New Beginnings - Chapter 20

Go down

New Beginnings - Chapter 20

Post  didar on 29th August 2009, 12:46 am

“Pagi, Miss Sawyer,” ujar Leighton saat ia melihat Peyton memasuki dapur. Wajahnya seketika berubah menjadi berseri. “Miss Sawyer sudah datang. Kau tidak boleh menunda sarapanmu lagi,” ujar Julian dengan nada tegas. Leighton mengangguk dengan semangat. Peyton mengecup pipi gadis cilik itu dengan suara keras lalu duduk di sampingnya. Julian dengan sigap memberinya sebuah gelas dan mendorong kotak susu ke arahnya.

“Tadi pagi aku tidak melihatmu di sisiku, apa kau bangun lebih cepat?” tanya Leighton setelah menelan roti di mulutnya cepat-cepat. Peyton mengambil sebuah roti dari piring di hadapannya. “Iya, aku bangun sangat pagi dan aku pergi melukis di balkon,” ujarnya sambil melirik ke arah Julian yang memandangnya sambil menyeringai. Ia tidak suka berbohong namun ia tidak mempunyai pilihan lain.

“Mengapa bajumu terlihat aneh, seperti baju ayah yang tidak cocok bagimu.” Leighton memandang kemeja putih yang dikenakan Peyton dengan kening berkerut. Peyton menundukkan kepalanya mengamati kemeja yang dipakainya lalu menoleh ke arah Leighton. “Ini baju tidurku yang sudah usang,” ujarnya asal, tidak ingin Leighton menanyakannya lebih lanjut. Julian berdehem dengan keras. Peyton melirik ke arahnya dengan jengah.

Julian menyeringai lebar. “Biar aku ambilkan tasmu,” bisiknya sambil mencondongkan wajahnya ke arah Peyton yang duduk di hadapannya. Tangannya menutup gerakan mulutnya dari Leighton. Peyton mengangguk. “Terimakasih,” ujarnya dengan sopan.

Julian duduk kembali di tempatnya. “Aku tidak keberatan mencuci bajumu, tapi mungkin lain kali saat kau bermalam lagi di sini, tolong jangan melempar bajumu sembarangan," bisiknya dengan nada seakan momohon. Peyton mengangguk malu.

Julian menyeringai semakin lebar. “Aku rasa itu artinya Lucas sangat menyukaimu,” bisiknya sambil mengedipkan sebelah matanya. Peyton menghela napasnya.“Bagaimana kalau kau berhenti berbicara dan mengambil tasku sekarang,” bisiknya dengan nada kesal.

Julian terbahak. Ia sungguh menyukai Peyton. Dibanding Lauren, baginya Peyton jauh lebih menarik. Bila Lauren sangat menutup diri kepada siapapun kecuali Lucas, maka Peyton tidak seperti itu. Ia wanita yang percaya diri dan menyenangkan. Lucas dan Lauren sangat mirip dalam berbagai hal terutama sifat mereka yang tertutup kepada orang sekitarnya namun terbuka terhadap satu sama lain dan hal itu terkadang membuat mereka terasa sangat membosankan, setidaknya baginya. Namun satu hal yang selama ini ia kagumi dalam hubungan mereka adalah Lauren sanggup membuat Lucas memberikan seluruh hatinya. Selama ini ia yakin Lucas tidak akan pernah lagi mencintai wanita lain seperti itu lagi namun kehadiran Peyton di dalam hidup Lucas membuatnya berubah pikiran. Lucas yang tidak pernah mempedulikan seorang wanita pun setelah kepergian Lauren tiba-tiba saja terlihat seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Tatapan hangat yang sudah lama tidak dilihatnya di kedua mata Lucas sekarang terpancar dengan jelas saat ia menatap Peyton.

Peyton menoleh ke arah Julian saat ia menyadari pria itu tidak juga beranjak dari bangkunya. Julian memandang kosong ke arah piring yang ada di hadapannya. Peyton menyenggol lengannya dengan cukup keras hingga ia tersentak dari lamunannya. “Apa?” Julian memandang Peyton dengan mimik bingung. “Ohh,” ujarnya sedetik kemudian sambil menyeringai. “Tunggu sebentar.” Ia berdiri dari kursinya.

Leighton melompat turun dari kursinya cepat-cepat. “Kau mau ke mana?” tanyanya bersemangat.

“Aku akan mengambilkan tas Peyton di bagasi mobil,” ujar Julian.
“Ikut,” teriak Leighton sambil melompat dan mengulurkan kedua tangannya minta digendong. Julian meringis. “Okay, nona kecil. Ayo, kita mengambil tas.” Julian mengangkat Leighton ke dalam gendongannya. Leighton tersenyum lebar. Tangannya melambai dengan semangat ke arah Peyton. “Tunggu kami. Aku janji tidak akan lama. Duduklah menikmati sarapanmu sambil menunggu ayah keluar dari kamarnya,” ujarnya dengan riang. Peyton menganggukkan kepalanya sambil tertawa.

“Bye, Miss Sawyer,” ujar Julian sambil melambaikan tangannya. Belum juga langkahnya melewati pintu, ia menghentikan langkahnya lalu membalikkan lagi tubuhnya dengan cepat. Peyton menoleh ke arahnya dengan kening berkerut. “Oh ya, ambillah bajumu sendiri di mesin pengering,” ujar Julian cepat. Peyton mengangguk lalu menggerakkan tangannya menyuruhnya pergi.

Julian tertawa kecil seraya meneruskan langkahnya keluar. Suaranya bersahutan dengan suara Leighton yang menimpalinya dengan riang, semakin lama semakin samar hingga kemudian menghilang seluruhnya setelah terdengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali.

Peyton mengarahkan kembali perhatiannya kepada roti di atas piringnya yang sejak tadi belum disentuhnya dan meneruskan sarapannya dalam keheningan. Sesekali matanya memandang ke arah pintu dapur dengan resah. Lucas mungkin akan menghindarinya lagi seperti sebelumnya dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Setengah melamun ia menopang dagunya dan mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat ia melihat Lucas berjalan ke arah dapur. Dengan gugup ia meletakkan roti yang dipegangnya, bergegas berdiri lalu melangkah menghampiri pintu dapur.

“Luke,” ujarnya saat Lucas memasuki pintu dapur. Suaranya terdengar resah. Lucas melewatinya begitu saja. Sama sekali tidak memandang ke arahnya. Kening Peyton berkerut, bertanya-tanya apa salahnya sehingga ia mendapat perlakuan seperti itu. Dengan perasaan kecewa, ia mengikuti setiap gerakan Lucas dengan matanya.

Lucas mengambil sekotak susu dari dalam kulkas dan meminumnya langsung dari sana. Sekali teguk ia menghabiskannya dan melemparkan sisa kotaknya ke tempat sampah. Ia lalu melangkah dengan santai ke meja makan, duduk di tempat duduk Julian tadi. Tangannya mengambil roti yang tersedia di atas meja, memasukkan ke dalam mulutnya dan menggigitnya lebar-lebar. Matanya mengarah ke depan dengan pandangan datar.

“Luke,” ujar Peyton dengan nada memohon. Lucas tidak juga menoleh. “Luke,” ujarnya lagi dengan suara begitu memelas hingga ia sendiri membenci apa yang didengarnya. Lucas memejamkan matanya, tak tega membiarkan Peyton memohon seperti itu. Dengan wajah lelah ia menoleh ke arah Peyton, memandangnya dengan datar hingga ia mengenali kemeja yang dikenakannya.

Lucas bangkit dari kursinya. Matanya mengamati Peyton dari atas ke bawah. Bukan dengan pandangan penuh gairah seperti yang biasa dilakukannya namun dengan pandangan penuh amarah.

Lucas mengangkat wajahnya setelah merasa yakin ia tidak mungkin salah mengenali kemeja itu. Matanya menatap kedua mata Peyton dengan tajam. “Darimana kauambil kemeja itu?” ujarnya dipenuhi emosi. Peyton tersentak kaget, tidak menyangka Lucas membentaknya hanya karena kemeja putih yang saat ini melekat di tubuhnya. “Aku mengambilnya dari lemari pakaianmu,” ujarnya dengan nada bingung.

“Lepaskan,” desis Lucas dengan rahang mengatup rapat. Peyton mengangkat kedua alisnya. Tangannya meremas kerah kemejanya kuat-kuat seakan tidak mau melepaskannya. Lucas melangkah ke arah Peyton hingga wajahnya hanya berjarak sejengkal dari wajah gadis itu. “Lepaskan,” ujarnya dengan penuh amarah.

“Kenapa?” tanya Peyton dengan kening berkerut.

“Karena itu bajuku,” jawab Lucas cepat.

“Kau bohong,” ujar Peyton dengan suara tercekat. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Itu memang bajuku.” Lucas terlihat frustasi, tidak tega melihat Peyton menatapnya seperti itu namun juga tidak dapat meredam emosinya.

“Kalau ini memang bajumu, kau tidak mungkin semarah itu,” ujar Peyton dengan nada lelah. Ia yakin semua ini berhubungan dengan Lauren. Hatinya terasa pedih karena Lucas membentaknya dengan kasar hanya karena alasan itu.

“Lepaskan,” ujar Lucas dengan nada semakin meninggi.

“Apakah ini baju milik Lauren?” tanya Peyton dengan penuh kepedihan. “Karena itukah kau tidak ingin aku memakainya?” Peyton melepaskan kancing kemeja itu satu demi satu. Lucas mengikuti gerakan tangan Peyton dengan matanya. Gairahnya naik dengan cepat saat ia melihat apa yang ada di balik kemeja itu namun amarahnya belum juga turun. Kemeja itu memang miliknya. Miliknya yang sering dipakai Lauren setelah mereka selesai bercinta. Tidak ada seorangpun yang boleh mengenakannya.

Peyton melepaskan kemeja itu dari tubuhnya dan menyodorkannya kepada Lucas. Tubuhnya yang hanya berbalut pakaian dalam menggigil oleh dinginnya hatinya yang membeku oleh kepedihan. Air mata turun di kedua pipinya. Dengan cepat ia menyekanya dengan punggung tangannya dan menahan lajunya sekuat tenaga. Lucas mengambil kemeja itu dari tangan Peyton dengan satu sentakan.

Secepat kilat Peyton menarik tangannya dan mengalihkan pandangannya. Bibirnya bergetar berusaha menahan kepedihan yang menusuk hatinya bagai ribuan jarum es. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah ke arah pintu dengan cepat.

“Damn,” bisik Lucas sambil meremas baju yang dipegangnya saat ia melihat Peyton keluar dari sana. Ia melemparkan kemeja itu ke lantai lalu melangkah keluar. Matanya mencari Peyton ke segala arah.

Peyton memasuki ruang di mana mesin pengering berada. Bergegas mencari bajunya di dalamnya dan mengenakannya cepat-cepat. Tiba-tiba emosi yang sejak tadi ditahannya menguasainya hingga ia jatuh terduduk.

Peyton membiarkan tangisnya pecah dalam keheningan. Untuk beberapa saat hingga air mata mengikis kepedihan di hatinya lalu perlahan-lahan ia menegakkan tubuhnya, mengusap setiap jejak air mata di wajahnya seraya melangkah keluar dengan langkah gontai. Kelelahan yang dirasakan hatinya tak merelakan sedikitpun tempat untuk kebahagiaan yang belum lama masih begitu kuat menguasainya.

Langkah Peyton terhenti saat ia melihat Lucas berdiri tak jauh dari pintu. Lucas menegakkan tubuhnya dengan cepat saat kedua mata mereka bertemu. Tatapannya dipenuhi dengan kegetiran.

Peyton memutuskan pandangan mereka yang bertaut dan mempercepat langkahnya, menjaga jarak sejauh mungkin dari Lucas saat melewatinya. Lucas mengulurkan tangannya ke samping, menangkap tangan Peyton dan menariknya hingga gadis itu jatuh ke dalam pelukannya.

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 20

Post  didar on 29th August 2009, 12:48 am

Lucas mendekap tubuh Peyton sekuat tenaga. Peyton meronta habis-habisan. “Luke,” teriaknya dengan keras. “Lepaskan aku,” ujarnya sambil mencoba melepaskan diri dari Lucas.

“Peyton,” ujar Lucas sambil menahan Peyton sekuatnya. “Dengarkan aku.”

Peyton menghentikan gerakannya. Kedua matanya menatap Lucas penuh amarah berbalut kekecewaan. Lucas menelan ludah dengan susah payah. Kenangannya bersama Lauren berkelebat dengan cepat di pikirannya. Saat gadis itu berusaha menghindarinya dan ia juga memeluknya erat seperti ini, menciumnya hingga akhirnya gadis itu menyerah.

Lucas menundukkan wajahnya dengan cepat dan memagut bibir Peyton dengan penuh gairah. Peyton kembali meronta dan menarik wajahnya menjauh. Lucas memegang wajah Peyton dengan sebelah tangannya, menahannya lalu menciumnya lagi. Peyton menutup bibirnya rapat-rapat sambil berusaha mendorong tubuh Lucas kuat-kuat. Lucas mendorong Peyton ke arah dinding dan mengurungnya di sana. Bibirnya terus menekan dan mencium bibir Peyton tanpa henti. Tangannya menarik kemeja Peyton dengan kasar hingga seluruh kancingnya lepas.

Lucas mengangkat kepalanya. “Menyerahlah dan bercintalah denganku di sini,” ujarnya dengan pandangan menyala oleh api gairah. Itulah yang ia katakan pada Lauren saat gadis itu tidak juga berhenti meronta.

Peyton menatap Lucas dengan penuh amarah. “Bajingan!” ujarnya dengan penuh emosi. Kenyataaan menghantam Lucas dengan keras. Kenyataan bahwa Peyton bukanlah Lauren dan reaksi yang diberikan oleh kedua gadis itu sungguh berbeda membuat kenangannya akan Lauren hilang seketika.

Lucas memaki dirinya perlahan lalu melepaskan Peyton dari pelukannya. Peyton menyingkir ke samping dengan cepat, merapatkan kemejanya lalu bergegas melangkah ke luar. Air mata meluncur turun di kedua pipinya. Ia belum pernah mengatakan kata sekasar itu dalam hidupnya namun baginya Lucas layak mendapat sebutan itu. Membayangkan beberapa jam yang lalu ia membiarkan Lucas menjelajahi tubuhnya dengan penuh gairah sungguh membuatnya muak. Ia bukan wanita lemah yang rela diperlakukan seperti itu.

Julian mundur dengan sigap saat ia hampir saja menabrak Peyton yang melangkah keluar dari pintu dengan langkah cepat. “Peyton, kau mau ke mana?” ujarnya dengan heran. Peyton menekan tombol lift berulang-ulang. Kening Julian berkerut. Ia mendekati Peyton dan mengamatinya. Peyton merapatkan kemejanya yang terkoyak dengan sebelah tangannya sambil menghapus setiap air mata yang turun di pipinya. Melihat kemeja Peyton yang tidak lagi menyisakan sebuah kancingpun, pikiran Julian dipenuhi dengan kecurigaan. Sesuatu yang Lucas lakukan hingga menyakiti hati Peyton.

Julian melirik ke arah jam tangannya. Ia pergi tidak lama. Sungguh sulit dipercaya sesuatu yang sepertinya begitu serius terjadi dalam waktu sesingkat itu.

“Miss Sawyer, ini tasmu.” Leighton menghampiri Peyton dan mengulurkan tas yang ada di tangannya. Dengan cepat Peyton membersihkan seluruh air mata yang mengalir di kedua pipinya lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil tasnya dari tangan Leighton. Senyum tersungging di bibirnya tapi tidak di kedua matanya. Ia tidak ingin gadis cilik itu melihat dirinya dalam keadaan menangis. “Terimakasih,” ujarnya dengan suara lirih lalu mengarahkan kembali pandangannya ke depan.

Pintu lift terbuka. Julian dengan sigap menekan tombol lift. “Peyton, apa kau tidak mau mengganti bajumu terlebih dahulu?” tanyanya dengan nada kuatir.

Peyton menoleh ke arah Julian. “Tidak perlu, ada sesuatu yang harus aku kerjakan,” ujarnya dengan sopan sambil melangkah memasuki lift. Julian melepaskan tombol lift. Ia mengamati Peyton dengan kening berkerut hingga pintu lift tertutup. Apa gerangan yang terjadi di antara Lucas dan Peyton selama ia pergi, rasa ingin tahunya sungguh terusik.

“Apa yang terjadi?” tanya Julian saat ia mendapati Lucas di dapur. Lucas melirik ke arahnya sekilas lalu kembali menekuni sarapannya. Wajahnya yang datar dengan jelas mengatakan ia tidak bersedia memberikan tanggapan apapun. Julian mengernyitkan dahinya. Ia sungguh prihatin memikirkan apa yang mungkin sudah dilakukan oleh Lucas sehingga Peyton harus pergi dengan tergesa-gesa dengan kemeja terkoyak seperti itu.

“Mengapa Miss Sawyer menangis dengan begitu sedih?” tanya Leighton kepada Lucas dengan nada kecewa, seakan yakin itu semua ada hubungannya dengan ayahnya. Lucas bangkit dari bangkunya, mengecup pipi Leighton sekilas lalu melangkah keluar.

“Apa Daddy dan Miss Sawyer baik-baik saja?” Leighton bertanya dengan suara lirih. Wajahnya menengadah memandang Julian yang menjulang di sampingnya. Julian mengangguk. “Tentu, mereka baik-baik saja,” ujarnya sambil tersenyum getir. Leighton mengerutkan keningnya. “Mereka terlihat seperti habis bertengkar,” ujarnya dengan nada sedih.

“Percayalah kepadaku, mereka baik-baik saja,” ujar Julian sambil mengendong Leighton dan membawanya ke ruang tengah. ” Apa kau siap bertemu dengan Jamie?” Leighton termenung sejenak lalu mengangguk tipis, tidak bersemangat.

“Aku akan menemui ayahmu sebentar. Siapa tahu ia mau ikut bersama kita.” Julian mendudukkan Leighton di atas sofa. Raut wajah Leighton berubah. “Apakah menurutmu ayah bakal ikut?” tanyanya dengan mata berbinar penuh harap. Julian meringis bingung. “Hmm.. ia mungkin ikut kalau ia tidak sibuk,” ujarnya berusaha berkata sejujur mungkin. Leighton mengangguk. “Kalau daddy memang sibuk, tidak apa. Biar aku saja yang pergi ke rumah aunty Haley,” ujarnya penuh pengertian. Julian mengecup pipi Leighton lalu bergegas melangkah ke arah ruang kerja Lucas.

Lucas menoleh ke arah pintu saat terdengar suara derit pintu terbuka. Raut wajahnya berubah saat ia melihat Julian berjalan menghampirinya. “Ada apa?” ujarnya dengan nada sedingin es.

Julian berdiri di hadapan Lucas dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya. “Apa yang terjadi pada kalian?” ujarnya dengan nada menuntut. Lucas meraih kemeja putih yang ada di mejanya dan meremasnya. Julian melihat kemeja itu dengan kening berkerut.

“Karena kemeja itu kau membuat Peyton menangis?” tanyanya heran. Lucas menoleh ke arahnya dengan wajah penuh emosi. “Bukan urusanmu,” ujarnya dengan rahang mengatup rapat.

“Memang bukan urusanku, tapi sebagai temanmu aku harus mengatakan hal ini. kau akan kehilangan dia kalau kau terus menyakitinya seperti itu. Demi Tuhan, Luke. Hanya karena kemeja?” ujar Julian dengan nada semakin frustasi.

Lucas berdiri dari kursinya. Tangannya meremas kemeja di tangannya lebih erat. “Ini bukan sembarangan kemeja,” desisnya marah. “Ini kemeja yang biasa dipakai Lauren setelah kami selesai bercinta. Yang aku simpan untuk mengingat aroma tubuhnya yang tidak mungkin lagi dapat aku nikmati untuk selamanya.”

Julian menatap Lucas sambil menggelengkan kepalanya. “Kau tidak ada harapan jika berhubungan dengan Lauren,” ujarnya terus terang. Ia membalikkan tubuhnya dan melangkah ke pintu.

“Leighton ingin tahu apa kau ikut ke rumah Haley atau tidak. Akan aku katakan kau terlalu sibuk.” Julian menutup pintu.

Lucas meremas kemeja yang dipegangnya. Kepedihan memenuhi hatinya. Aroma tubuh Lauren yang tersisa di kemeja itu hampir sepenuhnya tergantikan oleh aroma tubuh Peyton. Kemeja itu yang dikenakan oleh Lauren malam sebelum kepergiannya. Bajunya yang lain tidak lagi menyisakan aroma tubuhnya dan kini tak ada lagi yang tersisa satupun.

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 20

Post  didar on 29th August 2009, 1:03 am

akhirnya.... bab 20... haha.. ini artinya gw udah melewati tengah FF gw... haha.. masih ada 15 bab lagi.. seudah gw post sampe 25 .. gw bakal konsen selama seminggu dulu.. buat beresin 10 bab sisanya.. karena plotnya di situ lebih kompleks.. en tokoh2 nya lebih banyak....

bab ini belum tuntas.. karena gw lum selesai ngeditnya.. ada bagian yang gw lum puas.. bab ini penting karena Nathan bakal keluar.. en seudah itu Haley bakal keluar.. en ini bikin gw excited banget...

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 20

Post  Shan2 on 29th August 2009, 3:10 am

perasaan ini bab dikit amat yah ? hehhee..

tp ini konfliknya boleh jg. g suka banget ama julian di sini. yg dia bilang "demi Tuhan Luke, itu cuma sebuah kemeja" aduh entah knp kok g suka. haha..

duh, g kasian ama julian, dia kek baby sitter ngurusin leighton terus. haha

wuih, kapan neh nathan keluar ? g menanti. hehehe

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 20

Post  didar on 29th August 2009, 11:26 am

haha.. emang tuh Julian tuh gw gambarin baek banget ama Leighton.. well.. ceritanya dia yang biasanya jemput Leighton kalo bukan Lucas yang jemput.. so yah deket lah.. haha... tapi emang iya dia jadi kyk pengasuh.. wakakaka..

ini konflik nulisnya ga susah.. tapi nulis yang seudahnya tuh susah.. haha.. en gw masih berkutet ama itu sekarang.. krn menurut gw proses baekan mereka kali ini harus lebih gimana gitu... haha..

Nathan keluar di bab selanjutnya... ga jadi di bab ini.. trus Haley keluar di bab selanjutnya lagi..

masih ada terusannya... ntar ya.. gw lagi ngedit neh.. ini bagian susah abis....

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 20

Post  didar on 1st September 2009, 2:13 pm

Peyton membuka pintu apartemennya perlahan-lahan. Ia terlebih dahulu melihat situasi sebelum akhirnya mengendap-endap masuk. Hatinya terasa lega saat mendapati keheningan menguasai sekelilingnya. Apa yang baru saja terjadi padanya sungguh bukan sesuatu yang ingin dibaginya bersama Brooke dan ibunya. Bajunya yang terkoyak dan wajahnya yang dipenuhi jejak air mata sudah pasti akan membuat Brooke panik dan sangat mungkin teman baiknya itu akan langsung mendatangi apartemen Lucas saat itu juga. Jauh dari keinginannya untuk menjadikan situasi yang sudah rumit menjadi semakin rumit hanya karena turut campur orang lain.

Bergegas ia melangkah ke kamarnya, menutup pintunya dengan cepat lalu menjatuhkan dirinya ke atas ranjang. Seketika air mata membanjiri lagi wajahnya. Semua kepedihan dan amarah yang ada hatinya ia tumpahkan dalam isaknya hingga kelelahan menguasainya dan ia jatuh terlelap dalam lubang mimpi.

Ia terkaget bangun beberapa jam kemudian dengan kepala berdenyut. Dengan penuh perjuangan, ia memaksa dirinya bangun lalu menyeret kakinya ke kamar mandi. Kejadian tadi benar-benar menguras habis spiritnya, yang tersisa hanyalah tekadnya untuk tidak membiarkan dirinya jatuh hanya karena seorang pria. Pria yang telah mencuri hatinya dan mungkin tidak akan mengembalikannya.

Peyton meringis perih saat air pancuran mengguyur wajahnya. Refleks ia mengusap daerah di sekitar bibirnya yang dipenuhi oleh goresan-goresan halus akibat gesekan rambut wajah Lucas ketika pria itu menciumnya dengan paksa tadi. Benaknya memutar kembali semua yang terjadi pada dirinya dan Lucas di malam sebelumnya. Setelah semua kemesraan yang mereka berikan pada satu sama lain, sama sekali tidak terbayang olehnya semua itu akan berlalu dengan begitu cepat.

Ia memejamkan matanya rapat-rapat. Baginya hubungannya dengan Lucas yang baru saja berlangsung untuk waktu yang sangat singkat sudah berakhir. Sulit baginya untuk memaafkan pria itu atas perbuatannya tadi. Lucas bukan hanya melukai hatinya namun juga harga dirinya.
***
Lucas berulang kali menekan tombol delete pada keyboardnya. Sejak tadi ia belum juga menulis apa-apa. Tak ada satupun kalimat yang terdengar memuaskan baginya. Hubungannya dengan Peyton baru saja berjalan beberapa hari dan ia telah menyakiti hatinya berulang kali, bila dihitung dari berapa kali ia sudah membuat gadis itu sedih selama ini. Tidak sedikitpun ia bermaksud untuk menyakitinya seperti itu namun ia tidak berdaya melawan amarah yang ada di hatinya. Amarah yang ia dekap erat-erat bertahun-tahun, yang tak rela ia lepaskan karena baginya itu adalah bukti bahwa cintanya untuk Lauren belum pudar. Amarah pada nasibnya yang tidak pernah ia lampiaskan siapapun, yang tadi ia tumpahkan pada Peyton sepenuhnya. Hanya karena gadis itu masuk ke dalam hidupnya dan sedikit demi sedikit menjadi semakin penting di hatinya.

Lucas mengambil sebuah pensil dari atas mejanya dan melemparnya sekuat tenaga ke arah dinding. “Damn,” ujarnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Teringat kembali apa yang ia lakukan pada Peyton pagi tadi, ia kini sungguh menyesalinya.
***
Peyton menggandeng tangan Brooke sambil memperhatikan raut wajahnya yang bersinar. Bersama mereka melangkah menelusuri jalanan Kota New York. “Jadi kau memberikan Kevin semua syarat itu?” tanyanya dengan heran. Baginya syarat-syarat itu benar-benar tidak mencerminkan seorang Brooke.

“Yeah, jika dia memang serius ingin mencari cinta itu. Dia harus mau menerimanya,” ujar Brooke dengan nada angkuh lalu terkekeh sendiri.

“Dua bulan, aku rasa dia masih bisa tahan,” ujar Peyton berpikir.

Brooke menoleh ke arah Peyton. “Apa maksudmu?”

“Aku rasa kalau kau mau mengujinya. Seharusnya lebih lama dari itu,” ujar Peyton dengan senyum menggoda.

“Dia itu pria, aku rasa itu tantangan baginya,” ujar Brooke dengan yakin. “Asal kau tidak menyerah duluan,” ujar Peyton sambil tertawa kecil. Brooke mendelik ke arah Peyton. Peyton tertawa seraya mengandeng tangan Brooke lebih erat. “Aku senang hari ini kita akan makan malam bersama,” ujarnya dengan riang. Brooke mengangguk dengan semangat. “Aku juga.”

“Apa yang membuatmu luang hari ini? Biasanya kau sibuk bertemu dengan Lucas,” ujar Brooke saat mereka berjalan memasuki gedung.

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan temanku tercinta,” ujar Peyton dengan nada seriang mungkin. Brooke tertawa. “Aku kira kau sudah lupa denganku,” ujarnya sambil mendelik kesal. Peyton menggeleng. “Tentu saja tidak. Kau adalah teman terbaik yang pernah aku miliki di dunia ini. Mana mungkin aku melupakanmu,” ujarnya berusaha menutupi sesal yang timbul di hatinya. Karena hubungannya dengan Lucas, ia sering berbohong akhir-akhir ini. Kalau bukan karena ia tidak ingin membuat Brooke ikut cemas, ia tentu sudah menceritakan semua yang terjadi padanya.

Peyton menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya lagi perlahan-lahan. Dua hari ini perasaannya sudah jauh lebih stabil. Tidak ada lagi tangis pedih. Tidak ada lagi beban. Amarah yang ada di hatinya juga telah menghilang sedikit demi sedikit. Baginya yang terpenting saat ini adalah secepatnya menuntaskan hubungan kerjanya dengan Lucas dan tidak menemuinya lagi sesudahnya. Apapun yang terjadi dalam hidupnya kelak ia siap menerimanya. Tanpa Lucas, hatinya mungkin akan terasa hampa untuk beberapa waktu namun tidak berarti ia tidak dapat melanjutkan hidupnya dengan lebih baik. Hidupnya yang diwarnai oleh dua pria dengan nuansa kepedihan sudah saatnya kembali pada jalurnya.
***

Peyton sedang tenggelam dalam buku novelnya saat seseorang tiba-tiba menarik dagunya ke atas dan mengecup bibirnya. Kejadian yang seharusnya membuatnya terperanjat namun perasaan itu tidak muncul sedikitpun karena rasa yang tinggal di bibirnya begitu manis dan dalam sekejap menjadikan hatinya terasa hangat. Hanya Lucas yang dapat memberi efek sebesar itu. Hanya dia seorang. Bahkan sebelum matanya menangkap pelakunya ia sudah dapat menebaknya dan dugaannya sama tidak salah. Lucas membungkuk di hadapannya. Perlahan melepaskan tangannya dari dagunya. Kedua matanya yang menatapnya lekat-lekat memancarkan penyesalan.

Peyton menundukkan kembali kepalanya dan meneruskan membaca. Wajahnya yang datar seakan menunjukkan ketidakpeduliannya. Lucas menegakkan tubuhnya, menunggu sejenak tanpa mengucapkan sepatah katapun lalu membalikkan tubuhnya. Begitu saja, ia berjalan menjauh.

Peyton mendongakkan kepalanya. “Hanya itukah yang kaulakukan untuk meminta maaf setelah apa yang kaulakukan padaku?” ujarnya dengan penuh kekecewaan.

Lucas membalikkan tubuhnya. Ia memandang Peyton dengan penuh kepedihan. “Jadi apa yang harus aku lakukan?” tanyanya dengan nada putus asa. Ia tidak pernah memohon pada seorang wanitapun selama ini kecuali pada Lauren dan ia tidak berniat melakukannya lagi untuk siapapun juga. Hatinya saat ini sudah mengeras. Hanya Lauren yang pernah membuat hatinya melembut dan kepergian gadis itu telah membawa serta sebagian besar kelembutan hatinya. Kalau bukan karena ia tidak rela kehilangan Peyton, ia tidak mungkin mencarinya segigih ini. Satu jam ia habiskan untuk mencarinya sebelum akhirnya menemukannya sudah menunjukkan tekadnya. Tekadnya untuk mendapatkan gadis itu kembali dalam hidupnya tidaklah main-main.

Kepedihan kembali dirasakan Peyton di hatinya. Ia mengetahui semua yang Lucas lakukan untuk Lauren, bagaimana Lucas memohon pada gadis itu demi membuktikan ketulusan cintanya namun kini di hadapannya Lucas tidak rela memohon padanya sedikitpun. Walau ia tidak mengharapkan Lucas memohon-mohon dengan tragis tapi setidaknya pria itu berusaha lebih keras untuk menunjukkan ketulusannya.

Peyton memasukkan novelnya ke dalam tas lalu melangkah pergi. Lucas bergegas mengejarnya dan menahan tangannya. Genggamannya tidak terlalu keras seakan menunjukkan penyesalannya akan apa yang dilakukannya waktu itu. “Maafkan aku,” ujarnya lirih.

Peyton memandang Lucas dengan penuh kekecewaan.“Setelah semua yang kaulakukan, kau seharusnya tidak menundanya hingga kini." Matanya mulai berkaca-kaca. Ia kebaskan tangannya kuat-kuat dan melangkah pergi.

“Peyton,” panggil Lucas dengan nada getir.

Peyton menoleh.“Hubungan kita tidak mungkin berhasil, Luke.” Air mata mengalir di kedua pipinya. “Aku tidak pernah tahu apa yang ada di pikiranmu. Kau meninggalkanku begitu saja tanpa sepatah katapun setelah malam yang kita lalui bersama. Apa salahku? Kau begitu marah kepadaku hanya karena aku mengenakan kemejamu?” ujarnya dengan suara tercekat. Lucas terpaku di tempatnya. Rahangnya mengatup rapat. Sorot matanya dipenuhi keputusasaan.

“Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Kau bisa mencari wanita lain jika kau membutuhkan teman tidur,” ujar Peyton datar. Tubuhnya terasa lunglai. Ia baru saja menumpahkan segala kegalauan di hatinya namun bukan kelegaan yang ia dapatkan melainkan kepedihan. Seberapa kuatpun ia berusaha meyakinkan hubungannya dengan Lucas sudah berakhir, ia tidak bisa memungkiri ia masih sangat mencintai pria yang telah mencuri hatinya itu. Dari saat ia pertama mengenalnya di buku hingga sekarang.

Lucas menghampiri Peyton dan menariknya ke dalam pelukannya. Tubuh Peyton tersentak. Refleks ia meronta sekuatnya. Lucas melepaskan pelukannya. Wajahnya terlihat kaget, tidak menyangka Peyton akan bereaksi seperti itu.

Peyton melangkah mundur dengan cepat. “Luke, aku mohon,” ujarnya dengan nada ngeri.

“Maafkan aku. Aku sungguh tidak bermaksud memperlakukanmu seperti itu,” ujar Lucas dengan penuh penyesalan. Peyton mengalihkan pandangannya dari kedua mata Lucas. Hatinya akan luluh bila ia terus menatapnya dan saat ini ia harus bersikap tegas.

“Lalu kenapa kau berbuat seperti itu?” tanya Peyton sambil menengadahkan kepalanya, menahan air mata yang sudah berada di ambang kedua matanya.

“Apa kau benar-benar ingin tahu apa yang terjadi saat itu?” tanya Lucas dengan penuh kegetiran. Peyton menoleh. Keningnya berkerut. Pertama kalinya Lucas memberitahu apa yang ada di pikirannya.

“Kemeja yang kau kenakan hari itu adalah kemejaku…”

“Luke, kau tidak mungkin semarah itu kepadaku jika itu kemejamu. Aku tahu se..,” tukas Peyton dengan nada lelah.

“Kemejaku yang dipakai oleh Lauren setelah kami selesai bercinta untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi untuk selamanya,” tukas Lucas dengan cepat. Kata-katanya semakin lirih saat matanya memancar kepedihan yang semakin kuat. “Aku…,” ujarnya dengan suara tercekat. Ia memejamkan matanya rapat-rapat. “Tidak mungkin membiarkan siapapun memakainya.”

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 20

Post  didar on 1st September 2009, 2:14 pm

Peyton terpana. Ia sudah menyangka semua itu ada hubungannya dengan Lauren namun hal itu sama sekali di luar dugaannya. Dalam sekejap semua amarah yang ada di hatinya menghilang ke dalam kehampaan.

“Luke." Peyton melangkah ke arah Lucas dengan cepat. “Aku sungguh tidak tahu,” ujarnya dengan penuh penyesalan. Lucas menarik pinggang Peyton ke arahnya hingga gadis itu jatuh ke dalam pelukannya. Peyton menyandarkan kepalanya di pundak Lucas dan mengaitkan kedua tangannya di punggungnya. “Luke,” ujarnya sambil memejamkan matanya rapat-rapat.

“Aku tidak mau kehilanganmu,” ujar Lucas dengan suara parau. “Jangan pernah berpikir aku hanya menginginkan tubuhmu karena yang aku inginkan lebih dari itu.” Lucas memeluk Peyton lebih erat. Matanya terpejam meresapi kehangatan yang memenuhi hatinya.

Peyton menjinjitkan kakinya dan mengaitkan kedua tangannya semakin erat hingga tubuh mereka merapat sepenuhnya. Lucas membenamkan wajahnya di dalam rambut Peyton hingga bibirnya bertemu dengan lehernya. Dengan lembut ia menghirup aroma yang keluar dari tubuh gadis yang begitu dirindukannya itu lalu mengecup lehernya. Peyton menarik dirinya perlahan-lahan. "Luke," ujarnya dengan nada lelah.

Dengan lembut Lucas mengangkat wajah Peyton hingga kedua mata mereka bertemu. Hatinya terasa pedih saat melihat kelelahan yang terpancar di kedua matanya yang hijau. “Aku tidak pernah bermaksud untuk memanfaatkanmu seperti yang kaukira. Aku berjanji aku tidak akan lagi memperlakukanmu seperti itu hanya karena emosi yang aku rasakan.” Kesungguhan terpancar di kedua matanya yang menatap Peyton lekat-lekat.

“Aku sungguh tidak mau kehilanganmu, aku memikirkanmu setiap saat dan aku sangat menyesali perbuatanku itu,” ujarnya sambil mengelus pipi Peyton dengan lembut. Peyton merasakan hatinya mulai menghangat. Kelelahan yang terpancar di kedua matanya perlahan menghilang berganti dengan keharuan. Ia menatap kedua mata Lucas lekat-lekat lalu mengangguk. Senyum haru mengembang di wajah Lucas. “Aku akan membuktikan padamu bahwa aku sungguh-sungguh denganmu,” ujarnya dengan lega. Sudah lama ia tidak merasakan seperti itu kepada seorang wanita dan ia sungguh tidak mau kehilangan hal itu.

Peyton menjinjitkan kakinya dan mengecup bibir Lucas dengan lembut. Lucas menahan wajah Peyton dengan kedua tangannya dan menciumnya lebih dalam. Peyton meremas punggung Lucas dan membalas ciuman itu sepenuh hati. Sepuasnya mereka melepaskan kerinduan yang terkekang di hati mereka.
***
Lucas menoleh ke arah jam tangannya. Waktu berlalu begitu cepat, ia sudah menghabiskan waktu hampir 3 jam sejak ia pergi dari apartemennya tadi. Peyton berdiri di sampingnya di dalam lift yang membawa mereka menuju ke apartemennya. “Luke, berapa hari kita tidak bertemu?” ujar Peyton dengan suara lirih. Kepalanya ia letakkan sepenuhnya pada bahu Lucas.

Lucas mengeratkan pelukannya pada pinggang Peyton. “Empat hari,” ujarnya dengan lembut.

Peyton mengangkat kepalanya dari bahu Lucas. “Empat hari? Mengapa terasa lama sekali?” ujar Peyton tak percaya. Lucas tersenyum lebar. “Mungkin karena kau merindukanku," ujarnya dengan mesra.

Peyton mengangguk. “Aku merasa seperti seorang wanita bodoh, merindukan seorang pria brengsek,” ujarnya dengan nada datar. Lucas memegang dagu Peyton dan menggerakkan kepalanya ke arahnya hingga pandangan mereka bertemu. “Aku sungguh menyesali perbuatanku setiap hari. Kau tidak mungkin tahu apa yang aku rasakan dalam empat hari itu. Aku bahkan hampir meninju seseorang di kantor karena dia mengangguku terus,” ujarnya sungguh-sungguh. Peyton memicingkan matanya seolah tak percaya. Lucas tertawa kecil.

Pintu lift terbuka. Lucas mendorong Peyton dengan lembut dan melangkah keluar bersamanya.

“Jadi apa yang kaurasakan selama 4 hari ini?” tanya Peyton saat Lucas menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya ke arahnya. Kedua matanya menatap Lucas penuh harap, berharap Lucas akan mengatakan bahwa ia sangat merindukannya hingga rasanya hampir mati.

“Aku merasa sangat frustasi saat itu. Hatiku dihimpit oleh kerinduan yang tidak dapat lagi dibendung. Aku tidak dapat membayangkan apa yang akan kulakukan kalau aku tidak mendapatkanmu lagi.” ujar Lucas sambil memandang Peyton lekat-lekat.

“Luke,” ucap Peyton penuh haru. “Sangat berarti bagiku mengetahui kau terus merindukanku selama empat...,”

Lucas menutup bibir Peyton dengan bibirnya, menciumnya hingga Peyton membuka bibirnya dan meneruskan ciumannya lebih dalam.

Ia lalu mengulurkan tangannya untuk memasukkan kunci pintu, memutarnya lalu membuka pintu dengan cepat. Ia menarik Peyton masuk bersamanya lalu menendang pintu hingga tertutup. Tak sedetikpun bibirnya lepas dari bibir Peyton. Dengan satu gerakan ia mengangkat tubuh Peyton dengan kedua tangannya.

“Luke, apa yang sedang kaulakukan?” tanya Peyton sambil berusaha mengembalikan irama napasnya. Lucas menundukkan kepalanya dan mengunci bibir Peyton dengan bibirnya lagi. Peyton mengalungkan kedua tangannya di leher Lucas dan membalas ciumannya dengan penuh gairah.

Lucas menurunkan Peyton di depan kamarnya, menekannya ke pintu kamar dan terus menciumnya. Ia lalu menarik tubuh Peyton mendekat kepadanya, membuka pintu dengan cepat dan membawanya melangkah bersama menuju ranjang. Ciuman mereka tidak terputus sedikitpun.

“Luke,” desah Peyton dengan mata terpejam saat Lucas menciumi lehernya dan menekan tubuhnya berbaring di atas ranjang. Dengan satu tarikan napas, Lucas mengangkat kepalanya. Kedua tangannya bergerak dengan cepat membuka kancing baju Peyton satu per satu. Matanya mengikuti gerakan tangannya dengan penuh gairah. Ia lalu membuka kemejanya dengan cepat dan menurunkan tubuhnya.

Bibir Lucas menyusuri tubuh Peyton dengan penuh gairah. “Luke,” ujar Peyton dengan suara mendesah. Ia memegang kepala Lucas dengan kedua tangannya dan menahannya. “Aku belum siap,” ujarnya lagi dengan nada memohon.

Lucas mengangkat wajahnya. Kedua matanya dipenuhi dengan gairah bercampur pertanyaan. Peyton menegakkan tubuhnya. “Bagaimana kalau kita melangkah lebih pelan kali ini?” ujarnya sambil mengancingkan kembali blusnya. Lucas menatap mata Peyton lekat-lekat, mencoba mencari makna kata-kata yang baru saja terucap di bibir gadis itu lalu mengangguk tipis. “Tentu, kalau itu yang kau mau,” ujarnya dengan lembut. Peyton memeluk tubuh Lucas erat-erat dan membenamkan kepalanya ke dalam dadanya. “Luke, aku mencintaimu,” ujarnya sangat lirih.
***
Dua bulan telah berlalu dari hidup Peyton sejak Lucas mengatakan kesungguhannya waktu itu. Musim telah berganti dan kini mewarnai kehidupannya yang hampir tidak beriak dengan daun-daun yang berguguran.
Lucas tidak pernah lagi membuatnya kecewa. Mereka bertemu setiap hari dan menikmati keberadaan satu sama lain seakan tidak ada puasnya. Lucas tidak pernah lagi meninggalkannya begitu saja atau marah padanya tanpa sebab yang jelas. Ia pun belajar untuk tidak mengatakan apapun tentang Lauren ataupun tentang masa depan mereka dan berusaha untuk menikmati apa yang mereka miliki saat itu. Tidak berharap lebih walaupun ia sangat mengharapkan Lucas memberitahunya bahwa ia mencintainya. Ketiga kata itu belum pernah keluar dari mulut Lucas selama ini.

Ia sudah menyelesaikan kelas melukisnya dan kini sedang berjuang untuk memasukkan karyanya ke dalam tahap seleksi untuk mengikuti acara lelang yang diadakan setiap tahun. Hanya 3 karya terbaik yang akan dikutsertakan dalam acara lelang itu dan waktu yang tersisa hanya sekitar 3 bulan lagi.

Saat ini ia sedang duduk di taman kota. Di hadapannya terdapat lukisan yang sudah hampir selesai. Ia berencana untuk menyiapkan 5 buah lukisan dan kemudian menyeleksi 2 di antaranya untuk mengikuti tahap seleksi.

Peyton merasakan getaran di sakunya. Ia meletakkan kuasnya lalu mengambil telepon genggamnya. Sekilas ia melihat layarnya dan seketika senyumnya mengembang. Lucas meneleponnya.

“Hai tampan,” ujarnya dengan mesra.

“Hai cantik,” jawab Lucas dengan lembut. Peyton tertawa bahagia. Betapa mudah Lucas membuatnya bahagia terkadang terasa sungguh mengherankan.

“Ada apa kau meneleponku?” tanya Peyton sambil membereskan peralatan melukisnya.

“Apa yang kaupakai saat ini?” bisik Lucas dengan mesra.

“Luke!” tegur Peyton sambil memutar kedua bola matanya. Ia lalu tertawa kecil. Lucas tertawa bersamanya.


“Kau ada di mana? Di taman?”

“Iya, apa kau akan datang kemari?” Peyton melihat ke sekelilingnya. Terkadang Lucas meneleponnya saat ia sudah berada di taman dan mengendap-ngendap mendekatinya dari samping.


“Aku akan mengajak Leighton ke sana.”

Senyum Peyton mengembang semakin lebar. “Aku tunggu,” ujarnya dengan riang.

Peyton membereskan peralatan melukisnya, merapikan semuanya di dalam tempatnya lalu mengambil sebuah novel di dalam tasnya. Semenjak ia menjalin hubungan dengan Lucas, ia tidak pernah membaca ulang novel karya pertama Lucas itu lagi. Selain karena segalanya menjadi terasa aneh, ia juga tidak dapat menahan perasaan cemburunya kepada Lauren. Perasaan cemburu yg muncul begitu saja dan tidak dapat dibendung sama sekali. Betapa Lucas mencintai gadis itu dapat dikatakan tidak ada bandingannya dan ia tidak yakin Lucas mencintainya sebesar itu. Perlahan pikirannya memasuki buku itu hingga ia tenggelam di dalam kisahnya dan waktu berlalu bersamanya.

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 20

Post  didar on 1st September 2009, 2:15 pm

Menit demi menit hingga seseorang tiba-tiba mengangkat dagunya ke atas dan mengecup mesra bibirnya untuk beberapa saat. Singkat namun terasa dalam.

Lucas melepaskan ciumannya dengan lembut. Dengan posisi membungkuk, ia memandang Peyton dengan penuh kemesraan.

Peyton tersenyum lebar. Itu yang dilakukan Lucas selama ini, memberinya sebuah kecupan kejutan bila ia datang menemuinya di taman dan dirinya terlalu sibuk sehingga tidak menyadari kehadirannya.

“Excuse me, aku sudah punya kekasih, jadi tolong jangan berbuat seperti itu,” ujar Peyton sambil merengutkan bibirnya. Matanya terpicing pura-pura jengkel.

“Ohh, apa dia lebih baik dariku?” tanya Lucas sambil menempatkan dirinya di samping Peyton.

“Coba aku pikirkan dulu,” sahut Peyton sambil menengadahkan kepalanya dan memandang jauh ke atas. Senyum manja terselip di bibirnya yang mungil. Beberapa detik kemudian ia menoleh ke arah Lucas. Matanya dipenuhi oleh binar-binar cinta.

“Dia berambut pirang dan sangat tampan. Saat ia tersenyum lebar, lesung pipit di kedua pipinya terlihat jelas dan menjadikannya semakin manis. Tubuhnya sangat atletis dan … “ ujarnya dengan suara mendesah. Ia mendekatkan wajahnya. “Yang paling aku sukai darinya adalah dia berkumis dan berjambang tipis, sangat seksi,” lanjutnya. Matanya perlahan beralih dari kedua mata Lucas ke bibirnya.

Lucas menutup bibir Peyton dengan kecupan mesra. “Apa dia bisa menciummu lebih baik dari itu?” bisiknya penuh arti.

“Tentu, jauh jauh lebih baik dari itu,” jawab Peyton dengan geli namun juga dipenuhi kesungguhan.

Senyum tipis mengembang di bibir Lucas beriringan dengan tatapannya yang semakin melembut. "Hmm, kalau begitu..." ujarnya sambil mendekatkan bibirnya. “Kau harus merasakan yang ini,” bisiknya dengan mesra. Ia lalu mencium Peyton dengan penuh gairah. Bibirnya bergerak di antara bibir Peyton dengan keahlian seorang pencium ulung. Peyton mengaitkan kedua tangannya di leher Lucas dan membalas ciumannya. Mereka tak lepas dari satu sama lain untuk beberapa waktu. Dengan bibir saling bertaut, tubuh mereka bergerak mengikuti irama ciuman mereka hingga akhirnya Peyton menarik dirinya dengan cepat saat ujung matanya menangkap bayangan Leighton berlari ke arah mereka.

“Kenapa?” Lucas memandang Peyton dengan kening berkerut. Peyton menggerakkan kepalanya ke arah Leighton yang sedang berlari mendekat. Lucas mengerang tidak puas. Peyton memegang sebelah pipi Lucas dengan gemas.

Leighton berlari menghampiri mereka dengan cepat. Wajahnya yang manis terlihat sangat riang.

“Daddy, seorang anak laki-laki memberiku balon. Dia bilang aku sangat imut,” ujarnya dengan riang. Lucas berdiri. “Kau memang sangat imut,” ujarnya sambil menggendong Leighton tinggi-tinggi lalu mendudukkan gadis kecil itu di atas pangkuannya. Sebuah kecupan darinya mendarat di pipi Leighton.

“Luke, Leighton tidak boleh dibiasakan menerima barang apapun dari orang asing,” tegur Peyton dengan nada panik.

“Tentu saja tidak. Tadi aku meninggalkannya bersama Julian dan kekasihnya,” ujar Lucas sambil menunjuk ke depan. Peyton menoleh ke arah yang ditunjuk. Senyumnya mengembang saat ia mendapati Julian melambai ke arahnya dengan semangat. Di sebelahnya terdapat seorang wanita cantik tersenyum dengan ramah. Peyton balas melambai sambil menganggukkan kepalanya ke arah wanita itu. Julian membuat tanda ciuman dengan tangannya lalu menunjuk ke arah Lucas sambil menyeringai. Peyton mendelik ke arahnya. Julian terbahak. Ia menikmati tawanya untuk sejenak lalu mengandeng tangan kekasihnya dan berlalu dari sana.

“Kenapa ia tidak datang kemari dan memperkenalkan kekasihnya kepadaku?” ujar Peyton dengan nada penasaran. Sudah lama ia mendengar tentang kekasih Julian namun ia belum pernah bertemu dengannya sekalipun.

“Aku rasa dia tidak mau mengganggu kita,” ujar Lucas sambil memeluk pundak Peyton. “Karena?” tanya Peyton dengan nada kecewa. Lucas tertawa kecil. “Karena kita butuh waktu untuk bermesraan. Hanya berdua,” bisiknya di telinga Peyton dengan mesra. Peyton tersenyum mesra. “Tapi aku tidak akan mengijinkanmu menciumku jika Leighton ada di sini,” balasnya sambil berbisik. Lucas mengedipkan matanya lalu mengalihkan kembali perhatiannya kepada Leighton.

“Ayo, pergilah bermain dengan balonmu itu,” ujarnya sambil melirik ke arah Peyton. Ia mengangkat Leighton dari pangkuannya dan meletakkannya di hadapannya.

"Daddy, apa aku boleh ngomong sekarang?" tanya Leighton dengan bibir merengut.

Lucas mengangkat kedua alisnya. "Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" tanyanya dengan lembut
Leighton mengangguk sekali jadi lalu menarik napasnya dalam-dalam. “Daddy, temanku yang bermata sipit itu bilang aku ini gadis yang malang karena aku tidak mempunyai ibu,” tuturnya berapi-api.
Lucas tertawa kecil. “Lalu?” ujarnya sambil mengelus rambut Leighton.

“Aku langsung membantahnya. Aku bilang aku sudah mempunyai calon ibu yang sangat cantik,” Leighton berkata dengan antusias. Matanya yang mengarah kepada Peyton dipenuhi dengan kebanggaan. “Miss Sawyer cocok menjadi ibuku karena ia sangat cantik. Temanku itu tadinya tidak percaya, tapi setelah aku tunjukkan foto Miss Sawyer padanya, ia setuju Miss Sawyer sangat cantik,” tambahnya lagi sambil tersenyum bangga ke arah Peyton. Tawa Peyton pecah. Dengan gemas ia menekan kedua pipi Leighton. Leighton tersenyum lebar.

“Ah, siapa yang mengatakan Peyton sangat cantik? Apa dia seorang anak laki-laki?” tanya Lucas dengan nada pura-pura marah.

“Iya, dia keturunan korea. Dia teman baikku dan kalau sudah besar nanti ia akan menjadi pacarku,” jawab Leighton polos.

“Kalau begitu aku tidak perlu cemburu,” ujar Lucas sambil melirik ke arah Peyton dengan mesra. Peyton tertawa kecil lalu mengecup pipi Lucas dengan lembut. “Aku senang kau cemburu,” ujarnya kemudian sambil melirik Lucas dengan lirikan penuh arti.

Lucas terkekeh. “Kau milikku. Siapapun tidak boleh membayangkanmu yang tidak-tidak,” ujarnya sambil mengelus rambut Peyton. “Luke, dia cuma anak kecil,” ujar Peyton sambil membelalakkan matanya. Lucas mengangkat bahunya. “Siapapun,” bisiknya dengan mesra. Peyton mendelik ke arahnya. Lucas tertawa kecil lalu mencium kening Peyton. “Kau milikku,” bisiknya lagi. Peyton tersenyum lebar. Ia mendekatkan tubuhnya dan menatap Lucas dari dekat. Lucas membalas pandangannya dengan mesra. “Apa aku perlu mengatakan kata-kata itu berulang kali untuk kauresapi?” ujarnya sambil menelusuri wajah Peyton dan mengelusnya dengan lembut.

Leighton menunggu di depan mereka sambil merengutkan bibirnya dan terus menunggu hingga Peyton menyadarinya. Sambil tertawa Peyton memandang Lucas dan menggerakkan matanya ke arah Leighton. Lucas mengalihkan pandangannya kepada Leighton dan tertawa saat melihat gadis cilik itu memicingkan mata ke arahnya. Ia lalu membungkukkan badannya dan mengucapkan sesuatu di telinga Leighton. Raut wajah Leighton berubah menjadi riang dalam sekejap. Ia bersorak lalu berlari dari situ.

“Jangan terlalu jauh, di sana saja,” teriak Lucas dengan nada cemas. Leighton berhenti berlari. Ia mengangkat tinggi balonnya lalu mengangguk ke arah Lucas. Dengan wajah riang ia berlari dan melompat-lompat dengan balonnya.

Lucas memperhatikan sekeliling Leighton baik-baik hingga akhirnya ia yakin tempat itu aman baginya lalu menoleh ke arah Peyton. “Apa kau siap?” ujarnya sambil menyeringai. Peyton tertawa kecil. Lucas memajukan wajahnya. Peyton menutup bibir Lucas dengan telapak tangannya. Lucas menarik wajahnya. “Kenapa?”ujarnya dengan nada protes.

“Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu, boleh?” tanya Peyton sambil memeluk pinggang Lucas.

Lucas mengangguk. “Tentu,” ujarnya sambil mengelus rambut Peyton.

“Jadi, kapan kau akan mengambil kembali hak asuh Leighton?” tanya Peyton sambil melirik sekilas ke arah Leighton lalu mengarahkan kembali pandangannya kepada Lucas.

Lucas menoleh ke arah Leighton sambil menghela napasnya. “Selama aku masih menulis, aku tidak akan mengambil hak asuh itu. Dia lebih baik tinggal di rumah kakek dan neneknya, setidaknya sampai aku punya keluarga dan aku tidak tahu kapan itu akan terjadi,” ujarnya dengan pandangan getir.

Raut wajah Peyton berubah kaku saat mendengar hal itu. Ia memutar tubuhnya dengan cepat dan mengarahkan pandangannya ke depan. Sepenuhnya mengabaikan Lucas. Lucas menatapnya dengan bingung namun kemudian menyadari kesalahan yang dilakukannya.

“Hei,” ujarnya sambil membalikkan tubuh Peyton ke arahnya dan menatapnya dengan lembut. Peyton tersenyum kaku. Lucas merubah posisi duduknya dan menarik Peyton ke dalam dekapannya. Peyton membenamkan dirinya ke dalam pelukan Lucas. Keduanya memejamkan matanya erat-erat, berusaha mnghilangkan kegundahan di hati masing-masing.

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 20

Post  didar on 1st September 2009, 2:20 pm

edan... nulis bagian ini setengah mati.. haha.. en jadinya terlalu puitis gimana gitu.. hehe.. gpp deh.. mungkin mood gw lagi bagus akhir2 ini.... haha..

kalo ditanya apa gw puas.. hmm.. pengennya seh marahannya lebih lama.. hehe.. tapi ntar FF gw jadi tambah panjang.. en gw ga tahan ngebayangin leyton ga ngomong selama 4 hari.. gimana di OTH ya mereka ceritanya ga ngomong selama berapa lama gitu.. haha.. parah neh gw..

hmm... seudah ini Nathan bakal muncul.. gw excited sendiri.. tapi ada satu bagian gw tambah... en gw butuh waktu untuk ngeditnya..

ohya... pertama kalinya gw nulis bed scene.. ga gimana2 juga kan.. hehe..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 20

Post  Shan2 on 2nd September 2009, 1:59 am

awww... g suka adegan di taman itu. mirip kyk chenchun di TJ, adegan fave g yg pas liang ama sui lagi liat papan iklan. love it so much...

hahaha... g ngakak pas leighton bilang temennya yg matanya sipit. jd leighton pacaran ama anak cowok korea yah ? hihihi...

wuih... setelah ini nathan keluar gimana nih ? nathan ceritanya si sini udah punya jamie blm ?

wah, udah 2 bulan yah ? berarti si jensen lenyap udah brp lama nih ? kira2 dia setaon baru balik yah.. duh... kasian jensen... ahaha..

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 20

Post  didar on 2nd September 2009, 3:44 am

sebenernya gw niru adegan di OTH malah.. adegannya di season 4 episode agak akhir.. Lucas tiba-tiba datang kasih kecupan kejutan buat Peyton.. haha.. en Peyton bilang.. Excuse me, I have a boyfriend... so sweet.. haha... sebenernya banyak loh yang gw ambil dr OTH sebenernya... hehe..

Nama Jamie udah disinggung2 sejak dulu.. en juga udah disinggung di bab ini juga di adegan Julian ama Leighton.. are you ready to see Jamie.. hehe.. en yup Jamie ini anaknya Nathan... Nathan tuh kawin muda sama kyk di OTH.. hehe..

yeah... Leighton ceritanya punya sahabat anak co yang matanya sipit.. en dia orang korea.. anak kecil kan suka gitu.. hehe...

menurut perhitungan gw.. ini baru sekitar ampir 3 bulan dari pas Jensen pergi.. en seudah ini ceritanya rapet.. so kira2 3 bulan lebih sedikit dia balik.. harusnya seh dia balik lebih cepet.. tapi gw bikin Neneknya sakit parahnya ga sembuh2.. tapi ngga sampe kenapa2 kok.. bentar lagi juga sembuh en Jensen bisa kembali ke NY.. hahahaha...

yup.. gw loncat 2 bulan karena gw mau buat ringkasan segala sesuatunya buat Brooke and Kevin.. kalo ga .. ga kebayang berapa panjangnya FF gw ntar.. haha..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 20

Post  Shan2 on 2nd September 2009, 6:12 am

so jamie bakal jadi anak nathan n nathan sama kyk di oth nikah muda jg ? haha...

oh, iya yah... nah si brooke ama kevin kan udah 2 bulan tuh, terus gmn skr kabarnya mereka. haha

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 20

Post  didar on 2nd September 2009, 8:14 am

yah... gw lagi mikir mereka mau diapain neh selama dua bulan... hahaha..
en yah.. Nathan kawin muda gitu tapi ga semuda OTH seh.. di sini kan dia ceritanya jadi adik tirinya Lucas.. bukan kakak tirinya kyk di OTH.. en yup Jamie bakal jadi anaknya Nathan and Haley.. yang lebih gede 2 tahun dari Leighton..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 20

Post  Shan2 on 2nd September 2009, 9:41 am

tp nggak terlalu muda jg kali yah, tuh lucas aja udah punya anak jg kan, pdhl lucas kan orgnya nggak gampang jatuh cinta. cie... g kyk mengerti lucas amat. wakkaka...

nah, berarti ntar flash back brooke kevin selama 2 bulan donk ?

aduh g blm pernah liat jamie. emang dia knp dinamain jamie ?

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 20

Post  didar on 2nd September 2009, 10:24 am

iya... ga terlalu muda juga seh... haha... yah.. anggap aja elo emang mengerti Lucas.. hehe..
bukan flashback... gw bakal buat ringkasan apa yang terjadi pada Brooke-Kevin dalam 2 bulan itu.. belum mulai seh.. masih bingung.. mau kyk gimana nulisnya.. dll..

nama aslinya James.. gw lupa deh apa ada alasan khusus atau ga dinamain itu.. yang pasti nama tengahnya.. Lucas .. ngikutin pamannya..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 20

Post  Shan2 on 2nd September 2009, 8:43 pm

okay, g tunggu cerita 2 bulannya. hehehe.. berarti tom udah mau keluar donk...

oh, james yah. jd jamie, so sweet. hehehe..

emang si nathan ini di oth lbh tua 3bulan dr lucas yah ? g kira lucas kakaknya loh, taunya adeknya ?

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 20

Post  didar on 2nd September 2009, 9:35 pm

yup.. nathan lebih tua dari Lucas..
haha.. iya neh.. gw stress mikirin gimana mau nulis 2 bulan ini.. yup.. Tom keluar di bab selanjutnya.. hehe..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 20

Post  didar on 5th September 2009, 2:00 pm

excuse me I have a boyfriend... gif


_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 20

Post  Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum