New Beginnings - Chapter 16

Go down

New Beginnings - Chapter 16

Post  didar on 29th July 2009, 2:06 pm

Lucas menghabiskan hampir seluruh waktunya dalam 2 minggu itu untuk bekerja, mencoba untuk melupakan apa yang ada di benaknya saat itu. Ia juga meluangkan lebih banyak waktu untuk memperbaiki hubungannya dengan Leighton. Usahanya bisa dikatakan cukup berhasil, Leighton kini tidak lagi marah padanya. Anak perempuannya itu hanya menuntut kepadanya untuk minta maaf pada Peyton. Saat itu ia mengiyakan dan berjanji padanya. Ingin rasanya ia menjanjikan sesuatu lebih dari itu tapi ia tak yakin hubungannya dengan Peyton masih akan berlanjut. Mereka memang sudah menghabiskan malam bersama tapi komunikasi di antara mereka putus sesudahnya dan hubungan mereka saat ini sama sekali tidak jelas.

Perkiraannya selama ini bahwa perasaan yang dirasakan untuk Peyton di hatinya itu akan menghilang setelah ia memenuhi hasratnya ternyata tidak terbukti sama sekali. Kini ia malah tak dapat membuang gadis itu dari pikirannya. Sekuat apapun ia berusaha, Peyton tetap ada di pikirannya. Perlahan tapi pasti Peyton mulai menyita pikirannya lebih dari Lauren. Hal yang saat ini benar-benar menjadi bebannya. Selama 2 tahun ini hanya Lauren yang ada di hatinya dan hanya dia seorang yang selalu menyita pikirannya. Sekarang kedudukan Lauren di hatinya mulai terancam, ia sungguh tidak rela tapi ia juga tidak mampu melawan perasaannya sendiri.

Lucas mendesah perlahan. Saat ini hanya satu yang ia inginkan, ia ingin bertemu dengan Peyton. Ia sungguh merindukan gadis itu dan sebenarnya tidak ada apapun yang dapat menghalanginya untuk bertemu dengan gadis itu. Hanya saja ia tidak yakin rasa bersalah yg sempat membuatnya tidak berkutik itu tidak akan lagi menyerangnya. Rasa bersalah yang menuduhnya telah menyingkirkan Lauren dari hatinya dan menggantikannya dengan Peyton, rasa bersalah yang menuduhnya telah melupakan sumpahnya bahwa ia tidak akan pernah mencintai wanita lain lebih dari ia pernah mencintai Lauren. Ia yang selama ini selalu berpikir tak akan ada yang dapat menggantikan Lauren di dalam hatinya kini mulai ragu. Peyton memasuki hatinya dengan cepat dan sejak itu gadis itu tak dapat lagi ia singkirkan. Bila rasa bersalah kembali menyerangnya maka bukan hanya dirinya yang menderita tetapi juga Peyton. Itulah sebabnya ia harus memastikan hal itu terlebih dahulu sebelum ia mengajak Peyton bertemu dan mulai membina hubungan yang serius dengannya. Ia yakin Peyton tidak akan menolaknya karena gadis itu merasakan hal yang sama dengannya. Hal itu dapat ia rasakan dengan jelas dari balasan yg diberikan gadis itu pada ciumannya di hari itu.

Lucas mengelus bibirnya perlahan, ciuman itu masih dapat ia rasakan dengan jelas. Bayangan malam itu juga masih terbayang jelas di pikirannya setiap kali ia memejamkan matanya. Rasa rindu yang dirasakannya pada Peyton kian hari kian meluap dan membanjiri hatinya. Rasa rindu itulah yang sedikit demi sedikit menyingkirkan rasa bersalah yang kini sudah hampir tak bersisa.

Lucas menyingkirkan kedua tangannya dari pagar besi yang ada di sekeliling balkonnya dan berbalik. Ia akan menelepon Peyton sekarang. Tekadnya sudah bulat. Ia harus bertemu dengan gadis itu. Sekarang juga.

Lucas melangkah dengan cepat ke arah meja kerjanya. Ia kemudian membuka laci pertama yang ada di meja itu dan mengambil blackberry-nya. Ia sudah meminta no telepon Peyton pada Julian sejak minggu lalu. Saat itu Julian melemparkan pandangan heran kepadanya seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Wajahnya jelas-jelas menunjukkan rasa ingin tahu tapi kemudian ia memberikan nomor telepon Peyton tanpa bertanya apa-apa. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada dirinya dan Peyton malam itu. Tidak mungkin ada yang mengira hubungan mereka tiba-tiba berubah 180 derajat hanya dalam semalam, ia sendiri pun tidak pernah menduganya.

Lucas memegang blackberry-nya. Jari-jarinya menekan beberapa tombol berturut-turut dan ia kemudian mendekatkan teleponnya ke telinganya. Menunggu. Hatinya berdebar keras dan ia merasa gugup. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya dan saat ini ia mengalaminya untuk pertama kalinya.

***
Peyton tidak mendengar kabar apapun dari Lucas selama lebih dari 2 minggu. Ia memang tidak lagi mengharapkannya. Ia tahu Lucas hanya ingin mendapatkan dirinya, sama sekali tidak bermaksud untuk menjalin hubungan serius dengannya. Ia sangat menyesali kebodohannya itu tetapi kini ia tidak lagi merasakan apa-apa di hatinya.

Pikirannya sudah tidak lagi dihantui kejadian malam itu. Rasa sesal sekaligus jengah yang menyerangnya setiap kali ia teringat akan hal itu kini sudah mulai memudar dan menghilang hampir sepenuhnya. Hidupnya sudah sepenuhnya kembali ke rutinitasnya dan dipenuhi dengan kegiatan melukis. Kegiatan yang sangat membantunya melupakan semua itu dengan lebih cepat. Ia sudah bertekad untuk menyingkirkan Lucas dalam hidupnya, walau ia belum dapat menentukan cara yang tepat untuk itu. Ia dan Lucas masih harus bertemu beberapa kali untuk membahas sampul bukunya yang kedua. Entah sudah berapa kali terpikir olehnya untuk membatalkan pekerjaaan itu. Kalau bukan karena ia sangat menghargai pekerjaan pertamanya itu dan ia juga sudah mendapatkan uang mukanya, tentu ia sudah membatalkan pekerjaan itu.

Peyton merasakan getaran di saku celananya, tanpa menunggu sampai HP-nya berdering ia mengambilnya, membuka lipatannya dan mendekatkannya pada telinganya.

“Halo,” ujarnya dengan ramah. Saat ini hari masih cukup pagi. Ia baru saja mandi dan sedang bersiap-siap untuk sarapan sebelum pergi ke taman kota untuk melukis.

Jantung Lucas seakan berhenti untuk satu detakan saat ia mendengar suara Peyton. “Ini aku Lucas,” ujarnya dengan susah payah menahan keinginan untuk berlari menemui gadis itu sekarang juga.

Peyton hampir saja menjatuhkan teleponnya karena kaget. Ia tak menyangka Lucas akan menghubunginya, di saat semuanya sudah kembali normal dan ia tidak lagi mengharapkannya. Sebagai seorang wanita, ia tentu saja menantikan Lucas untuk menjelaskan apa yang terjadi pada mereka di malam itu. Apa arti semua itu bagi mereka tapi Lucas tidak kunjung menghubunginya. Dengan putus asa ia akhirnya menyimpulkan Lucas takkan pernah menghubunginya lagi karena ia sudah mendapatkan dirinya dengan begitu mudahnya.

“Aku ingin bertemu dan membicarakan kejadian malam itu denganmu,” ujar Lucas dengan suara parau. Peyton kehilangan kata-katanya. Ia hanya berdiri diam di tempatnya dengan perasaan tak menentu.

Lucas menelan ludahnya dengan susah payah. Sejak tadi Peyton tidak memberi tanggapan apapun. Rasa gugup yang tadi sempat dirasakannya kini kembali lagi.

“Aku akan datang ke apartemenmu sebentar lagi atau kita dapat bertemu di tempat lain, aku mohon,” ujar Lucas dengan penuh harap, berharap Peyton bersedia memberinya kesempatan.

Peyton mengernyitkan dahinya. Sulit baginya mempercayai apa yang baru saja ia dengar di antara suara Lucas tadi, kesungguhan. Lucas sungguh-sungguh ingin menjumpainya. Sulit baginya untuk percaya setelah 2 minggu lamanya ia mencuci otaknya dan mencamkan pada dirinya bahwa Lucas tidak akan pernah menghubunginya lagi dan ia harus berhenti berharap.

Peyton termenung untuk sejenak, menyadari bahwa ia mungkin telah salah menilai Lucas. Pria itu sungguh-sungguh ingin bertemu dengannya dan ia akan datang ke rumahnya.

Lucas akan datang ke sini. Kesadaran tiba-tiba menghantam dirinya.

"Jangan, aku saja yang datang ke sana. Sekarang,” sahut Peyton cepat. Ia tak mau Brooke mendapatinya berduaan dengan Lucas. Temannya itu sedang mandi dan akan segera selesai. Ia pun tak ingin mereka bertemu di tempat lain karena itu akan memakan waktu lebih lama sedangkan baginya secepatnya masalah mereka diselesaikan semakin baik untuk kerjasama mereka kelak.

Peyton bergegas bersiap-siap dan pergi ke apartemen Lucas tanpa menundanya sedikitpun. Ia tiba di apartemen Lucas dan menunggu beberapa saat sambil menenangkan jantungnya yg sejak tadi sudah hampir meloncat keluar dari dadanya sebelum akhirnya membunyikan bel. Ia menekan bel dengan gerakan sangat halus, berharap bel itu tidak berbunyi dan ia tak perlu menemui Lucas saat ini.

Pintu terbuka dengan begitu cepat. Lucas sepertinya sudah berdiri di baliknya sejak tadi dan siap membukanya saat bel berbunyi.

Peyton memberanikan dirinya untuk memandang Lucas tepat di kedua matanya. Hatinya sangat cemas, ia tidak tahu apa Lucas saat ini sedang marah dan mungkin membantingnya lagi ke pintu tapi kecemasannya itu sama sekali tidak perlu ada. Lucas memandangnya dengan penuh kerinduan.

Hati Peyton saat itu begitu tersentuh hingga ia harus menahan dirinya dengan susah payah untuk tidak memeluk Lucas.
Lucas terpaku di tempatnya untuk sesaat. Ia menatap Peyton lekat-lekat sambil berusaha menahan keinginannya untuk memeluknya.

Untuk beberapa saat mereka hanya berdiri di pintu, saling memandang dengan penuh kerinduan.

Lucas kemudian tersadar dan menggeser tubuhnya. Peyton melewatinya dan melangkah masuk beberapa langkah . Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan bersiap untuk menghadapi Lucas yang saat itu sedang menutup pintu sambil memandang ke arahnya.

Lucas berjalan ke arah Peyton dan menatapnya dalam-dalam. Kerinduan terpancar dengan jelas di matanya. Untuk orang yang sangat tertutup seperti Lucas, hal itu cukup mengherankan. Peyton dapat merasakan hal itu dengan jelas tapi masih sulit baginya untuk mempercayainya. Lucas merindukannya. Lalu mengapa ia tidak menghubunginya selama 2 minggu ini. Ironisnya ia pun merindukan pria itu. Hanya itulah perasaan satu-satunya yang tersisa di hatinya saat ini. Semua perasaan yang pernah dirasakannya sebelumnya, amarah, penyesalan, kekecewaan, seakan terhalau begitu saja. Begitu mudahkah ia memaafkan Lucas hanya setelah mengetahui pria itu merindukannya.

Lemah. Itulah dirinya saat berhadapan dengan orang yang dicintainya. Tak hanya Jake, tapi juga Lucas.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Lucas memecahkan kesunyian. Sejak tadi ia bersusah payah menahan keinginannya untuk memeluk Peyton dan menciumnya.

“Baik,” Peyton berusaha menahan perasaan rindu di hatinya agar tidak terpancar di suaranya. Bagaimanapun ia tidak mau Lucas mengetahui perasaannya saat itu di saat ia sendiri pun belum yakin sepenuhnya akan perasaan pria itu.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada kita malam itu?” tanya Lucas dengan suara parau mencoba menahan kerinduan yang saat ini sudah mencekat lehernya.

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 16

Post  didar on 29th July 2009, 2:10 pm

“Aku tidak tahu,” jawab Peyton sejujurnya. Suaranya terdengar putus asa. Ia sungguh tidak tahu apa arti malam itu baginya karena selama ini ia begitu takut memikirkannya. Memikirkan Lucas memiliki dirinya hanya karena ingin membuktikan dirinya memang terobsesi pada pria itu sungguh sangat menakutkan baginya.

“Aku tidak dapat melupakan kejadian malam itu dan aku sangat merindukanmu,” Lucas mengucapkan kata-katanya itu dengan penuh kesungguhan. Saat ini yang diperlukannya hanyalah gadis itu mengakui hal yang sama dengannya maka tidak akan lagi yang dapat menghalanginya untuk memiliki gadis itu, bukan hanya untuk saat itu tapi juga seterusnya.

“Aku juga,” jawab Peyton lirih setelah tak sanggup lagi membendung perasaannya. Saat ini ia tidak perlu lagi mengingkari perasaannya bagi Lucas. Saat ini yang diinginkannya hanyalah Lucas.

Lucas melangkah ke arahnya dan menariknya ke dalam pelukannya dengan lembut. Peyton membalas pelukan itu dan bersandar sepenuhnya pada bahu Lucas.

“Ini yang ingin aku lakukan sejak tadi,” bisik Lucas dengan sangat lega.

“Sejak tadi hanya itu yang aku pikirkan, memelukmu dan tidak lagi membiarkanmu pergi,” ujar Lucas sambil memeluk Peyton lebih erat. Mata Peyton mula berkaca-kaca. Tenggorokannya tercekat menahan rasa haru yang ada di hatinya saat ini. Lucas menginginkan hal yang sama dengannya dan ia tidak perlu lagi mengingkari perasaannya bagi pria itu.

Mereka berpelukan lama melampiaskan segenap kerinduan yang ada di hati mereka sebelum akhirnya melepaskan diri.

Peyton memegang wajah Lucas dengan lembut. Kedua matanya menatap Lucas dengan penuh cinta. Luapan cinta yang ada di hatinya dan kini memancar di kedua matanya. Inilah saat pertama Peyton menyadari perasaan cintanya untuk Lucas. Ia mencintai pria itu. Logikanya yang selama ini berusaha melarang dirinya untuk jatuh cinta pada pria itu tidak lagi berfungsi. Apapun yang terjadi kelak, ia mencintai pria itu. Air mata bahagia dengan cepat mengumpul di kedua matanya dan mengalir perlahan di pipinya.

Lucas mengusap air mata di pipi Peyton dengan lembut seraya menatapnya dengan penuh makna. Senyum haru menghiasi bibirnya. Ia kemudian mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut bibir Peyton. Peyton dengan cepat bereaksi. Mereka berciuman mesra, menikmati setiap sensasi yang timbul di hati mereka sepuas-puasnya. Hati mereka terasa lepas, tak perlu lagi menanggung beban rindu yang begitu kuat melanda mereka tapi tak diberi kesempatan untuk terungkap.Tak puas-puasnya mereka menikmati ciuman itu sampai akhirnya Lucas menarik bibirnya dengan sangat lembut.

“Apa ini artinya kita tak perlu lagi menyembunyikan perasaan kita?” tanya Peyton kepada Lucas sambil tersenyum penuh haru. Lucas tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya, keputusan terbesar yang dilakukannya selama 2 tahun ini, membuka kembali hatinya dan mencintai lagi.

Ia merengkuh kembali peyton ke dalam pelukannya.

“Aku hanya ingin bersamamu tanpa harus merasa bersalah,” ujarnya dengan nada lelah.

Peyton mengerti maksud Lucas. Dirinya pun sungguh berharap hal itu jangan sampai terjadi dalam hubungan mereka kelak, rasa bersalah Lucas terhadap cintanya pada Lauren.

Peyton memeluk Lucas lebih erat, seakan tak rela melepaskannya.
***
Lucas dan Peyton menghabiskan waktu bersama setelah itu tak lepas dari satu sama lain. Mereka mencurahkan semua kerinduan yang selama ini terpendam.

Perasaan mereka terutama Lucas dalam sekejap membaik, rona kebahagiaan terpancar dari wajahnya dengan sangat jelas. Ia yang biasanya jarang tersenyum, kali ini tak bisa melepaskan senyum di wajahnya. Ia bahkan tersenyum saat melihat burung bertengger sejenak di pembatas balkonnya.

“Jadi…,” Peyton menggeser tubuhnya ke arah Lucas dan memegang kedua tangannya. Saat itu mereka sedang duduk berhadapan di sofa.

“Kita akan menghabiskan waktu bersama hanya untuk melihat satu sama lain tersenyum?” tanyanya dengan senyum menggoda. Sejak tadi yang mereka lakukan adalah duduk menghadap satu sama lain dan saling memperhatikan. Senyum lebar menghiasi wajah mereka dan kebahagiaan terpancar dari mata mereka. Kegiatan yang seharusnya sangat membosankan itu tidak terasa sedikitpun membosankan.

“Ada usul lain?” tanya Lucas dengan nada menggoda

“Bagaimana kalau kita pergi ke..” bisik Peyton dengan mesra lalu menghentikan kata-katanya sambil tersenyum. Ia berdiri dari sofa.

“Kamar?” jawab Lucas sambil tersenyum penuh arti. Ia pun berdiri dari sofa

"Apa yg kaupikirkan?" tukas Peyton cepat sambil mengernyitkan dahinya, di bibirnya terselip senyum malu-malu.

"Well, suatu kegiatan yang akan membuat jantungmu berdebar kencang dan..." Seringai lebar menghiasi wajah Lucas.
Belum selesai Lucas mengatakan hal itu, Peyton sudah menutup mulutnya dengan telunjuknya.

“Nope, kegiatan itu bisa ditunda, kapan-kapan dan kau tidak boleh memikirkan sekarang,” bisiknya dengan mesra. Ia kemudian mengaitkan kedua tangannya di leher Lucas dan tergelak saat Lucas memberikan muka pura-pura sedih.

“Kau boleh menciumku, tapi tidak lebih dari itu,” ujar Peyton lagi sambil memajukan wajahnya ke wajah Lucas hingga jarak di antara mereka sangat dekat. Bibir mereka hampir bersentuhan. Tatapan mereka seakan memancarkan listrik.

Lucas memajukan wajahnya dan mencium Peyton ringan. Peyton tersenyum puas.

“Jadi, kau mau bawa aku ke mana?” tanya Lucas sambil memeluk pinggang Peyton.

“Ke tempat favoritku, aku biasanya menghabiskan waktu untuk membaca bukumu di sana,” Peyton memandang Lucas dengan pandangan penuh rahasia

Lucas mengangkat sebelah alisnya dan memandang Peyton dengan mata terpicing. Peyton memandangnya dengan gemas dan mengacak bagian bawah rambut Lucas sambil tertawa.

“Aku akan mengambil buku sketsaku dan setibanya kita di sana, kita bisa duduk-duduk. Kau dapat menikmati pemandangan di sana dan aku akan menggambar sketsa sampul novelmu yang kedua,” tutur Peyton dengan riang.
“Ide yang bagus” tukas Lucas sambil tersenyum.

“Kau tahu?” ujar Peyton sambil mengelus leher Lucas dengan lembut.

“Kau terlihat sangat manis saat kau tersenyum,” ujarnya lagi dengan lembut. Lucas tersenyum lebar. Ia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Peyton

“Itukah yang membuatmu terpikat padaku?” bisiknya dengan mesra

Peyton mengerutkan dahinya dan memberi Lucas pandangan pura-pura tidak mengerti. Ia kemudian melepaskan diri dari Lucas dan berjalan ke arah pintu.

“Ayo,” katanya sambil menoleh kepada Lucas saat ia sudah tiba di depan pintu. Lucas tertawa dan mengikutinya.
***

Setibanya mereka di depan gedung, Peyton mengangkat sebelah tangannya ke arah Lucas. Dengan gerakan matanya, ia meminta tangan pria itu. Lucas meletakkan tangannya di atas tangan Peyton dan menggenggamnya dengan lembut. Peyton tersenyum manja ke arahnya dan menurunkan tangan mereka ke samping tubuhnya. Lucas menunduk sambil menahan perasaan sesal yang timbul di hatinya. Ia tidak pernah bergandengan tangan dengan siapapun selama ini. Lauren tidak pernah membiarkannya menggenggam tangannya. Gadis itu tidak mau orang-orang mengira ia lemah dan karena itu mereka selamanya tidak pernah berjalan sambil berpegangan tangan. Kalau saja Lauren boleh hidup lebih lama, ia akan melakukan semua ini bersama dengannya. Lucas menghembuskan napasnya perlahan dan berusaha memfokuskan kembali perhatiannya pada Peyton. Ia mengelus tangan Peyton dengan lembut. Peyton memandang ke arah tangan mereka dan balas mengelus tangannya.

Peyton membawa Lucas ke taman kota dan mengajaknya berjalan-jalan mengelilingi beberapa bagian taman itu sebelum kemudian duduk di bangku yang terletak di depan air mancur, bangku yang selama ini menjadi tempat kesayangannya. Lucas memandang pemandangan di sekelilingnya dengan kagum. Ia hampir tidak pernah pergi ke manapun dalam dua tahun ini dan ia belum pernah lagi melihat taman seindah ini setelah ia meninggalkan rumah neneknya.

Peyton mengamati Lucas dengan seksama dan ia menikmati apa yg dilihatnya itu. Lucas terlihat begitu lepas dan bahagia. Hatinya kembali dipenuhi oleh perasaan cinta yang sejak tadi meluap-luap di hatinya. Raut wajahnya berubah sejenak kala rasa cemas menyelinap di hatinya. Bagaimanapun mencintai pria seperti Lucas membuatnya takut, selamanya ia harus menghadapi bayang-bayang Lauren di hatinya dan ia mungkin tidak akan pernah dicintainya dengan sepenuh hati.
Lucas akhirnya menarik dirinya dari sekitarnya dan mengalihkan pandangannya pada Peyton. Peyton dengan cepat mengusir rasa cemas yang ada di hatinya itu dan tersenyum lebar ke arah Lucas.

“Apa kau sudah siap?”

“Aku siap,” ujar Lucas dengan mantap. Ia terlihat jauh lebih segar dibanding dirinya tadi pagi. Peyton segera mengeluarkan semua alat yang diperlukannya dari dalam tasnya.

“Kau harus ingat bukuku yang kedua ini sebagian besar fiksi, kecuali sebagian kecil interaksiku dengan Leighton,” ujar Lucas saat ia melihat Peyton telah siap dengan pensil dan buku sketsanya.

“Jadi akhir ceritanya adalah?” tanya Peyton.

“Chad menemukan wanita yang dicintainya, menikah dan berhasil membawa Leighton bersamanya. Happily ever after,”
“Sangat chessy,” ujar Peyton sambil meringis seolah tak tahan mendengarnya.

“Aku tahu, tapi aku rasa itu yang pembaca novelku inginkan,” jawab Lucas tertawa kecil.

“Sejak kapan kau peduli dengan apa yang pembaca inginkan?” tanya Peyton dengan heran.

“Sejak mereka memberikan dukungan untukku lewat email atau surat dan aku sangat menghargainya,” jawab Lucas terdengar tulus.
“Kau menulis semua ini karena sebenarnya itu pula yang kau harapkan ya kan?” Peyton memandang Lucas dengan lembut. Ia tahu Lucas memang mengharapkan semua hal itu di lubuk hatinya.

“Setidaknya aku ingin Leighton punya keluarga yang lengkap,” jawab Lucas dengan wajah serius.

“Jadi siapa pasangan Chad yang baru?” tanya Peyton penasaran

“Dia seorang wanita yang sangat cantik, yang menghargai Chad apa adanya dan sangat menyayangi Leighton,” jawab Lucas sambil tersenyum lebar.

“Dan aku membuatnya sangat sempurna. Ia luar biasa cantik. Semampai. Seksi dan luar biasa menggairahkan,” ujarnya sambil terkekeh. Peyton tertawa dan melemparkan pandangan jengkel padanya.

“Apakah dia secantik aku?” tanyanya kemudian dengan nada manja.

“hmm.” Lucas terlihat berpikir keras.


Last edited by didar on 29th July 2009, 2:39 pm; edited 1 time in total

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 16

Post  didar on 29th July 2009, 2:13 pm

“Aku rasa Kenzie lebih cantik dan lebih seksi,” kata Lucas sambil tertawa. Peyton memukul Lucas dengan gemas. Lucas berpura-pura meringis kesakitan.

“Tunggu, dengarkan penjelasanku. Kau harus tahu Lucas menyukai Peyton dan Chad menyukai Kenzie. Kau harus dapat membedakan hal itu,” ujar Lucas sambil mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Peyton.

Peyton mengangguk sambil tertawa.

“kalau begitu aku puas,” jawabnya dengan mesra.

Peyton menggeser duduknya menjauh dari Lucas. Ia lalu memulai lukisannya dan menyembunyikannya dari Lucas. Lucas memberikan pandangan protes kepadanya.

“Kau boleh menikmati pemandangan di sekitar sini dan jangan ngintip,” ujar Peyton dengan nada mengancam saat ia melihat Lucas mencoba mengintip gambarnya.

Lucas tertawa. Ia pun mengubah arah duduknya, sepenuhnya menghadap arah depan dan memandang anak-anak yang sedang bermain di hadapannya.

Peyton menggambar apa yang terbayang di benaknya saat itu. Sesekali ia melirik Lucas dengan mesra. Terkadang matanya bertemu dengan mata Lucas dan saat itu mereka akan saling melemparkan senyum bahagia lalu meneruskan kembali kegiatan mereka.

Seusai melukis Peyton mendongakkan kepalanya dan ia mendapati Lucas sedang mengamati anak-anak bermain. Ia terlihat sangat bahagia.

“Aku ingin punya anak laki-laki,” ujar Lucas saat ia menoleh dan mendapati Peyton sudah selesai melukis.

“Bukan berarti aku tidak menyukai anak perempuan, Leighton adalah anak terbaik yang bisa aku miliki, aku bersyukur untuk itu,” tambahnya lagi sambil memandang ke arah anak-anak yg sedang bermain di hadapannya lagi. Wajahnya terlihat bersinar penuh kebahagiaan sekaligus kegetiran.

Peyton memahami apa yang dimaksud Lucas. Lucas dan Lauren berencana untuk mempunyai 2 anak, anak laki-laki dan anak perempuan. Kalau bukan karena kepergian Lauren yang begitu mendadak, mereka sekarang mungkin sudah mempunyai 2 anak dan hidup berbahagia bersama.

Peyton terdiam, ia tidak berani menanyakan hal apapun tentang Lauren kepada Lucas. Selain karena ia tidak mau terlalu terlibat dalam kehidupan Lucas yang dulu, ia juga tahu betapa sensitifnya Lucas akan hal itu.

Lucas berusaha menahan gejolak yang ia rasakan di hatinya. Rasa rindunya pada Lauren begitu menguasai hatinya saat ini dan rasanya ia ingin berlari dari sana dan mencari udara untuk bernapas. Entah mengapa sudah 2 minggu ini ingatan akan Lauren tidak lagi membuat hatinya hangat seperti dulu tapi malah menghujam hatinya dan membuatnya tidak dapat bernapas.

Peyton memegang tangan Lucas dengan lembut. Hal itu dengan cepat menyadarkan Lucas. Ia tidak dapat lagi berbuat seperti itu lagi ia tidak ingin menyakiti hati Peyton, ia harus mulai membiasakan diri untuk berbagi dan tidak lagi menyembunyikan dirinya darinya. Hal itu memang tidak mudah baginya tapi ia harus mencobanya dengan sekuat tenaga bila ia ingin hubungannya dengan Peyton berjalan dengan lancar.

Lucas menghela napasnya perlahan, tidak ingin Peyton menyadari beban pikirannya. Ia memutar duduknya dan menghadap Peyton sepenuhnya.

“Mana gambarnya, aku ingin melihatnya,” ujarnya dengan nada tidak sabar.

Peyton tersenyum lebar. Ia lalu berpura-pura menyembunyikan buku sketsanya. Lucas tertawa kecil. Ia kemudian memandang Peyton dengan wajah sangat memelas. Peyton mengelus pelan dagu Lucas sambil menertawakannya.
“Anggap saja aku baik padamu,” ujar Peyton dengan nada seolah tak rela. Ia lalu membuka buku sketsanya dan memberikannya kepada Lucas. Lucas mengambilnya dan mengamati gambar yang ada di halaman yang terbuka itu. Peyton mencoba mengamati air muka Lucas, berharap bisa mendapat penilaian jujur dari sana.

Raut wajah Lucas terlihat cukup puas. Peyton melukis seorang gadis kecil di tepi pantai yang sedang memegang melindungi sebagian rambutnya dari hembusan angin laut. Gadis kecil itu memandang ke arah hamparan pasir yang ada di depannya. Senyum lebar menghias wajahnya yang sangat manis dan ia terlihat sangat bahagia. Di belakangnya ombak kecil bergulung ke arah pantai. Walau gambar Peyton hanya berupa sketsa, tetapi hasilnya terlihat nyata dan indah.

Lucas menoleh ke arah Peyton. “ini Leighton?” tanyanya sambil menunjuk gambar gadis cilik itu. Peyton tersenyum lebar. Lucas mengangkat sebelah alisnya. Peyton mengangguk.

“Sangat mirip,” ujar Lucas sambil memperhatikan kembali gambar itu.

“Yeah?” tanya Peyton. Lucas mengangguk sambil tertawa kecil

“Kau seorang pelukis yang berbakat. Gambar ini luar biasa nyata dan indah,” ujar Lucas sambil memandang Peyton dengan penuh kekaguman.

“Gambar itu belum selesai,” ujar Peyton sambil menunjuk ke bagian gambarnya yang masih kosong.

“Bagian depan masih sangat kosong, aku yakin kau akan tambahkan sesuatu di situ,”

“Aku akan tambahkan seorang pria berambut pirang yang sangat mirip denganmu berbaring di pantai,” ujar Peyton.
Lucas menunjuk ke arah dirinya sendiri dengan pandangan bertanya. Peyton tertawa.

“Kali ini kau tidak boleh protes kalau gambarnya mirip denganmu,” ujar Peyton sambil menggeser duduknya mendekat ke arah Lucas.

“Aku akan menggambarkan matamu yang biru semakin biru dan lesung pipitmu akan kugambar dengan sangat jelas sehingga siapapun yang melihatnya akan jatuh cinta padamu,” bisiknya dengan mesra.

Lucas tersipu mendengarnya. Peyton memandangnya dengan gemas. Baginya Lucas sungguh terlihat sangat manis saat ia tersipu seperti itu ataupun tertawa lebar. Ia kemudian memegang kedua pipi Lucas dan mengelusnya perlahan. Lucas memandangnya dengan lembut.

“Ada satu hal yang ingin aku katakan padamu sejak dulu,” ujar Peyton.

“Apa?”

“Kau harus lebih sering tersenyum..." Peyton menghentikan kata-katanya untuk sejenak.

"karena di saat itu dunia terlihat sangat indah dan detak jantungku seakan berhenti sesaat karenanya,” bisik Peyton dengan mesra.

Lucas tertawa kecil.

“Kau sudah mengatakannya tadi pagi,” Lucas mendekatkan wajahnya pada wajah Peyton hingga bibirnya menyentuh sekilas bibir Peyton lalu menariknya lagi.

“Sebenarnya itu hanya salah satunya,” jawab Peyton penuh misteri.

Lucas menarik kepalanya menjauh dan memandang Peyton dengan mata terpicing.

“Kalau begitu kau harus memberitahu padaku alasan lainnya,”
“Rahasia,” bisik Peyton sambil berusaha menahan tawanya. Lucas pura-pura kecewa.
“Suatu kali akan kukatakan padamu,” ujar Peyton sambil memandang Lucas dengan mesra. Lucas tertawa kecil dan mengangguk.
“Bagaimana kalau kita pulang sekarang?” tanya Peyton sambil memasukkan kembali peralatan melukisnya ke dalam tasnya.
Lucas memandang ke arah langit. Hari sudah cukup sore dan akan segera menjadi gelap.

“Bagaimana kalau kau datang ke apartemenku untuk makan malam?” ujar Lucas sambil melihat jam tangannya.

“Kau mungkin bisa mandi terlebih dahulu dan aku akan menjemputmu setelah itu kalau kau mau,” ujarnya lagi sambil memandang Peyton dengan lembut. Ia belum ingin berpisah dari gadis itu dan masih ingin menghabiskan waktu dengannya.

Peyton mempertimbangkannya untuk sejenak. Tawaran yang sangat menggiurkan namun sayangnya datang di saat yang kurang tepat.

“Bagaimana kalau besok?” tanya Peyton tidak enak hati. Ini adalah ajakan makan malam kedua yang sudah ia tolak sejauh ini. Raut wajah Lucas dengan jelas menunjukkan rasa kecewa.

“Aku masih harus menyelesaikan lukisanku,” ujar Peyton lagi dengan nada minta maaf. Hari itu ia sudah menghabiskan seluruh waktunya bersama Lucas di saat ia seharusnya menyelesaikan tugas melukisnya. Peyton mengeluh di dalam hatinya saat ia menyadari ia mungkin tidak akan tidur hari ini.

“Lukisan?” tanya Lucas dengan heran. Raut wajah Peyton berubah. Sejak awal ia menyadari ia dan Lucas sebenarnya tidak terlalu mengenal satu sama lain. Walaupun ia mengetahui sebagian dari masa lalu Lucas yang diceritakannya di bukunya itu tapi ia tidak mengetahui apapun tentang pria itu di kehidupannya yang sekarang. Sedangkan Lucas, ia bahkan tidak mengetahui apapun tentang dirinya.

Lucas menyadari hal yang sama. Sejauh ini ia sama sekali tidak mengenal kehidupan pribadi Peyton. Sebelumnya ia hanya pernah bertemu dengannya beberapa kali dan tiba-tiba saja ia sudah terjerat ke dalam pesonanya sebelum ia mengetahui siapa gadis itu sebenarnya dan apa yang dilakukannya dalam kehidupannya. Sungguh sangat cepat. Terlalu cepat. Tapi juga tidak berarti mereka kelak tidak punya kesempatan untuk saling mengenal. Lucas merasakan kehangatan menjalar di hatinya saat ini, keinginannya untuk masuk ke dalam kehidupan Peyton membuat hatinya terasa hangat.

“Aku datang ke New York untuk belajar melukis dan aku sekarang masih mengikuti kelas melukis. Sebenarnya aku seharusnya menghabiskan waktuku hari ini untuk melukis. Tapi,” Peyton memandang Lucas dengan penuh arti.

“Tapi aku mengacaukannya ya kan?” tanya Lucas. Kedua matanya menatap Peyton dengan penuh penyesalan. Apa yang dilakukannya selama ini sangat egois. Ia sama sekali tidak pernah menanyakan apapun tentang Peyton dan ia selalu mengajaknya bertemu tanpa mempertimbangkan kegiatan yang harus dijalani gadis itu.

Peyton mengangguk sambil tertawa kecil.

“Maafkan aku,” ujar Lucas dengan tulus.

Peyton menggelengkan kepalanya cepat-cepat.

“Kau tidak perlu minta maaf, apa yang terjadi tadi pagi adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi padaku dan hari ini aku dapat menikmati senyummu sepuasnya, aku rela mengorbankan apapun untuk itu,” ujar Peyton dengan tulus. Wajahnya kemudian memerah, menyadari ia baru saja menumpahkan perasaannya pada Lucas.


Last edited by didar on 30th July 2009, 10:51 pm; edited 1 time in total

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 16

Post  didar on 29th July 2009, 2:17 pm

Lucas memandang Peyton dengan lembut. Ia mengerti sepenuhnya apa yang dikatakan Peyton, baginya apa yang terjadi hari ini juga merupakan salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya. Ini adalah kali keduanya ia menjalin hubungan serius dengan seorang wanita dan ia tidak menyesalinya sama sekali.

“Kalau begitu kelak kau harus menceritakan segala sesuatu tentang dirimu, aku ingin mengetahuinya,” ujar Lucas dengan lembut. Peyton menganggukkan kepalanya. Ia kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Lucas
“Aku rasa aku sekarang sudah boleh menggenggam tanganmu setiap saat aku mau,” ujarnya sambil tersenyum

Lucas memandang Peyton lekat-lekat. “Setiap saat,” jawabnya dengan lembut. Ia kemudan berdiri dan menggenggam tangan Peyton.
***

Lucas berulang kali menarik tangan Peyton saat gadis itu berhenti sejenak dan mencoba menceritakan sesuatu tentang tempat atau gedung yg mereka lalui. Mereka sudah keluar dari taman kota dan kini sedang melangkah menuju gedung apartemen mereka.

“Kau harus cepat pulang dan menyelesaikan lukisanmu itu,” tegur Lucas dengan lembut saat Peyton berhenti melangkah dan memberinya pandangan protes setelah ia berulang kali ia menarik gadis dan memaksanya untuk melangkah.

Peyton menatap Lucas penuh haru. Pertama kalinya Lucas peduli akan dirinya. Perasaan yang timbul di hatinya saat ini tidak tertandingi oleh apapun juga. Ia berjinjit dan memeluk Lucas dengan erat. Lucas meletakkan kedua tangannya di punggung Peyton dan mengelusnya dengan lembut.

“Bagaimana kalau kau memelukku nanti saja dan lebih dari itu tentunya,” ujar Lucas sambil tertawa. Peyton melepaskan pelukannya dan memandang Lucas dengan gemas. Lucas tertawa. Tangannya menggenggam tangan Peyton dan menariknya perlahan. Peyton mengikuti langkah Lucas sambil mengerang perlahan. Ia sedang menikmati perjalanan ini dan belum ingin pulang.

Lucas tidak memberi kesempatan sedikitpun pada Peyton untuk berhenti sejenak. Ia kini memeluk pinggang Peyton dan melangkah dengan cepat. Peyton terkadang memberikan Lucas pandangan protes karena ia terbiasa melangkah dengan tenang dan meluangkan waktu untuk memandang sekelilingnya. Lucas tertawa dan tidak mempedulikan pandangannya itu
Tak terasa langkah mereka sudah membawa mereka tiba di dekat gedung apartemen mereka. Lucas menghentikan langkahnya dan menahan pinggang Peyton perlahan. Peyton menoleh ke arah Lucas dengan heran.

“Ada apa?”

“Aku belum ingin berpisah darimu,” jawab Lucas sungguh-sungguh.

Peyton tertawa. Sejak tadi Lucas yang menyuruhnya untuk melangkah cepat-cepat, sekarang ia yang menghentikan langkahnya.

“Kau bisa bertemu denganku besok atau lusa. Setiap hari,” ujar Peyton sambil mendekatkan tubuhnya ke arah Lucas. Lucas menggerakkan sebelah tangannya dan menarik Peyton ke dalam pelukannya.

“Asal kau janji tidak lagi menunda makan malam kita kelak, aku akan mengantarkanmu sampai ke apertemenmu dan membiarkanmu pergi dari sisiku,” bisiknya dengan mesra.

Peyton melihat ke arah jam tangannya. Brooke saat itu sudah hampir pulang. Ia tidak mau Brooke memergoki mereka berdua tapi ia juga tidak ingin menolak tawaran Lucas lagi. Ia harus bergegas.

Peyton mengangguk. Ia kemudian melepaskan dirinya dari pelukan Lucas dan menariknya untuk bergegas. Lucas tertawa. Dengan langkah lebar ia mengiringi langkah Peyton yg saat ini sudah hampir setengah berlari.

Tiba-tiba Peyton menghentikan langkahnya dan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Lucas dengan satu gerakan yang sangat cepat. Matanya memandang ke depan dengan sangat terkejut. Lucas ikut menghentikan langkahnya. Dengan kening berkerut ia mengikuti arah pandang Peyton dan mendapatinya sedang memandang ke arah Brooke yang saat itu berdiri di depan gedung apartemen mereka.

Brooke menatap ke arah Peyton dan Lucas dengan bingung. Ia benar-benar tidak dapat mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Peyton dan Lucas berjalan bergandengan tangan. Hal itu bahkan tidak ada dalam daftar perkiraannya saat ini.
Peyton membalikkan tubuhnya ke arah Lucas. “Aku akan menghubungimu nanti dan aku akan menjelaskan semuanya,” ujarnya cepat-cepat. Lucas mengangguk sambil memandang Brooke sekilas. Ia kemudian melangkah melewati Brooke dan masuk ke dalam gedung.

Peyton segera menghampiri Brooke dan berdiri di hadapannya dengan wajah pasrah.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Brooke dengan kening berkerut. Baru 2 minggu yang lalu ia menyaksikan Lucas mengamuk dan membuat Peyton menangis dan kini dua minggu setelahnya Peyton bergenggaman tangan dengan pria itu dan mereka terlihat sangat mesra.

“Bagaimana kalau kita bicara di dalam?” tanya Peyton dengan cemas. Brooke pasti kecewa padanya karena ia tidak mengatakan hal ini sejak awal dan mungkin akan marah sesudahnya. Bukan hanya itu ia juga pasti akan menyatakan ketidaksetujuannya akan hubungannya dengan Lucas. Semua itu tidak ada yang dapat ia hindari. Ia harus menanggung kesalahannya sendiri.
***

Peyton mengikuti langkah Brooke memasuki ruang tengah. Brooke dengan cepat menempatkan dirinya di atas sofa. Tanpa menunggu Peyton duduk, ia sudah bertanya.

“Jadi apa yang sebenarnya terjadi?” Keningnya tidak lagi berkerut seakan ia sudah bisa menebak apa yang terjadi dan kini ia hanya ingin memastikannya. Matanya tertuju lurus ke arah Peyton dengan tajam.

“Kami saling jatuh cinta,” ujar Peyton dengan wajah meringis, tak siap untuk menerima reaksi Brooke.

Brooke memandang Peyton tak percaya, tapi kemudian ia menyadari ia seharusnya sudah dapat menduganya. Peyton sangat memuja Chad dan hanya satu langkah yang diperlukannya untuk mengalihkan cintanya pada Chad kepada Lucas.
Peyton berjalan perlahan ke arah Brooke dan kemudian duduk di sampingnya.

Hati Brooke melembut. Ia memang tidak menyukai Peyton menjalin hubungan dengan Lucas tapi ia juga tidak berhak untuk melarangnya. Saat ini ia hanya bisa berharap Lucas memperlakukan Peyton dengan baik.

“Asalkan kau berjanji tidak akan membiarkan Lucas membuatmu menangis,” ujarnya sambil memegang tangan Peyton dan memandangnya dengan penuh pengertian

“Dan kau akan meninggalkannya kalau ia membuatnya sedih atau memperlakukanmu dengan buruk,” tambahnya lagi dengan tegas. Peyton mengangguk sambil menahan haru.

Teringat akan sesuatu, Brooke menggenggam tangan Peyton lebih erat. Matanya menatap cemas.

“Satu lagi, apa ia sudah berhenti menuduhmu sebagai penguntit dan kau yakin ia tidak akan menuduhmu lagi kelak?” tanyanya dengan nada prihatin.

Pertanyaan itu membuat hati Peyton tercekat. Permasalahan itu sampai sekarang belum dapat dikatakan sudah beres. Mungkin Lucas tidak akan pernah lagi menuduhnya penguntit tapi pria itu sepertinya belum puas dengan jawaban yang diberikannya tentang pantai itu. Rasa cemas melanda dirinya. Tapi dengan cepat ia sembunyikan semua itu di wajahnya dan menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan. Ia merasa sangat terharu akan kebaikan Brooke dan tidak ingin membuatnya cemas. Urusan itu akan ia bereskan sendiri dan seperti janjinya tadi ia tidak akan membiarkan Lucas memperlakukan dirinya dengan buruk.

“Aku hanya ingin kau bahagia,” ujar Brooke dengan tulus. Peyton tersenyum lega. Ia tahu Brooke sebenarnya tidak mendukung hubungannya dengan Lucas. Dukungan yang diberikannya saat ini adalah dukungan sebagai seorang teman yang mempercayai keputusannya. Brooke menepuk tangan Peyton perlahan. Ia kemudian berdiri dan berjalan ke arah kamarnya. Untuk pertama kalinya ia tidak menanyakan apa-apa kepada Peyton tentang kehidupan cintanya. Sedikit banyak hal itu membuat hati Peyton miris, ia yang biasanya menceritakan segala sesuatunya pada Brooke, mulai saat ini harus memendam segalanya sendiri.


Last edited by didar on 30th July 2009, 10:52 pm; edited 1 time in total

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 16

Post  didar on 29th July 2009, 2:26 pm

yay.. akhirnya selesai! yay! haha.. sebenernya bagian ini udah selesai dari 3 hari yang lalu.. tapi bagian yang brooke malah ga selesai2 .. haha.. untungnya bab 17 malah udah 70% diedit.. so bisa cepet dipost juga.. tapi ga ah.. gw tunda dulu.. masalahnya bab 18 nya masih kacau banget.. haha.. apalagi bab-bab selanjutnya.. haha

well.. gw cinta ama Lucas di OTH.. en itu ngebantu banget gw nulis karakter Lucas.. walo mereka ga sama.. en interaksi Luke en Peyton.. my leyton ...juga banyak kebantu ama obsesi gw tuk liat mereka lebih mesra lagi.. mereka udah cukup mesra kok di OTH.. tapi masih kurang.. gw pengen mereka lebih mesra lagi.. haha.. en gw ngerasa rating FF gw tuh bisa dibilang setara ama OTH... karena gw berenti menulis di mana kalo itu adegan di OTH juga berenti.. ga seh di OTH masih lebih detil.. haha..

cerita ini masih panjang.. haha.. untung ya gw masih tahan en udah nabung banyak.. kalo ga gw udah nyerah kali.. karena makin gw nulis.. ceritanya makin kompleks..

sekarang gw mau konsen di 17, 18.. Ntar pas 17 selesai.. gw bakal konsen di 18, 19.. seudah itu ada bagian yang penting banget.. en gw harus nulis penuh konsentrasi..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 16

Post  Shan2 on 30th July 2009, 6:52 pm

duh, g lbh suka lucas di bab ini. pas bab ini tuh kerasa udah rada akrab ama lucas. n elo harus buat agak banyak, supaya chemistrynya leyton nyantol, kalo enggak ntar yg lbh nyantol peyton ama jensen neh, mengingat kalo ama lucas ada kenangan buruknya. heheheh

n g jg suka brooke di sini, dia tuh care banget ama peyton.

n elo ada salah ketik tuh, masa kata chad ? harusnya kata lucas kan ? n so sweet banget wkt lucas bilang yg lucas ama peyton n chad ama kenzie. hihii...

pas wkt diajak ke taman g udah mikir kyknya bakal kepergok, g pikir kepergok jensen, tp ga mgkn krn jensen belon balik, taunya kepergok ama brooke yah..

cuma menurut g di taman ini ada adegan yg harus elo tambahin.

pas ama jensen kane melibatkan si tukang makanan tuh, nah, pas ama lucas knp ga ada ?

kan si peyton sering beli, dan lagi itu bisa jadi perbandingan buat pembacanya loh, kita jg bs tau gmn pendapat si tukang makanan (aduh,emang wkt itu tukang makanannya liat yah si jensen ? kyknya enggak)

ya menurut g seh lbh bagus kalo dia liat, eh tau2 si peyton dateng ama 2 cowok yg berbeda. tp kan wkt ama jensen msh sungkan gt, sedangkan ama lucas dia tuh udah akrab banget, jd mgkn elo bisa buat si tukang makanan tuh bisa liat kalo peyton cintanya ama yg ini org gmn gitu, soalnya hal2 kyk gini tuh bisa pengaruhin pembaca yg kyk g neh. hehehe

tp kalo jd repot yah ga usah deh, biarin aja kyk gt

n pastinya g tunggu lanjutannya nih, g jg nunggu kencannya kevin ama brooke neh. hahhh

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 16

Post  didar on 30th July 2009, 11:17 pm

iya.. gw salah nulis.. haha.. sampe gw harus pake FIND di word baru ngeh.. haha.. thanks ya untuk ketelitian elo..

soal penjual makanan waktu itu dia ngga ngeliat jensen.. jadi ga bisa dibuat perbandingan..
trus kenapa ga ada si tukang makanan karena ini datangnya udah sore.. en peyton lagi ga kepikiran soal makanan.. en gw udah nulis terlalu banyak soal makanan.. haha.. mulai dari 2 restoran.. sushi.. sandwich.. hehe.. ntar apa lagi ya
sebenernya ide elo bagus banget.. en mungkin ntar gw bakal nulis kyk gitu.. kalo emang pas sikon nya en kalo peyton lagi laper.. gw pasti tambahin.. kan masih ada bab2 selanjutnya..

diliat dari Lucas nya aja hubungan peyton lucas emang pasti rumit.. begitu pula dengan jensen-peyton hubungan mereka kyk gimana gw rasa itu juga keliatan dari jensennya..

ah.. ternyata gw harus ngerubah cerita gw.. haha.. hmm.. bab 17 yang dah gw tulis gw oper jadi bab 18 atau 19.. artinya gw harus nulis bab 17 dari kertas kosong.. supaya cerita di 18 19 20 21 nanjak terus..

gw juga pengennya bikin yang banyak.. leyton mesra kyk gitu.. tapi ntar ceritanya ga beres2.. hehe..

duh.. kencannya kevin ama brooke ya.. haha.. gw juga masih bingung neh.. mana Tom udah harus keluar bentar lagi.. duh.. sangat amat binun.. haha...

sekarang gw bener2 perlu konsen neh.. nulis bab 17.. dari kertas kosong.. rasanya udah frustasi duluan.. haha..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 16

Post  Shan2 on 31st July 2009, 4:27 am

Iya ya, g inget jg dia ga liat jensen. Hehehe

Aduh g ngakak nih elo bilang tunggu peyton laper. Hehehe

Knp hrs diubah ?

Saran g sih kencannya brooke-kevin dibuat seberantakan mungkin. Haha. Posisinya mirip "how to lose a guy in 10 days". Yg cewek selalu nolak, yg cowok bersabar.

Aduh, g inget tom lsg ga kuku inget tatapan matanya. Wakakak.. G jg mau neh kalo yg bersihin jendela kamar g si tom. Hehehe

Kalo apartemen g, kalo mlm ujan, paginya, kaca2 jendelanya pasti dibersihin dr luar. Jd wkt si tom bersihin itu, brooke harusnya lupa tutup tirai jendela pas mlm, jd bs keliatan pas pagi. Tp dia di lantai brp ? Keburu ga tuh ngejarnya ? Haha

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 16

Post  didar on 31st July 2009, 10:24 am

haha.. gw lupa cerita how to lose guys in 10 days.. tapi kebayang deh dikit2.. ga tau neh.. gw masih bingung ama kevin brooke.. kalo dibuat nolak trus.. harusnya ya.. biar kevin tambah gemes.. bakal gimana.. trus kalo ga.. bakal gimana secara Tom udah harus keluar.. haha..

ga mungkin kekejar.. nah pas di situ gw ada ide jadinya.. tapi belum yakin.. tapi kyknya jadi deh.. haha..
berarti harus bikin NY hari sebelum tom ama kevin ketemu ujan ya.. hehe.. bener-bener.. haha.. thanks ya.. ntar gw pikirin sesuatu tentang ujan yang romantis.. haha..

iya.. tatapan mata sabarnya ya? emang tuh.. bagi gw tuh dia tuh kyk co paling sabar.. kalem yang pernah gw liat..

Brooke tuh di lantai 9.. dr awal gw dah tulis ini.. jadi ga bisa diubah.. no 9 kan no kesayangan gw.. haha...

apa yang harus dirubah? cerita leyton.. yup.. entah kenapa tiba-tiba gw kemarin nulis suatu hal untuk bab 17.. taunya lebih cocok dihubungin ama bab 19... so gw majuin ke bab 18.. jadi bab 17 sekarang yang masih kosong.. belum tau neh mau jadi nyelip satu bab lagi atau ga.. soalnya gw masih samar-samar ama bab 17.. belum harus ada cerita brooke - kevin neh.. gw rasa gw bakal berkutet lama di situ lagi.. haha.. en gw rasa gw harus buat plot brooke-kevin-tom..

diperkirain Tom tuh keluar di bab 19 neh.. udah deket kan.. so selama 2 bab ini gw harus bisa bikin sesuatu yang penting buat kevin - brooke.. atau gw akan kehilangan mementum.. karena Tom udah dateng.. haha..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 16

Post  Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum