New Beginnings - Chapter 09

Go down

New Beginnings - Chapter 09

Post  didar on 15th July 2009, 10:08 pm

Lucas memandang bayangan tubuhnya yang terpantul di kaca. Ia melihat dirinya yang semakin dewasa, wajah kekanakan yang dulu dimilikinya sekarang telah berubah menjadi wajah tegas pria dewasa. Garis rahangnya yang semakin nyata kini tak pernah lepas dari jambang tipis yang sengaja ia biarkan tumbuh dalam 2 tahun ini. Wajahnya terlihat lelah. Garis-garis halus sudah mulai terlihat di sudut matanya.

Lucas menarik ikatan dasinya hingga tak lagi mencekik lehernya. Pesta yang baru saja ia hadiri membuatnya lelah. Ia bukan pria yang menyukai pesta. Sejak kecil ia seorang penyendiri. Bukan hanya itu ia juga sulit didekati dan selalu menjaga jarak. Di dalam hidupnya hanya ada satu orang yang pernah menembus pertahanannya. Lucas memutar cincin emas berhiaskan berlian kecil di jari manisnya. Rahangnya merapat semakin kuat saat ia melihat cincin itu, ia yakin tidak akan pernah ada lagi orang yang bisa menembus pertahanannya itu.

Pesta tadi berlangsung meriah. Bertemu dengan neneknya adalah hal yang sebisa mungkin ia hindari. Tapi pertemuannya dengan neneknya hari ini sama sekali tidak membuatnya jengkel. Semua rasa di hatinya tertutup oleh kebahagiaannya bertemu dengan Leighton. Memang tidak lama tapi cukup untuk mengobati rasa rindunya. Lalu Jamie, keponakannya yang sekarang sudah berumur 5 tahun. Bocah pintar yang selalu dapat membuatnya tertawa lepas, melebihi orang dewasa manapun. Kedua orang tuanya, Nathan dan Haley memang beruntung. Mereka bukan hanya dianuguerahi anak yang pandai tapi juga cinta yang tak lekang oleh waktu.

Lucas sangat menyayangi Haley, teman baiknya sejak kecil yang kemudian menikah dengan Nathan, adik tirinya. Baginya Haley adalah sahabat terbaik yang pernah dimilikinya. Hanya saja persahabatan mereka akhir-akhir ini memudar karena Haley seringkali berusaha menjodohkannya dengan wanita-wanita yang dinilainya bermutu. Lucas sudah jelas-jelas mengatakan padanya bahwa ia membenci hal itu, tapi Haley pantang menyerah.

Lucas mendapati semangatnya dengan segera pulih setelah ia mandi. Saatnya untuk melanjutkan bab selanjutnya dalam bukunya. Ia menyempatkan diri untuk mencari Julian di kamar tamu. Julian baru saja putus dari kekasihnya dan butuh tempat tinggal sementara. Karena itu Lucas berbaik hati memberikannya kamar tamu yang selama ini memang tidak pernah terisi. Julian sepertinya sedang pergi, pintu kamarnya tertutup dan lampu kamarnya dimatikan.

Lucas meneruskan langkahnya menuju ruang kerjanya. Ia duduk dan menyalakan laptopnya. Iaa kemudian membiarkan imajinasinya menuntun jari-jarinya bekerja. Ini adalah novel keduanya, lanjutan dari novel pertamanya. Hanya sedikit yang tahu bahwa ia tidak menulis cerita fiksi di novelnya yang pertama itu. Ia menulis kisah cinta satu-satunya dalam hidupnya. Kali ini untuk novel keduanya ia terpaksa harus menulis cerita fiksi. Bukan hal yang sulit baginya karena sejak kecil ia memang gemar menulis. Hanya saja selama ini ia cenderung untuk menulis apa yang ada di benaknya dengan gaya abstrak. Karena itu baginya inilah tantangannya sesungguhnya, menulis cerita fiksi yang sepenuhnya didasarkan pada imajinasinya. Jauh berbeda dengan kisah yang ada di novel pertamanya, yang sepenuhnya ia tulis berdasarkan kenangan yang tertanam di benaknya.
Lucas mulai menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard. Setiap ketikan membawanya masuk ke dalam dunia yang ia ciptakan dalam cerita itu. Ia kembali memerankan tokoh utamanya dan menuliskan semuanya dari sudut pandang orang pertama.
***

Peyton diantar oleh Julian memasuki ruang kerja Lucas. Matanya bersinar takjub saat melihat betapa terang benderang ruangan itu di pagi hari. Cahaya matahari masuk dengan bebas dari pintu kaca yang menguasai sebagian besar sisi depan ruangan itu. Semua itu membuat gairah di hatinya semakin menguat. Ini adalah kesempatan kedua baginya untuk bertemu dengan Lucas. Hatinya sejak tadi berdebar tak karuan, terutama karena ia senang dapat berjumpa dengan penulis kesayangannya lagi dan juga karena ia akan segera mengetahui isi novel kedua Lucas. Baginya Lucas bukan hanya mampu membuat cerita yang menarik, tapi juga mampu bercerita dengan kata-kata yang indah.

Lucas menoleh ke arah pintu saat ia mendengar suara Julian yang diikuti oleh suara tawa Peyton. Senyumnya mengembang tipis saat ia melihat Peyton memasuki ruangan itu. Pandangan wanita itu tertuju lurus pada pintu kaca. Ia sepertinya takjub melihat keindahan yang ada di hadapan pintu kaca. Senyumnya mengembang lebar dan matanya berbinar dipenuhi kekaguman. Lucas tertawa kecil. Baru kali ini ia rasanya senang karena dapat berbagi keindahan pemandangan Kota New York dari pintu kacanya itu.

Peyton memandang keindahan yang terhampar di hadapan pintu kaca itu dengan takjub. Semua itu benar-benar membuat tangannya gatal ingin melukis. Ingin rasanya ia minta ijin untuk melukis di tempat itu saat itu juga. Pikirannya mulai melayang dan ia terbuai di dalamnya.

“Miss Sawyer, silakan duduk,” ujar Julian dengan sopan. Lamunan Peyton buyar saat itu juga. Peyton mengucapkan terimakasih kepada Julian dan duduk di salah satu bagian sofa yang posisinya tepat menghadap meja kerja Lucas. Senyumnya mengembang dengan cepat kala ia melihat Lucas berjalan ke arahnya sambil membawa laptopnya. Pria itu terlihat sangat menawan dengan kemeja putih yang dikenakannya. Tubuhnya yang bidang tercetak jelas di kemejanya itu. Sungguh ia tak pernah menyangka Lucas Scott adalah pria muda yang sangat menawan. Jantungnya kembali berdebar tak karuan saat Lucas duduk di hadapannya dan tersenyum ramah ke arahnya.

“Jadi kita bisa mulai sekarang?” tanya Peyton dengan ramah sesaat setelah Lucas duduk dengan nyaman di sampingnya dan siap dengan laptopnya. Lucas menganggukkan kepalanya sambil tersenyum

“Great!” jawab Peyton dengan semangat. Ia lalu menunduk dan mulai mengeluarkan semua peralatan gambar dari dalam tasnya. Lucas memanfaatkan jarak yang cukup dekat di antara mereka untuk mengamati Peyton lekat-lekat. Tak ada ekspresi khusus di wajahnya tapi cukup jelas terlihat bahwa ia tertarik pada wanita itu. Hal itu tidak luput dari perhatian Julian yang saat itu sedang berdiri di hadapan mereka. Hati Julian kembali dipenuhi tanda tanya, ia heran mengapa Lucas sepertinya begitu tertarik pada wanita ini. Ia memang cukup cantik tapi ia bukan Lauren dan mereka berdua jelas-jelas tipe wanita yang berbeda. Lucas memandang ke arah Julian dan memintanya keluar dari ruangan itu. Julian menyempatkan diri untuk menuangkan segelas jus untuk Peyton sebelum akhirnya ia menutup pintu dari luar.

Peyton meletakkannya seluruh alat gambar yang diperlukannya di atas meja dan dengan sigap membuka buku sketsanya tepat pada halaman kosong. Ia lalu mengarahkan pandangannya kepada Lucas. Matanya dengan segera bertaut dengan mata Lucas yang terhujam lurus ke arahnya. Terhujam adalah kata yang tepat mengingat betapa lekatnya pandangan Lucas saat itu. Peyton menyadari ini bukan pertama kalinya Lucas memandangnya seperti itu. Rasa ingin tahu Peyton memuncak. Ia sungguh ingin tahu mengapa Lucas harus memandangnya selekat itu. Ia membalas pandangan Lucas dan itu malah membuatnya terhanyut di dalamnya. Tatapan mereka bertaut untuk waktu yang cukup lama sampai akhirnya Peyton menyadarinya dan mengalihkan pandangannya dengan cepat. Ia merasakan wajahnya perlahan menghangat dan jantungnya berdebar kencang. Lucas mengamati semua hal itu. Senyum tipis melintas di bibirnya saat ia teringat akan Lauren yang juga tak berani memandangnya lama-lama di saat mereka pertama kali bertemu.

Lucas mengubah arah duduknya dan mulai menyalakan laptopnya. Ia meletakkan jari-jarinya di atas keyboard tapi pikirannya sama sekali tidak terarah ke sana. Ia sedang berusaha memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya, mengapa ia sepertinya tertarik pada wanita itu. Baginya Peyton memang cantik tapi ia tidak pernah jatuh cinta hanya karena faktor fisik. Ia hanya pernah jatuh cinta sekali seumur hidupnya dan wanita yang dicintainya itu tidak termasuk dalam kategori wanita cantik di mata banyak orang. Di dalam hidupnya ia hanya pernah berhubungan dengan beberapa wanita lain selain Lauren. Seluruh hubungan itu hanyalah hubungan fisik belaka yang tak disertai dengan cinta. Itupun tak banyak, setidaknya tidak melebihi jari-jari tangannya. Sifatnya yang penyendiri dan menjaga jarak membuatnya sulit untuk dipahami dan malas untuk memahami. Hanya ada seorang wanita yang pernah ia pahami dengan sempurna, itu pun karena wanita itu sempurna dan begitu mudah dipahami. Tapi entah mengapa hatinya bereaksi saat ia bersama dengan wanita yang sekarang duduk di depannya itu, reaksi yang mengingatkannya pada saat ia tertarik pada Lauren untuk pertama kalinya.

Lucas mencoba mempertimbangkan segala kemungkinan yang ada sebelum akhirnya menyimpulkan bahwa dirinya memang tertarik pada Peyton, tapi itu hanya karena faktor fisik belaka dan perasaan suka yang dirasakannya itu hanya perasaan suka yang dangkal. Bagaimanapun juga ia harus mengakui Peyton tidak jauh dari kriteria wanita idamannya. Ia seorang wanita yang anggun, wajahnya yang rupawan dipenuhi dengan kelembutan, senyumannya tulus dan sangat menawan. Lucas mencoba menjabarkan segala yang mungkin membuatnya menyukai Peyton dan ia lega saat mendapati semua itu hanya meliputi faktor fisik. Dangkal dan jauh lebih sedikit dari apa yang ia sukai dari Lauren. Hatinya pun terasa semakin lega saat ia berhasil meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sedang jatuh cinta

“jadi apa isi buku itu?” Peyton mencoba memecahkan keheningan. Sejak tadi Lucas tidak mengatakan sepatah katapun. Ia tak bergeming dari depan laptopnya sejak tadi.

“Ohh,” Lucas terlihat kaget. Ia tersenyum kaku ke arah Peyton, lalu cepat-cepat membuka file novelnya.

“Aku belum menyelesaikannya,” ujarnya sambil merubah arah duduknya sehingga ia dan Peyton dapat berbincang-bincang dengan nyaman.

“Sejauh ini?” Peyton memegang pensil di atas buku sketsanya.

“Sejauh ini aku membawa tokoh ceritaku memulai lagi hidupnya,”

“Chad?” tanya Peyton memberanikan diri untuk menebak. Chad adalah tokoh utama pria dalam novel Lucas yang pertama.

Peyton berharap Lucas berkata iya. Baginya novel Lucas yang pertama tidak seharusnya berakhir seperti itu. Tidak adil karena Chad tidak diberi kesempatan untuk membenahi hidupnya yang berantakan. Lucas mengangguk. Mata Peyton berbinar mendengar hal itu. Ada kebahagiaan di hatinya yang sebenarnya terasa lucu. Ia bahagia karena akhirnya tokoh pria dalam buku itu memulai lagi hidupnya. Peyton mulai merasa dirinya sangat bodoh.

Lucas kemudian menceritakan bahwa di novel yang masih sedang ditulisnya itu Chad menemukan cintanya yang kedua. Ia akan membenahi hidupnya dan mengasuh sendiri anaknya. Kisah cinta Chad dengan seorang wanita yang berhasil menimbulkan benih-benih cinta baru itulah yang menjadi inti dari bukunya itu.

Peyton mendengar semua itu dengan mata berbinar. Ia senang sekali mendengar hal itu. Lucas tertawa melihat reaksinya itu. Peyton tersipu, ia memang terobsesi dengan tokoh Chad.

“Kalau saja ia hidup, aku akan menyatakan cintaku padanya,” ujar Peyton dengan wajah tersipu. “Tapi ia tidak hidup, karena itu cintaku untuk pria itu cukup di buku saja,”tambahnya lagi sambil tertawa kecil.

Lucas menatap Peyton dengan perasaan heran. Ia tidak pernah bisa mengerti mengapa wanita bisa jatuh cinta pada tokoh rekaan yang jelas-jelas tidak nyata. Walau tokoh-tokoh di novelnya yang pertama itu sebenarnya bukan tokoh rekaan, tapi tak ada satupun pembacanya yang tahu hal itu. Tak ada satupun dari mereka yang tahu bahwa buku karangannya itu dikarang berdasarkan kisah hidupnya. Ia bahkan tidak menambahkan apapun untuk menambah unsur dramatis di bukunya. Ia ceritakan semua apa adanya dan ternyata hidupnya memang cukup dramatis untuk diceritanya. Terbukti orang-orang menyukainya dan bukunya meraih best seller untuk waktu yang cukup lama.

Lucas memutuskan untuk sampai kapanpun tidak memberitahu hal itu kepada Peyton. Ia tidak mau wanita itu jatuh cinta padanya setidaknya saat mereka masih harus bertemu. Setelahnya, ia tidak peduli lagi.

Lucas mengeluarkan gambar yang diberikan Peyton kemarin.

“Aku rasa kau sebaiknya menggambar ulang gambar ini terlebih dahulu, di atas kertas yang berukuran empat kali lebih besar. Dan aku ingin kau mengubah tampang pria ini, tidakkah menurutmu ia terlalu mirip denganku?” tanyanya, nada heran terselip jelas di kata-katanya itu.

Hati Peyton sedikit tersentak saat ia mendengar permintaan Lucas itu. ia sendiri tak habis pikir mengapa pria yang ia gambar waktu itu begitu mirip dengan Lucas padahal ia belum pernah bertemu dengannya sebelumnya.


Last edited by didar on 19th July 2009, 2:33 pm; edited 2 times in total

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

New Beginnings - Chapter 9b

Post  didar on 15th July 2009, 10:44 pm

“Apa kau pernah datang ke acara tanda tangan yang aku adakan?” tanya Lucas dengan nada menyelidik.
Peyton menggeleng. Ia tidak pernah menghadiri acara tanda tangan apapun di manapun. Lebih dari itu, ia 100% yakin ia belum pernah bertemu Lucas sebelumnya.

“Kau pernah tinggal di mana saja?” Lucas yakin wanita itu pasti sudah pernah bertemu dengannya. Hanya itu alasan yang paling masuk akal untuk menjelaskan kemiripan wajahnya dengan wajah pria di gambarnya. Walau sebenernya yang ia ingin tahu bukan itu, tapi mengapa gambarnya mampu menggambarkan sebuah babak dalam hidupnya dengan begitu tepat, yang tak pernah ia katakan pada siapapun.

“Aku baru pindah ke New York sehari sebelum aku berjumpa denganmu, sebelumnya aku tinggal Wilmington seumur hidupku,” jawab Peyton, mencoba menjelaskan sedetil mungkin.

Lucas coba mengingat-ingat. Ia tidak pernah mengadakan acara apapun di Wilmington. Wilmington hanyalah kota kecil yang tak akan mendatangkan peningkatan drastis bagi penjualan bukunya walau diadakan acara tanda tangan berkali-kalipun karena itu ia yakin agen yang menangani promosi bukunya tak mungkin mengadakan acara itu di sana.

“Apa kau yakin tidak pernah bertemu denganku sebelumnya, di pantai?” tanya Lucas tadi. Ia tahu ia telah menanyakan hal itu sebelumnya tapi ia tidak bisa menahan dirinya untuk menanyakannya lagi.

Peyton heran dengan pertanyaan Lucas, mengapa ia selalu menanyakan pertanyaan yang sama.

“Apa menurutmu kita pernah bertemu di pantai sebelumnya?” Peyton mencoba bertanya balik kepada Lucas.

Lucas menggeleng,”Aku yakin aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya tapi kau mungkin pernah melihatku di pantai.”

Wajah peyton terlihat semakin heran. Ia tidak mengerti maksud perkataan Lucas yang aneh itu.
“Jadi maksudmu kau yakin aku pernah melihatmu di pantai tapi saat itu kau tidak melihatku?” tanyanya dengan nada bingung.

“Bisa dikatakan seperti itu,” jawab Lucas. Ia sungguh berharap Peyton mengiyakan hal itu sehingga ia tidak perlu memikirkan hal itu terus.

“Tidak, aku sungguh tidak pernah melihatmu di pantai,” jawab Peyton yakin.

Lucas memutuskan untuk tidak memperpanjang hal itu lagi. Semua ini bukan hanya membuatnya wanita itu bertambah bingung, ia pun semakin bingung.

“Jadi kau ingin aku menggambar pria lain yang tidak mirip dirimu?” Peyton memutuskan untuk segera mengalihkan pembicaan mereka.

Lucas menganggukkan kepalanya.

“Apa dia boleh berambut pirang?” tanya Peyton dengan nada penuh harap. Ia sungguh berharap setidaknya ia boleh mempertahankan hal itu.

“Tidak, sebaiknya dia berambut coklat,” jawab Lucas sambil tertawa kecil. Moodnya memang belum membaik, tapi pertanyaan dengan nada polos itu mau tak mau membuatnya tertawa.

Peyton ikut tertawa karenanya. Lucas merasakan rasa tertarik yang ia rasakan pada wanita itu tiba-tiba saja semakin meningkat. Ia pun heran akan hal itu.

“tapi aku tidak membawa kertas berukuran besar,” ujar Peyton saat menyadari buku sketsanya tidak cukup besar.

“Kau boleh menyelesaikannya di rumahmu, tak perlu cepat-cepat,” ujar Lucas dengan lembut.

“Boleh?” tanya Peyton dengan nada lega. Ia lega karena ia tak yakin ia bisa menyelesaikan gambar apapun kalau ada Lucas memperhatikannya di depannya. Lucas tertawa lalu mengangguk.

Peyton pamit tak lama setelah itu. Lucas mengantarkannya sampai ke pintu. Ia mengambil keputusan untuk segera mengajak Peyton kencan dan berharap setelahnya perasaan tertariknya hilang seperti yang biasa terjadi pada wanita-wanita sebelum Lauren.
----

Brooke mengerutkan dahinya saat Peyton menceritakan tentang pertemuannya dengan Lucas tadi.

“Mengapa ia menanyakan hal itu terus?” Kening Brooke berkerut, ia sungguh heran akan hal itu.

Peyton mengangkat bahunya. Ia sendiri sungguh tidak mengerti.

“Mungkinkah dia sedang berusaha merayumu?” kata Brooke dengan nada bingung. Bagaimanapun cara seperti itu adalah cara yang sangat aneh.

Peyton berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya.

“Dia tidak seperti seorang perayu. Menurutku dia malah sangat menjaga jarak, sama sekali tidak seperti seorang playboy” jawabnya dengan nada setengah yakin. Bagaimanapun tak tertutup kemungkinan pria itu sedang mencoba merayunya dengan cara yang sangat aneh.

“Bagaimana tampang dia sebenarnya, kau bilang dia tampan tapi sekarang aku mulai meragukannya, karena sepertinya dia begitu desperate untuk mendapatkanmu tapi tak pede,” Lucas benar-benar terdengar sangat aneh bagi Brooke. Ia mulai memikirkan segala kemungkinan.

“Kau pernah melihat ilustrasi yang aku gambar untuk sampul buku itu kan?” tanya Peyton

Brooke mengangguk.

“Dia mirip dengan pria yang kugambar di sampul bukuku,” jawab Peyton sembil tersenyum. “Sangat mirip,” tambahnya lagi sambil sedikit berbisik.

“Apa maksudmu sangat mirip? Apa dia pria yang setipe dengannya? Atau bagaimana seh maksudmu?” tanya Brooke dengan nada bingung.

“Gambarku itu seperti foto dirinya,” jawab Peyton.

Brooke terlihat sangat heran. “Serius?” tanyanya sambil berbisik.

Peyton mengangguk dengan raut wajah bingung.

“Apa kau yakin kau belum pernah bertemu dengannya, di pantai mungkin?” Brooke bertanya dengan wajah serius.

Peyton mendelik kepadanya.”Apa perlu kau meniru pertanyaan Lucas?” tanyanya dengan nada protes

Brooke tergelak. Ia merasa semua ini sangat aneh, tapi juga bukan suatu kali yang harus dipikirkan. Di dunia ini banyak terjadi hal aneh yang nyatanya memang hanya kebetulan belaka.

“Kebetulan?” Peyton menggumamkan hal itu, seakan-akan ia dapat membaca pikiran Brooke. ”Apa ini semacam de ja vu tapi bukan de ja vu?” tanyanya pelan pada dirinya sendiri. Ia kemudian menolehkan kepalanya kepada Brooke seakan meminta pendapatnya. Brooke hanya menatapnya, ia terlihat tak tahu harus berkata apa.
***
Brooke sedang membereskan baju di dalam ruang penyimpanan baju saat ia mendengar suara pria berbicara dengan nada tinggi. Sesudahnya terdengar suara ariel yang sepertinya terbata-bata. Rasa penasarannya terusik dan ia memutuskan untuk melihat sendiri apa yang sedang terjadi.

Brooke baru saja melangkah keluar dari pintu saat sebuah baju melayang ke mukanya. Dengan cepat ia singkirkan baju itu dari mukanya. Wajahnya dalam sekejap memerah karena marah. Ia melihat seorang pria sedang memegang beberapa lembar baju dengan wajah jengkel. Namun pandangan itu segera berubah saat ia melihatnya. Pria itu lalu memperhatikannya dari atas sampai ke bawah dengan pandangan mesum. Sesudahnya ia tersenyum puas. Seringai lebar menghiasi wajahnya yang tampan.

Brooke maju mendekati pria itu dengan perasaan jengkel yang berusaha ia tahan sekuatnya. Bagaimanapun reputasi butik ini lebih penting baginya.

“Aku pemilik butik ini, ada yang bisa kubantu? tanyanya dengan nada ramah. Matanya memancarkan kekesalan yang tak mampu disembunyikan dalam kemanisan suaranya. Pria itu menatapnya dalam-dalam. Seringai lebar yang terlihat sangat menyebalkan itu masih menghiasi bibirnya.

“Pacarku membeli baju-baju ini ke toko ini dan aku ingin mengembalikannya,” Pria itu mengacungkan semua baju yang dipegangnya. Jumlahnya tidak sedikit dan tak ada satupun terlipat rapi.

“Baik, akan kuurus,”sahut Brooke dengan suara manis.

Ariel menggerakkan mulutnya, hendak mengatakan sesuatu kepada Brooke tapi Brooke memberi isyarat dengan tangannya, menyuruhnya untuk diam. Brooke mengambil semua baju itu dari tangan pria itu dengan sopan. Ia kemudian pergi ke meja kasir, ariel segera menghampirinya. Iamelihat pria itu dengan takut-takut dan kemudian membisikkan sesuatu kepada Brooke. wajah Brooke berubah sejenak tapi ia tidak mengatakan apapun. Ia memeriksa semua barang itu di komputernya. Ia melihat tanggal pembeliannya sudah melebihi satu bulan yang lalu. Satu bulan adalah batas pengembalian barang di butiknya. Ia melipat semua baju itu satu-satu dan memasukkan ke dalam kantung. ia keluar dari meja kasir dan ia sodorkan kantung itu kepada pria itu. Pria itu memandangnya dengan heran.

“Barang ini sudah melewati batas pengembalian,kau tidak bisa mengembalikannya,” ujar Brooke dengan tegas, matanya memandang pria itu tanpa rasa takut.

Ariel melihat pria itu takut-takut. Tadi ia sudah melihat reaksi pria itu yang langsung mengamuk saat ia mengatakan hal yang sama. Tapi hal itu tidak terjadi. Pria itu terlihat kaget. Jelas terlihat ia sudah hampir mengeluarkan kata makian tapi ia tahan. Ia berusaha menenangkan dirinya untuk sejenak sebelum akhirnya ia memandang Brooke dengan penuh ancaman. Ia membalikkan badannya dan keluar dari sana dengan langkah lebar.

Pria itu keluar dari butik. Brooke mengeluarkan desah lega. Dengan lega ia turunkan tangannya yang masih memegang kantung berisi baju-baju itu. Ia lalu menoleh ke arah Ariel yang masih terlihat takut. Brooke tersenyum ke arahnya, berusaha menenangkannya. Ariel mengelus dadanya dengan lega. Brooke berjalan menghampiri Ariel dan memberikan kantung yang dipegangnya kepadanya.

“Simpanlah, siapa tahu pria itu suatu kali datang untuk mengambilnya lagi,” ujarnya sambil mengelus punggung Ariel lembut. Ia tahu pria itu pasti datang lagi untuk membuat masalah. Sejenak ia merasa kuatir. Pria sejenis itu adalah pria yang paling sulit diatasi. Ia selama ini tak pernah mau terlibat dengan mereka.
***

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

New Beginnings - Chapter 9c

Post  didar on 15th July 2009, 10:45 pm

Peyton mencoba membayangkan sosok pria yang tepat untuk sampul buku Forever and Almost Always yang sekarang resmi menjadi tanggung jawabnya. Sosok pria yang akan menggambarkan Chad secara fisik, yang akan tertanam di benak para pembaca novel itu berikutnya, tentunya setelah gambarnya resmi tercetak sebagai sampul buku itu. Peyton mencoba membayangkan sosok pria berambut coklat yang setidaknya tidak kalah tampan dari sosok “Lucas” pada gambarnya sebelumnya. Ia memejamkan matanya dan melepaskan imaginasinya untuk bermain sepuasnya. Tapi lagi-lagi benaknya dipenuhi oleh wajah Lucas, tatapan matanya saat memandangnya lekat-lekat, kedua lesung pipitnya saat ia tersenyum lebar. Peyton membuka matanya dengan cepat, berusaha mengusir bayangan Lucas di benaknya. Sejak tadi pikirannya tak mau diajak kompromi, hanya Lucas yang terus terbayang di benaknya saat ia mencoba membayangkan sosok yang tepat untuk Chad.

Peyton akhirnya memutuskan untuk menyerah dan membiarkan dirinya membayangkan Lucas untuk sejenak. Tak lama tapi cukup untuk memuaskan tuntutan hatinya yang sepertinya mendambakan Lucas sebagai sosok Chad yang sesungguhnya. Caranya ternyata jitu. Ia mendapati pikirannya sudah dapat diajak kerja sama. Ia kini tak lagi membayangkan Lucas tapi sepenuhnya mendapat sosok baru untuk Chad.

Peyton mulai menggoreskan pensil warnanya. Ia mengawali gambarnya dengan menggambar latarnya terlebih dahulu, pantai di waktu malam pada saat bulan purnama. Ia lalu mulai menggambar sosok pria yang sedang berdiri di pasir, berambut coklat, mengenakan jaket kulit dan celana jeans. Wajahnya dipenuhi kesedihan tapi juga harapan. Kepalanya tertunduk ke arah cincin yang terselip pada sebuah kalung yang ia pegang erat-erat dengan sebelah tangannya. Ia lalu menambahkan bagian-bagian lainnya dan menyelesaikan seluruhnya dalam waktu cukup singkat. Terakhir dengan berhati-hati ia memoles permukaannya dengan kapas.

Peyton tersenyum bahagia, pekerjaan ini bukan hanya mudah tapi juga sangat menyenangkan. Ia mencoba mengamati setiap bagian dari gambarnya sekali lagi. Segalanya memuaskan sampai pada saat ia memfokuskan perhatiannya pada sosok pria yang menjadi center dari gambarnya itu. Entah mengapa, ia sekarang merasa sosok itu mirip dengan Lucas.

Peyton merasa bingung. Ia yakin ia tidak membayangkan wajah Lucas sedikitpun saat ia menggambar sosok itu. Ia malah sedang membayangkan sosok pria berambut coklat yang wajahnya tercukur rapi dan terlihat boyish. Pria itu memang tidak mirip Lucas yang sekarang, tapi ada bagian-bagian tertentu di wajahnya yang membuatnya terlihat seperti Lucas muda.
Peyton benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya saat ini, mengapa ia selalu menggambar sosok Lucas pada ilustrasinya. Apakah begitu penting baginya untuk menjadikan Lucas sebagai Chad. Entah, ia sendiri tidak tahu jawaban dari semua itu.
***

Brooke tertawa saat Peyton menceritakan apa yang baru saja terjadi pada gambarnya. Akhir-akhir ini Peyton sering sekali membicarakan Lucas dengannya.

“Lucas muda kau bilang? Mungkin kau pernah melihat fotonya ketika masih muda,” ujar Brooke dengan nada geli.
Peyton menggelengkan kepalanya. Seingatnya di apartemen Lucas tak ada satu fotopun yang terpajang, tidak juga dengan foto Lucas sendiri.

“Aku tidak pernah melihat foto Lucas manapun,” ujar Peyton dengan yakin.

“Jangan-jangan kau menyukainya karena itu kau menggambarnya terus,” ujar Brooke dengan nada menggoda.

Peyton menggelengkan kepalanya. Ia tentu menyadari kalau ia memang menyukai pria itu tapi baginya masih Jake yang menduduki tempat terpenting di hatinya itu.

“Aku rasa di hatiku masih ada Jake,” ujar Peyton dengan miris. Wajahnya terlihat putus asa. Ia tak bisa melawan hatinya sendiri walau ia sudah berusaha kuat untuk melupakan pria itu.

“hei, kita sudah membereskannya waktu itu, ya kan?” tegur Brooke dengan nada lembut.

“Lagipula kau sudah pergi kencan dengan Jensen, itu artinya kau sudah meneruskan hidupmu,” tambahnya lagi mencoba memberikan alasan yang masuk akal bagi Peyton untuk segera melepaskan Jake.

“Aku masih mencoba meneleponnya kemarin,” Peyton memandang Brooke dengan pandangan tak enak hati karena ia melanggar kesepakatan mereka kemarin. Brooke memberinya pandangan menyesal. Ia sungguh tak mau Peyton berlarut-larut dengan semua ini. Tapi ia juga tahu, dua hari tidak cukup bagi siapapun untuk melupakan cinta.

“Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi dengannya. Apa dia baik-baik saja? Mengapa dia menghilang selama ini, dan apa maksudnya? Apa aku salah kalau aku menginginkannya untuk menjelaskan semuanya ini,” ujar Peyton dengan lirih, berusaha membela diri terutama kepada dirinya sendiri yang sejak tadi menuduhnya lemah.

“Aku hanya ingin penjelasan darinya, tidak lebih,” ujarnya lagi dengan suara semakin lirih.

Brooke tidak tahu harus berkata apa, firasat buruk yang selama ini ia rasakan terasa semakin menekan.

Peyton bangun dari kursinya dan melangkah menuju kamarnya. Ia lelah memikirkan Jake dan ia butuh waktu untuk dirinya sendiri. Brooke tidak mencoba mencegah Peyton. Ia tahu betul sifat Peyton. Terkadang ia lebih baik ditinggal sendiri daripada ditemani orang lain

Brooke mendesah perlahan. Hatinya dipenuhi penyesalan. Ia teringat akan rahasia Jake yang ia simpan dari Peyton. Sejak awal ia mengetahui Jake menghindar dari Peyton, dirinya sudah dilanda oleh firasat buruk dan kini ia menyesal karena ia tidak sejak dulu mengatakan rahasia itu pada Peyton.

Ia mengenal Jake cukup baik. Baginya Jake adalah pria yang baik, terlalu baik malah. Mungkin hanya itulah satu-satunya kelemahannya. Ia tahu betapa Jake sangat mencintai Peyton. Pria itu bersusah payah mengejar Peyton selama 2 tahun dan akhirnya berkat bantuannya Jake resmi berpacaran dengan Peyton. Selama mereka berpacaran Jake selalu memperlakukan Peyton dengan baik. Tapi bukan berarti ia sepenuhnya lepas dari kesalahan. Satu kesalahan yang selama ini ia sembunyikan dari Peyton.

Brooke mengenang kembali saat-saat ia, Peyton dan Jake duduk di bangku senior.

Saat itu Jake tiba-tiba menghilang selama seminggu. Peyton yang terus mencoba menghubunginya akhirnya mengeluh pada Brooke bahwa Jake sama sekali tidak dapat dihubungi.

Tak mau Peyton bersedih, Brooke berusaha mencari Jake dengan susah payah sebelum akhirnya menemukannya. Ia lalu mendesaknya untuk menjelaskan mengapa ia menghilang selama seminggu itu. Mulanya Jake berusaha menghindar dengan mengatakan alasan-alasan yang tak satupun terdengar masuk akal. Tapi Brooke tak mau menyerah dan terus mendesak Jake untuk menceritakan yang sebenarnya. Akhirnya Jake bersedia mengungkapkan alasannya yang sebenarnya asalkan Brooke berjanji untuk menyimpan hal ini sebagai rahasia dan selamanya tidak mengatakannya kepada siapapun terutama Peyton. Saat itu Brooke terpaksa berjanji sambil berharap bahwa pria itu tidak melakukan kesalahan fatal yang bagaimanapun harus ia ceritakan pada Peyton. Jake kemudian mengaku bahwa ia minum kelewat banyak di suatu pesta dan sesudahnya ia mencium seorang wanita. Jake merasa sangat bersalah kepada Peyton, karena itu ia tidak bisa menghadapi wanita itu.

Brooke ingat betapa kerasnya ia memukul Jake saat itu dan menyuruhnya untuk berhenti menjadi pria pengecut. Jake sekali lagi memohonnya untuk tidak menceritakan hal itu kepada Peyton. Brooke menimbang semua itu dengan sungguh-sungguh dan memutuskan bahwa itu memang yang terbaik bagi mereka. Bagaimanapun Jake tidak bisa dikatakan berbuat curang karena ia sedang berada di bawah pengaruh alkohol saat melakukan hal itu.

Brooke memejamkan matanya dengan penuh rasa sesal. Firasatnya kali ini mengatakan bahwa Jake telah melakukan kesalahan serupa atau bahkan mungkin lebih parah.

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

catatan penulis

Post  didar on 15th July 2009, 10:46 pm

bab ini terdiri dari 4200 kata.. biasanya cuma 2500 kata.. biasanya kalau nyampe 400 kata gw bagi 2 .. en gw edit.. ntar jadinya masing-masing 2500 kata lagi.. hehe.. tapi ga apa deh.. biar aja.. haha

di sini udah keluar kevin.. itu artinya gw punya kewajiban buat segera nulis bagian Brooke.. hehe.. tapi gampang deh.. soalnya bagi gw dia tuh karakter yang menarik.. kasian kalo jadi tandem mulu..

trus misteri tentang Jake udah mulai terbuka.. en bakal segera ditutup.. tapi dia bakal muncul lagi ntar.. gimanapun gw suka tokoh jake.. dia hanyalah co yang terlalu baik.. sayangnya hal itu malah harus jadi kelemahan dia.

en gw suka banget nulis karakter Lucas.. gw ngerasa di bab ini Lucas sangat dominan.. en gw suka.. soalnya gw bisa banget bayangin Chad di setiap Lucas yang gw tulis.. en I have alot of fun with his story.

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 09

Post  Shan2 on 16th July 2009, 12:38 am

sampe di sini, ada beberapa hal yg mau g komplain.

yg pertama

sori to say, g ga dapet arielnya di sini, gaya takutnya tuh yg tipe kyk gimana gt, bis belon ketawan sifat ariel tuh kyk gmn, g blm kenal ariel. mgkn bs u tambahin bumbu dikit, misalnya ariel tuh takut krn postur tubuh kevin yg tinggi dibanding dia (iya kan ? bahkan dibanding brooke aja msh lbh kecil ariel kan), jd pembacanya jg ikut ngerasa perasaan ariel gt atau melihat dengan sudut pandang ariel, sekaligus merasa brooke tuh hebat, krn dia toh ga takut sama kevin

terus g baru nyadar, emang si brooke kagak punya cowok yah ? kalo si peyton kan punya ex, nah kalo brooke gmn ? bis kalo tipe brooke gitu kan kerjaanya nyari cowok, en bukan tipe yg gila kerja, mknya kalo dia biasa2 aja jd ga mirip brooke gt. heheh

terus pas adegan peyton n lucas g suka banget... lucu soalnya... hahah.. palagi aps peyton tanya, boleh ga rambutnya warna pirang. sumpah g ngakak. hahha... g bayangin peyton tuh polos amat gt, kyk anak kecil wkt nanya bgt. haha...

n sapa nih lauren ?

g jg makin penasaran tentang si lucas yg nanya2 mulu itu. n sekaligus bikin g ngakak. bis si lucas maksa banget tau ga, nanyanya pernah ga ketemu g ? di pantai gt. hahaha... kalo ini cerita komik si peyton udah keluar tetesan aer di rambutnya. swt. hahahah...

udah gt kocak pas si brooke ikut2an nanya, mgkn u pernah ketemu lucas kali, di pantai mungkin. yee... cape deh...hahah

tp itu bagus banget... g suka...


kalo soal jake g msh belon kebayang sih dia gmn, tp gmn yah.. bingung jg sih kalo ketemu cowok kyk jake. hahah...

dasar nih... kyknya pas nulis bagian lucas elo semangt banget yah, mknya bs bagus, tp bagian yg laen jgn dibiarkan donk, ayotingkatkan semangatmu. heheh

g tunggu lanjutannya yah.,. jia you !

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Thanks

Post  didar on 16th July 2009, 2:18 am

Thanks buat masukannya…
Haha.. elo tau aja gw semangat atau ga nulisnya.. haha.. aneh aja setiap nulis bagian Lucas gw selalu kebayang.. haha..
Emang Lucas maksa banget ya.. haha.. gw juga ngga ngerti kenapa seh dia kekeh banget..

Lauren tuh akan dibuka ntar.. karena kisah Lucas akan dibuka perlahan-lahan.

Iya.. gw belum dapat feelnya ama karakter ariel.. dia tuh masih samar-samar banget di pikiran gw.. semakin gw tulis karakter dia.. semakin nyesel.. masa gw udah buat karakter dia cengeng… sekarang jadi penakut..

Kalo soal pertemuan brooke-kevin.. gw editnya paling terakhir pas udah cape.. jadi emang ada beberapa bagian ga jelas.. sebenernya gw biasanya nulis ga terlalu detil.. garis besar doank.. ntar pas gw edit gw perjelas lagi semuanya.. jadi ngedit lebih lama dari nulisnya.. haha..

Karena masukan dari elo.. gw jadi tau gw harus perjelas bagian ariel.. en seudah gw baca lagi.. ada bagian yang bentrok sendiri.. susah jelasinnya.. en gw banyak pake kata-kata sama di satu kalimat atau kalimat berdekatan.. harus gw ubah..

En soal Brooke.. selama ini gw belum nulis dia dengan bener.. haha.. gw tuh masih konsen di cerita Peyton-Lucas-Jensen. Sebenernya harusnya dari awal.. brooke ada cerita tersendiri.. sekarang dia hanya muncul pas gw perluin aja.. ntar kalo gw udah buat.. gw bakal buat timeline.. en masukin dia di tiap2 chapter.. pengennya yang ariel juga gitu..

En gw nulis Brooke yang versi dewasa.. kalau di OTH tuh yang season 5 ama 6.. yang udah jauh lebih alim.. karena itu gw ngga ngerasa aneh.. dia berpesta poranya di masa SMU.. sebenernya banyak banget pengaruh OTH di sini.. haha.. Brooke di season 5 udah berubah banget.. karena itu di sini dia jadi dewasa.. konsen pada karir.. tapi ntar pas ada co yang dia suka.. sifat dia yang pengen dapetin muncul lagi.. soalnya di season 5 juga kyk gitu.. tapi season 6 brooke malah tambah alim.. hihihi.. gw kyknya nulis brooke yang season 6 deh.. haha..

En.. bagian Jake.. intinya gw cuma ngasih tau dia tuh baek banget.. en dia punya kecendrungan untuk melarikan diri dari Peyton kalo dia melakukan kesalahan…semua ini hanya Brooke yang tau.. en jawabannya ntar bakal jadi salah satu klimaks di beberapa bab terdekat..

En gw bilang gw tetep cinta Jake.. karena dia emang co yang baek.. ga salah kok Peyton atau Brooke menganggapnya demikian.. tapi ia ga luput dari kesalahan,, en gw suka banget tokoh ini.. ntar gw bakal bawa tokoh ini lagi muncul .. en itu akan jadi sesuatu yang anti klimaks en sweet.. haha..

Thanks ya untuk masukannya.. gw selalu buka lagi file gw.. en masukin point2 yang elo kasih buat gw jadiin acuan perbaikan..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 09

Post  Shan2 on 18th July 2009, 1:24 am

oh... ternyata brooke yg sea 6 udah jd begitu yah ? pdhl g sukanya brooke yg wkt smu, bis kocak. heheheh.,... tp gpp, g jg mau liat brooke yg udah dewasa. hheheh..

yup, g ga sabar nunggu lanjutannya, jd tlg segera dipost yah. hehe

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 09

Post  didar on 18th July 2009, 9:48 am

gw juga sukanya brooke pas SMU.. hehe.. tapi ga kebayang gw harus nulis skandal Brooke dengan berbagai co dengan hot.. haha..
So Brooke di sini emang cukup alim.. dia wanita karir yang ga maen-maen lagi dalam mencari co..
Gw bakal tambahin cerita Brooke ntar deh.. ntar kalo gw edit tiap chapter.. gw bakal kasih warna tulisan yang beda.. biar tau ini bagian yang gw tambahin..

btw mana neh FF elo.. datang2 penuh harap neh gw..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 09

Post  Shan2 on 18th July 2009, 3:11 pm

hahaha...skandalnya ga perlu ditulis atuh... cukup gaya2nya brooke aja. hehehe

aduh, g lg ga enak badan nih, pala g nuyt nuyt terus dr kmrn, mknya pas nulis tersndat2 terus. tp moga2 ntar malem bab 2 bs diselsaikan. heheh

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 09

Post  didar on 18th July 2009, 5:53 pm

gaya brooke yang genit tuh pasti ada hubungan ama co.. haha.. pikirannya dsb.. susah deh..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 09

Post  Shan2 on 19th July 2009, 3:12 am

yup, g tau, emang susah sih nulis karakter kyk gitu, palagi kita ga tau apa yg ada di pikirannya yah. hahah.. repot jg

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 09

Post  didar on 19th July 2009, 2:39 pm

hiks.. jadi kapan neh gw bisa baca FF elo? dah pengen baca neh...

soal Brooke.. emang untung banget gw milih karakter dia yang sekarang.. haha.. gw kan selama selalu ngebayangin ini tuh ceritanya di barat so tak terlepas dengan segala adegan hot.. en gw ga mungkin bisa nulis sehot itu.. lagipula yang inipun.. gw rasa gw udah nulis lebih dari yang gw kira.. karena kissu2 banyak banget.... en gw banyak ngebayangin adegan leyton.. walo ga gw tulis secara detil.. bukan berarti gw seneng nulis yang kek gitu.. tapi kalo ga gw tulis semuanya kurang rasa.. jadi hambar.. tapi ga berlebihan kok.. biasa aja.. so yah ntar elo baca aja.. en kritik gw kalo gw terlalu gimana..

karena itu gw ga mau ngegambarin karakter brooke yang di SMU.. bagi gw dia tuh identik dengan 3 kata yang tak boleh disebut itu.. dan..... kalo gw ga ngegambarin hal itu.. gw ga nulis Brooke donk.. so gw tulis yang sekarang aja udah bingung.. gimana caranya.. haha... kita liat deh ntar...

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 09

Post  Shan2 on 19th July 2009, 11:42 pm

maksud elo 3 huruf kali yah. hehehe...

iya sih gpp, cuman g tetep excited baca tokoh2 di novel elo selain leyton, tp yg terutama leyton sih. hehehe

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 09

Post  didar on 20th July 2009, 2:42 am

bagian brooke tetep bakal gw selesein.. seudah gw selesain semua leytonjen.. yang tinggal dikit lagi.. gw bakal nulis bagian brooke.. en gw berharap kejar-kejar an dia ama tom bakal lucu.. tapi gw ga bakal nulis cerita lucu.. so kita liat aja ntar..

_________________
avatar
didar
FF super addicted
FF super addicted

Posts : 255
Join date : 2009-07-09

View user profile

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 09

Post  Shan2 on 20th July 2009, 3:15 am

didar wrote:bagian brooke tetep bakal gw selesein.. seudah gw selesain semua leytonjen.. yang tinggal dikit lagi.. gw bakal nulis bagian brooke.. en gw berharap kejar-kejar an dia ama tom bakal lucu.. tapi gw ga bakal nulis cerita lucu.. so kita liat aja ntar..

hahah... itu salah satu adegan yg g nanti2 nih... hehehe

ok, g tunggu

_________________
avatar
Shan2
FF addicted
FF addicted

Posts : 138
Join date : 2009-07-14

View user profile http://lusiana.web.id

Back to top Go down

Re: New Beginnings - Chapter 09

Post  Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum