New Beginnings - Chapter 18

Go down

New Beginnings - Chapter 18

Post  didar on 18th August 2009, 1:40 am

Peyton membuka pintu perlahan-lahan. Ia tidak mau membangunkan Brooke yang biasa tidur hingga siang di akhir pekan. Sambil berjinjit ia berjalan melewati pintu dan menutupnya dengan hati-hati. Ia lalu melepaskan sepatunya dan berjalan ke kamarnya.

"Kau baru pulang?" Suara Brooke terdengar saat ia tiba di depan kamarnya.

Peyton mengeluh di dalam hatinya. Ia membalikkan badannya sambil tersenyum lebar. "Hai," ujarnya dengan nada riang. Brooke berdiri di depan pintu kamarnya. Wajahnya yang kusut menunjukkan ia baru saja bangun tidur.

“Kau bermalam di apartemen Lucas?” Brooke menatap Peyton dengan mata terpicing. Peyton mengangguk. Ia yakin Brooke menduga yang tidak-tidak. Walau tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Lucas kemarin malam, ia tetap merasa jengah.

“Apakah kalian sudah melakukannya?” tanya Brooke dengan penuh selidik. Tiga hari. Hubungan Lucas dan Peyton baru berlangsung tiga hari.

“Bagaimana kalau nanti sesudah mandi, kita duduk berbincang-bincang?” Peyton mendorong pintu kamarnya. Wajahnya terlihat pasrah.

Brooke mengangguk. “Kau saja mandi dulu,” ujarnya sambil meregangkan tubuhnya.

“Aku sedang membuat jus. Apa kau mau?” tanya Peyton saat ia melihat Brooke keluar dari kamar mandi. Kedua tangannya sibuk memasukkan potongan buah-buahan ke dalam blender. Brooke mengangguk. "Thanks," ujarnya sambil berjalan ke kamarnya.

Ia keluar beberapa menit kemudian dengan dandanan rapi.

“Apakah kau akan pergi siang ini?” Tanya Peyton sambil menyodorkan gelas jus kepada Brooke. Tidak biasanya Brooke pergi di akhir pekan. Ia biasanya menghabiskan waktu bersantai sambil menonton DVD. Brooke mengangguk.

“Aku akan pergi ke butik. Rencananya aku akan melanjutkan gambar desain untuk karya musim gugurku nanti,” ujarnya sambil mengangkat gelas jusnya lalu mengamati isinya.

“Anggur, strawberry dan kiwi,” ujar Peyton sebelum meminum sisa jus di dalam gelasnya. Brooke mencicipi jusnya lalu mendecapkan lidahnya dengan nikmat. Sekali teguk ia menghabiskan sisanya.

Apakah Ariel akan datang membantumu?” Peyton tiba-tiba teringat akan gadis mungil itu.

“Yup, dia akan bertemu denganku di butik.”

“Apakah selama ini dia baik-baik saja? Aku sungguh berharap masalahnya dengan Chun sudah terselesaikan,” ujar Peyton dengan nada prihatin.

“Kau tidak perlu kuatir. Dia baik-baik saja dan dia juga sudah memiliki seorang kekasih.”

“Apakah kau tahu siapa nama pria itu? Chun atau bukan?” tanya Peyton dengan wajah penasaran.

Brooke menggeleng. “Aku tidak pernah mendengarAriel menyebut nama pria itu. Pria itu selalu menunggu di luar dan Ariel belum mengenalkannya kepadaku. Yang pasti pria itu pria asia. Cukup tinggi dan tampan,”

“Apa mungkin itu Chun?” tanya Peyton hampir kepada dirinya sendiri.

“Mungkin. Mengapa kau tidak datang ke butikku hari jumat sore. Pria itu biasanya datang setiap jumat. Kadang di hari biasa juga tapi seingatku dia selalu datang di hari jumat.”

“Kalau aku senggang, aku akan pergi ke sana." Mata Peyton tiba-tiba melebar seakan terpikir sesuatu yang menarik.

"Apakah menurutmu aku sebaiknya menguntit Chun pada hari Jumat. Siapa tahu dia pergi ke butikmu,” ujarnya sambil berbisik. Brooke tertawa.

“Terserah. Tapi tanggung sendiri jika kau dituduh sebagai penguntit lagi,” ujarnya sambil menyeringai. Peyton meringis. “Cukup satu kali dalam hidupku orang menuduhku seperti itu.”

“Ohya, hari ini aku akan pulang agak malam,”ujar Brooke terkesan sambil lalu.

"Apa kau akan tinggal di butikmu sampai malam?”

"Aku ada kencan," jawab Brooke. Peyton mengangkat kedua alisnya. "Kencan? Pria beruntung mana yang dapat berkencan dengan seorang Brooke Davis?" ujarnya dengan nada menggoda. Brooke tersenyum lebar. “Aku akan berkencan dengan Kevin nanti malam.”

“Kevin yang kulukis itu? Secepat itu?” tanya Peyton terdengar cukup kaget. Rasanya baru kemarin Brooke bertemu dengan Tom di pesta. Brooke mengangguk.

“Gosh, kapan ia akan datang kemari?” tanya Peyton dengan nada sedikit panik.

“Jam 7,” ujar Brooke sambil menatap Peyton dengan heran.

“Jangan biarkan aku bertemu dengannya dan tolong singkirkan terlebih dahulu lukisan yang aku buat,” ujar Peyton dengan wajah memelas. Brooke tertawa. “Dia akan datang mengenakan baju lengkap. Kau tidak perlu kuatir. Lagipula dia belum tentu mengingatmu.”
“Tapi aku tidak mungkin melupakannya,” ujar Peyton sambil mendelik. Brooke tertawa geli. “Aku yakin wajahmu pasti memerah seperti kepiting rebus jika kau bertemu dengannya lagi,” ujarnya sambil tertawa. Peyton memukul pundak Brooke dengan gemas.
“Kau bisa pergi ke apartemen Lucas kalau kau tidak ingin berjumpa dengannya,” ujar Brooke berusaha tidak membayangkan lagi reaksi Peyton jika ia bertemu dengan Kevin lagi.

Hari ini aku tidak akan bertemu dengan Lucas lagi. Rencananya aku akan melukis di taman. Sesudah itu aku akan mengunjungi galeri yang pernah Chun singgung belum lama ini. Dia bilang galeri itu adalah galeri terbaik di New York. Tempatnya memang kecil namun banyak karya-karya besar yang pernah dijual di sana sebelumnya dan aku ingin sekali melihatnya,” ujarnya dengan semangat.

“Aku kira kau akan menghabiskan waktu hingga pagi bersama Lucas lagi.” Brooke melemparkan pandangan menggoda.

“Nope, kami akan melakukan kegiatan masing-masing hari ini. Lagipula tadi padi kami sudah makan pagi bersama. Aku rasa itu sudah cukup,” ujar Peyton sambil mendelik.

“Jadi kau dan Lucas?” tanya Brooke dengan nada santai. Peyton mengulurkan tangannya untuk mengambil gelas besar berisi jus dari sisi meja. “Masih ada. Apa kau mau lagi?” tanyanya sambil menuangkan jus ke dalam gelasnya. Brooke menyodorkan gelas jusnya.

“Kalau kau bertanya apakah kami sudah tidur bersama maka jawabannya adalah iya. Satu kali. Tidak terjadi kemarin seperti dugaanmu tetapi sekitar dua minggu lalu saat kau terperangkap bersama Kevin,” tutur Peyton sambil menuangkan jus ke dalam gelas Brooke.

“Saat aku terperangkap bersama Kevin? Bukankah itu sehari sesudah Lucas mengataimu sebagai penguntit.” Brooke terlihat bingung.

Peyton memandang Brooe dengan wajah tersipu. "Saat itu aku datang ke apartemen Lucas untuk menanyakan soal itu. Kami sempat bertengkar namun di saat emosi kami memuncak Lucas malah menciumku.” Wajah Peyton mulai terasa hangat.

“Lalu kau tidur bersamanya? Hanya karena ia menciummu?” tukas Brooke dengan cepat. Keningnya berkerut heran. Peyton menggeleng. “Tidak secepat itu. Malamnya aku datang lagi ke apartemennya. Lucas menciumku lagi. Satu dan lain hal terjadi hingga akhirnya kami tidur bersama," tuturnya dengan wajahnya bersemu merah, memikirkan malam itu kadang masih membuatnya sangat malu. Begitu saja ia menyerahkan diri pada seorang pria yang belum lama dikenalnya bukan sesuatu yang selama ini dilakukannya.

Brooke memandang Peyton dengan heran. Selama ini Peyton tidak segampang itu menyerah kepada pria. Ia tidak mungkin salah mengingat, perlu satu tahun lebih bagi temannya itu sebelum akhirnya membuka diri kepada Jake dan hanya dibutuhkan 2 ciuman dari Lucas untuk mendapatkannya.

“Dua kali Lucas menciummu waktu itu dan kau menyerah kepadanya?” Brooke mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Lucas dan Peyton hari itu tapi baginya hubungan mereka berawal sangat dangkal. Mereka tidur bersama dan mereka kini tidak bisa melepaskan diri dari satu sama lain.

Wajah Peyton berubah menjadi serius. “Aku tidak tahu, Brooke. Aku belum pernah merasakan sesuatu seperti ini sebelumnya. Dia membuatku begitu bergairah dan aku jatuh begitu saja dalam pelukannya,” ujarnya dengan wajah bingung.

Brooke menghela napasnya. “Peyton, aku ingin kau berhati-hati. Jangan sampai hubunganmu dengan Lucas sama seperti hubungan-hubungan yang pernah aku jalin sebelumnya,” ujarnya dengan nada serius. Peyton mengangkat kedua alisnya. Kata-kata Brooke seakan menyatakan hubungannya dengan Lucas hanyalah hubungan yang melibatkan napsu belaka. Ia baru saja hendak menyanggah hal itu saat terdengar suara ketukan di pintu.

“Biar aku yg buka.” Peyton berdiri dari kursinya dan melangkah ke arah pintu. Dengan tangan bersiap di gagang pintu, ia mengintip lewat lubang pintu. “Lucas?” bisiknya heran. Tangannya bergerak membuka pintu.

Senyum Lucas mengembang lebar saat ia mendapati Peyton berdiri di balik pintu. “Luke, ada apa kau datang?” tanya Peyton dengan nada kaget namun juga senang.

“Kejutan,” ujar Lucas dengan nada hangat. Ia memajukan langkahnya hingga kedua tangannya menyentuh pinggang Peyton.
Peyton tersenyum bahagia. “Aku menyukai kejutan,” bisiknya dengan manja. Ia mendekatkan tubuhnya dan mengaitkan kedua tangannya di punggung Lucas. Keduanya berpandangan dengan mesra untuk beberapa saat. Peyton memajukan tubuhnya hingga tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Lucas.

Lucas menundukkan kepalanya dan mengintip lewah celah kaos Peyton yang sedikit kedodoran. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat ia melihat apa yang ada di balik kaos itu. Suhu tubuhnya naik dengan cepat hingga ia merasa gerah.
“Apa yang kaulihat?” ujar Peyton sambil tertawa. Lucas menengadahkan wajahnya. “Uhh, seksi,” ujarnya dengan mata bersinar nakal. “Luke,” tegur Peyton dengan nada geli. “Sebagai pria normal. Sangat wajar jika aku menikmati apa yang aku lihat tadi,” ujar Lucas membela dirinya. Peyton tertawa kecil.

“Hmm.. aku merindukanmu,” bisik Lucas dengan mesra sambil mendekatkan wajahnya hingga bibirnya menyentuh bibir Peyton dan mengecupnya lembut.

“Perfect,” ujarnya setelah ia menarik bibirnya. Matanya terpejam penuh kenikmatan. Peyton tersenyum lebar. Dengan gemas ia mempererat pelukannya. Lucas membuka kedua matanya dengan cepat. Betapa cepat tubuhnya bereaksi terhadap gerakan tubuh Peyton. Sungguh mengherankan.

“Wow,” bisiknya sambil menundukkan kepalanya dan mencium Peyton lagi. Lebih lembut, lebih panas dan lebih lama. Peyton merasakan jantungnya berdebar semakin cepat dan ia terhanyut di dalam ciuman itu namun bunyi langkah kaki di lorong itu dengan cepat membuatnya tersadar. “Luke, kita ada di depan pintu,” gumamnya dengan bibir masih tertutup oleh bibir Lucas. Lucas mengangkat wajahnya dengan enggan. Peyton menundukkan kepalanya dari tatapan beberapa orang yg menatapnya dengan tajam.

Lucas mendorong tubuh Peyton memasuki apartemen. Dengan sebelah kakinya ia mendorong pintu hingga tertutup. Peyton bernapas lega. "Ada apa kau datang kemari?" ujarnya saat menyadari sejak tadi mereka terlalu sibuk bermesraan.
“Aku akan membawa Leighton makan siang. Bagaimana kalau kau ikut dengan kami?” Peyton terlihat ragu. "Aku tahu kau akan pergi melukis. Hanya sebentar. Setelah makan siang, aku akan mengantarkanmu pulang,” ujar Lucas sambil mengelus rambut Peyton dengan lembut.

Peyton berpikir sejenak lalu mengangguk. “Masuklah dulu,” ujarnya sambil bergerak melepaskan dirinya dari pelukan Lucas namun tangan Lucas menahannya. Lucas menahan kepala Peyton dan memajukan kepalanya berusaha untuk mencium Peyton lagi. “Luke,” ujar Peyton sambil menggerakkan matanya ke samping. Lucas menghentikan gerakannya sambil menyeringai lebar. Matanya melirik sekilas ke dalam ruangan. Seringainya memudar saat matanya bertemu dengan mata Brooke yang menusuk tajam.

Lucas melepaskan pelukannya. “Ada yang tidak suka dengan kedatanganku,” ujarnya dengan nada datar. “Brooke?” tanya Peyton sambil menoleh ke belakang. Brooke cepat-cepat mengalihkan pandangannya, membalikkan tubuhnya dan melangkah ke arah kulkas.

“Aku rasa kau harus meminta maaf kepadanya,” ujar Peyton. Wajah Lucas berubah dengan cepat. Ia terlihat enggan melakukan hal itu. “Apakah kita tidak bisa pergi begitu saja? Aku janji aku akan menghindar darinya setiap kali aku bertemu dengannya,” ujarnya dengan nada datar.

Peyton menggelengkan kepalanya. “Nope. Tidak ada pilihan lain. Kau harus minta maaf padanya,” ujarnya dengan tegas. Lucas mengatup rahangnya rapat-rapat.

Peyton menghela napasnya. Ia tahu ia tidak bisa memaksa Lucas untuk melakukan sesuatu yang tidak disukainya tapi bagaimanapun ia harus berusaha bila ia tidak ingin terjepit di antara Lucas dan Brooke kelak. “Apartemen ini sepenuhnya milik Brooke. Jika kau masih ingin datang ke apartemen ini maka hanya itu pilihan yang kau punya,” ujar dengan nada membujuk. Raut wajah Lucas melembut untuk sesaat. Peyton dengan cepat mengerti. Ia menerusnya siasatnya. Dengan penuh gairah, kedua matanya menatap Lucas lekat-lekat. “Mungkin suatu kali aku akan mengajakmu menginap di sini dan kita bisa menghabiskan malam bersama dengan penuh gairah," bisiknya dengan mesra. Jari telunjuknya bergerak menelusuri bibir Lucas dengan lembut.

Lucas menelan ludahnya dengan susah payah, berusaha keras untuk tidak bereaksi namun tatapan Peyton membuatnya tidak dapat menahan dirinya lagi. “Mengapa tidak di rumahku saja?” ujarnya sambil menarik pinggang Peyton mendekat ke tubuhnya. Peyton menatap Lucas dengan mata terpicing. Lucas mengalihkan pandangannya sambil tertawa kecil. “Baiklah, kalau memang itu maumu,” ujarnya pasrah.

Peyton menarik Lucas ke ruang tengah. Wajahnya dipenuhi senyum bahagia. Lucas mengikuti Peyton dengan wajah menengadah pasrah. Ia bukan pria yang terbiasa minta maaf namun saat ini apapun akan ia lakukan demi Peyton. Apapun demi melihat gadis itu tersenyum.
Brooke berdiri di depan meja dapur dengan wajah kaku. Matanya memandang Peyton dan Lucas bergantian. Kemesraan mereka sejak tadi membuatnya heran. Peyton bukan orang yang suka mengumbar kemesraan di depan umum tapi sejak tadi ia tak sungkan berciuman dengan Lucas seakan tidak ada orang lain di sekitar mereka.

“Temuilah Brooke. Aku akan ganti baju dulu,” ujar Peyton saat mereka tiba di ruang tengah. Lucas mengangguk. Peyton melangkah menuju kamarnya sambil memberi isyarat kepada Brooke. Ia menunjuk ke arah Lucas lalu membuat gerakan berbicara dengan tangannya. Brooke mengangguk.

Lucas menunggu hingga Peyton menutup rapat pintu kamarnya sebelum kemudian berjalan mendekati Brooke. Seakan menyatakan kesiapannya, Brooke melipat kedua tangannya di depan dadanya. Matanya memandang Lucas dengan tajam.
“Miss Davis, aku minta maaf untuk keributan yang aku sebabkan waktu itu,” Lucas menghentikan langkahnya beberapa langkah di hadapan Brooke. Nadanya terdengar cukup hangat dan tulus. Brooke terdiam sejenak, mencoba menilai ketulusan Lucas akan kata-katanya itu sebelum akhirnya menurunkan tangannya.

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 18

Post  didar on 18th August 2009, 1:50 am

“Jangan pernah memperlakukan Peyton seperti itu lagi,” ujarnya dengan nada tegas. Lucas mengangguk. Brooke tersenyum tipis. Walau ia mempercayai ketulusan Lucas saat ini namun hatinya masih tetap gundah. Baginya Lucas bukanlah pria yang tepat untuk Peyton. Ia lalu menunjuk ke arah pintu kamarnya. “Ada sesuatu yang harus aku kerjakan.” Ia tidak suka berada bersama pria itu terlalu lama. Tidak seperti Peyton, ia tidak bisa memaafkannya sesederhana itu.

Tanpa memandang Lucas sedikitpun, Brooke melangkah cepat-cepat menuju kamarnya. Langkahnya terhenti saat ia melihat pintu kamar Peyton terbuka. “Bersenang-senanglah,” ujarnya dengan tulus saat ia melihat Peyton melangkah keluar dari kamarnya. Peyton tersenyum lega lalu mengangguk. Dengan wajah bersinar bahagia ia berjalan menghampiri Lucas, memeluk pinggang pria itu dengan kedua tangannya. “Apa itu artinya kau lulus di mata Brooke?” tanyanya dengan suara manja. Lucas memandang Peyton dengan sangat lembut. Gadis itu terlihat begitu cantik di saat bersikap manja seperti itu. Hatinya perlahan menghangat.

“Aku rasa Miss Davis masih membenciku. Dia tidak tahan berdiri bersamaku lebih dari 60 detik,” ujarnya sambil tersenyum. Peyton mengusap pipi Lucas dengan wajah prihatin. Lucas tertawa. “Bagaimana kalau kita ke kamarmu sekarang?” ujarnya sambil melirik ke arah kamar Peyton. Seringai lebar menghiasi wajahnya yang tampan. Peyton memutar kedua bola matanya.
“Ayo, Leighton sedang menunggu kita,” ujarnya sambil menarik tangan Lucas.
***

Brooke menjejerkan kertas-kertas berisi desain baju untuk keluaran musim gugurnya dengan rapi di atas meja. Konsentrasinya tertumpah penuh ke atasnya. Ia mengamati setiap desainnya satu persatu. Desain yang ia sukai ia sisihkan menjadi satu tumpuk di sisi kanannya, sisanya ia biarkan tetap berjejer.

“Brooke,” ujar Ariel dengan suara yang halus. Ini untuk kedua kalinya di hari itu ia mengganggu Brooke. Pertama saat Brooke hampir melewatkan makan siangnya dan saat ini kedua kalinya untuk mengingatkannya akan kencannya sore nanti.
“Hmm,” Brooke meletakkan desain baju terakhir yang diamatinya ke atas tumpukan di sisi kanannya. Ia lalu mengamati sisa desainnya yang masih berjajar rapi di atas meja satu per satu.

“Brooke, bukankah kau akan pergi kencan hari ini?” tanya Ariel sambil melihat-lihat hasil desain Brooke yang masih tersisa di atas meja.

“Yep,” Brooke mengangkat dua hasil desainnya lalu membandingkannya. Tubuhnya tiba-tiba tersentak saat pikirannya kembali ke realitas. Ia menengadahkan kepalanya dengan cepat ke arah jam dinding.

“Gosh, sekarang sudah jam setengah enam.” Brooke berdiri dengan cepat dari kursi. Tangannya bergerak membereskan semua kertas-kertas yang masih berjejer di atas meja.

“Biar kuambilkan gaun yang sudah kaupilih tadi,” ujar Ariel sambil berlari ke arah gudang. Brooke mengumpulkan dan memasukkan semua kertas ke dalam laci lalu menguncinya.

Beberapa saat kemudian Ariel berlari menghampirinya dan menyerahkan gaun yang sudah dibungkus rapi oleh plastik.
“Apa kau mau kupanggilkan taksi?” tanyanya dengan napas sedikit terengah. Brooke mengambil tasnya lalu menggeleng.

“Tidak perlu biar aku jalan saja,” ujarnya sambil melirik ke arah jam lagi. Masih ada waktu sekitar satu setengah jam untuk bersiap-siap. Itu artinya ia harus bergegas.

“Sampai bertemu Senin besok,” Brooke berlari ke arah pintu. Dengan langkah lebar ia menyusuri trotoar kota New York yang tidak terlalu sesak. Ia mengaduh perlahan saat bahunya terantuk pada bahu seorang pria. Sejak tadi baju yang dipegangnya menghalangi pandangannya dan ia hampir saja menubruk beberapa orang.

“Permisi, permisi.” Brooke mempercepat langkahnya sambil berusaha melihat sejauh mungkin ke depan, memperkirakan apa yang mungkin harus dihindarinya.

Setelah melewati beberapa blok, ia tiba di depan gedung apartemennya. Sambil mendesah lega ia memasuki gedung dan bergegas melangkah menuju lift.

Brooke membuka pintu apartemennya dan membantingnya. Sebanyak energi yg masih tersisa di tubuhnya, ia berlari ke kamarnya. Setibanya di dalam ia melempar baju yang sejak tadi dipegangnya ke atas ranjang, menyambar jubah mandinya kemudian berlari ke kamar mandi. Dua puluh menit kemudian ia keluar dari kamar mandi, berlari ke arah kamarnya lalu bergegas mengenakan gaunnya, gaun berwarna abu keperakan yg potongannya tidak terlalu terbuka, agak ketat namun juga masih cukup sopan.

Ia kemudian mematut wajahnya di depan cermin, menghias wajahnya sebaik mungkin. Keahliannya sejak dulu, bermain-main dengan make up dan menjadikan wajahnya yg memang cantik semakin rupawan. Satu polesan lagi di bibirnya maka semuanya sempurna. Brooke menoleh ke arah jarum jam, pukul setengah tujuh kurang. Ia masih mempunyai waktu untuk duduk beristirahat sejenak.

Bel berbunyi tepat pada saat jarum panjang menunjukkan angka dua belas, pukul tujuh tepat. Brooke menaikkan kedua alisnya, tidak menyangka Kevin begitu menghargai waktu. Pria sepertinya umumnya tidak mempedulikan etiket atau semacamnya. Mereka terbiasa untuk melakukan apa saja seenaknya.

Brooke membuka pintu dengan gerakan perlahan seakan memberi waktu bagi dirinya untuk bersiap. Senyumnya menyambut Kevin yang berdiri di depan pintu. Pria itu terlihat sangat rapi di dalam balutan jasnya. Mau tak mau senyum Brooke mengembang semakin lebar. Kevin terlihat luar biasa tampan saat ini.

Kevin tersenyum lebar, matanya perlahan menelusuri Brooke dari atas hingga ke bawah. Seringai dengan cepat menggantikan senyumnya menemani matanya yang semakin berbinar.

“Apa kita dapat berangkat sekarang?” tanya Brooke sambil memutar kedua matanya. Pria, di manapun sama saja. Mereka tidak bisa mengendalikan hormon mereka.

“Apa kau siap menemui C.K.?” tanya Kevin sambil menyodorkan lengannya siap digandeng. Brooke tertawa girang dan menganggukkan kepalanya. Lengannya menggamit lengan Kevin.

“Jadi ke mana kita akan pergi?” tanyanya saat mereka berada di dalam lift.

“Hmm.. kejutan. Dijamin kau pasti tidak akan dapat menduganya,” ujar Kevin. Brooke mengangguk dengan antusias. “Aku suka kejutan,” ujarnya dengan riang.

Beberapa mata memandang mereka dengan penuh kekaguman saat mereka tiba di depan gedung. Hampir semua orang mengangap mereka sebagai pasangan yang sangat serasi. Pandangan kagum yang diberikan oleh hampir setiap orang yang melewati mereka adalah bukti yang tidak dapat mereka sangkal.

Brooke menunggu. Matanya memilah mobil-mobil yang mungkin berhenti di depannya. Limosin ataupun mercedes benz. Namun raut wajahnya dengan cepat berubah saat melihat sebuah kereta kuda melintasi jalanan yang saat itu memang tidak terlalu ramai. Kereta kuda dengan warna putih mendominasi hampir seluruh penampilannya.

“Apa kau siap bertemu dengannya C.K.?” tanya Kevin dengan seringai lebar di wajahnya.

“Kita akan naik kereta kuda itu untuk menemui C.K.?” tanya Brooke heran.

Kevin menggeleng. Ia kemudian mendekati kuda itu, mengelus rambut di lehernya dengan lembut kemudian menoleh ke arah Brooke.

“Perkenalkan inilah C.K.,” ujarnya dengan nada bangga.

Brooke membelalakkan matanya. Tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Calvin Klein?” tanyanya dengan bingung.

“Yep, namanya Calvin Klein dan ia senang bertemu denganmu,” jawabnya sambil menaiki kereta kuda itu. Mulut Brooke menganga lebar untuk sesaat. Saat itu ia rasanya ingin menghajar Kevin.

“Well, kau ingin bertemu dengan Calvin Klein dan kau sudah bertemu dengannya,” Kevin tidak dapat lagi menahan tawa yang sejak tadi ditahannya. Brooke mendelik kesal.

“Ayolah, tidakkah kaupikir kereta kuda ini akan menghalangi jalan jika ia terus berhenti di sini,” ujarnya sambil mengulurkan tangannya. Brooke memandang kesal kepada Kevin.

“Kalau kau memang ingin berjumpa dengan Calvin Klein perancang itu, aku bisa atur,” ujar Kevin sambil menyeringai. “Tapi bagaimana kalau kau harus memberi kesempatan pada CK yang ini untuk membawamu jalan-jalan hari ini.” Kevin menyodorkan tangannya lebih jauh.

Brooke merasakan kejengkelan di hatinya berkurang. Bagaimanapun Kevin tidak menipunya, ia yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia menyempatkan diri melihat keadaan langit sebelum akhirnya menerima uluran tangan Kevin dan naik ke atas kereta. Saat itu langit sangat cerah. Bintang-bintang bertaburan dan bulan menampakkan diri sepenuhnya. Kevin memberi isyarat kepada pria yang ada di depan kereta itu untuk menjalankan kereta.

Kereta kuda itu berjalan melintasi jalanan kota New York yang cukup lengang dengan leluasa. Arah yang ditujunya dengan mudah dapat ditebak. Sejak tadi mereka berjalan menuju ke arah taman kota.

“Apakah kita sedang menuju ke taman Kota?” tanya Brooke. Kevin menggangguk.

Brooke melihat kiri kanannya dengan penuh gairah. Ia sudah tinggal di New York selama 6 tahun namun ia belum pernah sekalipun menikmati pemandangan kota New York di malam hari dari sebuah kereta kuda yang berjalan perlahan. Rasanya sungguh tak terbayangkan.

Jarak mereka ke taman kota semakin dekat. Brooke menjulurkan kepalanya ke arah taman kota. Dilihatnya beberapa kereta kuda berjalan pelan membentuk barisan.

“Jadi kita akan meneruskan perjalanan kita di dalam taman kota?” tanya Brooke saat kereta kuda itu melewati pintu gerbang taman kota.

“Selama yang kau mau,” ujar Kevin. Brooke tersenyum lebar. Ia lalu memiringkan tubuhnya ke kanan dan melihat-lihat pemandangan di sekitarnya. Wajahnya bersinar kagum saat mereka melewati danau yang ada di sana. Beberapa anak remaja berkejar-kejaran dengan sepeda mereka. Lampu-lampu menerangi hampir seluruh bagian taman.

“Sangat romantis bukan?” Kevin memecahkan keheningan setelah cukup lama mereka berkutat dengan pikiran masing-masing. Brooke menoleh, wajahnya diliputi kekesalan.

“Cukup romantis jika kau mengatakannya sejak awal dan memintaku untuk memakai pakaian casual. Lebih baik lagi jika menutup matanya sesaat sebelum kereta kuda itu datang. Kau juga seharusnya dapat menghiasi kereta kuda ini dengan lampu-lampu indah,” ujar Brooke dalam satu tarikan napas. Ia lalu mendongakkan kepalanya.

“Idemu boleh juga, akan kupertimbangkan di kencan kita berikutnya,” ujar Kevin sambil tersenyum lebar.

Brooke menatap Kevin dengan kening berkerut. Untuk seorang pria playboy semacam dia, kreativitasnya dalam mengejar wanita patut dipertanyakan.

“Apa yang kaupikirkan? Aku tidak becus mengejar wanita?” tanya Kevin. Wanita mudah terbaca olehnya dan pandangan Brooke jelas merendahkannya. Brooke menyeringai lebar.

“Mungkin karena tidak ada wanita sepertimu sebelumnya, yang begitu sulit untuk dipuaskan,” Kevin mengangkat kedua bahunya.

“Aku tidak perlu melakukan semua ini jika kita sudah berakhir di ranjang hari itu,” ujarnya lagi sambil menyeringai lebar.

Brooke memutar kedua matanya. “Jadi apa yang akan kita lakukan selain melakukan perjalanan dengan kereta ini?”

“Ah, iya,” Kevin seakan baru menyadarinya. Kevin mengambil sesuatu dari lemari di bawah bangku. Sebotol anggur dan dua buah gelas. Dengan cekatan ia menuangkan anggur ke dalam dua gelas itu lalu memberikan sebuah gelas kepada Brooke.

“Untuk malam yang romantis,” ujarnya sambil memiringkan gelasnya sedikit dan mengarahkannya pada Brooke. Brooke dengan hati-hati membenturkan gelasnya kepada gelas Kevin.

“Hmm, anggur ini enak,” ujarnya sambil memandang gelas anggur di tangannya.

“Ayahku pengoleksi anggur dan ini adalah salah satu yang terbaik.”

“Mungkin sebaiknya kauceritakan tentang dirimu,” ujar Brooke. “Aku sudah menceritakan tentang masa kecilku. Sekarang giliranmu.”

“Tidak ada yang tertarik dengan masa kecilku selama ini,” Kevin memandang Brooke dengan heran. Wanita ini sungguh sulit ditebak. Ia berbeda dengan seluruh wanita yang pernah ditemuinya seumur hidupnya. Mereka semua hanya tertarik pada dirinya karena wajahnya yang rupawan atau karena kekayaan ayahnya. Tidak sedikitpun mereka ambil peduli dengan dirinya.

“Aku tertarik. Kau bilang kau senang mendengarkan seseorang menceritakan masa kecil mereka. Aku yakin kau juga ingin berbagi tentang masa kecilmu,” ujarnya dengan yakin. Kevin tertawa kecil. Ia termenung sejenak, mencoba memutuskan untuk menceritakannya atau tidak.

“Masa kecilku sebenarnya cukup berbahagia. Hanya saja aku selalu kesepian.Ibu pergi dari rumah sejak aku masih kecil dan ayahku banyak menghabiskan waktu dengan model-model terkenal. Di saat aku remaja aku mulai mendapat remah-remahnya. Model-model yang tidak berhasil mendapatkan ayahku mendekatkan dirinya kepadaku. Sejak saat itu aku tidak pernah kekurangan wanita.”

“Sampai saat ini,” ujar Brooke menambahkan.

“Yeah, aku tidak pernah kekurangan wanita seumur hidupku,” ujar Kevin dengan nada penuh kemenangan. “Bagaimana denganmu, Brooke Davis?”

Brooke tersenyum. “Masa seperti itu sudah lewat di dalam hidupku.” Kevin menaikkan alisnya, tidak percaya.“Sekarang aku sedang mencari seorang pria yang bisa kucintai seumur hidupku.”

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 18

Post  didar on 18th August 2009, 1:57 am

Kevin tertawa kecil. “Aku tidak percaya dengan adanya cinta, menurutmu napsu apa bedanya dengan cinta?” ujarnya dengan sinis.

Brooke mengangkat bahunya. “Di saat aku menemukan aku pasti tahu,” ujarnya mantap.

“Kalau begitu sebaiknya aku mendaftar menjadi kandidatmu, siapa tahu di saat kau menemukan cinta itu, aku juga menemukannya,” ujar Kevin sungguh-sungguh. Untuk sesaat hati Brooke tersentuh. Ia bukan wanita yang mudah terjatuh di dalam rayuan namun entah mengapa tatapan Kevin membuatnya percaya. Mereka yang sama-sama mendambakan cinta mungkin saja menemukannya dalam satu sama lain. untuk sesaat Brooke tergoda untuk menerima usul Kevin. Namun logikanya dengan segera mengambil alih hatinya.

“Tergantung bagaimana perkembangan hubungan kita kelak, yang pasti aku tidak cukup yakin saat ini.” Brooke mengalihkan pandangannya. Ia tidak mau memberi harapan kosong kepada Kevin. Belum lagi pria itu adalah playboy kelas kakap yang tidak boleh dipercaya begitu saja.

“Tapi aku cukup yakin,” tukas Kevin cepat. “Kita adalah dua orang yang sama-sama mendambakan cinta. Mungkin saja kita akan menemukannya di saat kita bersama.” Brooke menoleh ke arah Kevin dengan cepat. kata-kata pria itu benar-benar sama dengan apa yang baru saja ia pikirkan. Ternyata mereka lebih mirip dari apa yang ia kira.

Brooke menatap Kevin lekat-lekat. Pria itu tiba-tiba saja terlihat jauh lebih memikat dari sebelumnya. Entah karena telepati yang mereka mungkin miliki bersama, atau karena teorinya yang terdengar semakin masuk akal.

“Mungkin aku harus menciummu saat ini, di bawah sinar rembulan, di atas kereta kuda yang berjalan perlahan,” ujar Kevin sambil mendekatkan wajahnya. Brooke menatap bibir Kevin dan mendekatkan bibirnya. Kevin menyeringai lebar. Dengan cepat bibirnya bergerak melumat bibir Brooke dengan penuh gairah. Tangan Kevin memegang bahu Brooke. Dengan ahli ia memainkan lidahnya hingga Brooke membalasnya tak mau kalah. Mereka berciuman dengan panas untuk beberapa saat. Tidak lebih tidak kurang. Brooke tiba-tiba menjauhkan kepalanya. Napasnya sedikit terengah. “Kau memang sangat berpengalaman, aku tidak akan menyangkal hal itu namun bukan berarti kau pencium terbaik yang pernah kurasakan,” ujarnya sambil menyeringai.

“Tidak jauh berbeda denganmu, Brooke Davis. Kau mungkin pencium yang hebat namun bukan yang terhebat,” ujar Kevin sambil tersenyum lebar.

“Ciuman tadi tidak menjamin kita akan menjadi pasangan serasi,” ujar Brooke sambil mengalihkan kembali pandangannya ke depan.

“Seperti aku bilang siapa tahu, karena itu kau harus memberi diri kita kesempatan,” ujar Kevin.

“Ada beberapa syarat untukmu sebelum aku mempertimbangkannya.”

“Apa?”

“Dua bulan. Aku memberi waktu dua bulan bagi kita untuk mencari cinta itu. Tidak ada hubungan intim. Ciuman masih boleh namun tidak disertai sentuhan apapun. Kencan tidak berlangsung di bar ataupun rumah masing-masing. Kau boleh mengajakku ke broadways, bioskop atau apapun kecuali tempat tadi dan satu lagi yang terpenting kau tidak boleh terlibat dengan wanita manapunsaat kita bersama. Jika aku mendengar selentingan apapun tentang kau dengan model-model yang memujamu itu maka hubungan kita berakhir saat itu juga.”

Kevin membelalakkan matanya. Ia lalu tertawa sinis. “Dua bulan? Apakah aku harus menyimpan hasratku selama dua bulan hanya untuk mendapatkan dirimu?”

“kau sendiri yang mengatakan kau ingin membedakan cinta dan napsu, menurutmu dapatkah kau membedakannya bila kau tidak memisahkannya terlebih dahulu?” ujar Brooke dingin.

“Masuk akal dan aku terima,” ujar Kevin dengan yakin.

“Apakah kau tidak mau mempertimbangkannya terlebih dahulu. Kau mungkin akan menyesalinya.”

Kevin menengadahkan wajahnya. Matanya menatap langit. Berlama-lama di sana hingga Brooke heran dan ikut menengadahkan kepalanya. “Apa yang kaulihat?” tanyanya dengan heran.

“Masa depan kita,” ujar Kevin sambil menoleh ke arah Brooke.

“Masa depan kita?” tanya Brooke dengan nada heran. Kevin mengangguk.

“Dilihat dari formasi bintang di atas. Masa depan kita sangat menjanjikan. Bisa jadi kita ini memang soulmates,” ujarnya sambil menyeringai.

“Kau ngawur,” Brooke memukul Kevin dengan gemas. Kevin berusaha menghindar namun gagal.

“Baiklah, kalau memang kau yakin. Aku juga tidak akan mempertimbangkannya kembali,” ujar Brooke terdengar pasrah.

“Welcome to our destiny,” ujar Kevin sambil tersenyum lebar
---

duh... dua bagian di atas bikin gw senewen.. haha.. pertama bagian Brooke and Peyton.. ternyata gw rubah total akhirnya.. ada kali 3 kali gw buat lagi dari awal... heran deh kenapa susah banget.. belum lagi Lucas tiba-tiba pengen muncul en gw harus munculin.. aiyo...

pas bagian brooke.. gw selalu kyk gitu ya.. gw nulisnya lebih simple..tapi bagi gw seh boleh2 aja deh.. haha..
en pas bagian akhir.. duh.. akhirnya gw harus buat french kiss pertama di FF ini.. Leyton aja frenchkiss nya gw ilangin dari deskripsi.. tapi kyknya untuk Brooke ga boleh.. haha.. makanya gw puyenk kalo nulis bagian dia.. ga mungkin dia tuh kyk orang alim.. lol.. lieur lah..

seperti biasa.. cerita tuh suka jalan sendiri.. tadinya ending cerita mereka ga kek gitu.. taunya di sini mereka dah jadian.. loh cepet amat seh.. ah.. kan ada syaratnya..
Razz

to be continued.. haha..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 18

Post  Shan2 on 18th August 2009, 5:19 pm

hahaha.. g suka tuh bagian brooke-kevin. lucu deh.. n udah ketebak sih, CK pasti bukan beneran, tp emang biasanya yg kyk gitu yg bikin bs jadian. n oh... kereta kuda, romantis banget, tp bener banget apa yg dibilang brooke, kurang ini dan itu. hahaha

gile g jd inget GG si chuck n blair kiss2an di limo, ini si brooke ama kevin kiss2an di kereta kuda, ini suatu hal baru menurut g. nice one...

penasaran mrk bakal berlanjut kyk apa....

iih... so sweet chun nungguin ariel tiap ari jumat gitu yah. hehehehe...

n leyton blm ada konflik lg nih... pdhl g nunggu2 konfliknya. hahah.. elo lg fokus dulu ke brooke-kevin yah, iya emang harusnya sih... kalo nggak puyeng yah ntar...

n kyknya bab ini dikit banget yah.. g menanti banget lanjutannya nih...

duh, g jd kasian ama jensen, dia nggak muncul2 lg nih... jensen i miss you...

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 18

Post  didar on 19th August 2009, 12:17 am

“Halo,” Lucas menjawab teleponnya pada dering pertama. Peyton meneleponnya dan saat ini ia tersenyum bahagia seperti seorang remaja yang sedang dimabuk asmara. Sungguh mengherankan efek yang ditimbulkan gadis itu pada dirinya. Betapa mudahnya ia merasa bahagia saat bersamanya. Mereka bertemu setiap hari namun tidak juga membuatnya bosan. Ia menciumnya setiap hari dan semua itu masih belum juga cukup.

“Hai tampan,” sahut Peyton di ujung telepon ,terdengar mesra. Lucas tersenyum semakin lebar. Hatinya dipenuhi oleh kehangatan yang memicu setiap saraf bahagia di otaknya. Ia harus mengakui dirinya bagai seorang remaja yang sedang jatuh cinta.

“Hai, sayang,” jawabnya dengan lembut sambil mengapit telepon di telinga dan bahunya. Tangannya melepaskan kancing kemeja tidurnya satu per satu. Ia sedang bersiap untuk mandi saat teleponnya berdering. Dengan satu gerakan ia melepaskan lengan kemejanya, memindahkan posisi telepon ke telinganya yang lain dan melepas seluruh kemejanya dari tubuhnya.

“Apa kau siap menikmati makan pagi terenak di kota New York ini?”

Lucas menaikkan alisnya lalu tertawa kecil. “Apapun, aku siap,” ujarnya.

“Baik, kalau begitu bersiaplah. Temui aku di depan gedung 30 menit lagi. Aku yang traktir,” ujar Peyton dengan riang.
“Biar aku jemput ke apartemenmu,” tukas Lucas cepat.

“Baiklah, aku tunggu. Bye,” jawab Peyton sebelum menutup teleponnya. Lucas memandang telepon di tangannya untuk beberapa saat. Senyum bahagia menghiasi wajahnya. Hatinya dipenuhi dengan sensasi yang biasa muncul saat ia mencium Peyton. Sensasi sejuta rasa yang pernah ia rasakan bersama Lauren sebelumnya.

Lucas meletakkan teleponnya di atas ranjangnya dan bergegas memasuki kamar mandi. Ia tidak mau kehilangan sedikitpun waktu yang dapat ia habiskan bersama dengan Peyton pagi ini. Siang nanti Leighton akan datang dan ia sudah berencana untuk mengajaknya pergi ke taman bermain. Kali ini ia akan mengajak Peyton dan mereka bertiga dapat menghabiskan waktu bersama-sama sehari penuh.
***

Peyton menoleh dengan cepat saat ia mendengar suara bel. Dengan senyum lebar menghiasi wajahnya, ia menghampiri pintu dan membukanya lebar-lebar.

“Hai,” ujarnya saat melihat Lucas berdiri di hadapannya mengenakan kaos tipis dan celana jeans. Jantungnya berdebar kencang. Baju Lucas yang tipis membuat dadanya yang lebar tercetak jelas dan membuatnya terlihat semakin seksi.
“Hai, seksi,” ujar Peyton sambil melangkah keluar. Matanya menatap tubuh Lucas dengan pandangan menggoda. Lucas memandang kaos yang dikenakannya sambil tertawa. “Jadi ke mana kau akan membawaku?” ujarnya saat Peyton menutup pintu apartemen dan menguncinya.

“Tempat rahasia,” bisik Peyton dengan pandangan penuh arti. Tangannya memasukkan kunci ke dalam tasnya.
“Taman?” tebak Lucas dengan sebelah alis terangkat.

“Uhh… seksi dan pintar,” ujar Peyton sambil membelalakkan matanya, seolah tidak menyangka Lucas dapat menebaknya. Lucas tertawa kecil. Sebelah tangannya memeluk Peyton dari samping hingga kedua sisi tubuh mereka merapat dan mengirimkan sensasi aneh di hati mereka. Peyton melemparkan pandangan mesra kepada Lucas, sebelah tangannya bergerak mengelilingi pinggang Lucas dan memeluknya erat. Mereka melangkah beriringan menuju lift. Senyum Lucas mengembang begitu lebar hingga lesung pipitnya tercetak dengan jelas di kedua pipinya.

“Ada apa?” tanya Lucas dengan tatapan penuh ingin tahu setelah ia berulang kali mendapati Peyton melirik ke arahnya.
“Aku sangat menyukai lesung pipitmu,” ujar Peyton dengan tatapan penuh arti. Lucas memegang dagu Peyton, mengangkatnya lebih tinggi dan dengan cepat menundukkan kepalanya hingga bibir mereka bertaut dengan mesra. Seakan dunia hanya milik mereka berdua, mereka terus mengumbar kemesraan di sepanjang langkah mereka dan kini mereka berjalan bergenggaman tangan menelusuri jalanan Kota New York yang agak lengang. Akhir pekan adalah saat di mana Kota New York bersantai sejenak dari hiruk pikuk penduduknya yang seakan tidak pernah tidur.

Peyton berulang kali menunjuk ke arah galeri-galeri yang pernah dikunjunginya. Wajahnya berbinar penuh gairah. Lucas mengalihkan pandangannya ke setiap gedung yang ditunjuk Peyton lalu kembali memperhatikan wajah Peyton, menikmati ekspresi wajahnya yang dipenuhi oleh kecintaannya terhadap segala yang berhubungan dengan lukisan.

Peyton mengeluarkan desah tertahan saat ia menunjuk ke arah gedung yang saat itu berada tak jauh di depan mereka. “Itu salah satu galeri terbesar di New York,” ujarnya dengan mata berbinar. Tangannya menggenggam tangan Lucas lebih erat.
“Apa kau pernah ke sana?” Lucas mengamati gedung yg terlihat cukup megah itu. Peyton menggeleng. “Seminggu ini aku baru sempat mengunjungi galeri-galeri kecil.”

“Bagaimana kalau kapan-kapan kita ke sana bersama-sama,” ujar Lucas dengan lembut. Peyton menoleh ke arahnya. “Apa itu kencan kita berikutnya?” tanyanya sambil bergelayut mesra. Lucas menganggukkan kepalanya sambil tertawa kecil.

“Aku berharap suatu hari nanti aku dapat menjual lukisanku di galeri. Tidak perlu galeri besar seperti tadi. Galeri kecil semacam ini sudah cukup.” Peyton menunjuk sebuah galeri yang terlihat agak kecil dan sederhana. “Asal ada yang menyukai lukisanku dan membelinya karena memang menyukainya maka aku sudah puas,” ujarnya dengan penuh harap.

“Aku akan menjadi pembeli pertama,” ujar Lucas dengan cepat. Kata-kata itu terucap begitu saja dari mulutnya.

Peyton membelalakkan matanya. Kaget karena ia tidak menyangka Lucas akan berkata seperti itu. Ia menatap Lucas dengan pandangan tak percaya.

Lucas mengangguk. “Aku akan membeli lukisan pertamamu kalau memang aku menyukainya, kalau tidak aku tidak akan membelinya,” ujarnya sungguh-sungguh. “Karena itu kau harus berusaha keras untuk karya pertamamu itu. Walau aku sudah janji untuk membelinya tapi aku hanya akan membelinya jika lukisan itu benar-benar bagus dan aku menyukainya.”

Peyton merasa terharu. Ia sudah mempunyai calon pembeli untuk lukisan pertamanya dan hal itu sangat berarti baginya. “Aku akan memasukkan 2 karyaku untuk mengikuti acara lelang nanti, aku berharap bisa terpilih. Mungkin saat itu itu aku bisa menentukan karya pertamaku yang mana,” ujarnya bersemangat.

“Kalau begitu kau harus berusaha. Aku akan mengikuti acara lelang itu dan jika lukisanmu memang bagus, aku akan membelinya berapapun harganya selama aku punya uangnya,” ujar Lucas sambil tertawa kecil.

Mata Peyton mulai berkaca-kaca, hatinya dipenuhi oleh rasa haru yang semakin memuncak. “Janji kau hanya akan membelinya jika kau memang menyukainya,” ujarnya dengan suara tercekat.

“Tentu, aku tidak akan memanjakanmu hanya karena kau kekasihku,” ujar Lucas. Kedua matanya menatap Peyton dengan penuh kelembutan.

Peyton menghentikan langkahnya tiba-tiba, begitu tiba-tiba hingga gerakannya menahan langkah Lucas. Lucas menoleh ke arah Peyton dengan bingung. “Ada apa?” tanyanya dengan kening berkerut. Peyton mendekatkan wajahnya. “Bisakah kausebutkan kalimat terakhir yang baru saja kauucapkan?” ujarnya dengan nada manja. Kedua tangannya bergerak mengait leher Lucas. Tatapannya bersinar penuh kebahagiaan.

Lucas memeluk pinggang Peyton. “Aku tidak akan memanjakanmu hanya karena aku kekasihmu,” bisiknya dengan mesra. Peyton terdiam sejenak untuk meresapi kata-kata itu. “Aku bahagia” ujarnya sesaat kemudian dengan penuh perasaan. Ia kemudian berjinjit untuk mengecup bibir Lucas.“Karena?” tanya Lukas dengan nada heran. Ia meletakkan sebelah tangannya di kepala Peyton dan mengelus lembut rambutnya. “Karena kau adalah kekasihku,” ujar Peyton dengan mesra.

Lucas tertawa. Baginya sungguh sulit dimengerti betapa mudahnya wanita merasa bahagia hanya karena hal-hal kecil seperti itu. Peyton tidak berbeda dengan Lauren yang juga bereaksi seperti itu saat ia pertama kali memperkenalkannya sebagai kekasihnya kepada Neneknya.

Hari itu Lauren itu tidak bisa berhenti menyebutkan kalimat itu.

Kau adalah kekasihku. Kau adalah kekasihku.

“Aku akan menjadi kekasihmu untuk selamanya. Tidak akan ada kekasih yang lain. Cinta kita satu-satunya bagiku untuk selamanya,” ujarnya kepada Lauren dengan penuh keyakinan. Saat itu semuanya terlihat begitu menjanjikan. Tidak ada lagi yang mereka butuhkan selain satu sama lain dan tidak ada lagi yang dapat menghalangi kebersamaan mereka.

Lucas menjauhkan dirinya dari Peyton tiba-tiba. Bayangan Lauren membuatnya dihujani oleh rasa bersalah yang merampas seluruh kebahagiaan yang tadi dirasakannya dengan begitu cepat dan begitu menyesakkan hingga rasanya ia tidak dapat bernapas. Dengan penuh perjuangan Lucas mencoba menghalau semua perasaannya. Kedua matanya terpejam rapat-rapat. Wajahnya dipenuhi dengan kesedihan.

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 18

Post  didar on 19th August 2009, 12:18 am

Peyton mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Lucas namun gerakannya terhenti saat Lucas mengangkat kedua tangannya dan menutupi wajahnya. Dengan perasaan tak menentu, Peyton diam menunggu. Ia yakin semua ini berhubungan dengan Lauren dan Lucas sedang berusaha bergumul dengan perasaannya sendiri. Bukan perasaan yang nyaman, menyaksikan Lucas tersiksa seperti itu dan ia tidak dapat melakukan apa-apa. Peyton akhirnya memutuskan untuk tidak lagi menunggu. Ia memeluk Lucas dan tak melepaskannya hingga tubuh Lucas yang membatu sedikit melembut.

Lucas membuka kedua matanya. “Bagaimana kalau kita lanjutkan perjalanan kita,” ujarnya sambil melepaskan diri dari pelukan Peyton. Nada bicaranya terkesan menjaga jarak. Peyton mengangguk. Mereka melanjutkan perjalanan sambil bergandengan tangan tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Jadi kapan kau akan mengikuti acara lelang itu?” tanya Lucas saat keheningan di antara mereka mulai terasa mengganggu. Peyton menoleh. Hatinya lega saat ia mendapati raut wajah Lucas terlihat lebih hangat. Jejak kepedihan yang tadi terlihat jelas di wajahnya kini sudah menghilang sepenuhnya. Nada bicaranya juga sudah jauh lebih hangat.

“Sekitar 5 bulan lagi. Kelas melukisku sudah hampir usai. Sesudah itu aku akan mulai berkonsentrasi untuk membuat beberapa lukisan yang akan aku sertakan dalam tahap seleksi,” tutur Peyton. “Jangan lupa beritahu aku tanggalnya,” ujar Lucas. Peyton memandang Lucas lekat-lekat lalu mengangguk.

“Jadi kita akan makan di mana?” Lucas menoleh ke arah Peyton saat pintu gerbang taman berada tidak jauh dari hadapan mereka.

“Aku akan membawamu ke kios makanan favoritku. Kau pasti belum pernah makan di tempat seperti itu sebelumnya, ya kan?” Peyton memandang ke kejauhan. Deretan kios-kios makanan yang ada di sebelah timur taman terlihat di tempatnya berdiri. Ia lalu menoleh ke arah Lucas. Lucas menganggukkan kepalanya. Ia memang belum pernah makan di tempat seperti itu sebelumnya. Ketika ia masih kecil, ibunya yang selalu menyiapkan makanan untuknya. Pindah ke rumah neneknya, segalanya disiapkan oleh koki. Setelah itu ia hidup seadanya dengan Lauren dan mereka menyediakan segala sesuatunya sendiri. Kios makanan yang marak di Kota New York itu hanyalah sesuatu yang pernah ia lihat dari jauh tapi tidak pernah ia nikmati.
“Kalau begitu aku jamin kau tidak akan menyesal,” ujar Peyton dengan penuh keyakinan. Tangannya menggenggam tangan Lucas lebih erat dan menariknya supaya bergegas.

“Apa yang akan kaubeli?” tanya Lucas sambil mempercepat langkahnya.

“Sandwich,” jawab Peyton sambil tersenyum.

Lucas menaikkan kedua alisnya. “Aku bisa membuatkannya untukmu jika kau mau.” Baginya sandwich bukan sesuatu yang harus dibeli.

“Aku tahu tapi percayalah sandwich ini memang istimewa, cobalah dulu,” ujar Peyton dengan lembut. “Suatu kali aku akan memintamu untuk membuat sandwich untukku,” ujarnya lagi dengan manja. Lucas tertawa kecil lalu mengangguk. Langkahnya mengikuti Peyton menelusuri taman yang saat ini tidak lagi terasa asing baginya. Peyton memimpin langkah mereka ke arah timur menuju deretan kios makanan yang ada di taman itu.

Tak berapa lama kemudian mereka tiba di bagian taman yang dipenuhi oleh deretan kios-kios. Peyton menghentikan langkahnya untuk mencari kios yang sudah sangat dikenalnya itu. “Di sana,” tunjuknya ke sebuah kios. Lucas menoleh ke arah kios yang ditunjukkan. Kios berwarna merah menyala dengan tulisan Gino’s Sandwich terpampang di atasnya. Peyton menarik tangan Lucas. “Ayo,” ujarnya dengan riang. Lucas tertawa.

Tak terlihat siapapun di dalamnya saat mereka tiba di depan kios itu. Kening Peyton berkerut. Kios itu jelas-jelas sudah siap berjualan. Terlihat dari bumbu-bumbu yang sudah terpajang rapi. Tiba-tiba seorang pria menegakkan badannya yang tadi tidak terlihat karena membungkuk. Peyton tersenyum saat ia melihat wajah pria tua yang sangat dikenalnya itu.

“Hai, nona cantik,” ujar pria tua itu dengan riang. Matanya berbinar memandang Peyton. “Kau tambah cantik,” pujinya dengan tulus. Peyton tersipu. Pria itu selalu mengatakan hal itu setiap kali ia datang. Seakan jika dulu ia jelek sekarang ia sudah menjadi secantik peri.

Pria itu memandang Peyton lekat-lekat untuk sejenak kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Lucas, ke kedua tangan mereka yang bertaut lalu kembali memandang kepada Peyton.

“Jadi kali ini kau ingin mengenalkan pria yang kaubelikan sandwich waktu itu?” tanyanya dengan sedikit terkekeh.

“Hah?” Peyton melirik ke arah Lucas sekilas lalu menggeleng. “Bukan. Ini bukan pria yang waktu itu.” Pria itu membelalakkan matanya, tak percaya Peyton semudah itu berganti pria, jauh dari perkiraannya selama ini.

“Pria yang waktu itu hanya teman,” ujar Peyton cepat-cepat saat ia melihat pria itu menatapnya seperti itu. Kening pria itu berkerut untuk sejenak namun kemudian wajahnya berubah.

“Ah, jadi ini kekasihmu yang sebenarnya?” ujarnya dengan senyum lebar. Pria di hadapannya terlihat cukup tampan, tipe-tipe yang banyak digilai oleh gadis-gadis karena itu tidak heran baginya bila gadis cantik yang hampir setiap hari mampir di kiosnya itu menyukainya.

Wanita ini adalah kekasihku.” Lucas menjawab pertanyaan itu. Pria tua itu mengangguk. “Kalian pasangan yang serasi,” ujarnya dengan tulus.

Peyton dan Lucas memandang satu sama lain dengan penuh arti. Lucas menggerakkan tangannya memegang dagu Peyton, memajukan wajahnya lalu mencium bibirnya. Untuk waktu yang cukup lama bibir Lucas menjelajahi bibir Peyton dengan mesra.
Pria tua itu terbahak.“Cinta. Indah bukan?” ujarnya dengan geli sambil mengalihkan pandangannya dari kedua sejoli yang tengah dimabuk asmara itu. Hatinya terasa hangat. Kemesraan mereka mengingatkannya kepada masa mudanya yang juga diwarnai dengan cinta yang bergelora.

“Jadi berapa sandwich yang akan kau beli hari ini?” tanyanya kepada Peyton saat Lucas menyudahi ciumannya.
“Mau berapa?” bisik Peyton kepada Lucas. Matanya menatap Lucas dengan penuh arti. Ciuman tadi seakan membuktikan Lucas sudah kembali menjadi miliknya sepenuhnya.

“Dua,” jawab Lucas sambil memeluk pinggang Peyton. Senyum bahagia sudah muncul kembali di wajahnya. Ciuman tadi seakan menyapu pergi semua kepedihan di hatinya.

“2 tuna dan satu daging asap,” ujar Peyton kepada pria itu.

Tangan pria itu dengan cekatan mengolah semua bahan ke dalam roti yang sudah disiapkannya. Ia kemudian menjulurkan ketiga buah sandwich yang sudah dibungkuskan dengan rapi ke arah Peyton. Lucas mengambilnya.“Apa kalian tidak mau memesan minuman?” tanya pria tua itu heran. Peyton mengangkat kedua alisnya lalu tertawa. “Dua gelas jus oren.”
“Segera datang,” Pria itu menghilang di balik kiosnya untuk sejenak. Ia kemudian kembali membawa dua gelas jus oren dan menyodorkannya pada Peyton. Lucas mengambil kedua gelas itu.

“Pria yang gentleman,” ujar pria itu sambil melirik ke arah Peyton. Peyton menyodorkan uang kepada pria itu sambil tersenyum lebar. Lucas berusaha mencegahnya namun Peyton mendelik ke arahnya.

“Seperti janjiku tadi, aku yang traktir,” ujarnya dengan tegas. “Kau bisa memasak untukku nanti malam,” tambahnya lagi dengan mesra. Lucas tersenyum lebar.”Tentu, apa saja untukmu,” ujarnya sambil menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Peyton dengan lembut.

“Anak muda, kau harus menghargai wanita ini baik-baik. Cinta sejati tidak mudah untuk didapatkan,” ujar pria itu sambil menatap Lucas dengan pandangan serius.
Lucas memandang Peyton lekat-lekat, meresapi perasaan yang timbul di hatinya saat ia memandangnya. Dengan tegas ia mengangguk ke arah pria tua itu. Peyton tersenyum lebar. “Terimakasih atas pelayanannya,” ujarnya dengan riang. Pria itu mengangguk ramah. “Aku tunggu kedatanganmu besok,” ujarnya. Peyton mengangguk. “Sampai nanti," ujarnya sambil menggandeng tangan Lucas dan melangkah pergi dari sana. Pandangan pria itu mengikuti keduanya hingga akhirnya mereka menghilang di kejauhan. Senyumnya mengembang lebar, betapa indahnya cinta sungguh sesuatu yang tidak tertandingi.

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 18

Post  didar on 19th August 2009, 12:30 am

Tuh udah gw lanjutin.. tadinya gw cuma nulis bab ini tuh sekitar 6000 kata.. tapi tiba-tibas pas gw perbaiki membengkak jadi 13 ribuan kata gitu.. so gw bagi dua.. so mungkin lanjutannya karena masih bab yang sama.. gw posting besok2.. tapi ga tau juga kalo pas gw edit ulang… taunya banyak yang gw suka juga… bagian itu juga susah…
Jadi panjang karena…. pertama harusnya ceritanya emang ga ke situ arahnya.. tapi ada beberapa yang gw tambahin.. atas usul elo.. hehe…
Ada beberapa bagian yang gw susah banget nulisnya.. bisa gw perbaiki puluhan kali.. en beberapa sampe akhir pun masih belum puas… ga dapat aja apa yang gw mau…. Hiks..
Gw rasa seharusnya gw nulis apapun bulanan deh.. ga bisa harian.. kadang beberapa hal tuh harus sabar banget ditulis ulang beberapa kali sampe dapet feelnya.. en gw harus mikirin plot depan.. plot belakang.. dsb..
___
Haha.. sebenernya gw tuh ga kepikiran mau kasih cerita apa buat brooke en kevin.. secara pikirannya gw masih penuh ama bagian leyton+jensen.. tapi gw tiba-tiba keinget ama ugly betty.. adegan yang gw suka.. pas gio.. ngajak betty naek kereta kuda di jalanan kota new york.. duh.. emang so sweet tuh.. their first kiss also.. haha.. en gw suka banget ama gio… dia tuh menginspirasi tokoh pria tua penjual sandwcih.. soalnya gio juga punya kedai sandwich.. yang kyknya enak banget..
Haha.. emang elo udah ketebak.. gw ga kebayang gimana harus nulis pesta para desainer .. apalagi yang sekelas CK.. ah.. udah deh.. emang ceritanya suka jalan sendiri.. haha..
Hmm.. yeah.. it’s chun.. hahahaha…
Jensen munculnya abis beberapa chapter lagi.. hahaha.. nulis bagian dia juga susah ntar.. aiyo..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 18

Post  Shan2 on 19th August 2009, 3:11 am

oh.. ternyata ugly betty begitu yah ? duh... jd mo ntn. hehehe...

g penasaran apa rencana elo buat adegan ama si penjual sandwich selanjutnya, tp mgkn itu entar kali yah, setelah jensen balik. hehehhe...

menurut g brooke-kevin udah okay, tinggal ksh konflik aja. tp emang sih ngomong lbh gampang, nulis lbh susah, g aja cerita ke fan sebentar udah kelar ceritanya, tp kalo nulis lama banget ga selesai2

tp gpp, kita tetep jia you deh.. hihihi...

nah, itu tuh yg g tunggu2, g tau sih emang bakal muncul lagi rasa bersalah lucas ke lauren, tp kalo ilang bgt aja jg nggak masuk akal kan, kmrn itu ribut2, terus cuma krn mrk uda tdr bareng nggak berarti bayangan lauren langsung ilang, ini mesti sampe beres dulu, baru lucas bs lepas dr lauren gitu deh... itu menurut g..

mknya meski g baca leyton bahagia2, g tau ini tuh bukan kebahagiaan sebnernya, krn puncaknya blm sampe. hehhee

btw, g pengen tau cerita tentang chun ama ariel nih... duh... so romantic ditungguin gitu... aduh, g penasaran banget...

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 18

Post  didar on 19th August 2009, 8:58 am

tapi gw sebel kalo nntn ugly betty .. co nya ganti mulu.. haha.. padahal gw paling suka gio... tapi dia malah udah ga ada.. duh.. co2nya ga ada yang cakep2 amat loh.. tapi ga jelek.. love gio.. haha..
en jangan nyangka ugly betty tuh film romantis.. lebih ke arah komedi seh.. cuma banyak drama juga..

haha.. cerita ariel ama chun.. gw rasa itu bakal jadi yang terakhir gw pikirin.. haha.. mungkin ntar kalo dah tamat.. gw susun cerita chenchun.. kan udah ada FF elo.. jadi jangan sampe bentrok.. hehe..

iya.. jia you ya.. tulis sampe tamat..

adegan penjual sandwich ya... itu kan atas usul elo.. hehe.. so yup... gw rasa bakal muncul di cerita jensen ntar.. hehe..
haha.. sebenernya susah seh nulis karakter lucas.. bagian yang keinget lauren itu tuh yang gw nulis berulang kali.. sebel banget.. sampe eneq.. padahal cuma berapa paragraf tuh.. tapi tetep aja susah.. itu yang kemaren bikin gw nunda posting yang bagian itu..

inti cerita Lucas emang itu seh.. gimana dia yang orangnya pada dasarnya kaku bisa ngelepasin diri dari Lauren.... en move on sepenuhnya..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 18

Post  Shan2 on 19th August 2009, 7:19 pm

iya lucas complicated banget, tp justru g suka bagian yg kyk gitu, yg dia inget lauren dll dll gitu... hihihi... kan g suka cerita2 yg kyk gitu... jd g tuh baru bs ikut merasakan kebahagiaan yg sesungguhnya pas dia udah lepas dr traumanya terhadap lauren..

btw, mslh jake ama peyton disudahi gitu aja ?

si kevin tuh kakeknya pengoleksi anggur yah ? kalo kakeknya si jensen tukang anggur yah, bisa2 kakek mrk temenan tuh. hehehe...

nggak sabar deh nunggu lanjutan ceritanya...

duh kebayang nggak nih kalo g punya cowok kyk kevin ? buat pajangan aja keren kan dibawa2 ke mana2 buat dipamerin, tp cuma buat itu aja, soalnya nggak bakal bs serius sama dia. hahahah

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 18

Post  didar on 19th August 2009, 9:07 pm

Tokoh Lucas tuh tokoh yang paling susah gw tulis.. di antara semuanya.. en yang paling gw suka.. iyalah.. gw kebayang CMM mulu.. sumpah gw cinta mati ama tuh co.. hehe.. yup.. Lucas tuh baru akan bisa ngerasa bahagia kalo dia udah lepas dari traumanya itu.. pergumulan batin dia ntar neh yang bakal susah ditulis.. en ada satu saat di mana dia harus nyadar dia tuh harus ngelepasin lauren… nah itu juga susah..

Jake and Peyton bakal muncul di belakang.. antiklimaks seh.. dia bakal muncul di belakang sekitar 1 atau ga 2 bab…

Iya emang tadinya gw bermaksud kyk gitu.. en masih pengen she ngehubungin kevin ama jensen.. tapi gw lum nyusun gimana bagusnya.. emang yang pas Kevin ngomong itu tuh salah satu anggur terbaik tuh.. kalo jadi.. bakal gw bikin itu tuh hasil produksi kakeknya jensen.. haha.. tapi kalo ga ya udah.. kan ga gw sebut..

Haha.. kevin tuh emang sexy abis.. tapi gw seh ntah kenapa lagi suka banget ama daniel radcliffe.. dia tuh ga cakep2 amat… tapi.. ga tau deh… suka aja gw ama dia..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 18

Post  Shan2 on 19th August 2009, 10:12 pm

daniel radcliffe tuh yg mana neh ? jd pengen liat, ntar g search deh...

iya kan ada hub antara kevin n jensen, tp yah paling sederhana aja kali yah nggak sampe yg ribet, elo jg bakal pusing kan bikinnya. hehehe

semalem ujan lg, n di apartemen g tuh dibersihin lg kacanya, g jd inget adegan tom ama brooke lg. duh...g nggak sabar nunggu adegan itu jadinya. hahahah

g suka nih FF elo soalnya menantang, selalu ada aja konflik n g suka konfliknya jg nggak langsung muncul, tp perlahan2, kalo misalnya ntar elo baca ulang lg n diperbagus lg boleh nih setelah perfect ntar dikrim aja ke penerbit. sapa tau bs lolos kan. soalnya dasar ceritanya bags loh, g suka...

yup, meski g kadang sebel pas lucas kyk gt, tp g malah nunggu2 dia kyk gitu lg. hahaha... seblm dia bs lepasin traumanya dia pasti kyk gitu terus kan. hehhe

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 18

Post  didar on 19th August 2009, 10:38 pm

Emang cuma simple doank.. paling ada hubungan ama soal pabrik anggur doank…
Haha.. menantang ya? hmm.. bakal paling menantang seh menurut gw di bagian Lucas ntar… itu penting soalnya.. en gw mungkin harus bertapa seminggu cuma buat nulis itu… trus pas di ending.. karena akan ada lompatan waktu sedikit.. perubahan hidup para tokoh dll…

Untuk bagian tom ama brooke.. sabar ya.. gw masih bingung nulisnya gimana.. kyknya bakal muncul di bab 20 neh.. en gw harus konsen nulis bagian brooke-kevin yang tentang dua bulan.. yang rencananya bakal gw ceritain dengan format ringkasan en kesimpulan gitu deh..

Daniel radcliffe tuh yang maen harry potter.. ga cakep kok.. pendek lagi.. tapi gw suka aja.. pengaruh mellownya harry kali ya.. hehehe.. gw suka tuh tipe2 co mellow.. haha..

Emang rencananya mau gw edit lagi semuanya kalo masih semangat.. thanks untuk usulnya en dorongannya.. akan gw pertimbangin.. mungkin kalo gw sendiri puas secara keseluruhan.. karena sebenernya masih ada cerita Ariel yang setidaknya ga boleh sesimpel itu..

Maksud elo.. elo nunggu Lucas ngadat?.. haha.. iya seh sering.. kadang gw kasian ama Peyton gara-gara itu.. malem ini gw post neh lanjutannya… lagi diedit..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 18

Post  Shan2 on 19th August 2009, 11:20 pm

wakaka... masa g diketawain ama ade g gara2 g nggak tau sapa daniel. hehehhe... dasar kurang ajar. g jg suka kok, cuma mukanya terlalu alim gitu

haha.. tenang2 g selalu sabar menunggu FF elo kok. hehhehe

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 18

Post  Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum