang membuat gambar ini?” tanya Lucas dengan nada mendesak.

Julian mengangkat bahunya, tapi kemudian ia teringat akan wanita yang menjatuhkan buku itu sebelumnya.

“Mungkin gadis yang tadi menjatuhkan buku itu,” Julian menjawab dengan nada tidak yakin.

“Menjatuhkan buku? Tadi?” Lucas menoleh ke arah Julian dengan pandangan bertanya.

“Lucas, inilah yang aku maksud dengan blackberry coma, kau bahkan tidak menyadari apapun ketika kau berhubungan dengan blackberry-mu itu.”

“Aku sedang chatting dengan Nathan. Kami sedang berdebat tentang sesuatu,” ujar Lucas dengan nada kesal.

“yeah right, ketubruk mobilpun kau tidak akan tahu,” Julian kadang merasa kesal karena Lucas tak pernah mau menerima nasehat apapun darinya. Air muka lucas terlihat menegang dan Julian menyadari kesalahannya saat itu juga.

“Sorry, aku tidak bermaksud untuk..,” belum selesai ia berbicara, Lucas sudah memotongnya dengan tegas, “It’s okay.”
Julian tahu betul kapan sebaiknya ia berhenti berbicara. Ia sudah mengenal lucas selama 7 tahun dan ia tahu betul sifat sahabat sekaligus atasannya itu.

“Aku ingin kau mencari gadis yang kau bilang tadi, aku rasa kita sudah menemukan illustrator untuk cover bukuku yang kedua,” Lucas berkata dengan tegas, tak ada nada keraguan sedikitpun.

Julian hanya mengangguk. Ia kembali mengamati Lucas dengan heran. Sesaat timbul firasat, ilustrasi ini akan membawa banyak hal menarik dalam hidup Lucas dan demi kebaikan Lucas, Julian benar-benar mengharapkan hal itu segera terjadi.

***

Jalanan saat itu dipenuhi dengan orang-orang yang berlalu lalang. Jensen menggerakkan kepalanya ke segala arah, mencoba mencari sosok yang sebenarnya tak terlalu dikenalnya, tapi gadis itu seperti ditelan angin. Ia masih terus mencoba selama beberapa saat sampai akhirnya ia pun menyerah. Ia memandang buku yang digenggamnya. Buku itu terlihat sudah cukup usang, menandakan telah dibaca berulang kali. Covernya bernuansa merah dengan judul keemasan yang mencolok.

“Forever and Almost Always, Lucas Scott.” bacanya tanpa suara. Penasaran, Ia pun membaca garis besar cerita yang tertera di belakang buku itu. Buku itu menceritakan tentang kisah seorang pria yang menemukan cinta dalam hidupnya, cinta yang tak dapat dipahami oleh akal sehat. Seulas senyum samar-samar terbentuk di bibir Jensen. Walau ia tak pernah memahami mengapa wanita selalu tergila-gila dengan kisah cinta yang seperti ini dan sesungguhnya ia pun tak pernah berusaha untuk mengerti, tapi kali ini rasa ingin tahunya terasa mengganggu, setidaknya ia ingin tahu mengapa Peyton begitu menyukai buku ini.

Jensen menggenggam buku itu erat-erat, seakan tidak ingin kehilangan harapan untuk bertemu dengan Peyton lagi. Jensen mengernyitkan dahinya, terkejut saat ia menyadari bahwa ia ingin bertemu dengan wanita itu lagi. Tapi kemudian raut wajahnya semakin melembut seiring dengan hatinya yang tanpa ia sadari semakin menghangat.
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum