BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Go down

BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  Shan2 on 19th July 2009, 8:51 pm

Sore itu, tepat saat matahari terbenam, Chun tiba di tempat tujuan. Setelah mengalami berbagai rintangan, dengan pakaian yang lusuh dan wajah penuh debu, Chun menatap tajam ke depan. Memperhatikan bayangan seorang gadis di kejauhan yang bersinar terang akibat cahaya matahari.

Bayangan gadis itu membentuk huruf "P", dengan berdiri tegak lurus dan kedua tangan membuat bulatan ke samping kanan tubuhnya.

Pandangan Chun langsung beralih ke adegan 18 tahun yang lalu. Suasana yang sama persis dengan yang dialaminya saat ini.

Bayangkan seorang gadis kecil membentuk huruf "P" membuat Chun kecil penasaran dan segera menghampiri gadis kecil itu.

Chun kecil memperhatikan gadis kecil itu dari samping. Gadis kecil itu yang masih dalam posisi semula, dengan mata tertutup terus berkata-kata.

"Semoga semua orang di dunia ini bisa bahagia.. Amin" bisik gadis kecil itu.

Saat membuka mata, gadis kecil itu langsung menyadari keberadaan Chun kecil yang sejak tadi hanya berdiri terpaku memperhatikannya. Sebenarnya, Chun kecil adalah anak yang lincah dan periang, ia tidak pernah mengalami kesulitan dalam berteman. Namun trauma saat kecelakaan yang merenggut nyawa papa kesayangannya membuatnya berubah menjadi anak yang pendiam dan lebih sering menyendiri. Karena itu, Chun kecil yang biasanya aktif dan lebih dulu menyapa saat bertemu teman sebayanya hanya diam tanpa kata-kata.

"Hi !" sapa gadis kecil itu saat menoleh ke arah Chun kecil.

Chun kecil yang sejak tadi penasaran dengan tingkah si gadis kecil malah langsung bertanya. "tadi kamu ngapain ?"

Gadis kecil itu terlihat bingung. "Aku ?" kemudian ia kembali membentuk huruf "P" dengan tubuh mungilnya. "oh, begini yah ?"

Chun kecil mengangguk.

Si gadis kecil kembali berdiri tegak dan mendekati Chun. "Aku lagi berdoa"

"Berdoa ?"

Gadis kecil itu mengangguk. "Kalau waktu matahari terbenam, kita membentuk huruf P, terus kita berdoa, nanti doa kita bisa terkabul"

"Kenapa harus huruf P ?"

"Soalnya kata mama huruf P melambangkan kata 'pray'. Pray itu dalam bahasa Inggris artinya berdoa" jelas si gadis kecil.

Tapi tiba-tiba guncangan di pundak Chun membuat lamunannya sirna bersama angin yang terus berhembus.

Chun tersentak, ia langsung menoleh ke samping. Dan sudah berada di sampingnya.

"Gawat, tempat ini benar-benar 'hutan belantara', aku sudah cek, tidak ada telepon umum ataupun wartel di sini. Satu-satunya telepon yang ada di daerah ini ada di hotel dan pemiliknya tidak mengizinkan siapapun menggunakan telepon kalau tidak bayar terlebih dahulu"

Di saat Dan mengeluh, Chun malah sudah berada beberapa meter di depannya samping mencari ke kanan dan ke kiri dengan wajah penuh kecemasan.

"Hei Chun ! Sedang apa kamu ?" teriak Dan.

Chun menoleh ke arah Dan. "Cinderella ! Tadi aku melihat Cinderella"

Suara Chun tertelan suara angin yang berhembus kencang. Dan berlari mendekati Chun dan memastikan kalau ia tidak salah dengar.

"Apa ? Cinderella ?" teriak Dan.

Chun menunjuk ke arah pinggir pantai, tempat ia melihat bayangan seorang gadis yang membentuk huruf "P".

"Tadi aku melihatnya di sana" ucap Chun penuh harapan.

Dan malah tertawa dan langsung menonjok pelan dada kanan Chun. "Dasar, memang mata seorang D'raja tidak bisa dipandang sebelah mata. Dari jarak sejauh itu kamu sudah bisa tahu kalau gadis tadi cantik ya" goda Dan.

"Dan, aku serius" Chun masih dengan wajah cemas.

Dan menghentikan tawanya dan berjalan meninggalkan Chun. "Ikut aku"

Chun mengikuti Dan sambil terus bicara tanpa henti. "Dan, aku serius. Gadis tadi adalah Cinderella. Suasananya sama persis seperti suasana 18 tahun yang lalu, saat aku bertemu dengan Cinderella. Kalau kita bisa menemukannya, kita bisa langsung pulang ke Brunai dan mempertemukannya dengan mama"

Dan menghentikan langkahnya, kemudian menunjuk ke arah sebuah restoran kecil. "Tanya saja sendiri apakah dia Cinderella, aku tahu keadaan di sekitar sini juga karena aku tanya sama dia tadi"

Chun menoleh ke arah restoran yang ditunjuk Dan, ia memperhatikan seorang gadis yang sedang menyapu di seberang sana.

Dan menepuk pundak Chun. "Tunggu apa lagi ? Pergi sana !"

Chun tersenyum, ia langsung berlari mendekati restoran.

Chun berjalan mendekati gadis yang ia anggap Cinderella itu. Tapi saat jaraknya tinggal satu meter dari gadis itu, Chun menghentikan langkahnya dan hanya memperhatikan gadis itu dengan wajah tersenyum. Ia terlihat sangat bahagia.

Si gadis yang sejak tadi diperhatikan Chun malah tidak sadar dan hanya terus melakukan pekerjaannya. Berjalan ke sana kemari, membersihkan meja yang telah ditinggalkan pelanggan dan mengantarkan makanan ke meja pelanggan.

Chun melipat kedua tangannya, dengan wajah yang masih tersenyum, ia berdiri tegak memperhatikan gadis idamannya itu, sampai sebuah gagang kayu mendarat di kepalanya.

Chun yang sejak pagi tadi hanya makan sepotong roti bagaikan prajurit yang pertahanannya runtuh. Ia jatuh tak berdaya.

***

Terdengar suara tetesan air yang makin lama makin membesar. Chun yang sedang berbaring di atas ranjang tiba-tiba terbangun dan langsung melirik ke arah asal suara. Dilihatnya sepasang tangan cantik sedang memeras sebuah kain yang basah.

Chun yang belum sadar sepenuhnya, hanya bisa menatap tangan-tangan cantik itu perlahan-lahan menghampirinya, sampai kemudian ia melihat sesosok wajah cantik berbicara kepadanya.

"Kamu sudah sadar ?" tanya gadis manis itu sambil membersihkan luka di kening Chun.

"Ugh..." Chun merintih kesakitan ketika kain basah itu mengenai lukanya.

Namun gadis manis itu terlihat tenang, ia mengambil sebotol obat merah, kemudian mengoleskannya di atas luka Chun secara perlahan-lahan. "Tahan sedikit, setelah ini tidak akan sakit lagi"

Chun menurut saja dan menahan rasa pedih sambil terus memperhatikan wajah gadis manis itu dengan seksama.

"Cinderella..." ucap Chun pelan.

Raut wajah si gadis yang tadinya tenang berubah menjadi terkejut. "Ng.. ?"

Gadis itu langsung melarikan diri dengan alasan mengambil perban untuk luka Chun. "Setelah diperban nanti lukamu akan baik-baik saja"

Chun berusaha beranjak dari tempat tidurnya.

Gadis itu menoleh ke arah Chun. "Duduklah dulu, setelah aku perban lukamu, kamu sudah bisa pergi"

Chun yang masih penasaran terus memperhatikan tingkah gadis itu. "Cinderella, apa kamu tidak ingat kepadaku ?" tanya Chun pelan.

Gadis itu tersenyum, sambil memasang perban di luka Chun, ia berkata. "Caramu mengejar perempuan boleh juga, tapi cara ini sudah tidak mempan untukku"

Chun terlihat bingung. "Aku tidak pernah mengejar perempuan. Cinderella, apa kamu benar-benar sudah lupa padaku ? Aku Chun" Chun terlihat emosi. "18 tahun lalu kita bertemu di pantai ini. Apa kamu ingat ?"

Selesai memasang perban, gadis itu menghela napas. "Aku jelaskan dulu ya, meskipun sebenarnya tadi aku sudah jelaskan panjang lebar kepada temanmu. Pertama, sejak 18 tahun yang lalu tidak ada yang namanya Cinderella di sini. Baik penduduk tetap maupun turis. Kedua, 18 tahun yang lalu banyak orang yang aku temui, karena memang banyak turis yang datang ke sini, tapi tidak ada satupun yang bernama Chun. Ketiga, kita tidak pernah saling mengenal, jadi tolong jangan bertingkah seolah-olah kita sudah kenal puluhan tahun"

Gadis itu mulai membereskan peralatan pengobatannya.

"Tapi... Jelas-jelas yang membentuk huruf 'P' di pantai tadi kamu kan ?" ucap Chun yakin.

Ariel menoleh. "Pray maksudmu ?"

"Ya. Dan itu yang dilakukan Cinderella saat pertama kali kami bertemu" jelas Chun.

Ariel tertawa. "Jangan konyol. Semua orang yang tahu akan mitos di pantai ini pasti akan melakukannya. Jangankan Cinderellamu itu, nenekku juga bisa melakukannya. Jadi kalau aku melakukan pray bukan berarti aku Cinderella kan ?"

"Apa ?" Chun masih bingung.

"Terserah kalau tidak percaya, maaf aku harus pergi" ucap gadis itu.

Kemudian gadis itu pergi meninggalkan Chun yang masih belum sadar sepenuhnya.

Tak lama kemudian Dan datang menghampiri Chun. Ia menepuk pundak Chun sambil tersenyum.

"Bagaimana ? Sudah jera belum ?" goda Dan.

Chun menoleh. "Aku benar-benar tidak mengerti. Sebenarnya apa yang terjadi ?"

Dan tertawa lepas. "Siapa suruh kamu berdiri di sana sambil senyum-senyum sendiri. Nyonya restoran ini mengira kamu adalah maniak. Makanya langsung dihajar pake sapu"

"Maniak ?!" kata-kata Dan membuat Chun sadar sepenuhnya.

Dan menghela napas panjang sambil geleng-geleng kepala. "Sepertinya Ariel adalah harta karun milik si nyonya restoran, pasti sulit sekali mendekatinya"

"Ariel ?" tanya Chun bingung.

Dan tersenyum nakal. "Jangan bilang kamu belum kenalan dengannya. Kalian di dalam sudah hampir satu jam"

"Hampir satu jam ? Kami cuma berbincang-bincang tidak sampai lima menit. Dia bilang, dia bukan Cinderella" Chun beranjak dari tempat duduknya.

"Memang bukan" jawab Dan pasti.

"Kenapa kamu begitu yakin dia bukan Cinderella ?" tanya Chun penasaran.

"Kenapa kamu begitu yakin dia Cinderella ?" goda Dan.

"Dan aku serius" jawab Chun tegas.

Dan terkekeh. "Tadi aku sempat ngobrol dengan nyonya yang memukulmu, dia bilang sejak dulu tidak ada gadis yang bernama Cinderella di sini. Lagipula, mana ada orangtua yang begitu konyol menamai anaknya Cinderella" jelas Dan.

Chun masih terdiam, ia terlihat sedang berpikir keras. "Tapi, entah kenapa, aku merasa kalau dia adalah Cinderella"

Dan langsung tertawa terbahak-bahak. "Dasar Chun, selama ini aku pikir sense of art-mu kurang karena kamu selalu terpaku terhadap Cinderella, tidak pernah melirik perempuan lain. Tapi kali ini, naluri lelakimu muncul juga ya. Yah, meskipun dengan alasan dia mirip Cinderella, tidak begitu buruk lah"

Chun menatap Dan tajam. "Dan.. " ucap Chun singkat.

"Ok, ok.. " kalau Chun sudah begitu, biasanya Dan tidak berani bercanda lagi.

"Sebaiknya sekarang kita pikirkan cara, bagaimana caranya supaya bisa menghubungi paman John" ucap Chun serius.

Dan terlihat serius. "Sekarang kita tidak punya pilihan lain. Kita tidak punya uang sepeserpun. Jadi yang harus kita lakukan adalah mendapatkan uang untuk makan dan tempat tinggal sampai uang kita cukup untuk telepon ke Brunai. Tapi aku rasa itu memerlukan waktu yang lama"

"Jadi, apa rencanamu selanjutnya ?" tanya Chun.

"Aku rasa, jalan terbaik adalah bekerja di restoran ini untuk sementara. Tadi aku sudah bicara dengan nyonya restoran, dia kelihatan ramah. Kecuali terhadap maniak" Dan menunjuk ke arah Chun sambil tertawa.


Last edited by Shan2 on 17th August 2009, 8:49 pm; edited 1 time in total

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  Shan2 on 19th July 2009, 8:51 pm

*****

Masih dengan pakaian lusuh, jenis pakaian yang tak pernah dipakai seorang D'raja, Chun berjalan pelan mendekati Danson dan seorang wanita setengah baya yang sedang terlibat pembicaraan seru.

Perlahan-lahan Chun dapat mendengar pembicaraan mereka. Pandangannya agak goyang, biar bagaimanapun, ini sudah malam, matahari sudah tenggelam dan bulan sudah bersinar. Sebagai seorang D'raja yang selalu berkecukupan, rupanya tubuh Chun tidak mau diajak kompromi ketika ia mengalami rasa lapar yang luar biasa. Bukan hanya matanya yang tidak mau bekerja dengan baik, bahkan kaki Chun pun mulai lemas. Ditambah lagi luka di kening Chun yang sejak tadi bagaikan ribuan semut yang menjamah kulitnya.

"Gimana Tante ? Hitung-hitung Tante berbuat amal membantu kami yang sedang kesusahan. Kami kan cuma karyawan kecil, menabung bertahun-tahun untuk berlibur, siapa sangka di tengah jalan malah dirampok. Apalagi kami ini sebatang kara, tidak punya sanak saudara lagi. Ayolah Tante, terima kami kerja di sini.. Kami rajin loh, masih muda dan kuat-kuat. Kami bisa kerja apa aja, asal dapat makan, tempat tinggal dan sedikit uang. Nanti setelah uang kami cukup untuk membeli tiket, kami pasti tidak akan menyulitkan Tante lagi" terdengar samar-samar suara Dan sedang merayu seorang wanita setengah baya yang sedang duduk di meja kasir.

Wanita itu tidak terlalu tua, tapi juga tidak muda. Namun dandanannya yang super duper tebal membuatnya terlihat bagaikan seorang wanita tua yang muda.

Wanita itu terlihat senang melihat Dan yang berdiri di sampingnya.

Dengan gaya manja, sang nyonya tersenyum. "Iya deh, ga pa pa kamu kerja di sini. Kamu pintar bicara sih"

Dan tertawa senang. "Nah, gitu dong Tante. Tante emang yang paling baik dan cantik"

Si Tante yang dipuji senang sekali sampai tak bisa berhenti tertawa.

"Terus, temanku kan masih luka tadi Tante, dia juga belum makan dari pagi. Kasihan kan Tante, gimana kalo aku antarkan dia istirahat dan makan dulu ? Tapi di mana tempatnya Tante ?" lanjut Dan.

Raut wajah si Tante yang tadinya bahagia berubah menjadi garang. "Apa ?! Maksud kamu maniak itu ? Kalo kamu kerja di sini, ga pa pa, tapi kalo maniak itu, ga akan pernah !"

Chun yang berdiri beberapa meter di belakang Dan masih belum bisa menguasai keadaan, ia tidak begitu memperhatikan apa yang sedang terjadi, meskipun samar-samar kata "maniak" terdengar di telinganya.

Namun saat Ariel datang dan mulai mendekati Danson dan nyonya restoran, pandangan Chun langsung terfokus kepada gadis itu.

"Aku nggak pa pa kok Tante. Dan dia nggak kelihatan seperti maniak. Dia cuma salah mengenali orang" ucap Ariel tenang.

Dan melirik ke arah Ariel sambil tersenyum. "Tuh Tante, Ariel aja bilang dia bukan maniak kok. Temanku itu orang yang paling baik dan alim loh. Dia sama sekali nggak pernah menggoda perempuan"

Sang Tante melirik ke arah Ariel dengan tatapan yang begitu sabar dan penyayang. "Bener kamu nggak keberatan dia kerja di sini ? Kamu nggak takut ?"

Ariel tersenyum kecil. "Iya nggak pa pa Tante"

Si Tante kembali menoleh ke arah Dan. "Ya udah temen kamu boleh kerja di sini. Tapi jangan berani-berani ganggu anak angkat Tante ya !"

Dan tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. "Sip !" ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Ariel.

Ariel pura-pura tak melihat, namun juga tak dapat menahan senyum kecil di pipinya.

Sedangkan Chun, entah kenapa ia merasa bahagia melihat Ariel tersenyum, meskipun senyum itu bukan miliknya.

*****

Dan bergaya di depan kaca dengan narsisnya. Ia menyisir rambutnya dan membuatnya menjadi beberapa model berbeda, sampai akhirnya ia bosan dan kembali ke model rambut asalnya.

Sementara Chun sedang sibuk merapikan tempat tidurnya. Meskipun sering disebut sebagai "Pangeran Brunai", namun dalam kehidupan sehari-hari, Chun tidak bertingkah seperti seorang pangeran. Ia tumbuh menjadi pria yang mandiri dan patut diandalkan. Ia juga tidak sombong dan tidak pernah meremehkan siapapun yang lebih rendah derajadnya. Karena itu, kegiatan seperti merapikan tempat tidur bukan pengalaman pertama bagi Chun.

Sedangkan Dan yang tumbuh besar bersama Chun lebih cuek dan amburadul. Baginya yang terpenting adalah penampilan, sisanya akan dipikirkan belakangan. Makanya tidak aneh kalau ketika mereka ditempatkan dalam satu kamar, segalanya menjadi berantakan bagi Chun.

"Dan" panggil Chun sambil bertolak pinggang menatap kamar mereka yang bagaikan tempat pembuangan sampah.

Dan yang masih sibuk di depan kaca hanya menjawab. "Hmm... "

Chun mulai berjalan mendekati Dan. Ia sudah mengenakan pakaian kerjanya, sebuah kemeja putih dan celana panjang hitam. Luka di keningnya juga tak lagi diperban, kini hanya selembar plester terlihat menempel di keningnya.

Meskipun terlihat garang terhadap Chun, nyonya restoran, yang kerap kali dipanggil Tante Nina ini rupanya adalah seorang yang baik hati. Selain menyediakan tempat tinggal, memberi makan dan pekerjaan, serta sedikit uang, ia juga membelikan Chun dan Danson beberapa potong pakaian.

"Dan, sebaiknya kamu bereskan tempat tidurmu dulu" ucap Chun ketika tiba di samping Dan.

Dan yang tahu dirinya sedang dalam bahaya, langsung bergegas menyelamatkan diri. Ia melirik jam tangan pemberian Tante Nina dan berteriak histeris. "Wah, sudah jam 8 ! Sebaiknya kita cepat-cepat berangkat kerja sebelum Tante Nina berubah pikiran dan mengusir kita !"

Kemudian Dan langsung berlari ke luar kamar, meninggalkan Chun yang hanya bisa geleng-geleng.

Mereka tinggal tepat di pinggir pantai. Di sebuah pondok kecil yang hanya berisikan sebuah kamar kecil, sebuah toilet kecil dan teras kecil di mana mereka bisa duduk di depan kamar sambil menatap indahnya laut.

Pondok kecil itu memang khusus dibuat untuk tempat tinggal pekerja restoran. Memang tadinya Tante Nina punya seorang bodyguard yang sangat ia andalkan. Tapi sayangnya seminggu yang lalu sang bodyguard pergi berkelana ke luar kota.

Jadi, bisa dibilang Tante Nina menerima Danson dan Chun bukan karena kasihan, tapi memang karena ia sedang membutuhkan orang. Namun kalau harus menggaji dua orang sekaligus, tentunya Tante Nina keberatan. Tapi karena Danson dan Chun tidak meminta banyak, kenapa tidak.

Pondok kecil itu berada hanya beberapa meter dari restoran Tante Nina. Makanya tidak aneh kalau tidak sampai lima menit, Danson dan Chun sudah sampai di depan restoran. Dari luar restoran, Chun melihat Ariel sudah berada di dalam restoran sambil menurunkan bangku-bangku yang tadi diletakkan di atas meja.

Chun langsung berlari masuk dan merebut bangku yang sedang dipegang Ariel. "Ini seharusnya adalah pekerjaan pria. Jadi, biar aku saja yang melakukannya"

Ariel yang tadinya terkejut akan kehadiran Chun langsung melepaskan bangku yang ia pegang dan berjalan menjauhi Chun. "Baik, pekerjaan di sini aku serahkan padamu" ucap Ariel yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Chun.

Terdengar Danson yang berada beberapa meter di belakang Chun sedang bersiul bahagia. Chun menoleh ke belakang dan sudah melihat Dan sedang mengepel lantai maju dan mundur.

Chun bertanya-tanya, darimana Dan dapatkan tongkat pel dan ember itu ? Entah kenapa Dan selalu lebih dulu bisa beradaptasi dengan lingkungan daripada dirinya. Tapi, justru hal itulah yang membuat Chun merasa nyaman bersama Dan. Ia punya seseorang yang bisa ia andalkan setiap saat.

Tanpa terasa, Chun tersenyum melihat tingkah Dan.

"Hei Chun ! Sebaiknya kamu hilangkan kebiasaannya tertawa-tawa sendiri seperti itu, atau tongkat pel bisa kembali mendarat di kepalamu" ucap Dan sambil mengacungkan tongkat pel ke arah Chun.

*****

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  Shan2 on 19th July 2009, 8:51 pm

Sebuah kain lap meluncur ke kanan dan ke kiri di atas belahan sebuah meja. Tangan kanan Chun mengendalikan kain lap itu untuk membersihkan meja yang sudah lebih dari 15 menit ia bersihkan. Sementara wajahnya terus menatap ke depan, tak sekalipun menoleh ke arah meja yang sedang ia bersihkan. Pandangannya kosong. Jelas sekali meski tubuh Chun bekerja, hatinya tak di sana.

Hari ini memang hari pertamanya bekerja sebagai pelayan restoran. Dan profesi itu, sejak dulu tak pernah masuk dalam daftar cita-cita Chun. Tapi bukan berarti Chun tak berbakat menjadi pelayan restoran.

Biar bagaimana pun, Chun adalah General Manager D'raja Group. Ia tahu betul bagaimana cara menghadapi klien. Dan hal itu tak beda jauh dengan cara menghadapi pelanggan yang datang ke restoran, bahkan lebih mudah.

Satu-satunya kesulitan Chun adalah ia tidak tahu apa kebiasaan para pelanggan, dan itu membuatnya bingung. Ada yang datang dan langsung berkata "biasa" kepadanya.

Chun benar-benar tak mengerti apa maksudnya, sampai Ariel membantunya mengendalikan keadaan. Entah kenapa, meski Ariel selalu menghindari Chun, namun diam-diam, sedikit banyak Ariel selalu membantu Chun. Meski ia tidak tahu apakah Ariel adalah Cinderella yang sesungguhnya ataupun tidak sengaja membantunya, tapi yang pasti, di mata Chun, Ariel sudah dipandang positif dan ia sangat menyukai sikap Ariel itu.

Chun jadi berpikir, apakah seperti inilah kehidupan Ariel setiap harinya. Setiap pagi datang ke restoran dan setelah hari gelap, pulang ke rumah untuk istirahat.

Bagi Chun kehidupan seperti ini benar-benar tidak menarik. Mayoritas pelanggan yang datang ke restoran adalah warga setempat, dan itupun tidak banyak. Kalau mau dihitung, sejak pagi tadi sampai sore ini hanya ada sekitar sepuluh orang pelanggan. Delapan di antara mereka adalah warga setempat dan sisanya tentu saja turis.

Chun benar-benar tak habis pikir. Kenapa pantai yang menyimpan banyak kenangan yang tak dapat ia lupakan sudah berubah menjadi seperti ini. Deru ombak dan semilir angin yang bertiup memang masih murni seperti dulu, tapi ke mana para turis itu ? Kenapa mereka tidak kelihatan ? Atau bisa dibilang, kenapa tidak ada turis yang mau datang ke sini ?

Suasananya benar-benar berbeda dengan suasana yang ia temui 18 tahun yang lalu. Waktu itu, pantai ini sangat ramai. Para turis berlomba-lomba datang ke pantai ini. Tapi bagaimana sekarang ? Benar-benar tidak seperti tempat pariwisata.

Makanya, Chun benar-benar bingung. Apa Ariel tidak merasa bosan ? Setiap hari pergi ke tempat yang sama, bertemu dengan orang yang sama dan menyuguhkan makanan yang sama pula. Benar-benar membosankan.

Namun saat Chun menoleh ke samping kanan, tepatnya ke arah luar restoran, ia melihat senyum bahagia Dan perlahan-lahan menghampirinya, dan menurut Chun hal itu lebih aneh daripada semua hal yang telah ia pikirkan tadi. Dan itu mudah bosan, dan lagi, ia tidak menyukai pantai. Kalau saja bukan untuk mencari Cinderella Dan pasti tidak bersedia menemaninya ke pantai. Apapun alasannya.

Tapi coba lihat sekarang, pantangan Dan itu bagai tak pernah ada. Dia benar-benar terlihat senang.

"Ada apa Dan ? Kamu kok senang sekali" ucap Chun saat Dan sampai di depannya.

Dan melipat kedua tangannya, ia terlihat bahagia. "Kamu pasti tidak akan bisa menebak apa yang akan aku katakan"

Chun berpikir sejenak, namun sesaat kemudian senyumnya mengembang. "Pasti nona besar Vania sudah datang ya"

"Huss !!" Dan langsung berubah menjadi serius. "Kalau dia sampai datang, matilah aku"

Chun tertawa. "Tidak sampai mati kok, Vania kan cinta padamu"

Dan memasang wajah menyedihkan. "Iya, tapi cintanya membunuhku..." sesaat kemudian wajahnya berubah menjadi serius dan ia mulai berbicara setengah berbisik "... dan yang mati bukan cuma aku. Ingat, kalau dia datang, aku tidak bisa lagi menjilat si tante genit. Dan lama-lama, kita berdua akan diusir dari sini"

Chun ikut berbisik. "Kita tidak akan diusir hanya karena kamu tak bisa menjilat tante genit lagi"

"Bukan karena itu kita diusir, tapi karena Vania akan bertengkar dengan tante genit" Dan menjawab bisikan Chun sambil tertawa.

Tawa Chun pun lepas dan mereka berdua pun tak tahan untuk tidak tertawa. Dalam benak keduanya sudah terbayang adegan yang mereka takutkan itu, dan hal itu membuat mereka geli.

"Hei Chun, dasar bodoh ! Gara-gara kamu aku jadi tak bisa berhenti tertawa..." Dan masih setengah tertawa. "...padahal tadi aku mau bilang padamu kalau sudah menemukan Cinderella"

Chun yang tadinya masih tertawa langsung berubah menjadi serius dalam sekejap. "Apa ? Di mana dia ?" Chun mengguncang kedua bahu Dan.

Kedua tangan Dan menangkis kedua tangan Chun sehingga tangan-tangan Chun tak lagi memegang pundaknya.

"Tenang Chun. Kalau orang lain lihat kita begini, mereka akan mengira kita gay. Nanti Cinderella juga tidak akan mau denganmu" ucap Dan sambil tertawa.

Wajah Chun yang serius sama sekali tidak berubah. "Dan, aku tak punya waktu main-main lagi. Kita harus segera menemukan Cinderella atau aku harus menikah dengan Vania"

Dan nyengir. "Ok, ok. Aku nyerah. Meski Vania kurang bisa mengendalikan emosinya, dia tetep perempuan paling manis dalam hatiku.. Tapi sebelum aku bertemu Ariel"

Chun hanya diam menatap Dan tajam sama sekali tak bicara.

Dan tertawa. "Ok, silahkan bertemu dengan Cinderellamu. Dia ada di tepi pantai" ucap Dan sambil menggerakkan kepalanya ke arah pantai.

Chun langsung berlari menuju pantai. Dan ia berhenti tepat setelah ia melihat sebaris "Cinderella kecil" sedang melakukan "pray".

"Jadi benar apa yang dikatakan Ariel, semua orang yang tahu tentang mitos pantai ini pasti akan melakukan pray" ucap Chun dalam hati.

"Wuah.. Kok Cinderellanya jadi banyak sekali ?" ujar Dan yang baru datang. "Tadi waktu aku lihat cuma ada satu loh !"

Chun menoleh ke arah Dan dengan muka datar. "Tidak lucu" ucap Chun dingin.

"Bener loh, tadi cuma ada satu" ucap Dan sambil memperhatikan barisan Cinderella kecil yang kini membuat sebuah "kereta kecil" dengan dituntun oleh seorang perempuan sambil perlahan-lahan masuk ke dalam restoran.

Terdengar samar-samar obrolan para "Cinderella kecil" saat melewati Chun dan Danson yang sedang memperhatikan mereka.

"Tadi kamu berdoa apa ?" tanya sebuah suara kecil.

"Aku berdoa supaya mama dan papa ga perlu kerja lagi, jadi bisa nemenin aku tiap hari" jawab suara kecil lain.

Mendengar suara-suara kecil itu, tanpa terasa Chun tersenyum. Tapi tiba-tiba senyumnya sirna saat ia mendengar suara tawa Dan.

"hahaha.. Ternyata itu anak-anak SD yang lagi rekreasi" tawa Dan tanpa rasa bersalah.

Chun merasa kesal dan langsung menginjak kaki kiri Dan, kemudian pergi mengejar barisan "Cinderella kecil" yang sedang berjalan menuju restoran.

Sedangkan Dan, masih berada di posisinya sambil memegangi kaki kirinya. "Dasar Chun, kalau kesal juga tak perlu menginjak sekuat ini. Sakit tahu !" ucap Dan sambil menggosok-gosok kaki kirinya yang mulai berwarna kemerahan.

Dari depan pintu restoran, Chun bisa melihat Ariel yang berjalan tergesa-gesa menuju pintu keluar. Saking terburu-burunya, Ariel tak sadar kalau gantungan kunci yang ia kaitkan di tasnya jatuh. Seorang anak perempuan memungutnya dan memanggil Ariel.

"Kakak !" panggil anak manis itu.

Ariel tidak menoleh, ia masih berjalan menuju pintu keluar. Suara anak manis itu seakan ditelan oleh suara teman-temannya yang sedang bercerita satu sama lain.

"Kakak yang berambut panjang, gantungan kuncinya jatuh" ucap anak manis itu.

Serasa ada yang memanggil, Ariel pun menoleh dan mendapati seorang anak perempuan sedang memegang gantungan kuncinya. Ia segera menghampiri adik kecil itu dan berjongkok di depannya.

"Kakak cantik, gantungan kuncinya jatuh" ucap gadis kecil itu sambil menyerahkan gantungan kunci itu ke tangan Ariel.

Ariel tersenyum. "Terima kasih adik kecil" Ariel menerima gantungan kuncinya. "Nama kamu siapa ?"

"Helen" jawab gadis kecil itu sambil tersenyum.

"Kakak, gantungan kunci ini bagus sekali. Apa ada ceritanya ? Kata Bu Guru semua yang ada di pantai ini ada ceritanya" tanya gadis kecil itu polos.

Ariel membelai gadis manis itu. "Helen pintar sekali, gantungan kunci ini memang ada ceritanya. Helen mau tahu ceritanya ?"

Si gadis kecil mengangguk senang.

Sesaat, sang guru menoleh ke arah Ariel dan si gadis kecil. Ia segera menenangkan anak-anak dan meminta mereka untuk mendengarkan Ariel.

Perubahan suasana membuat Chun yang sejak tadi memperhatikan Ariel makin menyimak pembicaraan mereka. Sambil melipat tangannya, Chun tersenyum melihat pemandangan indah itu. Dan meski ia tidak bisa melihat bentuk gantungan kunci yang dipegang Ariel karena posisi berdirinya agak jauh, ia tetap sama penasarannya dengan gadis kecil yang menemukan gantungan kunci Ariel.

"Di jaman dahulu kala ada seorang gadis cantik nan baik hati bernama Cinderella. Cinderella hidup bahagia dengan mama dan papanya sampai suatu hari mama Cinderella meninggal. Papa Cinderella yang merasa khawatir meninggalkan Cinderella sendirian karena sering berbisnis di luar kota, mencarikan Cinderella seorang mama baru, berharap sang istri baru bisa menggantikan posisi mama Cinderella dan menjaganya saat ia pergi. Namun siapa sangka.... " ucap Ariel membuka cerita.

Kata-kata Ariel dalam sekejap langsung membawa Chun masuk ke dalam kenangan 18 tahun yang lalu.

Terlihat seorang gadis kecil nan manis sedang duduk di samping Chun kecil sambil bercerita. "Akhirnya pangeran dan Cinderella pun hidup bahagia"

Keduanya sedang duduk di tepi pantai sambil menikmati deru angin malam. Baik Cinderella kecil maupun Chun kecil keduanya memakai mantel tebal, sehingga meskipun angin malam itu cukup kencang, mereka tetap merasa hangat dan terlihat sangat imut.

Chun kecil memperhatikan gadis kecil itu dengan seksama. "Artinya, kita harus tetap hidup bahagia agar orang-orang yang kita sayang di atas sana ikut bahagia"

Gadis kecil itu mengangguk. "Cinderella tetap hidup bahagia meskipun ibu tirinya jahat sama dia"

Lagi-lagi lamunan Chun sirna akibat tepukan Dan. "Hei Chun ! Jangan melamun terus.. " ucap Dan yang sudah berdiri di belakangnya.

Begitu sadar ia tak lagi berada di suasana 18 tahun yang lalu. Chun langsung menoleh ke arah Ariel. Namun Ariel sudah tidak ada.

"Di mana Ariel ?" tanya Chun kepada Dan.

"Baru aja pergi. Dia bilang neneknya sakit, jadi dia.. " belum sempat Dan menyelesaikan kata-katanya, Chun sudah berlari mengejar Ariel yang masih terlihat beberapa puluh meter di depannya.

*****

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  Shan2 on 19th July 2009, 8:52 pm

Ariel yang sedang berjalan tergesa-gesa tersentak kaget ketika sebuah tangan menghadangnya dari samping.

Teriakannya tertahan ketika ia melihat Chun. Ia langsung melepas napasnya yang tertahan sambil mengurut dadanya. "Oh, ternyata kamu Chun. Bikin kaget saja"

Chun memperhatikan Ariel dalam. "Aku masih tidak mengerti apa kesalahanku hingga kamu tidak mau mengakui kalau kamu adalah Cinderella"

Begitu mendengar kata-kata Chun, Ariel langsung menghela napas. "Aku pikir kemarin sudah aku jelaskan dengan sangat jelas. Jadi tidak ada lagi yang perlu dibicarakan lagi"

Ariel mengepit tasnya, kemudian berjalan menjauhi Chun.

Chun mengejar dan tetap berjalan di samping Ariel. "Tapi kenapa Cinderella ? Kenapa kamu tak mau mengaku ?"

Ariel menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Chun. "Aku bukan Cinderella, jadi tolong.. Jangan panggil aku Cinderella. Panggil aku Ariel atau kita tidak bisa jadi teman sekalipun"

Ariel terlihat serius. Begitu serius sampai membuat Chun kehabisan kata-kata. Chun masih berdiri terpaku saat Ariel sudah berjalan beberapa meter di depannya. Namun saat Chun sudah mau menyerah, ia berbalik, memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya. Dan saat itu lah ia menyentuh gantungan kunci sepatu kaca yang ada dalam kantong celananya. Ya, Chun memang membawa gantungan kunci itu ke mana pun dan kapanpun juga. Gantungan kunci itu benar-benar tak bisa lepas dari dirinya.

Tepat saat ia menyentuh gantungan kunci itu, pikirannya langsung mengalami flashback. Ia melihat kembali adegan pada saat gadis kecil bernama Helen memanggil Ariel dan mengatakan kalau gantungan kuncinya jatuh.

"Gantungan kunci ! Ya. Gantungan kunci sepatu kaca-kah milik Ariel ? Kalau bukan, kenapa ia harus bercerita tentang Cinderella ?" batin Chun berpikir cepat, sehingga saat ia sadar Ariel sudah mulai jauh, ia langsung mengejarnya kembali.

"Ariel !" panggil Chun sambil terengah-engah.

Kali ini, sebelum Chun sampai di depan Ariel, gadis cantik itu sudah lebih dulu menghentikan langkahnya, dan menoleh ke belakang sambil tersenyum. "Begitu lebih baik"

Chun menghentikan larinya saat ia sampai di depan Ariel. Setelah mengambil napas panjang, ia mulai bicara.

"Kalau kamu memang ingin dipanggil Ariel, aku akan panggil kamu Ariel. Bagiku, nama hanyalah sebuah sebutan, yang terpenting bagiku, adalah orang yang telah menemaniku melewati suka dan duka bersamaku. Aku sangat berharap bisa bertemu dengannya lagi. Karena itu, tolong biarkan aku memperjelas satu hal. Kalau kamu memang bukan dia, aku pasti tak akan mengganggumu lagi. Aku janji. Ini adalah yang terakhir" ucap Chun pelan.

Ariel terlihat bingung, ia tidak tahu apa maksud Chun berkata begitu.

"Apa boleh aku melihat gantungan kuncimu ?" tanya Chun polos.

"Untuk apa ?" tanya Ariel curiga.

"Gantungan kunci itu bisa membuktikan apakah kamu adalah gadis yang selama ini aku cari-cari atau bukan" jelas Chun.

Ariel tersenyum. "Oh, itu ? Tapi tadi sempat copot" ucap Ariel sambil mengeluarkan gantungan kunci sepatu kaca dari tasnya.

Pada saat melihat gantungan kunci sepatu kaca itu, bola mata Chun membesar. Dengan sigap ia langsung mengeluarkan gantungan kunci sepatu kaca miliknya dan mencocokkannya dengan punya Ariel.

Chun memperhatikan cepat sepasang sepatu kaca mini itu. Yang satu sebelah kanan dan yang satu sebelah kiri.

"PAS !!" batin Chun berteriak.

Baru saja Chun mau bicara, dengan cepat Ariel sudah memasukkan kembali gantungan kunci miliknya ke dalam tas. "Sudah ya, aku tidak ada waktu lagi" ucap Ariel sambil berbalik.

Chun langsung menghadang Ariel. "Tunggu ! Bukankah gantungan kunci itu cocok ? Itu artinya kamu adalah Cinderella yang aku temui 18 tahun yang lalu. Karena gantungan kunci punyaku adalah pemberiannya"

Ariel langsung tertawa. "Apa yang ini pun harus aku jelaskan ?" Ariel menghela napas dalam. "Sudahlah, ayo ikut aku, biar masalahnya tuntas"

Ariel berjalan berlawanan arah dengan arah sebelumnya dan memberi kode kepada Chun untuk mengikutinya.

*****

Chun berhenti beberapa meter di belakang Ariel. Ariel sedang berjalan menuju pintu masuk sebuah toko, tepatnya.. sebuah gerbang istana mini. Ya, gedung itu benar-benar mirip istana dalam negeri dongeng. Selain mempunyai atap yang super panjang dan lancip bagai kerucut, gedung itu juga berwarna khas negeri dongeng, warnanya perpaduan antara warna putih, merah muda dan biru muda.

Saat Chun membaca papan nama bertuliskan "Fairytale Castle" yang terpampang di atas pintu gerbang mini gedung itu, barulah pertanyaan dalam hatinya terjawab. Ternyata gedung ini memang sengaja diciptakan mirip dengan istana dalam dongeng.

"Sungguh kreatif" pikir Chun. "Andai di D'raja Group ada orang yang sekreatif pembuat gedung ini".

Sesaat Chun baru sadar kalau ternyata ia sudah rindu dengan D'raja Group yang baru ia tinggalkan kemarin. Padahal, ia sendiri yang membuat perjanjian dengan mamanya agar dapat cuti dari D'raja Group untuk sementara waktu. Bagaimana pun, selain Cinderella, D'raja Group adalah hidup Chun dan tak bisa dipisahkan darinya.

Chun berdiri terpaku di sana, matanya masih memperhatikan istana mini di hadapannya, sampai sebuah suara memecahkan lamunannya.

"Chun.. " panggil Ariel. Kepala Ariel melongok dari dalam toko, sedangkan tubuh imutnya tertutup oleh pintu yang masih setengah terbuka. "Ayo cepat, aku tidak punya waktu lagi" ujarnya tak sabar.

Chun pun berlari masuk ke dalam toko. Dan alangkah terkejutnya Chun ketika ia sadar ia sudah berada di negri dongeng. Ternyata bukan hanya penampilan luar gedung itu yang memancarkan nuansa dongeng. Justru design interiornya lebih-lebih mencerminkan negeri dongeng.

Di setiap sudut ruangan, terpampang lukisan-lukisan klasik yang akan kita temui kalau kita memasuki istana dalam dongeng. Belum lagi lilin-lilin khas negeri dongeng yang terbagi di sepanjang sudut ruangan. Bukan cuma itu, tangga besar yang melintang luas dengan dikelilingi oleh cahaya lilin putih di setiap sudutnya sungguh membuat orang kagum saat melihatnya.

Di bagian kiri dalam, terdapat dua deret lemari kaca berisikan bunga mawar yang dikemas dalam sebuat kotak kaca yang sudah dibungkus rapi dengan plastik bening yang diikat dengan tali emas.

Chun tersenyum tipis. "Beauty and The Beast" serunya dalam hati.

Lalu, perhatian Chun beralih ke dua deret lemari yang berada di sebelah kirinya, beberapa meter di depan pintu keluar dan beberapa meter dari posisinya berdiri. Dua deret lemari itu masing-masing berisikan kereta labu yang dibuat dari kawat tebal berbentuk emas, serta sebuah cermin yang dibuat dari bahan yang gaya. Kedua benda yang sengaja dibuat bagaikan siluet membuatnya tampak lebih elegan dan bernilai sebagai sebuah pajangan. Dan tentu saja bagi Chun sekalipun, kedua benda ini layak dibeli untuk dipajang di kamar atau ruang kerjanya. Karena, meski Chun bukan seorang kolektor, namun ia suka benda-benda unik. Apalagi, dalam sekali lihat, ia sudah tau kalau kedua benda itu adalah "Kereta labu Cinderella" dan "Cermin Ajaib" dari dongeng Putri Salju.

Mungkin orang-orang akan merasa aneh kalau tahu bahwa Chun, sang pangerang Brunei adalah salah seorang pecinta dongeng. Bahkan Chun pun merasa bingung, sejak perpisahannya dengan Cinderella 18 tahun yang lalu, Chun memang jadi sering mencari tahu tentang dongeng-dongeng lain selain Cinderella. Karena, Chun kecil yang masih polos waktu mengira, kalau ia bisa menemukan dongeng lain yang menceritakan tentang pertemuan sang pangerang dan Cinderella dalam versi lain, mungkin ia bisa mempercepat pertemuannya dengan Cinderella kecil, tanpa harus menunggu pesta yang diprediksikan akan mempertemukan kembali Chun dan Cinderella saat mereka dewasa.

Belum selesai Chun mengagumi design bangunan itu, Ariel sudah berada di hadapannya sambil memegang seikat gantungan kunci sepatu kaca dan mengacungkannya beberap senti di depan hidung Chun.

"Toko ini sudah menjual lebih dari ratusan ribu pasang gantungan kunci sepatu kaca. Ini memang salah satu karya andalan toko ini, karena itu, lebih dari sembilan puluh persen penduduk pantai ini memiliki gantungan kunci ini. Jadi, kalau menurutmu Cinderella yang kamu cari itu adalah seseorang yang memiliki gantungan kunci sepatu kaca, kalau begitu, sembilan puluh persen penduduk pantai ini adalah Cinderella, termasuk gadis penjaga toko itu" Ariel menggoyangkan kepalanya ke arah seorang gadis dengan berat badan berlebih yang sedang tersipu malu menatap Chun.

Ariel berjalan menuju gadis itu dan menyerahkan seikat gantungan kunci yang ia pinjam tadi, gadis itu tersenyum kepada Ariel sambil sesekali menatap Chun.

Kemudian Ariel menghampiri Chun dan berbisik kepadanya. "Gadis penjaga toko ini bernama Pretty, dan dia sudah sejak lama menantikan pangeran menjemputnya. Aku rasa, dia adalah Cinderella yang kamu cari"

Mendengar bisikan Ariel, Chun bagai terhipnotis. Ia menatap gadis bernama Pretty itu dengan seksama. Benarkah ia adalah Cinderella ?

Setelah berbisik kepada Chun, Ariel langsung berjalan menuju pintu keluar sambil berteriak. "Aku pergi dulu ! Nikmati pertemuanmu dengan Cinderella" seru Ariel tanpa menoleh ke belakang sekalipun.

Saat Chun sadar dan menoleh ke arah pintu, Ariel sudah lenyap, yang masih terlihat hanyalah pintu yang tertutup rapat. Dan sesaat kemudian, sesosok gadis dengan wajah tujuh senti lebih lebar daripada wajah Chun, muncul di hadapannya.

"Halo tampan" ucap gadis itu sambil mencolek dagu Chun.

Chun tersentak kaget dan agak ketakutan. Selama ini, tak pernah ada wanita manapun yang berani menyentuh wajah Chun tanpa ijinnya. Saat itu juga Chun menyesal telah berjanji tidak akan memakai identitas aslinya dalam mencari Cinderella. Kalau saja gadis ini muncul saat Chun masih menjadi pangeran Brunai, mungkin ia sudah digotong oleh lima orang satpam ditambah dua orang bodyguard pengawas. Tapi, saat ini yang ada di hadapan gadis ini hanya Chun, tanpa embel-embel apapun. Jadi, apa yang harus Chun lakukan ?

Chun meringis ketakutan dan kemudian berteriak. "Dan !! Help me !!!"


Last edited by Shan2 on 19th July 2009, 8:56 pm; edited 1 time in total

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  Shan2 on 19th July 2009, 8:53 pm

Sementara itu, bagai mendapat pertanda, Dan yang sedang berlari sana sini melayani sekumpulan setan kecil yang sejak tadi membajak restoran tempatnya bekerja, tanpa sengaja terjatuh akibat celananya ditarik oleh salah seorang anak laki-laki yang kemudian tertawa terbahak-bahak saat melihat Dan tergeletak tak berdaya di atas lantai. Untungnya saat jatuh, Dan tidak sedang membawa makanan, tapi sedang akan membersikan meja, kalau tidak wajah yang selama ini ia banggakan itu bisa lecet akibat pecahan piring.

Suara tawa yang memenuhi ruangan langsung membuat Dan bangun dan dengan menyeringai lebar, ia mengejar anak laki-laki yang membuatnya jatuh itu. Sedangkan si target dengan sigap langsung melarikan diri dari incaran Dan.

Seisi ruangan, termasuk sang guru tertawa terbahak-bahak. Suara tawa yang cukup keras sampai membuat sang koki, seorang pria setengah baya yang masih mengenakan celemek dan tante Nina yang sejak tadi sibuk ngobrol di dalam keluar dan ikut menikmati keceriaan dalam ruangan itu.

"Sudah lama sekali restoran ini tidak pernah dipenuhi tawa seperti ini" ucap sang koki.

Seperti terharu, mata tante Nina langsung berkaca-kaca, namun wajahnya malah memancarkan senyum bahagia. Ia mengangguk pelan menahan air matanya yang hampir saja menetes.

Tapi, apa yang terjadi ? Suasana kejar-kejaran kini berubah menjadi lebih kacau. Tembok-tembok restoran yang tadinya bersih terawat, berubah menjadi penuh noda akibat perang makanan antara Dan dengan setan-setan kecil yang kini menyerangnya habis-habisan.

Sang guru mencoba menghentikan kejadian itu, tapi tampaknya anak-anak terlalu bersemangat sehingga sulit dicegah.

Perasaan haru tante Nina dalam sekejap berubah menjadi rasa marah, ia langsung menghampiri kerumunan pengacau dan berterik. "Stop !!"

Suara tante Nina yang menggelegar bagaikan suara petir bagi anak-anak. Mereka segera menghentikan kegiatan mereka dan bersembunyi di belakang guru mereka. Sedangkan sang guru hanya bisa memasang wajah pasrah.

*****

Chun berjalan menuju restoran sambil menundukkan kepalanya. Kedua tangan Chun bersembunyi di dalam saku celananya. Jarak Fairytale Castle dengan restoran tante Nina memang tidak jauh, dan sepertinya tempat-tempat di pantai ini memang hanya berjarak puluhan meter. Karena itu, meski Chun baru satu malam tinggal di sana, tidak ada alasan baginya untuk tersesat dalam perjalanan pulang ke restoran.

Sambil menggerak-gerakkan gantungan kunci sepatu kaca dalam saku celananya, Chun berpikir. Kalau memang toko itu sudah lama ada, kenapa ia baru tahu waktu Ariel membawanya ke sana ? 18 tahun yang lalu, ia sama sekali tidak tahu kalau toko itu ada. Dan ternyata, Pretty itu tidak sebegitu mengerikan seperti yang Chun kira. Sebaliknya, dia adalah gadis yang ramah, dan lagi ia juga punya kisah yang sama seperti Chun dan Cinderella kecil. Sayangnya, pangeran Pretty tak kunjung datang.

Tanpa terasa Chun sudah berada di depan pintu restoran, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat keadaan restoran saat itu. Semuanya berantakan, mulai dari meja, kursi, sampai dinding-dinding restoran pun penuh dengan noda bekas cipratan makanan.

Apa yang terjadi ketika ia pergi tadi ?

Chun memperhatikan sekeliling ruangan dengan wajah tak mengerti. Beberapa saat kemudian, Dan yang tak kalah berantakan muncul dengan membawa ember berisi air di sebelah tangannya dan kain lap di tangannya yang lain.

Dan menghela napas. "Akhirnya kamu pulang juga" ucap Dan lemas.

"Apa yang terjadi ?" tanya Chun cepat.

Belum sempat Dan menjawab pertanyaan Chun, suara tante Nina yang lebih cepat dibanding penampakannya sudah menghampiri telinga Chun.

"Chun ! Masuk ke ruangan tante !" teriakan bergema itu membuat senyum kecil terpancar di wajah Dan.

"Ssstt.." bisik Dan sambil menggerakkan kepalanya ke arah ruangan tante Nina. "...jangan bilang aku tidak memperingatkanmu ya. Dia sedang emosi tingkat tinggi"

Masih dengan wajah bingung, Chun berjalan menuju ruangan tante Nina. Kalau dipikir-pikir, Chun memang salah. Hari pertama bekerja sudah hilang entah kemana, dan tanpa ijin tante Nina juga. Karena itu, Chun pun pasrah kalau memang mau dimarahi, ia akan terima dengan hati terbuka. Meskipun sebenarnya selama ini Chun tak pernah dimarahi oleh atasan manapun.

Chun menatap gagang pintu ruangan tante Nina, kemudian memejamkan matanya sejenak, kemudian mulai memegang gagang pintu itu dan menekannya perlahan-lahan. Kemudian masuk ke dalam ruangan.

Dilihatnya tante Nina sedang duduk di belakang sebuah meja sambil mengunci laci-laci meja di depannya.

"Coba kamu jelaskan sama tante, ke mana saja kamu tadi ?" ucap sang tante tanpa melirik ke arah Chun sekalipun, ia masih sibuk dengan kunci-kunci yang tampaknya tak mau diajak kerjasama.

"Ng.. Sebenernya... "

Belum sempat Chun menyelesaikan kalimatnya, tante Nina yang kini sudah berhasil mengunci laci di depannya, dengan penuh emosi meletakkan cukup keras kunci-kunci yang ia pegang di atas meja.

"Jangan bertele-tele !" bentak tante Nina yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.

Chun yang sejak tadi menunduk kini bisa melihat jelas kunci-kunci yang diletakkan di atas meja tanpa terhalang oleh tangan tante Nina. Dan perhatiannya terfokus kepada kunci-kunci itu ketika ia melihat sebuah gantungan kunci sepatu kaca terletak berderet dengan beberapa buah kunci.

Dengan spontan, Chun langsung melewati tante Nina yang hendak mendekatinya dan malah menghampiri kunci-kunci yang ada di atas meja, dan kemudian mengambilnya.

Setelah memastikan kalau itu benar adalah gantungan kunci sepatu kaca, Chun menghampiri tante Nina dan bertanya kepadanya. "Apakah aku boleh tahu tentang kisah di balik gantungan kunci ini ?"

Tante Nina langsung merebut gantungan kunci beserta kunci-kuncinya sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia bagai menahan air matanya yang hampir menetes. "Untuk apa kamu tanyakan hal ini ?"

Chun mengeluarkan gantungan kunci miliknya dan memperlihatkannya kepada tante Nina. "Karena aku juga punya kenangan terhadap benda ini. Aku sedang mencari Cinderellaku" ucap Chun pelan.

Tante Nina melirik gantungan kunci milik Chun dan tanpa terasa air matanya menetes.

Di lain tempat, Dan yang sedang bersih-bersih, tiba-tiba kedatangan lima orang tamu berwajah sangar dan tak bersahabat.

"Ariel mana ?" kata seorang di antara mereka yang wajahnya penuh brewok dan berkacamata hitam.

Dan tersenyum ramah, meletakkan tongkat pelnya, kemudian mendekati kelima orang tersebut. "Ariel sedang cuti, neneknya sakit, jadi sementara aku yang menggantikan. Mau pesan makanan apa ?" tanya Dan ramah.

"Jangan pura-pura ya. Jangan mentang-mentang dia wanita, kalian pikir kami akan melemah" ucap seorang yang bertubuh agak gemuk dan bersuara keras. Wajahnya terlihat sangat marah.

Dan memasang wajah bingung. "Apa maksudnya ya ? Saya tidak mengerti" ucap Dan sopan.

Salah seorang dari mereka yang agak kurus dan berambut panjang langsung memukul meja. "Kelihatannya kamu minta dihajar ya"

"Sudah, jangan banyak bicara, kita hajar saja orang bodoh ini !" ucap salah satu di antara mereka yang gundul dan berkumis tebal.

Mereka langsung melemparkan pukulan-pukulan keras ke arah Dan, yang ternyata berhasil ia tangkis. Dengan cepat Dan mengambil tongkat pel yang ada di belakangnya, kemudian menghajar satu per satu para pencari masalah itu.

Jangan lihat postur tubuh Dan yang tidak terlalu tinggi dan wajahnya yang ramah, kalau orang yang tahu latar belakang Dan, pasti tidak akan berani melawannya. Dan menang lima kali berturut-turut dalam lomba bela diri dan itu adalah salah satu keahlian yang ia andalkan, tidak ada yang bisa mengalahkannya sampai para perampok kemarin berhasil mengunci kelemahan Dan. Entah darimana mereka tahu kelemahan Dan, sampai sekarang Dan pun masih tak mengerti kenapa ia bisa begitu lengah membiarkan dirinya dan Chun dirampok seperti itu.

Di sisi lain, sang koki yang keluar karena mendengar suara-suara keras dari arah depan sangat terkejut ketika melihat perkelahian antara Dan dengan para pencari masalah. Ia langsung berlari menuju ruangan tante Nina.

Di dalam ruangan, masih dengan suasana haru, tante Nina menutup ceritanya. "Tapi, sampai sekarang, ia tidak pernah datang. Padahal tante terus menunggunya di sini. Kalau bukan karena menunggunya, mungkin tante sudah pindah ke tempat lain"

"Aku mengerti tante. Karena aku juga merasakan sulitnya bertemu kembali dengan Cinderella" ucap Chun simpati.

Tante Nina memegang pipi kiri Chun dengan tangan kanannya. "Ternyata kamu anak baik. Tante malah mengira kalau kamu maniak. Alangkah baiknya kalau Ariel adalah Cinderella, jadi dia bisa hidup bahagia dengan laki-laki sebaik kamu"

"Apa Ariel sama sekali tidak pernah cerita tentang masa lalunya sama tante ?" tanya Chun penasaran.

Tante Nina menghela napas. "Kasian Ariel, masih semuda ini sudah menanggung beban yang begitu berat. Sebenarnya, 18 tahun yang lalu..."

Belum sempat tante Nina menyelesaikan kata-katanya, si koki sudah masuk ke dalam ruangan dengan wajah panik.

"Kak, pelayan baru itu sedang berkelahi dengan anak buahnya kakak Tom !" ucapnya tergesa-gesa.

"Apa ?" tante Nina terlihat panik, ia segera berlari keluar mengikuti sang koki yang sudah lebih dulu keluar ruangan.

Chun yang masih bingung dan tak mengerti apa yang terjadi segera mengejar tante Nina.

"Stop !" terdengar suara tante Nina yang begitu keras hingga membuat Danson dan kelima orang lawannya berhenti. Wajah mereka penuh dengan warna, ada yang matanya kebiruan akibat pukulan Dan, ada yang bibirnya berdarah, adanya kakinya kanannya dipukul dengan tongkat pel dan masih kesakitan, ada yang keningnya berdarah akibat terhentak meja, ada yang hidungnya berdarah akibat tendangan Dan. Sedangkan Dan, wajah masih penuh dengan noda makanan, namun tak ada satupun luka di wajahnya.

Tante Nina segera menghampiri mereka dan mendorong pelan Dan ke belakang. "Dasar bodoh, sedang apa kamu ? Bukannya kerja baik-baik malah berkelahi" bentaknya kepada Dan.

Baru saja Dan ingin membela diri, Chun sudah menepuk pundak Dan dan menggeleng ke arahnya. Dan pun diam membisu.

Tante Nina menoleh kepada para korban dan meminta maaf. "Maaf kakak-kakak semua. Anak ini baru kerja di sini, jadi dia nggak tahu apa-apa. Mohon jangan dimasukan ke dalam hati"

Salah seorang di antara mereka yang bertubuh gemuk langsung membentak tante Nina. "Jangan banyak bicara ! Mau bayar atau mau aku hancurkan restoranmu ini hah ?"

"Bayar.. Tentu saja bayar.. Tunggu sebentar ya" tante Nina segera berlari ke dalam ruangan.

Si jumbo menatap Dan penuh dendam. "Lihat saja nanti !" ancamnya sambil mengacukan jari telujuknya ke arah Dan.

Sesaat kemudian, tante Nina kembali dengan membawa segenggam uang, kemudian memberikannya kepada si Jumbo.

Setelah menghitung uangnya, si Jumbo kembali membentak tante Nina. "Ingat ya, aku tidak mau lihat anak kurang ajar ini di sini lagi. Atau akan aku hancurkan tempat ini"

Tante Nina hanya bisa mengangguk-angguk. Dan kemudian kelima orang itu pun pergi sambil sebelumnya menendang-nendang meja dan kursi hingga berantakan.

Tante Nina berbalik dan menghampiri Chun dan Danson. "Kalian pergilah dari sini, atau hidup kalian akan dalam bahaya"

Dan yang terkejut, langsung berkata. "Maksud tante, kami dipecat ?"

Tante Nina menghela napas. "Saat ini, itulah jalan yang terbaik"

Dan terlihat menyesal, sedangkan Chun tak tahu lagi harus melakukan apa.

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  didar on 20th July 2009, 10:42 am

ternyata keseluruhan bab 2 panjang juga ya.. wahhh.. artinya bab selanjutnya bakal panjang juga.. seneng deh.. tapi post2nya dikit2 ya.. biar ga pernasaran..

okay neh komen gw..
pertama kebayang banget gw si danson jadi ahli kungfu.. malah lebih kebayang dari chun.. so pas banget dia tuh jago berkelahi kyk gitu.. kebayang juga hebohnya dia ama anak-anak kecil ..

trus.. wahh.. pantai itu emang special banget ya.. banyak orang yang sedang menunggu kedatangan pangeran.. en poor tante nina..

tapi kenapa akhirnya harus dipecat? why oh why??? dasar bikin penasaran aja.. gimana coba kalo chun ama danson ntar kelaperan... ga tega neh gw..

gw paling suka interaksi danson ama chun di part terakhir yang elo pm gw itu.. seperti biasa Dan-nya dapet banget.. Chun-nya juga.. en karakter mereka tambah nempel di pikiran gw.. Dan tuh kyk gini.. Chun tuh kyk gini.. gw suka baca cerita yang bisa kyk gitu.. karena bagi gw tuh penokohan tuh penting banget...

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  Shan2 on 20th July 2009, 3:06 pm

iya harusnya bab 3 juga bakal panjang sih, lagi g rencananya dulu isinya apa. hehehehe...

aduh g ngakak nih yg u bilang ga tega liat danson ama chun kelaperan. hahahaha....

tp bis gmn donk kalo ga dipecat jg ga mgkn, so kita liat aja nt. hehehe

g sendiri udah ga sabar menceritakan ariel lbh dalam nih, krn itu sedikit byk akan memperjelas sikap ariel di bab ini yg agak2 ga bersahabat ama chun. hehehe...

ntar g mo minta pendapat elo, bagusnya bab 3 tuh adalah pengulangan bab 2, tp dr sisi ariel terus dilanjutkan dengan cerita selanjutnya, atau langsung lanjut tp disertai flshback dr sisi ariel ?

kalo lbh jelas sih mgkn pengulangan yah... tp itu bikin yg baca naek darah krn sebenernya udah pensaran ama yg terakhir, tp kalo langsung lanjut ga semuanya bakal dijelaskan. so gmn pendapat elo ?

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  didar on 20th July 2009, 6:50 pm

kalo elo minta pendapat gw seh yah jelas gw pengen lanjutan disertai flash back.. abis dah pengen tau lanjutannya.. gimana usaha danson ama chun supaya ga kelaperan.. hehe... tapi kalo elo pengen jelas .. ya udah pengulangan.. tapi jangan lama-lama donk.. tapi kalo gw pikir2 lagi emang mending pengulanga.. cuma yah harus bener-bener kerasa beda... kalo ga kyk baca ulang.. itu aja seh....

bagusnya emang rencanain dulu.. ntar paling ditambah adegan lucu atau apa.. elo kan jago kalo buat adegan kyk gitu..
so mulai nulis ya..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  Shan2 on 20th July 2009, 7:56 pm

aduh, elo bikin g jd makin binun. hahahah... jdnya pengulangan apa enggak yah ? ntar g bertapa dulu deh... hehehe..

adegannya kan dr sudut pandang ariel pasti beda, cm sekitar 20% mungkin yg sama kyk yg dibab 2, cm supaya org tau itu terjadi sama dengan wkt chun begitu..

kalo adegan kocak sih bakal mengalir gt aja. hehehe

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  didar on 20th July 2009, 8:59 pm

kalo cuma 20 persen seh ya udah.. itu aja.. lagipula kan elo paling gw suka nulis flashback.. ya udah nulis pengulangan aja...
bertapanya jangan lama-lama.. duhhh...

en adegan kocak pasti didominasi kepolosan Chun en kecerdikan Dan.. haha..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  Shan2 on 20th July 2009, 9:35 pm

ya udah kalo gt ntar g ulang aja yah. mgkn ntar malem kali dah bs dipost. mungkin... hehehe...

tenang, setelah g selesai bertapa bakal g post. hehehe...

sebenernya sih... harusnya bagian ariel jg ada lucunya, cb ntar liat dulu. hehehe...

mknya g bertapa dulu deh skr

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  didar on 20th July 2009, 10:31 pm

oh.. maksud elo bertapa tuh nulis ya.. kalo gitu ok ok.. bertapa yang banyak.. hehe..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  Shan2 on 20th July 2009, 11:50 pm

iya nih tp drtd bukannya bertapa malahan ol mulu, kpn bertapanya ? hahaha

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  didar on 21st July 2009, 12:02 am

ya udah sekarang atuh.. wakakak.. dasar.. gimana seh..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  Shan2 on 15th August 2009, 5:54 am

aduh, kyknya mungkin bsk deh g baru bs menelurkan bab 3, soalnya hr ini udah berhasil buat picsnya, so lg dapet feelnya lg ama nih FF. hihihi...

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  didar on 15th August 2009, 11:06 am

ayo donk.. cepet bertelur.. dah ga sabar.... ntar ga usah dierami dulu kan? hehe
Gw suka banget art elo.. arielnya cantik banget.. en sepatu kaca en judulnya bagus banget!!! Dua jempol deh…

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  Shan2 on 15th August 2009, 2:34 pm

aduh, sebenernya pic semua tokohnya harus lg sedih gambarnya, tp mslhnya pic ariel yg mukanya sedih itu terlalu zoom, jd nggak bs dibuat tuh, supaya sama ama yg laen jd pilih yg itu, agak aneh menurut g, krn ekspresinya beda ama yg laen. heheheh... tp gpp deh, bis arielnya cantik banget di sono.

btw, itu judul mandarinnya g boleh translate dr google translator loh, nggak tau bener apa enggak. hahahha... awalnya kan mau judul mandarinnya rich prince poor prince jg, tp kepanjangan, jd itu judulnya cinderella's prince dlm bhs mandarin. apa tuh bacanya ? kagak tau g jg. hehehhe

sepatu kacanya ternyata ada. heheheh

harusnya nih hr ini jadi telornya, soalnya g udah bertekad, bis kmrn udah bs buat picsnya, jd g yakin pasti bs, asal komp g nggak direbut ade g lg.

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  didar on 15th August 2009, 3:37 pm

sepatu kacanya bagus banget.. asli gw jadi pengen.. haha.. apalagi kalo karena punya itu gw bisa dapetin chun.. haha

mana donk yang laen? gw pengen banget liat art elo buat tokoh2 laennya.. mungkin kalo dibuat sama besar semuanya lebih bagus .. ntar dipajang ya..

ariel jarang ga senyum kalo di foto.. dulu juga pas gw masih sering buat poster.. suka bingung kalo mau cari pikku ariel yang dianya ga senyum..

iya neh semoga ga direbut lagi.. hehe..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  Shan2 on 15th August 2009, 5:43 pm

wakakak... kalo punya gantungan kunci itu bisa dapet cowok idaman yah ? duh jd punya ide buat FF baru genre fantasy, tp itemnya bukan gantungan kunci sepatu kaca. hahaha.. jd kalo punya benda itu bs buat wish n bisa jadian ama cowok idaman. duh kyknya bagus jg ceritanya. hahah... elo menginspirasi g neh. hebat...

udah g post yg lain di tret sinopsis, td udah diedit semua. hehehhe

cuman poster utamanya blm dibuat neh, soalnya msh bingung. elo ada ide ga buat posternya ? mau dibuat kyk gimana gitu ?

iya emang jarang, cuma kan byk tuh foto yg dr album ariel, n pas banget soalnya rambutnya cokelat n wajahnya sedih gitu, tp terlalu besar, terlalu zoom, jd nggak singkron ama tokoh yg laen, mknya msh bingung cari gambarnya. lucu yah, pdhl pic g plg byk pic ariel loh, yg laen malah nggak punya, tp buat pics ariel tuh plg belakangan krn plg susah nyarinya. haha

g suruh pk komp yg atu lg aja deh. hehehe

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  didar on 15th August 2009, 6:23 pm

Jadi elo buat sendiri posternya? Duh.. sorry ya.. gw malah lupa soal poster.. gw seh tadinya mau cari gambar pantai.. yang ada rumahnya.. trus chun bersandar di pohon .. kepalanya noleh ke arah ariel yang lagi liat ke laut.. tapi ga ada tuh gambarnya.. kalo chun masih gampang.. kalo ariel? Cari di mana coba.. haha….

Okay.. gw ke sinopsis neh.. ntar gw kasih komen di sana….

Gw menginspirasi elo ya.. ya dah ntar nulis lagi FF baru.. kyknya menarik tuh.. genre fantasi.. en penasaran neh apa coba itemnya.. haha..

Iya elo harus nulis donk hari ini.. en cepet dipost..

soal huruf mandarinnya.. asli gw ga bisa baca..minta bantuan fan aja..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  Shan2 on 15th August 2009, 7:27 pm

duh, sebenernya g jg puyeng bikin posternya. ntar minta fan aja yg bikin deh. hehehehhe

iya g jg lg mikir itemnya apa yah ? heheheh n g jg msh blank ama ceritanya. heheh

iya g dah tanya fan tuh judulnya.

ok, ntar mgkn subuh bakal g post. hehhe

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: BAB 2 : Cinderella yang Hilang

Post  Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum