New Beginnings - Chapter 14

Go down

New Beginnings - Chapter 14

Post  didar on 23rd July 2009, 12:49 pm

“Apa maksudmu dengan semua perkataanmu kemarin?” tanya Peyton. Suaranya terdengar parau berusaha menahan gejolak di hatinya yang saat ini membuatnya ingin marah sekaligus menangis. Lucas menatapnya sejenak kemudian menggelengkan-gelengkan kepalanya seolah ia tak percaya Peyton baru saja menanyakan hal itu padanya.

“Apa kau merasa berhak untuk masuk ke dalam hidupku?” tanyanya tanpa basa basi. Wajahnya dengan cepat memerah dipenuhi oleh emosi.

“Maksudmu?” Peyton tidak mengerti mengapa Lucas menduganya seperti itu.

“Jangan pura-pura, aku tahu kau berusaha masuk ke dalam hidupku karena kau terobsesi denganku dan kau menggunakan segala cara untuk itu, termasuk menguntitku dan berusaha mengambil hati Sawyer,” desis Lucas dengan marah. Ia menunjuk berulang kali kepada Peyton dengan telunjuknya dengan tatapan penuh amarah.

“Aku tidak pernah menguntitmu dan aku tidak terobsesi denganmu,” Peyton mengucapkan semua itu dengan lafal sejelas mungkin. Matanya dipenuhi oleh perasaan marah dan jengkel.

“Kau menjatuhkan gambarmu di lift, kau berusaha untuk menarik perhatianku, dan kau bilang kau tidak terobsesi denganku?” jawab Lucas dengan sangat emosi.

“Itu sama sekali tidak benar, aku tidak pernah berusaha menarik perhatianmu dengan cara apapun!” ujar Peyton dengan kesal.

“Kau bahkan mungkin telah menguntitku sejak dulu, karena itu kau menggambarku di pantai itu,”

“Mengapa kau selalu mempermasalahkan hal itu?” tanya Peyton lagi dengan suara tercekat. Tangisnya sudah hampir pecah di tenggorokannya. Ia heran akan hal yang satu itu. Lucas sudah berulang kali menanyakannya dan ia tak mengerti apa maksudnya.

“Karena kau telah menggambar satu kejadian dalam hidupku yang tak pernah aku ceritakan pada siapapun! Apa yang kau gambar itu persis sama dengan kejadian itu. Jelas kau memang menyaksikan semuanya,” bentak Lucas penuh emosi. Ia tidak mengerti mengapa Peyton tidak mau mengakuinya saja.

Air mata Peyton mulai mengalir, ia tidak tahan dengan semua tuduhan ini.

“Kalau kau tidak percaya, kau bisa menyewa detektif atau apapun dan menyelidiki hidupku sebelum aku pindah ke New York. Aku tidak pernah menguntitmu,” ujar Peyton dengan nada pasrah, ia yakin Lucas tidak akan pernah mengerti. Lucas saat itu berdiri menyampinginya. Sebelah kepalan tangannya ia gunakan untuk menekan dagunya. Emosinya meluap-luap di wajahnya.

“Aku mungkin pernah mengakui bahwa aku jatuh cinta pada tokoh di bukumu itu tapi itu tidak berarti aku terobsesi denganmu dan kemudian menguntitmu seperti tuduhanmu itu,” tambah Peyton lagi dengan nada datar. Air mata perlahan mengalir di kedua matanya. Ia sapu kedua pipinya perlahan. Ia tidak peduli lagi Lucas percaya padanya atau tidak, yang terpenting ia sudah menjelaskannya sejelas mungkin.

“Dan satu hal lagi, aku tidak berusaha untuk masuk ke dalam hidupmu, dan tidak berniat untuk itu sekarangpun,” kali ini suara Peyton terdengar tegas seolah-olah ia tidak mau lagi diganggu gugat. Peyton kemudian membalikkan badannya sambil mengusap air matanya yang sejak tadi tak mau berhenti mengalir dan melangkahkan kakinya lebar-lebar ke arah pintu.

Tiba-tiba tangan Lucas memegang lengan Peyton kuat-kuat. Rasa sakit yang dirasakan di lengannya itu membuat Peyton terpaksa menghentikan langkahnya. Peyton mencoba memberontak tapi Lucas dengan kasar menariknya dan kemudian mendorongnya hingga ia terbanting ke pintu. Peyton berusaha menahan sakit yang ia rasakan di lengan dan juga di punggungnya itu.

Lucas maju mendekati Peyton. Ia menekan kedua bahu gadis itu kuat-kuat. Ia mendekatkan wajahnya sangat dekat sehingga Peyton dapat merasakan hembusan napasnya.

“Aku ingin kau bersumpah bahwa kau tidak bohong,” desisnya dipenuhi amarah

“Apa hakmu memintaku bersumpah saat kau memperlakukanku seperti ini?” bisik Peyton dengan nada marah.

“Lepaskan tanganmu,” ujarnya lagi sambil berusaha memberontak tapi tubuhnya tidak dapat ia gerakkan sama sekali walau ia sudah memberontak sekuat tenaga. Tekanan yang diberikan Lucas pada bahunya sangat kuat. Wajah Peyton meringis kesakitan saat ia tidak lagi dapat menahan rasa sakit di kedua pundaknya itu.

Lucas melepaskan tangannya dan menatap Peyton dengan pandangan frustasi. Jawaban yang selama ini ia harapkan tidak kunjung datang dan semua itu benar-benar membuatnya bingung.

“Mengapa kau bisa menggambar diriku di pantai itu dengan begitu tepat?” Lucas berbisik dengan nada frustasi. Matanya kini memandang kepada Peyton dengan bingung.

“Aku hanya menggambar apa yang ada di benakku saat itu, itu semua hanya kebetulan. Hanya itu yang bisa aku katakan karena aku memang tidak punya penjelasan lain,” jawab Peyton sambil mengusap air mata yang mengalir di kedua pipinya.
“Apa mungkin semua ini hanya kebetulan? Gambar itu membuatmu masuk ke dalam hidupku dengan begitu mudah dan semua itu hanya kebetulan,” bisik Lucas kepada dirinya sendiri.

Apa artinya semua ini?” ujarnya lagi dengan kening berkerut.

Saat itu Peyton dapat memahami kegalauan yang dirasakan oleh Lucas, ia sendiri pun tak kalah bingung. Gambar itu yang membuatnya masuk ke dalam kehidupan Lucas dan gambar itu pulalah yang telah membuat pria itu menuduhnya sebagai penguntit. Ia mengerti apa yang Lucas rasakan dan tak bisa menyalahkannya kalau gambar itu membuatnya ia bingung tapi bukan berarti ia berhak menuduhnya sebagai penguntit.

Lucas berjalan bolak balik di tempatnya untuk beberapa kali. Tangannya mengusap-usap dagunya seolah menunjukkan ia sedang berpikir keras. Saat ini ia sedang mencoba untuk berpikir lebih jernih namun lagi-lagi ia terpaksa menyerah dalam kebingungan. Perlahan wajahnya melembut. Ia kemudian menghela napasnya dan berhenti melangkah.

“Aku menyerah,” ujarnya dengan nada pasrah.

Lucas mendekati Peyton perlahan. Pandangannya kini tidak lagi dipenuhi dengan emosi, kelelahan yang kini terpancar di sana. Peyton memandang Lucas dengan lelah. Saat ini tidak ada lagi yang dapat ia lakukan. Ia tak mau Lucas menyakitinya lagi tapi pria itu begitu kuat, ia tidak mungkin dapat melawannya. Ingin sekali ia menyingkir dari sana tapi tubuhnya tidak bisa diajak kompromi. Kakinya seakan terpaku di lantai dan ia tidak bisa bergerak ke mana-mana.

Lucas menekan kedua bahu Peyton, menahannya agar gadis itu tidak dapat pergi. Ia menatap Peyton dalam-dalam, kedua rahangnya menutup rapat-rapat. Peyton mengepalkan kedua tangannya kencang-kencang. Matanya membalas tatapan Lucas mencoba menebak-nebak apa yang akan dilakukannya. Betapa kagetnya ia saat Lucas mendekatkan wajahnya ke arahnya dan kemudian mengecup bibirnya. Peyton memejamkan matanya, pasrah dengan semua itu. Ia merasakan bibir Lucas menyentuh bibirnya dan jantungnya berdebar semakin kencang. Tak ada gerakan apapun yang dilakukan oleh Lucas, ia hanya menaruh bibirnya di atas bibir Peyton dan membiarkannya begitu saja. Peyton menggerakkan wajahnya ke samping dengan cepat dan melepaskan bibirnya dari bibir Lucas. Lucas tak memberikan reaksi apa-apa dan itu membuat Peyton heran. Peyton perlahan menggerakkan kepalanya dan memandang Lucas dengan heran. Pria itu kini sedang menatapnya dengan putus asa seakan ia sedang bergumul dengan dirinya sendiri.

Lucas menyadari kalau ia harus melepaskan Peyton dari hidupnya. Ia tak siap untuk memulai hubungan baru dan ia begitu takut untuk memberikan hatinya lagi namun ia tidak rela melepaskan apa yang dirasakan di hatinya itu. Selain Lauren, Peyton adalah satu-satunya wanita selain yang bisa membuat hatinya bergetar. Karena itu ia setidaknya harus memenuhi hasratnya dan setelah itu ia tidak perlu lagi memikirkan gadis itu lagi.

Satu ciuman. Hasratnya terpuaskan dan ia bisa melanjutkan lagi hidupnya. Tapi nyatanya ciuman ringan tadi sama sekali tidak mempan, ia butuh lebih dan ia butuh Peyton untuk membalas ciumannya juga.

Dengan satu gerakan Lucas memegang kedua pipi Peyton dan kemudian menciumnya dengan penuh gairah. Gerakan itu sungguh tak Peyton duga. Pria itu baru saja menatapnya dengan putus asa dan ia kini mencoba untuk menciumnya dengan paksa. Peyton berusaha menutup rapat-rapat bibirnya sambil mendorong pria itu kuat-kuat. Tapi Lucas tidak bergeming sama sekali. Dorongannya seakan tidak ada artinya sama sekali. Semakin kuat Peyton meronta semakin ganas ciuman Lucas terhadapnya. Peyton akhirnya berhenti meronta saat tidak ada lagi tenaga yang tersisa pada tubuhnya. Lucas menyadari hal itu dan mulai mengganti strateginya. Ia tahu Peyton bukan gadis yang bisa dipaksa. Ia kini mencium Peyton dengan lembut. Tangannya mengelus kedua pipi Peyton dengan halus. Perlahan namun pasti strateginya berhasil, ciuman itu akhirnya membuat Peyton terlena dan sedikit demi sedikit membuatnya terhanyut. Tanpa sadar ia menggerakkan kedua tangannya untuk memeluk leher Lucas dan membalas ciumannya. Gairah mulai menguasai mereka dengan cepat. Ciuman mereka semakin panas seiring dengan hasrat mereka yang semakin memuncak. Tapi semua itu berakhir begitu saja. Lucas menyudahi semua itu tiba-tiba, di saat mereka berdua masih menggebu-gebu dan hasrat mereka belum juga turun. Peyton membuka matanya dengan bingung. Matanya bertemu dengan mata Lucas yang saat itu memandangnya tanpa ekspresi apapun.

Lucas melepaskan kedua tangannya dari wajah Peyton dan menolak tubuhnya dari dinding. Bersamaan dengan itu kedua tangan Peyton terlepas dari lehernya. Ia membalikkan tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam.

Peyton dengan segera menyadari ia baru saja dipermainkan. Napasnya saat ini belum kembali normal dan detak jantungnya masih begitu cepat. Ini adalah kedua kalinya Lucas meninggalkannya begitu saja. Sungguh ia membenci dirinya saat ini yang dengan gampangnya menyerah begitu saja pada ciuman Lucas.

Peyton bergegas melangkah menuju pintu dan keluar dari sana. Ia menekan tombol lift berulang-ulang dengan tak sabar. Untung baginya pintu lift terbuka dengan cepat dan ia bisa segera melarikan diri dari tempat itu.

Peyton baru merasa lega saat ia sudah berada di dalam lift. Ia memejamkan matanya berusaha untuk mencari menenangkan jantungnya yang sejak tadi masih berdebar kencang, tapi ia malah terbayang ciumannya dengan Lucas tadi. Ia sapu bibirnya kuat-kuat mencoba menghilangkan sentuhan bibir pria itu yang masih dapat ia rasakan.

Peyton keluar dengan tergesa-gesa saat pintu lift terbuka. Gerakannya yang terburu-buru membuatnya menabrak seseorang di depannya. Ia meminta maaf tanpa memalingkan wajahnya sekalipun dan berlari menuju ke apartemennya. Ia lalu bergegas mengeluarkan kunci pintu dan mencoba membuka pintu dengan gerakan terburu-buru tapi semua itu malah membuat pintu itu tidak juga terbuka. Peyton menarik napas panjang, ia mengumpulkan konsentrasinya dan mencobanya sekali lagi. Usahanya berhasil, ia kemudian memutar kunci dengan sebelah tangannya dan menekan gagangnya dengan tangan lain. Pintu terbuka dan Peyton menutupnya dengan cepat saat ia sudah berasa di baliknya. Tubuhnya ia sandarkan sepenuhnya di pintu. Saat itu benteng pertahanannya hancur. Air mata mengalir deras di kedua pipinya dan ia membiarkan tangisnya pecah tanpa suara. Hari masih sangat pagi dan ia tak mau membangunkan Brooke dan membuatnya cemas dengan tangisannya.

Peyton membiarkan dirinya menangis untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia menghapus air matanya, menegakkan kembali tubuhnya dan berjalan ke kamarnya. Ia kunci pintu kamarnya dan kemudian melempar tubuhnya ke atas ranjang. Hatinya saat ini begitu sakit. Terngiang di benaknya semua tuduhan yang diberikan Lucas padanya tadi dan juga ciuman paksa dari pria itu yang seakan ingin membuktikan bahwa ia memang terobsesi padanya. Peyton membalikkan badannya dan berbaring menyamping, kedua tangannya memeluk bantal dan wajahnya ia benamkan di dalamnya. Ia mencoba untuk melupakan semua itu dari pikirannya, tapi lagi-lagi itu malah membuatnya terbayang akan ciumannya dengan Lucas tadi.

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 14

Post  didar on 23rd July 2009, 12:53 pm

Peyton menegakkan tubuhnya dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk membuang bayangan itu sepenuhnya tapi ia tidak berhasil. Ia lalu memutuskan untuk mandi dengan air dingin. Guyuran air dingin ternyata tidak juga dapat membuatnya melupakan kejadian tadi. Ia merasa putus asa, ia sudah mencoba segala cara yang ia ketahui tapi tak ada satupun berhasil membuatnya lupa. Ia akhirnya menyerah dan mulai mengatur napasnya. Perlahan-lahan ia menaruh semua itu di balik pikirannya. Tak lama setelahnya perasaannya semakin membaik. Kenangan itu tidak lagi menghantuinya dan ia sekarang sudah bisa berpikir tenang.

Untung baginya Brooke baru mencarinya saat dirinya sudah mulai tenang.

“Peyton, apakah kau baik-baik saja?” tanya Brooke dengan suara cemas saat ia mendapati pintu kamarnya terkunci.
“Aku baik-baik saja,” sahut Peyton dari dalam kamar.

Brooke berdiri dengan heran di depan kamar Peyton. Peyton tidak pernah mengunci pintu kamarnya dan ia tidak terdengar baik-baik saja. Suaranya terdengar seperti baru menangis. Brooke akhirnya memutuskan tidak menanyakan apa-apa lagi kepada Peyton karena ia tahu gadis itu pasti sedang berusaha menenangkan hatinya dari peristiwa kemarin.

“Aku akan langsung pergi ke pesta nanti sore dan aku akan pulang sangat malam,” ujar Brooke dengan agak keras ke arah pintu Peyton.

“Okay. Have fun,” sahut Peyton.

“Kau yakin kau akan baik-baik saja di rumah sendiri, aku bisa menemanimu jika kau mau,” ujar Brooke dengan cemas.

“Aku sungguh baik-baik saja, aku hanya memerlukan waktu untuk kuhabiskan sendiri. Kau tahu kadang hanya itu yang bisa membuatku tenang,”

Brooke mengangguk, ia sangat memahami temannya itu

“Baiklah aku pergi dulu. Kalau kau memerlukan aku, kau tahu harus mencariku di mana,” ujarnya sambil berjalan menjauh dari pintu

“Okay,” jawab Peyton. Suaranya sudah terdengar lebih baik sekarang.

Brooke merasa sedikit lebih baik. Ia meninggalkan apartemennya dengan hati riang. Hari ini ia akan menghadiri pesta eksklusif yang hanya boleh dihadiri oleh mereka yang mendapat undangan khusus, pesta kalangan elit yang banyak orang ingin menghadirinya tapi sedikit yang diundang. Pesta itu diadakan oleh seorang pria bernama Kevin Zeggers. Brooke tertawa kecil saat ia menyadari nama pria depan pria itu sama dengan nama pria yang kemarin itu membuat ulah di butiknya dan yang belum lama ini ia lihat dalam bentuk lukisan. Betapa banyaknya pria yang menggunakan nama Kevin, ia setidaknya sudah mengenal 5 lima pria dengan nama itu di dalam hidupnya.

Peyton menghabiskan hari itu dengan merapikan kamarnya. Tak terasa hari sudah menjelang sore saat ia selesai menata ulang letak perabotan di kamarnya, merapikan semua koleksi bukunya dan membereskan baju-baju yang ada di dalam lemari. Selain melukis, beres-beres adalah hal yang biasa ia lakukan untuk membuat dirinya tenang. Ia kemudian mengambil 3 buah mantel yang diberikan oleh Jake baginya dan memeluknya dengan erat. Saat ini ia merindukan Jake, kalau saja ia tidak datang ke New York ia tentu sudah hidup berbahagia dengannya dan semua hal yang terjadi hari ini tidak akan pernah terjadi. Penyesalan menyusup di hatinya dan ia memeluk mantel itu lebih erat. Mata Peyton perlahan terbuka saat tangannya merasakan sesuatu di dalam kantung mantel yang dipegangnya. Ia merogoh kantung itu dan di dalamnya ia menemukan sebuah cincin yang rapi terbungkus oleh plastik. Cincin pertunangan Jake dan dirinya. Cincin kepunyaannya ia simpan baik-baik di dalam wadahnya dan itu berarti cincin yang dipegangnya saat ini adalah cincin kepunyaan Jake. Ia sadar apa artinya itu. Jake sudah melepaskannya. Lebih dari itu Jake sudah melepaskannya sejak kepindahannya ke New York. Hal ini tak urung membuatnya kecewa. Ia tidak mengerti mengapa Jake tidak mengatakan langsung sejak awal dan tega membiarkannya terkatung-katung. Kalau saja ia tidak menemukan cincin itu, ia tidak akan pernah mengetahui hal itu. Untung baginya ia sudah melepaskan Jake sedikit demi sedikit hingga hampir tak ada lagi tempat yang tersisa untuknya di hatinya saat ini. Karena itu saat ini bukan rasa sakit yang memenuhi hatinya tapi rasa penasaran yang sejak awal tidak pernah terjawab dan kini tak terbendung lagi.

Peyton mengambil HP-nya dan menekan nomor Jake. Nomor yang memenuhi daftar telepon keluar di HP-nya selama 2 bulan ini. Ia sungguh berharap Jake kali ini bersedia mengangkatnya. Ia hanya ingin meminta penjelasan darinya walau ia yakin pada saat ia mendengar suara Jake hatinya akan melembut dan ia mungkin tidak akan menanyakan apa-apa. Lama ia menunggu dan tidak juga terdengar suara sahutan dari ujung teleponnya. Peyton menjauhkan teleponnya dari telinganya dan mulai menggerakkan tangannya untuk melipat teleponnya saat ia mendengar suara balasan yang sedang dinantikannya itu.
“Halo,” Suara Jake. Sulit dipercaya olehnya, Jake mengangkat teleponnya. Setelah sekian lama ia mencobanya, Jake akhirnya mengangkat juga teleponnya

“Jake?” tanya Peyton tidak yakin.

“Hai,” sahut pria itu pelan. Suaranya terdengar sangat datar seolah berusaha menutupi semua emosinya.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Peyton dengan lembut. Saat ini ia tidak bisa marah sedikitpun, ia bahagia Jake dalam keadaan baik dan suara Jake dengan cepat membuat hatinya menjadi hangat.

“Aku baik-baik saja,” jawab Jake dengan nada yang tidak juga berubah.

“Baiklah, aku akan meneponmu nanti malam dan kita bisa berbincang sepuasnya,” ujar Peyton. Sekarang masih jam kerja dan Jake pasti sedang berada di bengkelnya. Ia tidak mau mengganggunya.

“Aku akan menikah besok,” ujar Jake dengan cepat. Suaranya terdengar parau seakan ia enggan mengatakan hal itu.
Peyton hampir saja menjatuhkan teleponnya. Ia terdiam sejenak. Pikirannya mendadak kosong. Hatinya terasa hampa.
“Rachel sudah hamil 2 bulan,” Jake berbicara sangat pelan hingga hampir tak terdengar oleh Peyton.

Bergerak dari kehampaan, kini hati Peyton bagaikan disambar petir. Ia melipat teleponnya dengan cepat dan melemparkannya ke atas ranjang. Rasa tak percaya, amarah dan juga kecewa memenuhi hatinya saat itu. Rachel adalah teman dekatnya. Ia belum lagi putus dari Jake 2 bulan yang lalu, itu artinya ia baru saja dikhianati oleh 2 orang terdekatnya dan ia tidak mengetahuinya sedikitpun. Ia memejamkan matanya, ciuman Lucas lagi-lagi terbayang olehnya tapi kali ini ia berhasil menyingkirkannya dengan cepat. Ia mencoba berpikir dengan jernih dan mengambil keputusan dengan cepat.

Peyton bergegas membereskan koper kecilnya dan memasukkan beberapa baju ke dalamnya. Ia akan pulang ke Wilmington sekarang juga, meminta penjelasan dari Jake.

Peyton membuka laci mejanya dan mengambil semua uang yang ia miliki. Matanya menangkap ujung amplop yang diberikan Lucas kemarin dan membuatnya teringat akan pekerjaan yg harus diselesaikannya. Perlahan ia mengambil amplop itu dan membukanya. Isinya terdiri dari sebuah cek sejumlah 25000 dollars. Jumlah yg cukup besar dan Lucas sudah bermurah hati baginya. Peyton merasa tidak enak hati. Ia tidak ingin Lucas mengira ia melarikan diri darinya dan mengabaikan begitu saja tanggung jawabnya. Ia memutuskan untuk menemui Lucas dan memberitahukan padanya ia akan pulang ke Wilmington untuk beberapa waktu. Lucas sebenarnya adalah orang terakhir yang ingin ditemuinya saat itu tapi baginya pekerjaan itu sangat berharga, selain jumlah bayaran yang diterimanya cukup untuk membiayai kehidupannya di New York dalam beberapa waktu, ia juga sangat menyukai pekerjaan itu.

Peyton membereskan kopernya lebih cepat. Ia lalu pergi ke apartemen Lucas.

Rasa gelisah yang sejak tadi ia rasakan semakin bertambah seiring dengan semakin dekatnya lift ke lantai teratas gedung itu. Berulang kali ia menjulurkan telunjuknya untuk menekan tombol yang akan membawanya kembali ke bawah, tapi berulang kali pula ia mengurungkan niatnya. Ia merasa sangat gugup. Ia baru saja melepaskan diri dari pria itu dan sekarang ia mendatanginya lagi. Hal bodoh yang sebenarnya bisa ia hindari. Ia bisa saja menelpon Lucas setelah ia tiba di Wilmington atau bisa saja menghubungi Julian untuk membicarakan hal itu. Semakin berpikir, Peyton semakin yakin ia hanya mencari alasan untuk dapat menemui Lucas lagi

Suara dentingan lift berbunyi. Peyton memandang pintu lift terbuka dengan tegang. Ia melangkah perlahan ke arah pintu yang ada di hadapannya dan memejamkan matanya takut-takut saat ia menekan bel pintu.

Ia menunggu cukup lama sebelum akhirnya terdengar suara engsel pintu bergerak. Lucas berdiri di hadapannya. Raut wajahnya terlihat lelah, mungkin seperti dirinya energinya juga terkuras memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.

Lucas membuka pintu lebar-lebar.

Peyton masuk dengan perasaan berdebar, saat itu firasatnya mengatakan tidak akan mudah baginya untuk keluar dari tempat itu.

Lucas menutup pintu perlahan. Ia kemudian berjalan ke hadapan Peyton dan berdiri di sana, menunggu. Wajahnya terlihat sangat lelah tapi tidak lagi dipenuhi emosi.

“Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku harus kembali ke Wilmington untuk sementara waktu. Setelah aku kembali dari sana nanti aku akan mulai menggambar beberapa sketsa seperti yang kau minta,aku tidak akan lari dari tanggung jawab,” Peyton berbicara dengan cepat dan lancar sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain selain wajah Lucas. Ia tidak berani menatap mata Lucas karena ia tak mau Lucas melihat apa yang terpancar di matanya itu. Keinginannya untuk bertemunya lagi. Ia kemudian menunggu reaksi Lucas, berharap pria itu hanya mengucapkan kata iya dan kemudian membukakan pintu baginya. Tapi ia tidak mendapat reaksi apa-apa. Peyton menunggu cukup lama sambil memandang sepatunya.

Tidak juga terdengar reaksi apa-apa dari Lucas.

Peyton mengangkat kepalanya, memandang mata Lucas dengan cemas, takut ia tidak lagi dapat menahan perasaannya. Perasaan rindu yang perlahan-lahan mulai dirasakan di hatinya. Ia merindukan pria yang baru saja ditemuinya tadi pagi dan memperlakukannya dengan sangat buruk.

Lucas sedang menatapnya lekat-lekat. Mulutnya menutup rapat-rapat, tidak ada tanda ia akan memberikan jawaban apapun. Peyton membalas pandangannya dengan pasrah. Tatapan Lucas perlahan melembut sesaat setelah mata mereka bertemu, seolah itulah yang diperlukan olehnya sejak tadi. Tatapannya semakin melembut dan sesuatu yang belum pernah Peyton lihat sebelumnya kini terpancar di matanya. kilau penuh arti yang sering ia dapatkan dari tatapan Jake ataupun Jensen akhir-akhir ini. Jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat saat ia menyadari hal ini. Lucas menyukainya.

Lucas mendekat ke arah Peyton. Peyton dengan refleks mundur selangkah. Tapi Lucas tidak membiarkannya melangkah mundur lebih jauh, ia ulurkan sebelah tangannya untuk memegang pinggangnya dan menariknya dekat ke arah tubuhnya. Ia lalu meletakkan tangannya yg lain di belakang kepalanya, menahannya agar tidak bergerak. Lucas menundukkan kepalanya dan mencium lembut bibirnya, Peyton berusaha keras untuk tidak membalasnya. Saat ini ia tidak mau melakukan kesalahan yang sama dan menyerah begitu saja. Lucas menyadari hal itu. Ia melonggarkan pelukannya untuk memberi gadis itu sedikit ruang untuk bernapas dan menarik ciumannya. Hanya sejenak dan ia kembali menciumnya dengan lebih lembut. Bibir Peyton sedikit demi sedikit terbuka, membiarkan Lucas menciumnya dan ia hanya perlu diam tak membalas tapi ingatan akan Jake tiba-tiba terlintas di pikirannya. Emosi dengan cepat membakar hatinya dan kali ini sudah begitu kuat hingga memerlukan pelampiasan. Ia pun mengaitkan sebelah tangannya pada punggung Lucas, memegang lehernya dan membalas ciumannya dalam-dalam. Lucas dengan segera memanfaatkan hal itu dan menciumnya semakin dalam. Mereka berdiri di sana melampiaskan apa yang dirasakan di dalam hati mereka masing-masing sepuas-puasnya. Kerinduan. Amarah. Keputusasaan. Hasrat. Tidak ada lagi yang mereka tahan. Dengan cepat semua itu membuat ciuman mereka semakin panas. Hasrat menguasai hati mereka sepenuhnya dan ciuman mereka kini sudah terlalu dalam, mengurung mereka dalam gairah dan mereka tidak mampu lagi keluar dari sana.

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 14

Post  didar on 23rd July 2009, 12:56 pm

Mata Peyton perlahan terbuka saat ia terbangun dari lelapnya. Kesadarannya belum pulih seluruhnya dan rasa asing dengan cepat menyusup ke dalam hatinya. Yang pertama kali dilihatnya adalah langit-langit ruangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tubuhnya terbaring nyaman di atas sebuah ranjang yang dengan peka bergerak mengikuti lekuk tubuhnya. Sekejap kemudian kesadarannya pulih sepenuhnya dan ia menyadari ia belum pernah berada di kamar itu sebelumnya. Ingatannya kembali kepadanya bagai air bah yang dengan cepat membanjiri otaknya. Hatinya tersentak saat ia menyadari ia berada di kamar Lucas dan ranjang tempatnya berbaring saat ini adalah ranjang pria itu. Refleks ia menolehkan kepalanya ke samping kirinya. Lucas berbaring telentang dengan wajah menyamping. Ia masih terlelap.

Peyton memandang Lucas dengan hati miris, mencoba memikirkan mengapa semua itu bisa terjadi. Ia tidak sedang dalam keadaan mabuk saat semua itu bermula, tak ada alasan baginya untuk tiba-tiba jatuh dalam pelukan pria itu dan menyerah padanya begitu saja. Ia memejamkan matanya dengan gemas, menyesali semua itu dan kemudian mengambil keputusan dengan cepat. Ia harus keluar dari kamar ini sekarang juga dan melarikan diri dari pria itu jauh-jauh.

Peyton mencoba untuk bangkit dengan sangat hati-hati, tidak mau gerakannya itu membangunkan Lucas. Selimutnya tersingkap dan ia pun menyadari ia tidak mengenakan apa-apa di baliknya. Wajahnya memerah dalam hitungan sepersekian detik. Cepat-cepat ia menarik selimut itu ke lehernya tinggi-tinggi. Dengan hati-hati ia menggerakan kepalanya ke sisi ranjang untuk mencari bajunya. Bajunya tidak ada di sana atau di manapun di dekat sana. Matanya terpejam kesal tak percaya dengan apa yang sedang menimpanya saat ini. Ingatannya tiba-tiba meninggalkannya dan ia tidak dapat mengingat di mana baju-bajunyai berada. Ia lalu mencoba bangkit sambil berusaha menarik selimut ke arahnya dan membungkus tubuhnya dengannya. Tapi gerakannya dengan cepat terhenti saat ia menyadari betapa buruknya ide itu. Sebagian selimut itu turut menutupi tubuh Lucas dan tarikannya mungkin akan membuat pria itu terbangun. Putus asa, ia memutuskan untuk berbaring kembali, menunggu Lucas bangun. Hal yang menurutnya sangat bodoh, tapi semua hal yang lain pun terlihat bodoh saat ini. Ia tak mungkin berjalan-jalan di rumah itu tanpa memakai sehelai bajupun. Ia menunggu dengan pasrah sampai akhirnya suasana nyaman yang ada di kamar itu membawanya kembali terlelap.

Lucas terbangun dari tidurnya. Berbeda dengan Peyton, ia dengan segera menyadari apa yang baru saja terjadi pada dirinya dan dapat mengingat semuanya itu dengan sangat jelas. Senyumnya perlahan melebar saat ia teringat lagi apa yang terjadi di antara dirinya dan Peyton kemarin malam. Semuanya berlangsung dengan sempurna dan begitu indah. Senyumnya mengembang semakin lebar saat ia membiarkan pikirannya mengulang kembali kejadian itu di kepalanya.Ia kemudian menoleh ke arah Peyton yang saat itu tidur menyamping ke arahnya. Gadis itu terlihat sangat pulas. Lucas menggerakkan badannya dengan hati-hati dan berbaring menyamping. Ia memandang wajah Peyton dalam-dalam, meresapi dan menikmati apa yang meluap di hatinya saat ia melihat wajah gadis itu. Sudah lama ia tidak pernah lagi merasakan kebahagiaan seperti ini, kebahagiaan yang hanya pernah dirasakannya bersama Lauren. Hatinya dengan cepat tersentak, saat itu ia tak seharusnya mengijinkan dirinya membayangkan Lauren. Dengan cepat rasa bersalah mulai merenggut kebahagiaannya dan mengambil alih hatinya sepenuhnya. Ingatannya dipenuhi dengan kenangan akan Lauren. Napasnya kian lama kian sesak. Lucas menegakkan tubuhnya dengan cepat. Ia bergegas bangun dari ranjang dan berjalan menghampiri lemari. Ia lalu mengambil baju di dalamnya dan segera berpakaian.

Lucas keluar dari kamarnya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Peyton. Ini untuk ketiga kalinya ia meninggalkan gadis itu begitu saja. Rasa bersalah yg menghantui dirinya saat ini begitu menyiksanya dan tak dapat ia alihkan sedikitpun.Satu-satunya hal yg diperlukannya saat ini adalah udara segar. Bernapas, hanya itulah yang ia perlukan saat ini.
***

Peyton terbangun dengan posisi tubuh menyamping, tangannya terbentang dengan bebas, begitu pula dengan kakinya, keduanya melebar ke samping ke arah yang sama. Tubuhnya yang sepenuhnya ditutupi oleh selimut terasa sangat nyaman. Rasa nyaman itu begtu familiar seakan sudah pernah ia rasakan tak lama sebelumnya. Perlahan rasa nyaman itu mulai menggelitik dan menuntutnya untuk berpikir. Pikirannya terkumpul satu demi satu sebelum akhirnya ia sadar sepenuhnya. Ia tersentak, menyadari hal itu sudah terjadi padanya 2 kali. Ia segera membuka matanya lebar-lebar, mencari sesosok pria yang tadi yang ada bersamanya tapi kali ini ia tidak mendapatinya. Lucas tidak lagi berbaring di sampingnya. Posisi tidurnya bahkan sudah mendominasi bagian tengah ranjang yang sangat luas itu. Hatinya terasa lega, ia tidak perlu menghadapi Lucas saat itu, tapi perasaan itu tidak berlangsung lama. Ia masih harus menjumpai pria itu nanti saat ia kleuar dari kamarnya. Peyton menegakkan tubuhnya dan mengamati sekelilingnya dengan cepat. Ia masih harus mencari baju-bajunya. Peyton mendesah kesal saat ia tak mendapatkan satu bajupun di lantai karpet itu dan itu artinya ia harus mencarinya di luar. Ia baru saja berdiri dari ranjang sambil membungkus tubuhnya dengan selimut saat ia melihat tumpukan baju di atas meja yang terletak di samping ranjang. Tumpukan baju-bajunya yang terlipat dan tersusun rapi dari ukuran terbesar hingga terkecil. Tadi ia tidak melihatnya karena ia tidak mencarinya ke arah itu. Pipinya merona merah saat terbayang olehnya Lucas mengumpulkan semua baju-bajunya, melipatnya dengan rapi dan meletakkannya di sana.

Peyton menutup wajahnya dengan sebelah tangannya, berusaha mengenyahkan rasa malu yang saat itu menyerangnya. Ia menunggu rasa malu itu menghilang seluruhnya sebelum akhirnya mengulurkan tangannya untuk mengambil bajunya. Sejenak ia ragu dan memandang ke arah pintu dengan cemas. Ia tak dapat membayangkan rasa malu yang harus ditanggungnya kalau Lucas masuk ke kamar itu sekarang saat ia baru saja akan memakai kembali baju-bajunya. Setelah menimbang-nimbang segala kemungkinan yang ada, ia mengenyahkan pikiran itu dan secepat mungkin mengenakan baju-bajunya. Kini ia harus menghadapi pintu itu. Ia lalu berjalan bolak-balik memikirkan strategi yang dapat dilakukannya untuk menghindari Lucas. Tidak hari ini, ia tidak ingin berjumpa muka dengan pria itu hari ini.

Peyton menghela napasnya kuat-kuat dan melangkah ke pintu tanpa ragu. Tangannya sudah hampir menyentuh gagang pintu tapi ia tahan. Ia berhenti sejenak. Akhirnya ia menguatkan hatinya dan menekan gagang pintu itu sekali jadi. Pintu terbuka dan refleks ia memejamkan matanya, ngeri dengan apa yang mungkin ia lihat di hadapannya. Tapi tak terdengar apa-apa olehnya. Hatinya mulai terasa lega.

Peyton menarik pintu sedikit demi sedikit sambil membuka matanya perlahan-lahan. Ruangan di hadapannya itu lengang, tak ada siapapun. Ia lalu melangkah keluar sambil memperhatikan setiap sudut ruangan dengan hati-hati. Tak ada siapapun di sana. Ia keluar dari apartemen itu dengan langkah lebar dan hatinya baru sepenuhnya lega saat ia sudah tiba di dalam lift. Sekarang ia harus mempersiapkan dirinya untuk menghadapi Brooke yang saat ini mungkin sedang sibuk mencarinya. Brooke mungkin tidak menyadari ketidakberadaannya tadi malam, ia pasti lelah dan langsung pergi ke kamarnya setelah pulang dari pesta. Tapi pagi ini Brooke pasti mencarinya dan ia yakin temannya itu pasti heran saat mendapati dirinya tidak juga keluar dari kamar. Brooke kemudian akan mengeceknya di kamarnya dan saat itu ia akan melihat kopernya yang terisi penuh dan isinya tersusun rapi. Sesudah itu Brooke pasti mencoba untuk meneleponnya. Rasa panik akan mulai menyerangnya saat ia mendengar deringnya terdengar dari kamarnya. Ia tak pernah pergi tanpa meninggalkan pesan ataupun pergi tanpa membawa HP di tangannya.

Memikirkan semua itu, Peyton hanya dapat berharap Brooke tidak terlalu panik dan menelepon polisi. Ia sungguh tak terbayang apa yang harus ia katakan pada polisi untuk menjelaskan kepergiannya itu. Ia tidak mungkin mengakui ia baru saja tidur dengan seorang pria yang belum lama dikenalnya dan Brooke melaporkannya hilang karena ia atau siapapun juga tidak mungkin mengira ia berada di rumah Lucas dan menghabiskan waktu yang intim dengannya saat ia baru saja dituduh oleh pria itu sebagai penguntit.

Peyton sungguh tidak mengerti apa yang baru saja terjadi dengan dirinya dan kini ia harus menenangkan Brooke yang mungkin sudah terlalu panik karena ia tidak juga pulang hingga sore. Ia membuka pintu dengan hati-hati. Ia memejamkan matanya dan mendorong pintu itu perlahan-lahan

Tidak ada teriakan penuh kelegaan dari Brooke atau apapun dari dalam. Ia heran. Ia buka matanya perlahan dan mendapati apertemennya itu lengang. Tak ada siapapun. Tak ada perubahan sedikitpun dari kemarin malam. Peyton mengerutkan keningnya, bingung. Ia menutup pintu pelan-pelan dan melangkah masuk ke kamar Brooke. Kosong. Sepertinya Brooke tidak tidur di sana kemarin malam. Ranjangnya sangat rapi dan tidak ada satupun baju bekas tergeletak di dalam keranjang cucian.
Peyton menutup kembali pintu kamar Brooke dan melangkah menuju kamarnya. Ia segera mencari HP-nya dan membuka mailboxnya dan ada sekitar 5 pesan yang masuk di dalamnya. Ia berharap semua itu bukan berasal dari Jake yang meneleponnya.

Pesan pertama berasal dari Brooke yang bunyinya sangat menarik.
“Peyton, kau tidak akan dapat mempercayai apa yang baru saja terjadi padaku sekarang, aku terkurung di dalam suatu ruangan bersama Kevin. Kevin yang kaulukis itu,”

Suara Brooke terhenti sejenak, ia sepertinya sedang berbicara pada seorang pria sambil menutup mikrofonnya. Lalu terdengar suara Brooke berbisik

“Pria itu dulu sungguh mengerikan tapi sekarang tidak lagi,”

Brooke terkekeh lalu ia memutuskan teleponnya.

Pesan kedua juga dari Brooke, pagi tadi.

“ohya, tadi aku lupa. Aku sudah bebas sekarang. Jangan kuatir. Semoga kau belum memanggil polisi. Baterei HP-ku habis kemarin. Aku sekarang sudah berada di butik. Sampai nanti,” Brooke terdengar bahagia, sepertinya ia baru saja menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama Kevin sebelumnya.

Peyton pun tertawa kecil, ia heran di mana Brooke bisa bertemu dengan Kevin dan apa yang terjadi sehingga mereka terjebak di dalam satu ruangan bersama-sama.

Pesan ketiga juga dari Brooke

“Peyton, mengapa kau tidak juga mengangkat teleponmu? Kau baik-baik saja” Nadanya terdengar cemas
Pesan keempat dan kelima juga dari Brooke yang nadanya hampir sama dengan pesannya yang ketiga. Cemas karena ia tidak juga menghubunginya.

Peyton segera menekan nomor Brooke, ia tak boleh menundanya lagi kalau tidak ingin brooke segera pulang dan menanyakan apa yang terjadi dengannya secara detil. Ia tak mau membicarakan hal itu dengan siapapun.

Brooke mengangkat teleponnya segera setelah nada dering yang pertama.

“Peyton, kau tidak apa-apa?” tanya dengan nada sangat cemas sekaligus lega.

“Aku baik-baik saja,” Peyton menjawab sambil tersenyum.

“Kau tahu aku baru saja akan pulang untuk mengecekmu, pikiranku sudah dipenuhi hal buruk,” Suara Brooke terdengar sangat lega

Peyton baru saja hendak mencoba bercanda dengan mengatakan bahwa ia hampir saja menelepon polisi saat tadi ia tak mendapati Brooke di rumah. Tapi kemudian ia menyadari hal itu akan membongkar rahasianya.

“Aku baru bangun. Aku mungkin kurang sehat, karena itu aku tidur terus. Aku baru saja mendengar kelima pesanmu ini,” sahutnya cepat. Ia tidak suka berbohong tapi ia tidak mau Brooke mencurigai yang tidak-tidak.

“Jam segini baru bangun? Sepertinya kau memang sakit. Kalau begitu istirahatlah. Minum air yang banyak dan makan yang banyak, setidaknya biar aku tidak terlihat gemuk di sampingmu,” nada bicara Brooke mulai terdengar normal. Peyton merasa sangat lega. Ia mengiyakan semua itu dan menutup teleponnya.

Ia kemudian mandi dan berendam untuk waktu yang cukup lama di dalam bathtub. Ia memejamkan matanya dan perlahan ingatannya akan semua yang terjadi kemarin pulih seluruhnya. Wajahnya memerah saat kenangan itu kembali kepadanya dengan sangat detil. Semua itu membuatnya ingin mati karena malu. Ia menyerahkan dirinya begitu saja pada Lucas. Apapun alasannya, ia telah melakukan suatu hal yang sangat bodoh dan ia menyesalinya sekarang. Ia menyesal karena Lucas dapat memiliki dirinya dengan begitu mudah dan kebodohannya itu kian membuktikan bahwa ia memang terobsesi pada Lucas. Ia tak dapat membayangkan bagaimana Lucas akan memandangnya sekarang, mungkin ia sudah menganggapnya sebagai wanita murahan.

Peyton mencoba melupakan semua itu dengan melukis, kamarnya sudah terlalu rapi dan tidak perlu ia bereskan lagi. Ia tidak biasanya melukis di dalam rumahnya, tapi ia enggan untuk pergi ke manapun saat ini.

Ia memulai goresan pertama pada lukisannya, berharap hal itu segera membawanya terasing dari pikirannya, tapi hal itu tidak kunjung terjadi. Kuasnya tergores berkali-kali di atas kanvas tapi pikirannya tetap memikirkan hal yang sama. Peyton mengerutkan keningnya, hal itu tak biasanya terjadi. Selama ini melukis dengan cepat membawa pikirannya terasing, seakan ia masuk ke dalam lukisan itu dan dengan bertambahnya goresan pada kanvasnya ia akan masuk semakin dalam. Untung saja tak lama Brooke pulang. Suaranya bahkan sudah terdengar dari sejak pintu terbuka.

“Peyton, apa kau sudah baikan?” tanya Brooke dengan nada kuatir. Peyton tersenyum. ia sangat menghargai kebaikan temannya itu. Ia bangkit berdiri dan keluar dari kamarnya

Brooke melihatnya dengan teliti.

“Kau terlihat sudah jauh lebih baik, itu juga yang kaurasakan bukan?” tanyanya sambil meletakkan tasnya ke atas meja. Peyton mengangguk. Ia kemudian menghampiri Brooke dan memeluknya.

“Terimakasih karena kau selalu mengurus diriku dengan baik,” ujarnya tulus

Brooke menepuk punggungnya

“Itulah gunanya teman dan aku juga mengatakan yang sama padamu. Terimakasih karena kau mengurusku dengan baik di SMU,” balasnya dengan tulus.

Peyton melepaskan pelukannya dan memandang Brooke dengan penuh haru. Brooke tertawa melihatnya
“Sisi sentimentilmu datang lagi ya?” Brooke menanyakan itu sambil melangkah menuju kamarnya. Ia sudah tiba di depan pintu saat Peyton tiba-tiba teringat sesuatu.

“Jangan lupa kau harus ceritakan tentang apa yang terjadi kemarin malam,” teriak Peyton sambil terkekeh geli. Ia yakin ada sesuatu yang terjadi antara Brooke dan Kevin yang pastinya menarik untuk diketahui.

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

catatan penulis

Post  didar on 23rd July 2009, 1:05 pm

duh.. akhirnya gw selesai juga nulis chapter ini.. wakakaka.. muka gw udah merah neh.. wakakaka.. tadinya gw nulis ga sedetil itu.. tapi kalo gw udah ngedit.. maka semuanya jadi detil.. tapi sedetil-detilnya cuma sampe itu kok.. haha.. so yah apa yah ratingnya.. PG deh.. belum M..

okay.. seudah neh gw masih harus nulis bagian yang susah.. udah kebayang mau nulis apa tapi masih jauh dari apa yang udah gw tulis.. yang baru dikit en acak-acakan itu.. so bakal lama lanjutannya keluar.. 3 hari deh semoga selesai.. haha..

en gw harus nulis cerita Brooke en Kevin.. jadi ceritanya kita tau dari flashback pas brooke cerita ama Peyton.. tadinya gw bingung gimana yah caranya ngurung mereka.. tapi sekarang udah kepikir.. wakakak.. en kyknya cerita brooke kevin ga mungkin pendek... cerita lucas peyton juga ga mungkin pendek.. so mungkin bab 15 bakal jadi bab terpanjang.. entah deh.. belum nulis soalnya.. hehe...

apa yang gw suka dari chapter 14.. en gw sampe pengen ketawa sendiri.. ngebayangin kalo misalnya brooke nelepon polisi en peyton harus jawab apa gitu.. gw rasa gw bakal karangin cerita buat Peyton yang kedengaran sama sekali ga masuk akal trus bikin kening tuh polisi ama brooke juga berkerut.. hahaha.. tapi ga sampe ke sana..so ga usah gw buat.. haha..

trus well.. pertemuan berikutnya Lucas en Peyton neh.. kyknya bakal seru.. tapi cerita yang udah gw tulis dulu terlalu datar en cepat.. so harus gw tulis ulang.. bingung neh..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 14

Post  Shan2 on 24th July 2009, 10:22 pm

hahaha... tau nggak ? pas wkt g baca yg peyton mau pulang n ke apartemen lucas dulu itu, terus mrk kiss2an lg. g sampe ngakak. ini drtd kiss2an mulu. wakakkaka...

cuman kalo skr u suruh g milih peyton bakal jd sama lucas ato jensen, g msh pilih jensen. dia kelihatan lbh tulus, kalo lucas sekilas kyk cuma krn napsu belaka gt, kecuali di bab selanjutnya elo perlihatkan kalo dia bener2 suka sama peyton. Tp kalo g seh msh menganggap hubungan yg kyk gini tub bukan cinta, kecuali setelah ini mrk tuh mengalami rintangan dan cobaan bareng dan mrk saling mengerti baru deh g yakin kalo itu cinta.

n g sangat menanti bagian brooke-kevin nih. heheheh... si kevin ngadain pesta, berarti kan dia org kaya, duh... jd penasaran...

btw, rating yg u maksud itu PG ato M apaan sih ? nggak ngerti

terus jdnya tuh kopernya di peyton msh di apartemennya brooke yah ?

wakakaka.. iya kocak jg kalo sampe lapor polisi, tp entar elo bakal repot lagi nulisnya. hehehe

ok2, mana bab selanjutnya ? jangan lama2 dong kalo bs. hehehe

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 14

Post  didar on 25th July 2009, 12:12 am

Haha.. emang yah.. makanya gw bilang ini adalah bab terhot yang gw buat.. yah sejauh ini.. siapa tau ntar gw buat lagi yang kyk gitu.. haha.. tapi kyknya ngga deh.. haha…
PG tuh parental guide
M tuh Mature
Emang Peyton ga bawa koper dia tuh.. yah jelas lah mash ada di apartemen Brooke.. iya tuh.. seru juga kalo brooke sampe lapor polisi.. tapi lebih seru kalo brooke kevin kekurung di satu ruangan… jadi gw bisa mulai meres otak gw buat ngawalin cerita dia..
Brooke ga mungkin kali dapet co miskin.. yup.. kevin tuh kaya..
Gw lagi nulis ini sekarang.. baru mulai ..
Hmm.. hubungan Lucas and Peyton.. yah lumayan seh kompleks… gw rasa emang berawal dari napsu.. Lucas emang kyk gitu… dulu ama lauren gw rasa juga gitu.. sedangkan peyton gw rasa dia cuma pelampiasan.. tapi ga bisa disangkal dia tuh suka ama Lucas karena dia tuh Chad.. haha..
Kalo Jensen emang dari awalnya udah lebih tulus.. makanya gw tulis di pengenalan tokoh .. Peyton harus memilih antara 2 cinta.. tapi cerita ini masih panjang..
Sejauh ini elo lebih milih Jensen ya.. sep-sep..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 14

Post  Shan2 on 25th July 2009, 2:56 pm

g rasa ini PG, elo kan enggak mendeskripsikan dgn detail sekali. hehehe

enggak, abis kan si brooke ga pulang jg, jd yah emng hrsnya ga sampe lapor polisi, kecuali koper peyton ga ada, terus semua brgnya kan ga ada, brooke tlp ke wilmington jg ga ada, baru deh sampe lapor polisi. hehe

iya nih g pensaran pas dia terkurung sm kevin, tp kok dah balik ke butik kyk biasa aja gt

huhuu... g kebayang kalo brooke ktm cowok miskin, pasti diremehin, nah si tom kan tukang bersih2 tuh pas ktm, mknya g rasa pasti kocak bgt. hahaha

iya neh g lg menunggu gmn hubungan leyton berkembang jd cinta

jensen emang msh yg tersweet skr, duh... ga sabar deh nunggu bab penentuan, kira2 g bakal milih siapa yah ?

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 14

Post  didar on 25th July 2009, 6:03 pm

Wakakaka.. selamet deh ratingnya bukan M.. kalo di amrik PG tuh buat anak 13 tahun ke atas tapi kalo di indo buat anak 17 tahun ke atas.. hehe.. so udah lumayan tinggi..

Iya… cerita Lucas-Peyton-Jensen ntar bakal kompleks banget.. tiba-tiba hari ini gw dapat ide lagi.. yang mungkin bikin gw buat ulang ending gw.. puyenk neh..

Perkembangan Lucas-Peyton aja ada perubahan dikit.. ini gw lagi nulis bagian sebelum pesta.. wuihh akhirnya gw nulis juga salah satu jembatan… en tiba-tiba gw kebayang sesuatu tentang Jensen-peyton en gw tulis lagi.. wuihh.. trus beberapa bab sebelum endingnya harus berubah.. haha.. lieur gw sekarang.. FF gw tambah panjang en rumit aja.. wakaka..

Iya bener.. kalo gw sampe bikin Brooke lapor polisi ga mungkin ceritanya kyk gitu.. koper Peyton harus dibawa dll.. en Peyton harus ilang paling sedikit 2 hari seh kalo sampe ditanya-tanya ama polisi..

Gw masih nulis bagian brooke kevin.. sejauh ini lumayan seru bagi gw.. haha.. soalnya yah kadang cerita tuh kyk jalan sendiri.. nah kalo udah kyk gitu gw juga ga gt beban nulisnya..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 14

Post  Shan2 on 26th July 2009, 6:51 pm

iyalah ini mah blm M, kalo M tuh sangat detil sedetil2nya kali yah. hahah

aduh, elo bikin g makin ga sabar nunggu lanjutannya nih... seneng deh elo dapet inspirsi yg banyak n wah.. jd makin panjang, bgs deh..

hehehe...walah... kalau peyton 2hr tuh dia di mana ? di apartemen lucas ? brooke pasti nyari ke sana donk...

ayo donk post lanjutannya ASAP. heheheh

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 14

Post  didar on 26th July 2009, 7:43 pm

haha.. M kyknya belum sedetil itu deh.. masih ada satu tingkat atau 1 tingkat di atas M.. ga tau neh.. tapi gw pernah ke FF luar.. en mereka dibagi lagi ke dalam bbrp kategori.. FF leyton kebanyakan PG loh.. ternyata leytoners masih sopan2.. haha..

iya di amrik tuh paling sedikit harus ilang 2 hari baru polisi mau terlibat.. sebelum dari itu.. ga akan.. kalo peyton harus ilang 2 hari.. gw bingung juga.. so yah ga sampe 2 hari deh...

gw lagi nulis bagian brooke neh lom selesai.. en bener kan bab ini paling panjang.. gw udah nulis 7000 kata... bagian brooke baru sebagian.. bagian leyton udah beres.. en nulis bagian brooke ternyata susah.. ntar kalo bisa gw post malem deh.. subuh tepatnya..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 14

Post  Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum